Oleh: Abu PPBU
Allah sudah menjelaskan sejak lama dalam QS. Al-Furqan: 31:
“Begitulah! Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi dari kalangan orang-orang berdosa.”
Artinya sederhana tapi dalam: bahkan para Nabi—manusia paling suci—tidak luput dari musuh. Maka wajar bila para ulama, yang menjadi penerus warisan mereka, juga menghadapi hal serupa.
Ilmu itu bukan jubah kebesaran, tapi jalan ujian.
Berikut lima bentuk ujian yang hampir selalu datang kepada orang berilmu — dan justru menjadi tanda bahwa Allah sedang meninggikan derajatnya:
1. Ejekan dari Musuh
Setiap kali kau terpeleset sedikit, musuh akan bersorak besar. Mereka menunggu saat kau lemah agar bisa menertawaimu. Kadang sakit, tapi justru di situlah bukti bahwa ilmumu mengguncang kebatilan.
Syaikh Mutawalli As-Sya’rawi berkata:
“Kalau kau melihat seorang alim tanpa musuh, ketahuilah, ia telah kehilangan sebagian warisan dari Nabi.”
Pelajarannya: Kalau orang yang membela kebenaran tidak punya penentang, mungkin ia sudah terlalu diam.
2. Celaan dari Sahabat Sendiri
Yang menyesakkan bukan kebencian dari luar, tapi luka dari orang terdekat. Teman lama yang dulu mendukungmu tiba-tiba menertawakanmu. Mereka bilang kamu berubah, sombong, atau berlebihan.
Pelajarannya: Di sinilah keikhlasan diuji. Ilmu bukan hanya tentang banyaknya hafalan, tapi tentang kemampuan menahan hati ketika dicela orang yang kau cintai.
3. Tuduhan dari Orang Bodoh
Orang awam sering bicara seenaknya:
“Ilmunya nggak nyambung sama kehidupan.”
“Ngapain ngurus agama kayak gitu?”
Mereka menilai dengan logika sempit dan menuntut yang benar menyesuaikan persepsi mereka. Padahal, kebenaran tak bergantung pada popularitas.
Orang bijak Jawa bilang,
“Kiai sejati tidak terburu-buru menjawab ocehan orang bodoh.”
Pelajarannya: Kadang yang paling bijak bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang.
4. Rasa Iri di Kalangan Sesama Alim
Ini yang paling halus tapi paling menyakitkan. Imam Al-Ghazali pernah menulis,
“Yang paling menyakiti ulama bukan orang bodoh, melainkan ulama lain yang dengki.”
Ironis, tapi nyata. Persaingan bukan soal uang, tapi pengaruh dan penghormatan. Mereka merasa harus “menang” dalam urusan ilmu. Padahal, ilmu tidak pernah menjadi medan perebutan gengsi.
Pelajarannya: Biarkan iri menjadi bebannya sendiri. Kamu cukup berjalan lurus, karena Allah tahu siapa yang ikhlas.
5. Jarak dengan Keluarga
Kadang ini ujian yang paling sunyi. Dihormati banyak orang, tapi kesepian di rumah. Anak-anakmu merasa kamu sibuk. Pasangan merasa kamu jauh. Ibumu kadang mengeluh, “Kau terlalu serius dengan urusan agama.”
Tapi ingatlah, para Nabi pun diuji di sisi yang sama.
Nabi Nuh ditentang anaknya. Nabi Ibrahim ditolak ayahnya. Rasulullah ﷺ disakiti keluarganya sendiri.
Pelajarannya: Jangan merasa gagal. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan ruang baru untuk hatimu—lebih lapang, lebih sabar, lebih matang.
Sabar Adalah Tanda Pemimpin Sejati
Syaikh Ibn ‘Athaillah pernah menulis,
“Jika seorang alim bersabar atas ujian-ujian ini, Allah akan mengangkatnya sebagai imam yang diikuti.”
Dan Allah berfirman dalam QS. Al-‘Ankabut: 2–3:
“Apakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata ‘Kami beriman’, tanpa diuji?”
Yang paling berat ujiannya, kata Nabi ﷺ, adalah para Nabi sendiri—lalu orang-orang yang paling dekat mengikuti jejak mereka.
Musuh Bukan Aib, Tapi Cermin Kebenaran
Seorang alim sejati tidak takut pada permusuhan. Ia tahu, setiap ejekan, setiap tuduhan, setiap jarak, adalah tanda bahwa ia sedang di jalur yang benar.
Maka jika hari ini kamu dicaci, ditolak, atau dijauhi karena berpegang pada kebenaran—jangan kecil hati.
Kau sedang ditempa, bukan dihukum.
Dan ingatlah pesan yang menenangkan dari Syaikh Mutawalli As-Sya‘rawi:
“Jika engkau melihat seorang alim tanpa musuh, ketahuilah, sedikitlah warisannya dari Nabi.”
Leave a Reply