MENUJU CAHAYA: PERJALANAN RUHANI ABDUL QADIR

Novelet fiksi naratif-reflektif

Oleh: Abu Wahono

Malam di Baghdad selalu meninggalkan jejaknya: lampu-lampu minyak bergetar di sela angin gurun, suara pedagang yang lama redup, dan gema doa dari menara yang tak berkesudahan. Kota itu bagaikan sebuah samudera, penuh ilmu dan riuh perdebatan, tapi juga menyimpan arus sunyi di dasar yang jarang dijangkau jiwa-jiwa duniawi. 

Di tengah kota yang bersinar oleh nalar dan kata, seorang pemuda duduk bersandar pada pilar masjid tua. Namanya Abdul Qadir. Kedua matanya terpejam, tapi dadanya penuh gejolak. Ia telah menghafal kitab, melahap syair-syair hikmah, mendengar ribuan suara guru—namun satu suara masih tak terjawab: suara yang berbisik dari lubuk hati terdalam, “Bukankah kau mencari-Ku?” 

Sejenak waktu mengalir dalam diam, membawa Abdul Qadir ke ruang batinnya sendiri. Di sana ia merasakan jurang yang membentang: antara cahaya yang dijanjikan dan kegelapan yang dirasakannya sendiri. Dunia seakan menjadi pasar besar, penuh hiruk dan penawaran, tetapi sunyi ketika jiwa bertanya, “Di mana rumahku yang sejati?” 

Suara itu semakin kencang, bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya. Panggilan yang menolak ditunda. Ia tahu, perjalanan yang sesungguhnya bukanlah menyeberangi padang pasir atau mendaki gunung, melainkan perjalanan ke arah cahaya yang sudah sejak awal dititipkan dalam dirinya. 

Prolog pun berakhir di sana: pada satu malam tenang di Baghdad, ketika seorang pemuda bangkit dari sandarnya, menatap bintang, dan memutuskan bahwa hidupnya tak lagi untuk sekadar membaca kata, tetapi untuk menyelami makna. 

Perjalanan itu telah dimulai. 

Baghdad, pagi hari. 

Matahari baru saja memanjat dinding timur, menyentuh kubah-kubah masjid dengan cahaya keemasan. Suara kafilah unta terdengar dari pasar, bercampur bunyi palu para pandai besi, dan seruan muadzin dari menara kecil di pojok kota. Kehidupan berdenyut deras di ibu kota ilmu itu, seakan manusia tak pernah kehabisan kata untuk dibicarakan. 

Di salah satu madrasah, Abdul Qadir duduk bersila di hadapan mushaf besar. Jarinya menyusuri huruf-huruf Ilahi, dan bibirnya mengulang pelajaran yang ia dengar dari para gurunya. Namun, semakin banyak ia membaca, semakin besar jurang yang terbuka di dalam dadanya. 

“Ilmu telah kuperoleh,” batinnya berbisik, “tetapi di manakah rasa? Mengapa hatiku masih kering, meski lidahku fasih mengucapkan ayat?” 

Sore itu ia keluar dari ruangan penuh kitab. Dari kejauhan, ia melihat anak kecil berlari di lorong sempit, tertawa mengejar layangan robek. Laki-laki tua memandangi langit dengan tenang, tanpa beban. Seorang ibu mendekap bayinya dan mendendangkan doa yang tak tertulis di kitab manapun. Semua tampak memiliki cahaya sederhana dalam hidup mereka. 

Abdul Qadir berhenti sejenak. Dadanya terasa ditusuk kesadaran: mungkin cahaya tak tersembunyi di balik kata-kata, melainkan bersemayam dalam hati yang jernih. 

Malamnya, ia kembali ke masjid tua tempat ia biasa berdiam. Di sana, keheningan menjadi teman. Ia letakkan dahinya di sajadah, merasakan bumi menyedot segala berat tubuhnya. Air mata menetes tanpa ia rencanakan. Dalam tangis itu, ia mendengar bisikan batin yang begitu jelas: 

“Wahai anak Adam, aku telah memanggilmu sejak awal. Tinggalkan kebisingan yang mengikatmu, ikuti jejak sunyi yang menuju Cahaya.” 

Abdul Qadir gemetar. Kata-kata itu tidak datang dari luar, tetapi dari dalam dirinya. Dari sebuah ruang yang lebih dalam daripada pikiran. Dari ruang yang hanya dapat dibuka dengan kerinduan. 

Dan pada malam itu, lahirlah sebuah tekad. Bukan lagi tekad untuk menambah halaman yang dibaca, melainkan untuk menempuh jalan perjalanan yang tak tertulis. Ia tahu, harga perjalanan ini adalah kesendirian, dan bekalnya hanyalah kesabaran. Tetapi kerinduan telah menyalakan api kecil dalam dirinya, dan api itu tidak lagi bisa dipadamkan. 

Maka berawallah langkahnya—langkah seorang pencari yang memilih meninggalkan ramai, untuk menemukan sunyi yang mengandung segala. 

Subuh itu, Baghdad masih tertutup kabut tipis. Jalanan pasar kosong, hanya ada suara sandal-sandal yang bergegas menuju masjid. Abdul Qadir berjalan pelan, menyampirkan mantel tipis di bahunya, dan membawa sebuah kantung kecil berisi kitab, sepotong roti kering, dan sehelai kain wol lusuh. Ia telah memutuskan: meninggalkan kenyamanan, menempuh perjalanan yang belum jelas ujungnya. 

“Wahai anak muda,” panggil seorang guru tua di gerbang madrasah, “kau hendak ke mana dengan wajah yang murung itu?” 

Abdul Qadir menundukkan kepala. 

“Aku hendak mencari yang selama ini terlewat. Ilmu telah memenuhi kepalaku, tetapi hatiku kosong. Aku mencium wangi kitab, namun tak kutemukan rasa yang menenangkan dadaku.” 

Guru tua itu menatap lama muridnya, seolah membaca keretakan batin yang tersembunyi. 

“Ketahuilah, anakku, ilmu hanyalah alat. Ia tak akan menuntunmu tanpa hati yang dipimpin Cahaya. Jika engkau benar pencari, bersiaplah diuji. Jalan para arif bukanlah jalan mulus, melainkan jalan berduri.” 

Abdul Qadir menjawab dengan suara bergetar: 

“Aku rela menanggung duri, asalkan aku tiba pada taman yang sebenar taman.” 

Guru itu tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya, memberi doa perpisahan. 

“Maka berjalanlah, dan jangan takut pada kesendirian. Allah bersama hamba yang mencari-Nya.” 

Hari-hari pertama di jalan adalah ujian kesabaran. Padang pasir luas membentang, hanya ditemani suara angin dan gelegar langkah sendiri. Perut sering terasa kosong, dan kadang bisikan halus menyergap telinga: “Kembalilah, engkau meninggalkan dunia yang memberimu kenyamanan. Bukankah hidup lebih mudah dengan menerima apa adanya?” 

Tetapi setiap kali bisikan itu muncul, Abdul Qadir menutup mata dan mengingat doanya di masjid tua. Ada api kecil yang terus menyala dalam hatinya, mencegahnya menyerah pada dingin. 

Di sebuah desa kecil, ia memberi pelajaran Al-Qur’an pada anak-anak sebagai ganti roti. Di sebuah kafilah, ia membantu membawa beban orang tua, meski tubuhnya ringkih. Setiap amal sederhana itu membuat hatinya luluh, seakan ia menemukan serpihan Cahaya di tengah kesusahan. 

Suatu malam, ketika ia tidur di bawah langit bertabur bintang, ia bermimpi. Dalam mimpi itu, ia berjalan di padang pasir yang sama, namun langit di atasnya terbuka. Dari sana, turun cahaya lembut, berlapis-lapis, hingga seluruh gurun berubah menjadi samudera perak. 

Dari tengah cahaya itu terdengar suara: 

“Jangan berhenti, wahai anak pencari. Setiap langkahmu adalah undangan. Setiap sabarmu adalah pintu menuju-Ku.” 

Abdul Qadir terbangun dengan dada bergetar. Langit malam masih pekat, namun bagi matanya, bintang-bintang seakan menyalakan jalannya. Ia tahu, perjalanan baru saja mulai. Banyak duri menanti, tetapi Cahaya di ujung nun jauh telah memberi arah. 

Langkah-langkahnya menembus malam. Gurun luas, angin kering, dan bintang yang menggantung jauh di langit, hanya itu yang menjadi sahabat Abdul Qadir dalam perjalanan. Ia meninggalkan desa terakhir tanpa membawa banyak bekal, sebab ia percaya rezeki akan datang dari arah yang tak terduga. Namun tubuhnya mulai letih, bibirnya pecah-pecah, dan hatinya dipenuhi rasa asing. 

Di tengah sepi itu, muncul bisikan halus. 

“Mengapa engkau memilih jalan ini? Lihatlah, tidak ada teman, tidak ada rumah, tidak ada makanan. Apa yang kau cari, selain kehampaan?” 

Abdul Qadir berhenti, menutup matanya. Ia sadar, itu adalah kegelapan dalam dirinya sendiri, suara nafsu yang tak ingin hilang. Dengan napas berat ia menjawab lirih: 

“Biarlah tubuhku kelaparan, biarlah kakiku pecah. Yang kucari bukan roti, bukan tempat berteduh. Yang kucari adalah wajah-Mu.” 

Malam itu ia beristirahat di dekat sebuah batu besar. Badannya menggigil. Saat terpejam, ia melihat bayangan hitam—sosok tinggi dengan mata berkilau api. Sosok itu menertawakan kelemahannya. 

“Engkau tak akan sanggup berjalan lebih jauh. Pulanglah, nikmati dunia, jadilah terhormat dengan ilmu yang sudah kau punya!” 

Dalam mimpi itu, Abdul Qadir sujud. Dari sujudnya keluar doa, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan tangisan. Tiba-tiba, cahaya putih muncul dari ufuk timur mimpi, membelah kegelapan. Sosok hitam itu perlahan hancur seperti debu tertiup angin. 

Ketika bangun, ia masih menangis. Tapi kali ini bukan tangis putus asa, melainkan tangis lega. Ia mulai mengerti, jalan para pencari memang harus melewati lembah bayangan, agar hati cukup kosong untuk menerima cahaya. 

Ia kembali berdiri, meski lututnya lemah. Malam semakin hening, namun di balik keheningan, ia menemukan kekuatan baru. Ia menggumam sendirian: 

“Sunyi ini bukan musuhku. Ia adalah pintu. Dan setiap pintu pasti menuju sesuatu.” 

Sejak saat itu, Abdul Qadir tidak lagi takut pada kesepian. Justru dalam kesepian ia mendengar suara lebih jelas, suara yang mengajaknya melangkah: 

“Teruskan. Aku menantimu di balik setiap gelap.” 

Bersambung…..


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *