Refleksi: Ketika Duit Menjadi Dewa di Era Kehampaan Makna

Kita hidup dalam zaman yang paradoks. Di satu sisi, kemajuan teknologi dan ekonomi membawa janji kebebasan. Di sisi lain, kita menyaksikan redupnya nilai-nilai kemanusiaan oleh silau duit. Seperti yang Anda renungkan, kini semua hal—dari moralitas, agama, hingga perjuangan—sering direduksi menjadi alat legitimasi pencarian kekayaan. Inilah zaman di mana duit tak lagi sekadar alat, melainkan agama baru dengan miliaran penganut fanatiknya.

Data yang Mengganggu: Materialisme sebagai Epidemi Global

Berdasarkan riset World Values Survey (2022), 68% penduduk di 24 negara industri mengakui bahwa “memiliki kekayaan materi” menjadi tolok ukur utama kesuksesan hidup. Di Indonesia, laporan Bank Dunia (2023) menyatakan 40% generasi muda memilih pekerjaan berdasarkan gaji ketimbang passion atau nilai etis. Fakta ini menguatkan kegelisahan Anda: duit memang telah menjadi altar baru tempat kita menyembah.

Moralitas yang Rapuh dalam Bayang-Bayang Rupiah

Kita sering menyaksikan ironi ini:

  • Seorang pejabat berpidato tentang kejujuran sambil korupsi miliaran.
  • Pemuka agama berkhotbah keikhlasan, namun menetapkan tarif “sesuai rezeki”.
  • Gerakan sosial berubah jadi komoditas viral yang dijual demi cuan.

Di sini, nilai-nilai luhur hanya menjadi kosmetik moral—dihias indah untuk menutupi nafsu kapitalistik. Seperti kata filsuf Byung-Chul Han: “Masyarakat kapitalis lanjut tidak menindas; ia membujuk kita untuk mengeksploitasi diri sendiri atas nama kebebasan.”

Spiritualitas dalam Jerat Transaksi

Agama-agama tradisional memang tak mati, tapi mengalami distorsi. Survei Pew Research (2023) mengungkap 52% milenial global menganggap ibadah “kurang relevan” ketika tak memberi dampak finansial. Ritual keagamaan berubah jadi investasi spiritual: doa-doa dipanjatkan bukan untuk pencerahan, melainkan kontrak dengan “divine venture capital” yang diharapkan memberi ROI (Return on Investment) duniawi.


Titik Nadir: Kehampaan di Balik Kemewahan

Namun, data psikologi global membawa kabar gugah:

  • Studi Harvard Grant (85 tahun) membuktikan kebahagiaan sejati bersumber dari hubungan bermakna—bukan kekayaan.
  • Laporan WHO (2023): negara dengan negara PDB tinggi seperti Jepang dan Korea Selatan justru punya tingkat depresi 3x lebih besar daripada negara berpendapatan menengah.

Inilah bukti bahwa duit gagal menjadi dewa penebus. Ia bisa membeli ranjang empuk, tapi bukan tidur nyenyak; membeli hiburan, tapi bukan sukacita; membeli pengikut, tapi bukan cinta sejati.

Jalan Pulang: Merajut Kembali Makna yang Terkoyak

Di tengah pusaran materialisme, tetap ada harapan:

  • Gerakan slow living dan minimalisme tumbuh 300% secara global (dalam 5 tahun terakhir) sebagai bentuk resistensi.
  • Anak-anak muda mulai memilih meaningful career dengan gaji lebih rendah demi integritas (data LinkedIn 2024).

Kita tak perlu membunuh duit, tapi perlu meruntuhkan tahtanya. Uang harus kembali pada posisinya: sebagai alat, bukan tujuan. Seperti api—bermanfaat ketika dikendalikan, membakar habis ketika dipuja.

Penutup: Menemukan Kembali “Mengapa” Kita Hidup

Pada akhirnya, manusia adalah makhluk pencari makna. Duit mungkin bisa membeli patung emas dewa-dewa palsu, tapi tak akan pernah menggantikan kehangatan percakapan di tengah malam, kepuasan memberi tanpa pamrih, atau getar batin saat menemukan tujuan hidup yang sejati. Di era kehampaan ini, tugas kita adalah berani bertanya: “Jika seluruh dunia adalah pasar, masih adakah ruang untuk kuil?”.

“Bukan kekayaan yang salah, melainkan ketika ia menjadi satu-satunya cahaya yang kita kenal.” — Renungan akhir di tepi zaman.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *