Janji di Bawah Hujan

Di bawah rindangnya pohon kelengkeng tua yang menjulang di sudut asrama putri Ponpes Bustanul Ulum Way Kanan, setiap sore adalah ritual. Cahaya jingga matahari menembus dedaunan, menciptakan mozaik bayangan menari di atas ubin dingin. Di sinilah, delapan jiwa muda yang terikat janji persahabatan, sering berkumpul. Lisna, dengan sorot mata teduh dan senyum tipisnya, adalah jangkar di antara gelombang karakter yang bergejolak. Ia seperti penengah tak kasat mata, menyerap riuh rendah tawa dan bisik-bisik rahasia.

Dilan, dengan karisma yang tak terbantahkan namun terselubung arogansi, selalu menjadi pusat perhatian, binar matanya memancarkan kepercayaan diri yang terkadang melampaui batas. Di sisinya, Naylan, bayangan setianya yang kini mulai terasa seperti belenggu, mengamati setiap gerak-gerik Dilan dengan tatapan cemburu yang menusuk, intrik-intrik kecil sudah mulai bergejolak di benaknya. Rindang, selembut embun pagi, namun memiliki prinsip sekuat akar kelengkeng itu sendiri, seringkali menjadi suara hati nurani kelompok. Sementara Angginan dan Ranita, dua kutub magnet yang tak pernah akur, selalu menemukan alasan untuk beradu pendapat, pertengkaran kecil mereka menjadi bumbu sehari-hari. Lili, gadis periang yang mudah terbawa emosi, adalah cermin kebahagiaan dan kesedihan kelompok. Dan Hestri, dengan sindiran tajam dan tatapan sinisnya, selalu siap melontarkan komentar yang memecah keheningan.

Masjid kecil dengan kubah hijaunya, berdiri tegak di tengah asrama, menjadi saksi bisu setiap doa, tawa, dan terkadang, air mata mereka. Asrama sederhana dengan kasur-kasur berjejer di lantai, menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang terlihat, seolah setiap sudutnya bernapas dengan kisah-kisah yang tak terucap.

Suatu sore yang tenang, ketenangan itu terkoyak. Sosok baru melangkah masuk ke gerbang asrama, membawa serta aura misterius yang segera menarik perhatian. Anistan. Rambutnya hitam legam, matanya menyimpan kedalaman yang tak terduga, dan senyumnya, meski jarang, mampu memikat siapa saja. Ia bukan sekadar penghuni baru; ia adalah badai yang akan mengguncang pondasi persahabatan mereka.

Kehadiran Anistan bagai percikan api di tengah tumpukan jerami. Dilan, yang biasanya tak tergoyahkan, segera terpikat oleh pesona Anistan. Tatapannya kini lebih sering tertuju pada gadis baru itu, senyumnya lebih lebar saat Anistan berbicara. Naylan, yang selama ini merasa memiliki Dilan sepenuhnya, merasakan cengkeraman cemburu yang dingin. Bisik-bisik penuh hasad mulai mengalir dari bibirnya, seperti racun yang perlahan menyebar. “Lihat saja, dia hanya mencari perhatian,” desisnya pada Lili yang gelisah.

Angginan dan Ranita, yang biasanya sibuk dengan pertengkaran mereka sendiri, kini mendapati diri mereka terseret dalam pusaran kedekatan Anistan dan Dilan. Anistan, dengan cerdik, tampaknya menikmati dinamika ini, sesekali melemparkan pujian pada Dilan di depan Angginan, atau meminta pendapat Ranita tentang hal-hal sepele yang membuat mereka merasa penting. Rindang, dengan hati yang mulai terasa perih, hanya bisa menahan amarahnya. Ia melihat retakan-retakan kecil mulai muncul di dinding persahabatan mereka, retakan yang semakin melebar oleh kebohongan dan cemburu yang disemai Anistan. Lili, yang biasanya ceria dan penuh tawa, kini berubah muram, merasa terpinggirkan dan bingung dengan perubahan sikap teman-temannya. Sementara Hestri, tak menyia-nyiakan kesempatan, mulai menyebarkan rumor-rumor tak sedap tentang Anistan, menambah keruh suasana.

Ketegangan mencapai puncaknya di bawah pohon kelengkeng. Malam itu, hujan mulai turun, membasahi dedaunan dan memantulkan cahaya rembulan. Suara-suara meninggi, pertengkaran meletus. Kata-kata tajam berhamburan, mengoyak keheningan malam yang seharusnya damai. Lisna, dengan segala kebijaksanaannya, mencoba meredakan, tetapi suaranya tenggelam di antara gelombang amarah dan intrik yang kini berkembang liar, tak terkendali. Ia tahu, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar cemburu. Ada bayangan gelap yang Anistan bawa, dan bayangan itu kini mulai menelan cahaya persahabatan mereka.

Hujan semakin deras, seolah langit pun ikut menangisi persahabatan yang terluka. Di bawah pohon kelengkeng yang basah kuyup, Lisna berdiri di tengah pusaran emosi, berusaha mencari celah untuk menenangkan badai. “Cukup!” serunya, suaranya bergetar namun tegas. “Kita tidak bisa terus seperti ini. Kita sahabat, bukan musuh.”

Namun, kata-katanya bagai angin lalu. Dilan dan Naylan saling bertukar tatapan penuh amarah, Angginan dan Ranita terus berdebat tentang siapa yang lebih dekat dengan Dilan, Lili terisak dalam diam, dan Hestri menyeringai sinis, menikmati drama yang terjadi. Anistan, di tengah kekacauan itu, hanya berdiri diam, sorot matanya sulit dibaca.

“Kau! Anistan!” tuding Naylan dengan jari gemetar. “Semua ini gara-gara kau! Kau datang dan merusak segalanya!”

Anistan mengangkat wajahnya, menatap Naylan dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku tidak melakukan apa pun,” jawabnya pelan, namun ada nada dingin dalam suaranya.

“Jangan berbohong!” bentak Dilan, membela Anistan. “Kau hanya iri karena dia lebih menarik darimu!”

Mendengar kata-kata Dilan, hati Naylan hancur berkeping-keping. Air mata mulai mengalir deras di pipinya. “Jadi, begitu?” lirihnya. “Selama ini aku salah. Aku pikir kau menyukaiku, Dilan. Tapi ternyata…”

“Cukup, Naylan!” potong Dilan dengan kasar. “Kau terlalu drama. Aku tidak pernah menyukaimu seperti itu.”

Kata-kata Dilan bagai cambuk yang menghantam Naylan. Ia terhuyung mundur, merasa seluruh dunianya runtuh. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari menjauh, meninggalkan mereka semua di bawah hujan yang semakin menggila.

Lisna menatap kepergian Naylan dengan hati pilu. Ia tahu, Dilan telah melukai Naylan terlalu dalam. Namun, ia juga tahu, ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi. Ia merasakan ada rahasia yang disembunyikan Anistan, rahasia yang menjadi akar dari semua kekacauan ini.

“Anistan,” panggil Lisna dengan suara tenang namun menusuk. “Katakan padaku, apa yang sebenarnya kau inginkan? Mengapa kau melakukan semua ini?”

Anistan terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Kau tidak akan mengerti,” jawabnya lirih.

“Aku akan mencoba,” balas Lisna dengan sabar. “Katakan saja. Mungkin kami bisa membantu.”

Anistan menatap Lisna dengan tatapan ragu. Lalu, perlahan, ia mulai membuka diri. Ia menceritakan tentang masa lalunya yang kelam, tentang keluarga yang berantakan, tentang rasa sakit dan kesepian yang selalu menghantuinya. Ia mengaku, ia datang ke pesantren ini bukan untuk mencari teman, melainkan untuk mencari perlindungan dan perhatian. Ia ingin merasa diterima, dicintai, seperti yang ia lihat pada persahabatan mereka.

“Aku tahu, aku salah,” ujarnya dengan suara bergetar. “Aku iri pada kalian. Aku ingin memiliki apa yang kalian miliki. Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Mendengar pengakuan Anistan, semua orang terdiam. Mereka mulai menyadari, Anistan bukanlah sosok jahat yang ingin menghancurkan persahabatan mereka. Ia hanyalah gadis yang terluka, yang mencari cara untuk menyembuhkan lukanya.

Namun, kejutan belum berakhir. Tiba-tiba, Hestri angkat bicara. “Jangan percaya padanya!” serunya dengan nada sinis. “Dia berbohong! Aku tahu siapa dia sebenarnya!”

Semua mata tertuju pada Hestri. “Apa maksudmu?” tanya Lisna dengan bingung.

Hestri menyeringai. “Anistan bukan hanya gadis biasa. Dia… dia adalah adik tiri dari pemilik pesantren ini!”

Pengakuan Hestri bagaikan petir di siang bolong. Semua terkejut, tak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Anistan, yang selama ini berusaha menyembunyikan identitasnya, hanya bisa menunduk dalam diam.

“Itu benar,” bisik Anistan lirih, air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku memang adik tiri dari pemilik pesantren ini. Tapi aku tidak pernah ingin menggunakan posisiku untuk keuntungan pribadi.”

“Lalu, mengapa kau menyembunyikannya?” tanya Lisna dengan nada lembut.

Anistan mengangkat wajahnya, menatap Lisna dengan tatapan putus asa. “Aku takut,” jawabnya. “Aku takut kalian akan memperlakukanku berbeda jika kalian tahu siapa aku sebenarnya. Aku ingin diterima sebagai Anistan, bukan sebagai adik pemilik pesantren.”

Hestri mendengus sinis. “Alasan yang bagus. Tapi aku tidak percaya padamu. Aku yakin, kau punya motif tersembunyi.”

“Cukup, Hestri!” bentak Rindang, yang selama ini hanya diam. “Kau tidak berhak menghakimi Anistan. Kita semua punya masa lalu dan alasan masing-masing.”

Rindang mendekati Anistan dan memeluknya erat. “Aku percaya padamu, Anistan,” bisiknya. “Aku tahu kau orang baik.”

Pelukan Rindang bagai oase di tengah gurun pasir. Anistan membalas pelukan Rindang dengan erat, air matanya semakin deras mengalir. Ia merasa lega, akhirnya ada seseorang yang percaya padanya.

Dilan, yang selama ini berdiri terpaku, akhirnya tersadar dari lamunannya. Ia mendekati Anistan dan menggenggam tangannya. “Maafkan aku, Anistan,” ucapnya dengan tulus. “Aku telah salah menilaimu. Aku terlalu dibutakan oleh pesonamu hingga tidak melihat siapa kau sebenarnya.”

Anistan tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Dilan,” jawabnya. “Aku mengerti.”

Melihat ketulusan Dilan dan Rindang, Angginan dan Ranita pun ikut menyadari kesalahan mereka. Mereka mendekati Anistan dan meminta maaf atas sikap mereka yang kekanak-kanakan.

“Kami juga minta maaf, Anistan,” ucap Angginan.

“Kami terlalu fokus pada Dilan hingga tidak menyadari perasaanmu,” timpal Ranita.

Anistan tersenyum lega. Ia merasa, akhirnya ia telah diterima di antara mereka. Namun, ia masih merasa bersalah atas apa yang telah terjadi pada Naylan.

“Di mana Naylan?” tanya Anistan dengan cemas. “Aku harus minta maaf padanya.”

“Dia pergi,” jawab Lisna dengan nada sedih. “Dia sangat terluka dengan kata-kata Dilan.”

Anistan merasa bersalah. Ia tahu, ia telah menyebabkan Naylan terluka. Ia harus mencari Naylan dan meminta maaf padanya.

“Aku harus mencarinya,” ucap Anistan dengan tekad bulat. “Aku harus meminta maaf padanya dan memperbaiki semuanya.”

Dilan, Rindang, Angginan, dan Ranita mengangguk setuju. Mereka semua berjanji akan membantu Anistan mencari Naylan dan memperbaiki persahabatan mereka yang terluka.

Di bawah rintik hujan yang mulai mereda, delapan sahabat itu berjanji untuk saling memaafkan, saling mendukung, dan saling menjaga. Mereka belajar bahwa kejujuran dan pengertian adalah kunci untuk menjaga persahabatan tetap utuh. Dan bahwa, di balik setiap topeng, ada hati yang terluka yang membutuhkan cinta dan penerimaan.

Dengan tekad membara, Anistan, ditemani Lisna, Dilan, Rindang, Angginan, dan Ranita, memulai pencarian Naylan. Hujan telah berhenti, meninggalkan jejak basah di jalanan asrama dan aroma tanah yang segar. Mereka menyebar, mencari di setiap sudut yang mungkin menjadi tempat persembunyian Naylan. Masjid, perpustakaan, taman belakang, bahkan dapur asrama tak luput dari pencarian mereka.

“Naylan! Naylan!” seru mereka berulang kali, namun hanya gema suara mereka yang menjawab.

Waktu terus berjalan, namun jejak Naylan masih belum ditemukan. Anistan mulai merasa putus asa. Ia takut, Naylan telah pergi jauh dan tidak akan pernah kembali.

“Jangan menyerah, Anistan,” ucap Lisna, menyemangati. “Kita pasti akan menemukannya. Naylan adalah sahabat kita, dia tidak akan pergi begitu saja.”

Kata-kata Lisna memberikan sedikit harapan bagi Anistan. Ia terus mencari, mengikuti setiap petunjuk kecil yang mungkin mengarah pada Naylan.

Akhirnya, Rindang menemukan secarik kertas yang terlipat di bawah pohon kelengkeng. Kertas itu berisi tulisan tangan Naylan yang bergetar:

“Aku tidak bisa lagi. Aku tidak tahan dengan semua ini. Aku pergi. Jangan cari aku.”

Membaca surat itu, hati Anistan semakin hancur. Ia merasa bersalah, ia telah mendorong Naylan hingga mencapai titik terendahnya.

“Kita harus menemukannya secepatnya,” ucap Anistan dengan nada panik. “Aku takut dia melakukan sesuatu yang buruk.”

Mereka melanjutkan pencarian dengan lebih intens. Mereka bertanya pada setiap orang yang mereka temui, menunjukkan foto Naylan dan menanyakan apakah ada yang melihatnya.

Akhirnya, seorang penjaga asrama memberikan petunjuk. Ia mengatakan, ia melihat Naylan berjalan menuju stasiun kereta api beberapa jam yang lalu.

Tanpa membuang waktu, mereka bergegas menuju stasiun kereta api. Mereka berharap, mereka belum terlambat.

Sesampainya di stasiun, mereka mencari Naylan di antara kerumunan orang. Mereka bertanya pada petugas stasiun, menunjukkan foto Naylan dan menanyakan apakah ada yang melihatnya membeli tiket.

Seorang petugas stasiun mengatakan, ia melihat seorang gadis yang mirip dengan Naylan membeli tiket kereta api menuju Lampung Tengah.

Tanpa ragu, mereka membeli tiket kereta api yang sama dan segera naik ke dalam gerbong. Mereka berharap, Naylan masih berada di dalam kereta.

Di dalam kereta, mereka mencari Naylan di setiap gerbong. Mereka bertanya pada setiap penumpang, menunjukkan foto Naylan dan menanyakan apakah ada yang melihatnya.

Akhirnya, mereka menemukan Naylan duduk sendirian di sudut gerbong, menatap kosong ke luar jendela. Air mata masih mengalir di pipinya.

Anistan mendekati Naylan dengan hati-hati. “Naylan,” panggilnya lembut.

Naylan tersentak kaget. Ia menoleh dan melihat Anistan berdiri di depannya. Ia berusaha menghindar, namun Anistan dengan cepat meraih tangannya.

“Jangan pergi, Naylan,” ucap Anistan dengan nada memohon. “Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi. Aku tahu aku telah menyakitimu. Tapi aku tidak bermaksud seperti itu.”

Naylan menatap Anistan dengan tatapan penuh amarah dan kesedihan. “Kau tidak mengerti,” ucapnya dengan suara bergetar. “Kau telah merusak segalanya. Aku tidak bisa lagi mempercayai siapa pun.”

“Aku tahu,” balas Anistan. “Tapi aku berjanji, aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan kepercayaanmu kembali. Aku akan membuktikan padamu bahwa aku benar-benar menyesal.”

Anistan memeluk Naylan erat. “Aku sayang padamu, Naylan,” bisiknya. “Kau adalah sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Naylan terisak dalam pelukan Anistan. Ia merasa lega, akhirnya ada seseorang yang peduli padanya. Ia tahu, ia tidak bisa terus lari dari masalahnya. Ia harus menghadapi semuanya bersama teman-temannya.

Di dalam gerbong kereta yang berderit, di antara isak tangis dan bisikan maaf, benih-benih rekonsiliasi mulai tumbuh. Anistan terus memeluk Naylan, menyalurkan ketulusan dan penyesalannya. Lisna, Dilan, Rindang, Angginan, dan Ranita berdiri di sekitar mereka, memberikan dukungan tanpa kata.

Perlahan, Naylan mulai merespons pelukan Anistan. Tangisnya mereda, digantikan oleh isak lirih yang menyayat hati. “Aku… aku juga sayang kalian,” bisiknya, suaranya tercekat. “Tapi aku merasa… aku merasa tidak pantas.”

“Tidak ada yang tidak pantas, Naylan,” balas Lisna lembut, berjongkok di depan Naylan dan menggenggam tangannya. “Kita semua membuat kesalahan. Yang penting adalah bagaimana kita belajar dari kesalahan itu dan menjadi lebih baik.”

Dilan, dengan wajah penuh penyesalan, ikut berlutut di depan Naylan. “Naylan, maafkan aku,” ucapnya tulus. “Aku telah menyakitimu dengan kata-kataku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya… aku hanya bodoh.”

Naylan menatap Dilan dengan tatapan yang lebih lembut. “Aku tahu,” jawabnya. “Aku tahu kau tidak bermaksud jahat. Aku hanya… aku hanya terlalu sensitif.”

Angginan dan Ranita, yang biasanya selalu bersaing, kini berdiri berdampingan, menyatukan kekuatan untuk mendukung Naylan. “Kami juga minta maaf, Naylan,” ucap Angginan. “Kami terlalu fokus pada Dilan hingga melupakanmu.”

“Kami berjanji, kami akan menjadi teman yang lebih baik,” timpal Ranita.

Naylan tersenyum tipis. Ia merasa terharu dengan ketulusan teman-temannya. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki mereka, dan mereka memiliki dirinya.

Setelah suasana mereda, mereka memutuskan untuk kembali ke pesantren. Mereka tahu, masih banyak yang harus dibicarakan dan diperbaiki. Namun, mereka yakin, dengan kejujuran, pengertian, dan cinta, mereka bisa mengatasi segala rintangan.

Sesampainya di pesantren, mereka berkumpul kembali di bawah pohon kelengkeng. Pohon itu, yang menjadi saksi bisu dari segala suka dan duka mereka, kini terasa seperti tempat yang aman dan nyaman.

Mereka duduk melingkar, saling berpegangan tangan. Mereka menceritakan semua perasaan mereka, tanpa ada yang ditutupi. Anistan menceritakan tentang masa lalunya yang kelam, Naylan menceritakan tentang rasa tidak amannya, Dilan menceritakan tentang kebodohannya, Angginan dan Ranita menceritakan tentang persaingan mereka, dan Lisna serta Rindang menceritakan tentang peran mereka sebagai penengah.

Setelah semua selesai berbicara, mereka merasa lega. Beban di hati mereka terasa ringan. Mereka merasa lebih dekat dan lebih terhubung dari sebelumnya.

Mereka berjanji untuk saling memaafkan, saling mendukung, dan saling menjaga. Mereka berjanji untuk tidak lagi menyembunyikan perasaan mereka, untuk selalu jujur satu sama lain, dan untuk selalu mengutamakan persahabatan di atas segalanya.

Malam itu, di bawah naungan pohon kelengkeng, di bawah guyuran air hujan yang lembut, delapan sahabat itu menemukan kembali kekuatan persahabatan mereka. Mereka belajar bahwa persahabatan sejati tidak selalu mudah. Akan ada saat-saat sulit, akan ada pertengkaran dan kesalahpahaman. Namun, jika ada kejujuran, pengertian, dan cinta, persahabatan akan selalu bertahan.

Di bawah cahaya rembulan yang malu-malu, mereka berpelukan erat. Mereka tahu, mereka akan menghadapi masa depan bersama, sebagai sahabat sejati, selamanya.

(Tempat, peristiwa, nama hanyalah fiktif belaka)


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *