MENUJU CAHAYA: PERJALANAN RUHANI ABDUL QADIR

Novelet fiksi naratif-reflektif

Oleh: Abu Wahono

Hari-hari panjang membawanya ke sebuah lembah subur di pinggir gurun. Di sana, pohon kurma tumbuh berbaris, dan suara air mengalir dari mata air kecil, mengalahkan gemuruh sunyi yang selama ini menemaninya. Abdul Qadir duduk di tepi mata air, membasuh wajahnya yang letih. 

Ketika ia mengangkat kepala, seorang lelaki tua berdiri di hadapannya. Tubuhnya kurus, janggutnya putih terurai, matanya bening memantulkan langit. Ia bagai pohon kurma: sederhana, tapi tegak, bercahaya tanpa dipaksa. 

“Assalāmu‘alaikum, anakku,” ucap lelaki itu. 

“Wa‘alaikumussalām, Tuan.” Abdul Qadir menundukkan kepala. 

Orang tua itu duduk di sampingnya, lalu berkata pelan: 

“Aku telah menantimu. Langkahmu di malam sunyi sampai juga ke sini.” 

Abdul Qadir terkejut. “Bagaimana Tuan tahu kedatanganku? Tak seorang pun mengenalku.” 

Lelaki tua itu tersenyum. “Seorang pencari selalu dipandu. Ada cahaya dalam sujudmu yang sampai kepada kami sebelum langkahmu sampai ke sini.” 

Mereka terdiam lama, hanya ditemani suara air. Lalu sang mursyid berkata: 

“Cahaya yang kau cari itu bukan di luar. Bagai pelita dalam ceruk kaca, ia sudah ada di dalam dada, hanya tertutup debu.” 

Abdul Qadir merasa dadanya bergetar, seolah kata itu mengupas lapisan hatinya. 

“Tuan, ajarilah aku bagaimana membersihkan debu itu. Aku telah membaca banyak kitab, tapi jiwaku tetap gelap.” 

Mursyid itu menatap dalam-dalam, lalu berkata: 

“Buku tak bisa menggantikan tangisan. Ilmu tak bisa menggantikan diam. Pencarian sejati adalah keberanian untuk lenyap dari dirimu sendiri, agar engkau tetap dengan-Nya.” 

Malam itu Abdul Qadir tinggal bersama sang guru di pondok kecil dekat mata air. Mereka duduk berdua dalam diam, tanpa banyak bicara. Ketika fajar menyingkap langit, sang mursyid membacakan ayat: 

“Allāhu nūru-s-samāwāti wal-ardh…” 

Allah adalah cahaya langit dan bumi… 

Ayat itu terasa berbeda. Bukan sekadar kalimat, melainkan jendela. Abdul Qadir menangis, bukan karena ia paham dengan akal, tapi karena kalbunya seakan dibuka. 

“Aku telah menemukanmu, Guru,” bisiknya. 

Sang mursyid tersenyum, lalu menepuk bahunya. “Belum, anakku. Baru permulaan. Cahaya-Mu masih dalam perjalanan.” 

Hari-hari bersama sang mursyid membentuk Abdul Qadir menjadi pribadi yang berbeda. Ia belajar berdiam lebih lama dari berbicara. Ia belajar menundukkan kepala, tidak hanya di hadapan manusia, tapi di hadapan waktu. Ia belajar bahwa lapar bisa menjadi guru, bahwa sepi bisa berubah menjadi kitab, bahwa setiap tetesan air dari mata adalah tinta yang menulis makna paling rahasia. 

Suatu malam, sang mursyid memanggilnya. 

“Wahai Abdul Qadir, malam ini engkau akan menempuh perjalanan batin. Jangan takut, karena apa pun yang engkau lihat hanyalah cermin dari dirimu. Kalau engkau temui bayangan hitam, itulah nafsumu. Kalau engkau temui cahaya, itulah rahmat yang kau rindukan. Peganglah satu kalimat: tiada aku, hanya Dia.” 

Abdul Qadir menunduk dalam. 

“Guru, aku siap.” 

Malam itu gurun sunyi, hanya ada bintang yang seperti mata tak terhitung di langit. Abdul Qadir diminta duduk menghadap timur, meletakkan kedua tangan di pangkuan, dan mengosongkan pikirannya dengan zikir terus-menerus. 

Awalnya, hanya kelelahan yang ia rasakan. Lalu, perlahan, waktu seperti meleleh. Suara angin pun menghilang. Ia merasa masuk ke dalam ruang lain—ruang batin yang dalam dan asing. 

Di sana ia melihat sebuah ceruk (miṣkāt), gelap dan kosong. Dalam ceruk itu tergantung sebuah pelita kecil. Kacanya bening, cahayanya lembut namun menerangi seluruh ruang. Dari pelita itu memancar kilauan berlapis-lapis: satu cahaya di atas cahaya lain, bergetar namun tak padam. 

Hatinya gentar. Ia mendengar suara yang belum pernah ia dengar sebelumnya, bukan dari telinga, tetapi dari kedalaman dirinya: 

“Aku adalah Cahaya. Aku yang menyalakan pelitamu sejak awal. Aku dekat, lebih dekat dari segala yang dekat. Mengapa engkau mencari-Ku jauh, padahal Aku telah bersemayam di dalam dada?” 

Air mata menetes. Abdul Qadir ingin berkata, namun lidahnya kelu. Seluruh dirinya lenyap, hanya ada gelombang cahaya yang menelan gelapnya. Ia menyaksikan bayangan-bayangan masa lalunya—ketamakan kecil, keangkuhan halus, cinta berlebih pada ilmu—semua terbakar ringan seperti kertas tipis. 

Dalam keterlenaan itu, ia mendengar kembali suara sang mursyid bergaung bagai gema jauh: 

“Jangan berhenti pada cahaya pertama. Cahaya itu masih bayang. Lenyapkan lagi, hingga tiada tersisa kecuali Dia.” 

Abdul Qadir merasakan dirinya lenyap sepenuhnya. Tak ada tubuh, tak ada nama, tak ada aku. Yang ada hanyalah samudera tanpa tepian, berkilau dengan nur yang tiada pupus. Ia tak lagi menyebut, ia diseru; ia tak lagi mencari, ia ditemukan. 

Ketika ia tersadar, fajar telah tiba. Gurunya menatapnya dengan senyum tenang. 

“Bagaimana engkau, anakku?” 

Abdul Qadir menunduk, suaranya bergetar. 

“Guru… aku tidak lagi mengenal siapa diriku. Yang ada hanya Dia.” 

Sang mursyid menutup mata, berzikir lirih, lalu berkata: 

“Itulah awal dari fana’, hilangnya engkau dari engkau sendiri. Namun jalan tak berhenti di sini. Engkau akan kembali kepada manusia, membawa cahaya itu. Kau akan menyadari, bukan hanya menjadi tiada, tetapi menjadi saksi. Itulah baqā’—bertahan dengan-Nya, di bumi-Nya.” 

Mata Abdul Qadir basah lagi. Ia merasa hatinya kini penuh—bukan penuh kata, bukan penuh logika, melainkan penuh cahaya yang tak bisa ia simpan hanya untuk dirinya. 

Sang mursyid menatapnya dalam. 

“Anakku, saat engkau pulang ke Baghdad nanti, cahaya ini akan diuji. Jangan kira semua orang akan mengerti. Tapi mereka yang hatinya rindu, akan menemukan pelita dalam dirimu.” 

Abdul Qadir berbisik, hampir tak terdengar: 

“Bukan aku, Guru, yang membawa cahaya. Tapi Dia, yang memilih menitipkannya.” 

Malam itu menjadi tonggak. Sejak saat itu, Abdul Qadir bukan lagi sekadar seorang pemuda pengembara. Ia sudah menjadi wadah bagi cahaya, misykāt dalam hatinya, tempat pelita Ilahi menyala, menuntun langkahnya ke jalan yang lebih berat: kembali pada manusia, untuk menunjukkan bahwa sunyi dan ramai, fana’ dan baqā’, semua hanyalah jalan kembali menuju Sumber Cahaya. 

Beberapa bulan telah berlalu sejak malam itu, sejak Abdul Qadir menyaksikan misykāt dalam dirinya. Ia tidak lagi sama. Wajahnya tenang, langkahnya ringan, dan hatinya tak lagi terpaut pada yang fana. Sang mursyid berkata kepadanya pada suatu pagi: 

“Anakku, perjalanan batinmu belum selesai. Engkau telah menemukan cahaya, sekarang engkau harus membawanya kembali. Sebuah pelita tidak diciptakan untuk bersembunyi di gua, melainkan untuk menerangi rumah-rumah yang gelap.” 

Dengan berat hati, Abdul Qadir berpamitan. Ia mencium tangan gurunya, dan sang mursyid menepuk bahunya seraya berdoa: 

“Pergilah, dan ingat: jangan pernah mengira cahaya itu milikmu. Kau hanya wadahnya. Tugasmu adalah menjadi cermin—yang bening, agar manusia melihat Ia yang di balikmu.” 

Baghdad menyambutnya dengan keramaian seperti dulu. Pasar-pasar hiruk pikuk, madrasah penuh pelajar, masjid berdengung dengan perdebatan panjang. Tapi kali ini, semua itu tak lagi mengguncang jiwanya. Seolah-olah ia melihat kehidupan kota itu dengan dua mata: mata lahir yang menyaksikan debu dan kerumunan, serta mata batin yang menyaksikan cahaya Allah berdenyut dalam setiap wajah dan suara. 

Ia mulai mengajar kembali. Namun pengajarannya berbeda. Ia tidak sibuk dengan kalimat yang sulit, ia menggunakan bahasa yang sederhana, penuh cinta. Ia mengajarkan Al-Qur’an dengan air mata, bukan hanya dengan huruf. Ia mengajarkan zuhud bukan dengan memarahi dunia, tetapi dengan menunjukkan keindahan hati yang tidak terikat dunia. 

Orang-orang mulai berkumpul. Anak-anak, pedagang, fakir miskin, bahkan ulama—semua merasa teduh di dekatnya. Mereka mengatakan, “Di sampingnya, hati kami jadi ringan. Kata-katanya sederhana, tapi membangunkan yang tertidur dalam dada kami.” 

Namun tak sedikit pula yang iri. Sebagian ulama menuduhnya mencari nama, sebagian politikus khawatir akan pengaruhnya yang meluas. Setiap fitnah, setiap ejekan, bahkan ancaman, ia terima dengan senyum tenang. 

“Kalau aku marah, maka aku lupa bahwa cahaya bukan milikku,” katanya pelan kepada murid-muridnya. 

Suatu malam, seorang murid bertanya: 

“Wahai Guru, apakah yang engkau temukan dalam kesunyian gurun itu? Mengapa engkau kembali dengan wajah bercahaya?” 

Abdul Qadir terdiam lama, lalu menjawab dengan lembut: 

“Yang kutemukan hanyalah Dia. Bukan lafaz-Nya, bukan bayangan-Nya, melainkan Dia yang memenuhi segala. Aku pergi untuk mencari, tapi sesungguhnya dari awal Dia sudah dekat. Perjalanan itu bukan menjauh, melainkan kembali… kembali kepada Cahaya yang sejak mula menghidupkan kita.” 

Murid itu menunduk, haru membasahi matanya. Ia merasa, bukan kata-kata yang menjawab pertanyaannya, melainkan keteduhan yang keluar dari hati sang guru. 

Hari-hari berikutnya, majelis Abdul Qadir semakin ramai. Orang miskin menemukan harapan, pedagang belajar kejujuran, ulama belajar kerendahan hati. Cahaya yang dulu hanya ia lihat dalam ceruk batin, kini tampak dalam wajah orang-orang yang disentuh oleh kasih dan ilmunya. 

Ia telah fana’ dalam sunyi, lalu baqā’ dalam ramai. Ia hilang dari dirinya, lalu bertahan dengan-Nya di tengah manusia. Dan begitulah pelita itu bekerja: menyalakan satu hati, lalu hati yang lain, hingga kota yang ramai itu perlahan diterangi oleh cahaya sunyi yang pernah ia temukan dalam gurun. 

Malam kembali turun di Baghdad. Kota itu riuh seperti biasa: pasar, madrasah, masjid, dan lorong-lorong penuh langkah terburu. Namun di tengah semua itu, majelis Abdul Qadir tetap tenang. Kata-katanya telah menyebar, tapi lebih dari itu, getaran hatinya telah singgah di banyak dada. 

Sebagian orang mengatakan ia seorang wali, sebagian menganggapnya ulama besar, sebagian lain bahkan menuduhnya hanya pencari pengaruh. Namun Abdul Qadir sendiri tidak pernah sibuk dengan sebutan. Ia hanya melihat bahwa setiap hati adalah miṣkāt—ceruk kosong yang menunggu pelita. 

Ia sering berkata kepada murid-muridnya: 

“Jangan lihat aku. Aku bukan apa-apa kecuali cermin. Kalau engkau melihat cahaya dariku, itu karena Dia memantulkan wajah-Nya lewat diriku. Cahaya tidak terbagi, ia hanya dipantulkan. Dan tugasmu adalah membersihkan diri, agar engkau pun bisa menjadi cermin.” 

Ketika malam semakin larut, ia kadang duduk sendirian di teras rumah kecilnya, menatap bintang-bintang yang kini menjadi sahabat lama. Ia teringat perjalanannya: malam sunyi, padang pasir, suara bisikan, pertemuan dengan guru, hingga perjumpaan dengan misykāt al-anwār dalam dirinya. Semua itu kini terasa seperti kisah orang lain—karena ia sudah tidak lagi sibuk dengan “aku”. 

“Setiap jiwa adalah pengembara,” bisiknya pada langit. “Dan setiap pengembara sesungguhnya sedang pulang ke Cahaya.” 

Bintang di atas Baghdad bersinar lebih terang malam itu. Seakan memberi tanda bahwa pelita yang telah lahir di dalam dirinya bukan untuk padam, melainkan untuk terus menerangi, dari hati ke hati, dari generasi ke generasi. 

Dan begitulah, kisah ini berakhir bukan pada Abdul Qadir, melainkan pada kita semua—pencari-pencari yang terus berjalan, menembus sunyi dan ramai, demi satu tujuan: menemukan rumah kita yang sejati di dalam Cahaya-Nya. 

✨ Selesai.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *