Hasan Hanafi: Pemikir, Proyek Intelektual, dan Warisan Gagasan Progresif

Oleh: Abi Wayka

Hasan Hanafi (1935–2021) adalah seorang filsuf dan pemikir Islam kontemporer asal Mesir yang kerap disebut sebagai salah satu intelektual Muslim paling berpengaruh di abad ke-20. Pemikirannya konsisten menyoroti keterbelakangan umat Islam dan dominasi budaya Barat, seraya menawarkan kerangka yang berpijak pada revitalisasi khazanah Islam klasik, penyusunan kembali teologi, hingga kritik radikal terhadap orientalisme Barat.

Lebih dari sekadar akademisi, Hanafi tampil sebagai “pemikir pejuang” — seorang intelektual yang meyakini bahwa teologi tidak boleh berhenti pada langit, melainkan harus turun menyentuh bumi: persoalan kemiskinan, penindasan, kolonialisme, dan perjuangan mustadh‘afin.


Kehidupan dan Pendidikan

Hasan Hanafi lahir di Kairo pada 13 Februari 1935, dari keluarga Bani Suwaif di Mesir bagian selatan [1][2]. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecerdasannya — di usia lima tahun ia telah hafal Al-Qur’an [1].

Pendidikan awalnya ditempuh di madrasah tradisional, kemudian melesat ke jalur filsafat ketika ia masuk Universitas Kairo dan meraih gelar sarjana filsafat pada 1956 [2]. Pada periode studinya di Kairo itulah ia mulai bersentuhan dengan diskursus Ikhwanul Muslimin dan menyerap dinamika reformis Islam [3].

Perjalanan intelektual seriusnya berlangsung di Universitas Sorbonne, Paris (1956–1966). Di sana ia mendalami filsafat Barat, khususnya fenomenologi Edmund Husserl, hingga meraih gelar doktor dengan disertasinya Essai sur la Méthode d’Exégèse (1966). Disertasi setebal 900 halaman ini kemudian memperoleh penghargaan sebagai salah satu karya terbaik di Mesir (1971) [3][5].

Sekembali ke Mesir, ia mengabdikan diri di Universitas Kairo sebagai pengajar filsafat, sekaligus aktif menjadi dosen tamu di berbagai universitas internasional: Prancis, Amerika Serikat, Belgia, Kuwait, hingga Jepang [3].


Karya-Karya Utama

Produktivitas Hanafi nampak dari karya dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Prancis. Beberapa karyanya yang monumental antara lain:

  • Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam, 1981) – Jurnal yang menjadi manifestonya mengenai gagasan “Kiri Islam” [3]. Walau hanya terbit sekali karena dilarang pemerintah Mesir, gagasan di dalamnya menyebar luas [5].
  • Min al-‘Aqidah ila al-Tsaurah (Dari Akidah Menuju Revolusi, 1988) – Lima jilid karya besar yang menyerukan transformasi teologi dari spekulasi teosentris menuju praksis sosial antroposentris [4].
  • Al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan, 1980) – Proyek intelektual utamanya untuk merevitalisasi khazanah klasik dan menjadikan tradisi sebagai landasan perlawanan terhadap imperialisme budaya [2].
  • Muqaddimah fi ‘Ilm al-Istighrab (Pengantar Oksidentalisme, 1991) – Fondasi bagi sebuah disiplin ilmu baru: mengkaji Barat secara kritis dari perspektif Timur, sebagai antitesis orientalisme [5].
  • Dirasat Islamiyah (1981) – Menguraikan pembaruan di berbagai bidang keilmuan Islam: ushul fiqh, teologi, filsafat [8].

Pokok-Pokok Pemikiran

1. Kiri Islam (Al-Yasar al-Islami)

“Kiri Islam” bagi Hanafi berarti keberpihakan umat terhadap kaum lemah dan mayoritas miskin (mustadh‘afin). Ia terinspirasi kemenangan Revolusi Iran (1979) dan kegagalan modernisme Islam dalam menghadapi penindasan [2].

Visi utamanya mencakup:

  • Revolusi Tauhid: Menafsirkan tauhid sebagai kesatuan sosial-kemanusiaan, bukan sekadar ajaran abstrak [4].
  • Perlawanan terhadap Hegemoni Barat: Menolak dominasi kultural Barat [5].
  • Analisis Realitas: Menjadikan kondisi umat, kemiskinan, keterbelakangan sebagai titik awal refleksi keagamaan [5].

2. Rekonstruksi Teologi

Bagi Hanafi, teologi Islam klasik hanyalah “wacana langit” yang gagal berpijak pada kebutuhan sosial-politik umat [1][9]. Ia menawarkan transformasi menuju teologi pembebasan, yaitu:

  • Dari teosentris → antroposentris.
  • Iman sebagai motivasi etis-tindakan nyata, bukan dogma kosong [13].
  • Hermeneutika & fenomenologi sebagai metode membaca teks dalam konteks sosial [1].

3. Oksidentalisme

Sebagai antitesis orientalisme, Hanafi mencanangkan disiplin oksidentalisme (al-Istighrab) [5]. Inisiatif ini bertujuan:

  • Membongkar mitos “kepemimpinan universal” Barat [9].
  • Membangun kembali kesadaran diri umat Islam.
  • Mengkaji Barat secara kritis dan objektif, bukan meninggikannya atau serta-merta menolaknya [10].

Kontribusi yang Ditinggalkan

  1. Pelopor Teologi Pembebasan Islam – Menyatukan iman dengan perjuangan sosial.
  2. Kritik Radikal pada Orientalisme & Westernisasi – Mengembalikan martabat intelektual dunia Islam.
  3. Metodologi Interdisipliner – Mengintegrasikan hermeneutika, fenomenologi, hingga sosiologi untuk studi Islam.
  4. Pengaruh Global – Pemikirannya menggema dari Arab hingga Indonesia, kerap menjadi inspirasi kajian teologi progresif [15].

Penutup

Hanafi adalah sosok penuh kontroversi namun berpengaruh. Kiri Islam, teologi pembebasan, dan oksidentalisme bukan sekadar doktrin intelektual, tetapi proyek peradaban — sebuah upaya agar Islam tidak hanya dipahami sebagai agama ritual, melainkan sebagai kekuatan pembebasan sejati.


📚 Referensi Lebih Lanjut:

  1. The Columnist
  2. Kalimahsawa.ID
  3. Neliti – Kiri Islam dan Proyek al-Turats wa Tajdid
  4. IJoASER – Teologi Islam Hanafi
  5. Ensiklopedia Islam
  6. Sosiologi79
  7. Islami.co – Orbituari Hanafi
  8. Hamzah Harun Al-Rasyid Blogspot
  9. Kompasiana
  10. CORE – Oksidentalisme
  11. IndoProgress
  12. Sosiologi79 – Pemikiran dan Karya
  13. Repository Universitas Riau
  14. Jurnal IAIS Sambas
  15. Digilib UINSA
  16. ResearchGate

Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *