Mimbar Berbisik, Kelengkeng Bersaksi

Di jantung Ponpes Bustanul Ulum Way Kanan, di antara lantunan ayat suci dan aroma getah karet yang menyengat dari kebun di seberang asrama, terjalinlah kisah lima santri dalam satu kamar. Kamar 4B, demikian mereka menyebutnya, adalah miniatur kehidupan pesantren, tempat persahabatan diuji, ambisi membara, dan intrik merayap di sela-sela kasur lusuh.

Setiawan Jadi, sang primus inter pares, adalah sosok yang disegani sekaligus dikagumi. Ketampanannya yang kalem, kecerdasannya yang di atas rata-rata, dan kemampuannya berorasi di mimbar khutbah membuat namanya selalu disebut-sebut sebagai calon penerus kyai. Rayhan Habibie, sahabat karib Setiawan, adalah penyeimbang. Ia cerdas, namun lebih membumi, lebih dekat dengan realitas kehidupan pesantren. Rayhan selalu menjadi tempat Setiawan berbagi beban pikiran, meski terkadang, ada secuil rasa iri yang menghampiri hatinya.

Mandala Hutama, si anak rantau dari Sumatera Barat, adalah representasi kerja keras dan determinasi. Ia bukan yang terpintar, namun semangatnya untuk belajar tak pernah padam. Ia bercita-cita menjadi imam besar, memimpin dzikir dan tahlil di berbagai pelosok negeri, seperti yang sering diminta masyarakat Lampung. Raeki Putra, dengan bakat seni yang menonjol, adalah penghibur di kala penat. Suaranya merdu saat melantunkan Al-Barzanji, membuat hati siapa pun yang mendengarnya menjadi teduh. Namun, di balik senyumnya, tersimpan ambisi untuk menjadi qori’ terkenal, mengalahkan senior-seniornya.

Rizal Panggabean, si bungsu, adalah potret kepolosan dan semangat muda. Ia baru saja masuk pesantren, masih beradaptasi dengan kerasnya kehidupan santri. Ia mengagumi keempat seniornya, namun terkadang merasa minder dengan kemampuan mereka.

Suatu sore, setelah berjibaku dengan pelajaran nahwu dan sharaf, kelimanya berkumpul di kamar. Aroma getah karet dari kebun di kejauhan seolah ikut menyemangati obrolan mereka. Setiawan bercerita tentang mimpinya untuk mengubah wajah pesantren menjadi lebih modern, Rayhan menanggapi dengan pandangan realistisnya, Mandala bersemangat membahas persiapan untuk lomba pidato antar pesantren, Raeki asyik memainkan gitar sambil melantunkan shalawat, dan Rizal hanya menyimak dengan mata berbinar.

Namun, di balik keakraban itu, bibit-bibit persaingan mulai tumbuh. Mandala merasa iri dengan kemampuan Setiawan berorasi, Raeki diam-diam mengagumi kecerdasan Rayhan, dan Rizal merasa rendah diri dengan kemampuannya yang masih jauh di bawah senior-seniornya.

Suatu malam, saat semua terlelap, bisikan fitnah mulai merayap. Seseorang menyebarkan rumor bahwa Setiawan menggunakan koneksi orang tuanya untuk mendapatkan perlakuan istimewa dari kyai. Rumor itu dengan cepat menyebar, menciptakan keretakan di antara kelima sahabat.

Rumor tentang Setiawan bagai duri dalam daging. Kamar 4B yang dulunya hangat dan penuh canda, kini terasa dingin dan penuh kecurigaan. Setiawan, yang biasanya selalu terbuka, menjadi lebih pendiam dan tertutup. Ia merasa dikhianati oleh orang yang selama ini ia anggap sebagai sahabat.

Suatu malam, di bawah rindangnya pohon kelengkeng yang menjadi saksi bisu persahabatan mereka, Rayhan menghampiri Setiawan yang sedang termenung.

“Setiawan, ada apa denganmu?” tanya Rayhan dengan nada khawatir. “Kau tidak seperti biasanya.”

Setiawan menghela napas panjang. “Kau sudah dengar rumor tentangku?” tanyanya balik.

Rayhan mengangguk pelan. “Aku tidak percaya semua itu,” jawabnya. “Aku tahu kau bukan orang seperti itu.”

“Terima kasih, Rayhan,” ucap Setiawan dengan nada lega. “Tapi aku tidak tahu siapa yang menyebarkan rumor itu. Aku merasa dikhianati.”

“Jangan khawatir, Setiawan,” hibur Rayhan. “Kita akan mencari tahu siapa pelakunya. Kita akan membuktikan bahwa rumor itu tidak benar.”

Namun, di balik kata-kata dukungan itu, Rayhan menyimpan keraguan. Ia tahu, Setiawan memang memiliki koneksi yang kuat dengan kyai. Ia juga tahu, Setiawan memiliki ambisi yang besar untuk menjadi penerus kyai. Apakah mungkin Setiawan benar-benar menggunakan koneksi orang tuanya untuk mencapai tujuannya?

Sementara itu, di dalam kamar 4B, Mandala dan Raeki terlibat dalam percakapan yang intens.

“Kau percaya dengan rumor tentang Setiawan?” tanya Mandala dengan nada curiga.

“Aku tidak tahu,” jawab Raeki dengan ragu. “Tapi aku tidak suka dengan sikapnya yang sok alim itu. Dia selalu merasa paling benar.”

“Aku juga,” timpal Mandala. “Dia selalu meremehkan kita. Dia pikir, hanya dia yang pantas menjadi imam besar.”

“Mungkin kita harus melakukan sesuatu,” usul Raeki dengan nada licik. “Kita harus menunjukkan padanya bahwa kita juga punya kemampuan.”

“Apa maksudmu?” tanya Mandala dengan tertarik.

“Kita bisa menjebaknya,” jawab Raeki dengan senyum sinis. “Kita bisa menyebarkan fitnah yang lebih kejam tentangnya. Kita bisa menghancurkan reputasinya.”

Mandala terdiam sejenak, menimbang-nimbang usulan Raeki. Ia tahu, apa yang mereka rencanakan itu salah. Tapi ia juga merasa iri dan dendam pada Setiawan. Ia ingin membuktikan bahwa ia juga pantas mendapatkan pengakuan.

“Baiklah,” akhirnya Mandala menyetujui. “Kita lakukan itu. Kita akan menghancurkan Setiawan.”

Di bawah naungan pohon kelengkeng dan di dalam kamar 4B yang penuh intrik, benih-benih fitnah dan pengkhianatan mulai tumbuh subur, mengancam persahabatan yang selama ini mereka jaga.

 Bab 3: Jaring Fitnah Merajalela, Mimbar Jadi Saksi

Jaring fitnah yang dirajut Mandala dan Raeki mulai merajalela. Mereka menyebarkan desas-desus bahwa Setiawan terlibat dalam praktik korupsi dana pesantren, memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi. Mereka membisikkan cerita-cerita bohong kepada santri-santri lain, menciptakan opini publik yang negatif terhadap Setiawan.

Puncaknya terjadi saat khutbah Jumat. Setiawan, yang biasanya tampil percaya diri dan bersemangat, terlihat gugup dan kehilangan fokus. Ia beberapa kali salah mengucapkan ayat, dan suaranya bergetar saat menyampaikan pesan-pesan agama.

Di antara jamaah, Mandala dan Raeki saling bertukar pandang penuh kemenangan. Mereka merasa puas melihat Setiawan terpuruk.

Setelah khutbah selesai, kyai memanggil Setiawan ke ruangannya. Kyai menanyakan kebenaran rumor yang beredar, dan meminta Setiawan untuk memberikan klarifikasi.

Setiawan, dengan hati hancur, membantah semua tuduhan. Ia bersumpah bahwa ia tidak pernah melakukan tindakan korupsi atau memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi.

Kyai mendengarkan dengan seksama, namun raut wajahnya menunjukkan keraguan. Ia mengatakan, ia akan melakukan investigasi untuk mencari tahu kebenaran.

Setelah keluar dari ruangan kyai, Setiawan merasa putus asa. Ia tahu, reputasinya telah tercemar. Ia tidak tahu bagaimana cara membersihkan namanya.

Di kamar 4B, suasana semakin tegang. Mandala dan Raeki berusaha menyembunyikan kegembiraan mereka, namun Setiawan bisa merasakan aura permusuhan yang mereka pancarkan.

“Kalian yang melakukan ini, kan?” tanya Setiawan dengan nada dingin.

Mandala dan Raeki saling berpandangan, lalu tertawa sinis.

“Apa maksudmu, Setiawan?” tanya Mandala dengan nada mengejek. “Kami tidak tahu apa-apa.”

“Jangan berbohong!” bentak Setiawan. “Aku tahu kalian iri padaku. Kalian ingin menghancurkan reputasiku.”

“Kalau memang benar, kenapa?” tantang Raeki. “Kau memang pantas mendapatkannya. Kau terlalu sombong dan merasa paling benar.”

Setiawan mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah. Ia ingin menghajar Mandala dan Raeki, namun ia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah.

“Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkanku,” ucap Setiawan dengan nada tegas. “Aku akan membuktikan bahwa semua tuduhan itu tidak benar. Aku akan membersihkan namaku.”

Setiawan berbalik dan meninggalkan kamar 4B. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, namun ia bertekad untuk mencari kebenaran dan membalas dendam pada orang-orang yang telah mengkhianatinya.

Rayhan, yang menyaksikan pertengkaran itu dari kejauhan, merasa iba pada Setiawan. Ia tahu, Setiawan tidak bersalah. Ia juga tahu, Mandala dan Raeki telah bertindak terlalu jauh.

Rayhan memutuskan untuk membantu Setiawan. Ia akan mencari bukti-bukti yang bisa membersihkan nama Setiawan dan membongkar kejahatan Mandala dan Raeki.

Jaring fitnah yang dirajut Mandala dan Raeki mulai merajalela. Mereka menyebarkan desas-desus bahwa Setiawan terlibat dalam praktik korupsi dana pesantren, memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi. Mereka membisikkan cerita-cerita bohong kepada santri-santri lain, menciptakan opini publik yang negatif terhadap Setiawan.

Puncaknya terjadi saat khutbah Jumat. Setiawan, yang biasanya tampil percaya diri dan bersemangat, terlihat gugup dan kehilangan fokus. Ia beberapa kali salah mengucapkan ayat, dan suaranya bergetar saat menyampaikan pesan-pesan agama.

Di antara jamaah, Mandala dan Raeki saling bertukar pandang penuh kemenangan. Mereka merasa puas melihat Setiawan terpuruk.

Setelah khutbah selesai, kyai memanggil Setiawan ke ruangannya. Kyai menanyakan kebenaran rumor yang beredar, dan meminta Setiawan untuk memberikan klarifikasi.

Setiawan, dengan hati hancur, membantah semua tuduhan. Ia bersumpah bahwa ia tidak pernah melakukan tindakan korupsi atau memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi.

Kyai mendengarkan dengan seksama, namun raut wajahnya menunjukkan keraguan. Ia mengatakan, ia akan melakukan investigasi untuk mencari tahu kebenaran.

Setelah keluar dari ruangan kyai, Setiawan merasa putus asa. Ia tahu, reputasinya telah tercemar. Ia tidak tahu bagaimana cara membersihkan namanya.

Di kamar 4B, suasana semakin tegang. Mandala dan Raeki berusaha menyembunyikan kegembiraan mereka, namun Setiawan bisa merasakan aura permusuhan yang mereka pancarkan.

“Kalian yang melakukan ini, kan?” tanya Setiawan dengan nada dingin.

Mandala dan Raeki saling berpandangan, lalu tertawa sinis.

“Apa maksudmu, Setiawan?” tanya Mandala dengan nada mengejek. “Kami tidak tahu apa-apa.”

“Jangan berbohong!” bentak Setiawan. “Aku tahu kalian iri padaku. Kalian ingin menghancurkan reputasiku.”

“Kalau memang benar, kenapa?” tantang Raeki. “Kau memang pantas mendapatkannya. Kau terlalu sombong dan merasa paling benar.”

Setiawan mengepalkan tangannya, berusaha menahan amarah. Ia ingin menghajar Mandala dan Raeki, namun ia tahu itu tidak akan menyelesaikan masalah.

“Aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkanku,” ucap Setiawan dengan nada tegas. “Aku akan membuktikan bahwa semua tuduhan itu tidak benar. Aku akan membersihkan namaku.”

Setiawan berbalik dan meninggalkan kamar 4B. Ia tidak tahu ke mana harus pergi, namun ia bertekad untuk mencari kebenaran dan membalas dendam pada orang-orang yang telah mengkhianatinya.

Rayhan, yang menyaksikan pertengkaran itu dari kejauhan, merasa iba pada Setiawan. Ia tahu, Setiawan tidak bersalah. Ia juga tahu, Mandala dan Raeki telah bertindak terlalu jauh.

Rayhan memutuskan untuk membantu Setiawan. Ia akan mencari bukti-bukti yang bisa membersihkan nama Setiawan dan membongkar kejahatan Mandala dan Raeki.

Rayhan, dengan tekad membara, memulai penyelidikannya. Ia mendekati santri-santri yang dekat dengan Mandala dan Raeki, berusaha menggali informasi tentang rencana jahat mereka. Awalnya, banyak yang enggan berbicara, takut terlibat dalam masalah yang rumit. Namun, dengan pendekatan yang sabar dan persuasif, Rayhan berhasil mendapatkan beberapa petunjuk penting.

Dari bisikan-bisikan yang dikumpulkannya, Rayhan mengetahui bahwa Mandala dan Raeki telah menyuap beberapa santri untuk menyebarkan fitnah tentang Setiawan. Mereka juga memalsukan beberapa dokumen untuk mendukung tuduhan korupsi.

Rayhan merasa geram. Ia tidak menyangka Mandala dan Raeki bisa bertindak sekejam itu. Ia bertekad untuk membongkar kejahatan mereka dan membebaskan Setiawan dari tuduhan palsu.

Suatu malam, Rayhan menyelinap ke kamar Mandala dan Raeki saat mereka sedang tidur. Ia mencari bukti-bukti yang bisa menguatkan tuduhannya. Setelah mengobrak-abrik seluruh kamar, ia menemukan sebuah buku catatan kecil yang berisi rincian rencana mereka dan daftar nama santri yang telah mereka suap.

Rayhan tersenyum puas. Ia telah mendapatkan bukti yang ia butuhkan. Ia segera membawa buku catatan itu kepada kyai.

Kyai, setelah membaca buku catatan itu, terkejut dan marah. Ia tidak menyangka santri-santrinya bisa bertindak sejahat itu. Ia segera memanggil Mandala dan Raeki ke ruangannya.

Di hadapan kyai dan para pengurus pesantren, Rayhan membongkar semua kejahatan Mandala dan Raeki. Ia menunjukkan buku catatan sebagai bukti, dan memanggil santri-santri yang telah mereka suap untuk memberikan kesaksian.

Mandala dan Raeki tidak bisa mengelak lagi. Mereka mengakui semua perbuatan mereka, dan meminta maaf kepada kyai, Setiawan, dan seluruh santri.

Kyai, dengan berat hati, menjatuhkan hukuman yang setimpal kepada Mandala dan Raeki. Mereka dikeluarkan dari pesantren dan diminta untuk meminta maaf secara terbuka kepada Setiawan.

Setiawan, yang menyaksikan semua itu, merasa lega dan terharu. Ia berterima kasih kepada Rayhan karena telah membantunya membersihkan nama baiknya.

“Terima kasih, Rayhan,” ucap Setiawan dengan tulus. “Kau adalah sahabat sejatiku.”

“Sama-sama, Setiawan,” balas Rayhan. “Aku hanya melakukan apa yang benar.”

Setelah kejadian itu, hubungan antara Setiawan dan Rayhan semakin erat. Mereka berjanji untuk selalu saling mendukung dan menjaga persahabatan mereka.

Sementara itu, Rizal, yang selama ini hanya menjadi penonton, merasa bersalah karena telah termakan oleh fitnah Mandala dan Raeki. Ia mendekati Setiawan dan Rayhan, meminta maaf atas kesalahannya.

“Aku minta maaf, Setiawan, Rayhan,” ucap Rizal dengan nada menyesal. “Aku telah salah menilai kalian. Aku terlalu mudah percaya pada omongan orang lain.”

“Tidak apa-apa, Rizal,” balas Setiawan dengan senyum. “Yang penting kau sudah menyadari kesalahanmu.”

“Kami memaafkanmu, Rizal,” timpal Rayhan. “Mari kita lupakan semua ini dan mulai dari awal.”

Setiawan, Rayhan, dan Rizal berpelukan erat, menandai awal dari persahabatan yang baru dan lebih kuat.

Setelah kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan, suasana di Ponpes Bustanul Ulum Way Kanan perlahan kembali tenang. Namun, luka yang ditinggalkan oleh fitnah dan pengkhianatan tidak bisa hilang begitu saja. Setiawan, Rayhan, dan Rizal menyadari bahwa mereka harus bekerja keras untuk membangun kembali kepercayaan dan persahabatan yang sempat retak.

Setiawan, yang terpilih kembali menjadi ketua organisasi santri, berusaha merangkul semua pihak. Ia mengadakan forum diskusi terbuka, tempat para santri bisa menyampaikan aspirasi dan keluhan mereka tanpa rasa takut. Ia juga menginisiasi program-program sosial yang melibatkan seluruh santri, mempererat tali persaudaraan dan menumbuhkan rasa saling peduli.

Rayhan, dengan kecerdasannya yang membumi, menjadi penasihat setia Setiawan. Ia membantu Setiawan merumuskan kebijakan-kebijakan yang adil dan bermanfaat bagi seluruh santri. Ia juga menjadi mediator dalam menyelesaikan konflik-konflik kecil yang sering muncul di antara para santri.

Rizal, yang kini lebih percaya diri dan berani, aktif dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya. Ia menggunakan bakatnya untuk menghibur dan menginspirasi para santri. Ia juga menjadi contoh bagi santri-santri yang lebih muda, menunjukkan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkontribusi positif bagi masyarakat.

Suatu sore, di bawah rindangnya pohon kelengkeng yang selalu menjadi saksi bisu perjalanan mereka, Setiawan, Rayhan, dan Rizal duduk bersama, mengenang masa-masa sulit yang telah mereka lalui.

“Dulu, aku merasa sangat marah dan kecewa,” ucap Setiawan dengan nada reflektif. “Aku ingin membalas dendam pada Mandala dan Raeki. Tapi sekarang, aku menyadari bahwa memaafkan adalah pilihan yang lebih baik.”

“Aku setuju,” timpal Rayhan. “Memaafkan tidak berarti melupakan. Tapi itu berarti kita memilih untuk tidak membiarkan masa lalu menghantui kita. Kita memilih untuk fokus pada masa depan.”

“Aku juga belajar banyak dari kejadian ini,” sahut Rizal. “Aku belajar untuk tidak mudah percaya pada omongan orang lain. Aku belajar untuk berpikir kritis dan mencari kebenaran sendiri.”

Mereka bertiga tersenyum, merasa bangga dengan pertumbuhan diri yang telah mereka capai. Mereka menyadari bahwa cobaan yang mereka alami telah membuat mereka menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih dewasa.

Tiba-tiba, Mandala dan Raeki muncul di hadapan mereka. Mereka terlihat kurus dan lusuh, namun sorot mata mereka menunjukkan penyesalan yang mendalam.

“Setiawan, Rayhan, Rizal, kami ingin meminta maaf,” ucap Mandala dengan suara bergetar. “Kami tahu, apa yang kami lakukan itu salah. Kami telah menyakiti kalian dan seluruh pesantren.”

“Kami menyesal,” timpal Raeki. “Kami berharap kalian bisa memaafkan kami.”

Setiawan, Rayhan, dan Rizal saling berpandangan, lalu mengangguk setuju.

“Kami memaafkan kalian,” ucap Setiawan dengan tulus. “Kami berharap kalian bisa belajar dari kesalahan kalian dan menjadi orang yang lebih baik.”

Mandala dan Raeki tersenyum lega. Mereka mendekati Setiawan, Rayhan, dan Rizal, lalu berpelukan erat.

Di bawah naungan pohon kelengkeng, lima santri itu bersatu kembali, melupakan masa lalu yang kelam dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Mereka tahu, persahabatan mereka telah diuji dengan keras, namun mereka berhasil melewatinya dengan kebersihan hati dan ketulusan jiwa.

Persahabatan mereka, kini, bukan hanya sekadar ikatan emosional. Tapi juga sebuah komitmen untuk saling mendukung, saling mengingatkan, dan saling menginspirasi dalam menggapai ridha Ilahi. Persahabatan yang abadi, hingga akhir hayat nanti.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *