Makna Ruh dalam Al-Qur’an

Oleh : Khalisa AJM

Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memuat banyak konsep mendasar tentang manusia dan kehidupan. Salah satu konsep penting adalah tentang ruh. Allah menyebut istilah rūḥ dalam berbagai konteks, baik berhubungan dengan penciptaan manusia, turunnya wahyu, maupun sebagai makhluk ghaib yang misterius. Hakikat ruh merupakan salah satu rahasia Allah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Isrā’ [17]: 85.

Kajian ini bertujuan untuk menelusuri makna ruh dalam Al-Qur’an, dengan merujuk pada beberapa ayat serta penafsiran para ulama, agar memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang kedudukannya dalam kehidupan manusia.


1. Etimologi Ruh

Kata rūḥ berasal dari akar kata r-w-ḥ yang bermakna kelembutan, kesejukan, dan kehidupan. Dari akar yang sama lahir kata rīḥ (angin). Secara terminologi, rūḥ dipahami sebagai unsur halus ciptaan Allah yang dengannya manusia hidup.

2. Penyebutan Ruh dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an menyebut kata rūḥ dalam beragam makna sesuai konteks ayat:

a. Ruh sebagai sumber kehidupan manusia

  • QS. al-Hijr [15]:29: “Apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
    👉 Makna: ruh sebagai tiupan Ilahi yang menghidupkan jasad.

b. Ruh sebagai wahyu (al-Qur’an)

  • QS. asy-Syūrā [42]:52: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dari perintah Kami…”
    👉 Makna: ruh sebagai petunjuk yang menghidupkan hati.

c. Ruh al-Qudus (Malaikat Jibril)

  • QS. an-Nahl [16]:102: “Ruh al-Qudus menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar…”
    👉 Makna: ruh adalah Jibril sebagai pembawa wahyu.

d. Ruh sebagai rahasia Ilahi

  • QS. al-Isrā’ [17]:85: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
    👉 Makna: hakikat ruh adalah misteri yang tidak dapat dicapai sepenuhnya oleh akal manusia.

3. Penafsiran Ulama

  • Ibn Katsīr: ruh memiliki banyak makna; bisa berarti Jibril, wahyu, atau jiwa manusia.
  • Al-Rāzī: ruh adalah sesuatu yang lembut dan tidak bisa ditangkap oleh indra, namun menjadi sebab hidupnya jasad.
  • Al-Qurṭubī: ayat al-Isrā’:85 menegaskan keterbatasan manusia dalam memahami rahasia Allah.

4. Dimensi Filosofis dan Spiritual

  • Ruh adalah anugerah Ilahi yang menjadikan manusia mulia.
  • Ruh melambangkan kesadaran dan spiritualitas, sementara jasad melambangkan fisik.
  • Ruh juga dipakai sebagai simbol wahyu yang menghidupkan hati, sebagaimana ruh menghidupkan jasad.

  1. Makna ruh dalam Al-Qur’an bersifat multiinterpretatif:
    • Nafas kehidupan manusia.
    • Wahyu yang menghidupkan hati.
    • Malaikat Jibril sebagai pembawa risalah.
    • Rahasia Allah yang hakikatnya tidak diketahui manusia.
  2. Ruh adalah unsur pokok dalam keberadaan manusia, sekaligus simbol penting dalam pemahaman spiritual.
  3. Hakikat ruh tetap menjadi rahasia Ilahi yang hanya diketahui Allah, tetapi keberadaannya menjadi dasar bagi kehidupan jasmani dan rohani manusia.

  • Al-Qur’an al-Karīm.
  • Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
  • Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
  • Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb.
  • M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah.

Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *