🌊 Puisi Sufi: Ainul Ḥayāt 🌊

Oleh: Abi Wayka

Segala sesuatu hidup karena setetes-Nya,
dari tanah kering muncul bunga,
dari hati gersang tumbuh iman—
air kehidupan itu bukan di luar,
tetapi bersembunyi di dalam dada.

Aku berjalan seperti Musa,
menyusuri jalan panjang tanpa henti;
hingga sampai ke pertemuan dua lautan—
dunia lahir dan dunia batin.
Di sana rahasia menampakkan wajahnya,
di sana Khidr menuntunku meneguk
dari `Ainul Ḥayāt yang tersembunyi.

🕊️
Percikan pertama bukan tujuan,
ia hanya tanda sebuah panggilan.
Cahaya kecil menyingkap pintu,
namun lautan menunggu di balik tepi.
“Jangan berhenti pada percikan,”
bisik para arif,
“karena hakikatmu adalah gelombang,
yang ditakdirkan untuk kembali ke samudra.”

💧
Air kehidupan mengajarkanku:
jangan menjadi genangan,
karena genangan cepat busuk.
Jangan menggenggamnya dengan jari,
karena ia akan lenyap di sela keinginan.
Biarkan air itu mengalir—
maka engkau pun mengalir bersama takdir.

Ia bergerak, ia menghidupkan,
ia menyuburkan tanah yang diam.
Sungai pun tidak pernah bertanya:
“Untuk siapa aku mengalir?”
ia hanya mengalir,
karena diperintah oleh Yang Maha Mengalirkan.

🌌
Hati adalah cermin bening,
airnya memantulkan wajahmu.
Jika keruh, tampaklah bayangan dosa.
Jika jernih, tampaklah cahaya Allah.
Maka sucikanlah wadahmu,
agar ia mampu menampung rahmat,
dan memantulkan cahaya alam gaib.

🌊
Ketika aku meneguk dari `Ainul Ḥayāt,
aku belajar tidak takut kehilangan:
karena air hakikatnya tak pernah hilang—
ia hanya berpindah wujud,
awan menjadi hujan, hujan menjadi sungai,
sungai kembali menyatu dengan laut.

Begitulah ruh:
keluar dari asal, singgah sejenak,
lalu kembali pulang kepada Sang Al-Ḥayy.

🌿
Khidr adalah cermin Musa;
pengetahuan akal diuji oleh rahasia hati.
Ilmu yang lahir diuji dengan kesabaran,
hingga terbuka tabir ilmu yang batin.
Dan Musa pun memahami:
tidak semua rahmat dibahasakan,
sebagian hanya dihidupkan.


Wahai jiwa pencari,
`Ainul Ḥayāt itu bukan jauh—
bukan di rimba asing,
bukan di tepi gunung terjal.
Ia ada di balik tirai dadamu,
menunggu engkau menyingkap debu nafsu,
agar pancarannya menyejukkan langkahmu.

Minumlah darinya,
maka engkau menjadi sungai.
Mengalirlah,
maka engkau menyejukkan bumi.
Larutlah dalam samudra,
maka engkau fana,
dan baqā’ dalam Kehendak-Nya.

🌊
Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji‘uun.
Kita semua hanyalah aliran,
yang kembali ke Muara Abadi.
Gelombang bukan hilang,
gelombang hanya menyatu.
Ombak bukan musnah,
ombak kembali menjadi laut.

Dan di situlah rahasia hidup:
hidupmu pada hakikatnya
adalah Air Kehidupan itu sendiri.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *