KAJIAN KOMPREHENSIF PEMIKIRAN AL-SYĀṬIBĪ TENTANG DOKTRIN MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH

Oleh: Abi Weka

ABSTRAK

Penelitian ini mengkaji secara komprehensif pemikiran Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Mūsā al-Syāṭibī (w. 790 H) mengenai doktrin maqāṣid al-syarī‘ah sebagaimana diformulasikan dalam al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah. Al-Syāṭibī menempatkan maqāṣid sebagai fondasi epistemologis hukum Islam yang berfungsi menjembatani teks wahyu, rasio, dan realitas sosial. Melalui metode al-istiqrā’ al-tāmm (induksi menyeluruh), ia menyimpulkan bahwa tujuan utama syariat adalah merealisasikan kemaslahatan manusia (taḥqīq al-maṣlaḥah) yang mencakup lima prinsip pokok: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Kajian ini menemukan bahwa al-Syāṭibī menolak dua ekstrem dalam hukum Islam, yaitu rasionalisme tanpa batas dan taqlid tanpa nalar. Ia menegaskan bahwa hukum bersifat dinamis selama tidak keluar dari prinsip maqāṣid dan nash. Sistem maqāṣid-nya bersandar pada tiga asas: kemudahan (taysīr), penyempurnaan (takmīl), dan pendidikan moral (tahzīb).

Pemikiran al-Syāṭibī memiliki relevansi signifikan bagi pembaruan fikih dan legislasi syariah kontemporer, terutama dalam menghadapi isu-isu modern seperti HAM, ekonomi syariah, teknologi, dan etika global. Dengan demikian, maqāṣid al-Syāṭibī menjadi pilar integratif antara teks, akal, dan kemaslahatan universal.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Maqāṣid al-Syarī‘ah merupakan salah satu teori hukum Islam yang mengalami perkembangan signifikan sejak abad pertengahan hingga era kontemporer. Di antara para ulama yang memiliki kontribusi paling mendasar adalah Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Mūsā al-Syāṭibī (w. 790 H), seorang ulama ushul fikih dari Granada, Andalusia. Karya monumentalnya, al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah, dianggap sebagai tonggak baru yang menyatukan antara teks, rasionalitas hukum, dan tujuan-tujuan syariat secara sistematis.

Kajian terhadap pemikiran al-Syāṭibī menjadi penting karena ia berhasil merumuskan prinsip universal hukum Islam yang mengarah pada kemaslahatan manusia secara kolektif. Di tengah dinamika kontemporer yang menuntut fleksibilitas ijtihad, maqāṣid al-Syarī‘ah kembali menjadi instrumen penting dalam merespons isu-isu modern seperti HAM, teknologi digital, ekonomi syariah, dan relasi global.

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana biografi intelektual dan konteks sosial-politik al-Syāṭibī?
  2. Bagaimana struktur dan metodologi pemikiran al-Syāṭibī dalam al-Muwāfaqāt?
  3. Apa saja konsep pokok maqāṣid al-Syarī‘ah menurut al-Syāṭibī?
  4. Bagaimana posisi al-Syāṭibī dalam khazanah ushul fikih klasik dan pengaruhnya terhadap teori maqāṣid kontemporer?
  5. Bagaimana relevansi doktrin maqāṣid al-Syarī‘ah al-Syāṭibī terhadap pengembangan fikih modern?

C. Tujuan Penelitian

  • Menggambarkan secara sistematis konsep maqāṣid al-Syarī‘ah al-Syāṭibī.
  • Menganalisis orisinalitas serta kontribusi teoritisnya.
  • Menjelaskan relevansi maqāṣid bagi perkembangan fikih dan ijtihad masa kini.

D. Manfaat Penelitian

  • Teoretis: memperkaya kajian ushul fikih dan studi hukum Islam.
  • Praktis: memberikan dasar konseptual bagi pengembangan regulasi syariah modern, fatwa, dan kebijakan publik.

BAB II

BIOGRAFI INTELEKTUAL DAN KONTEKS SOSIO-HISTORIS AL-SYĀṬIBĪ

A. Latar Belakang Kelahiran dan Pendidikan

Al-Syāṭibī—nama lengkapnya Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Mūsā al-Lakhmī al-Gharnāṭī—lahir di Granada, Andalusia (Gharnāṭah) sekitar awal abad ke-8 H/14 M. Para ulama berbeda pendapat mengenai tahun kelahirannya, tetapi mayoritas sejarawan sepakat bahwa ia wafat pada tahun 790 H/1388 M. Ia hidup pada masa ketika Granada merupakan negeri Islam terakhir di Andalusia, yang dikepung oleh tekanan politik Kristen namun tetap menjadi pusat ilmu pengetahuan.

Ia tumbuh dalam lingkungan ilmiah yang kuat, mempelajari fikih Maliki, ushul fikih, hadis, tafsir, kalam, logika, dan bahasa Arab. Dalam mukadimah al-Muwāfaqāt, ia menyatakan bahwa ilmu yang kokoh harus dibangun melalui proses belajar yang panjang:

“وَلَا يَثْبُتُ الْعِلْمُ فِي الصَّدْرِ إِلَّا بِطُولِ الزَّمَانِ وَكَثْرَةِ التَّكْرَارِ وَالْمُطَالَعَةِ.”
Ilmu tidak menetap dalam dada kecuali dengan perjalanan waktu yang panjang, banyak pengulangan, dan pembacaan mendalam.

Guru-guru al-Syāṭibī antara lain:

  • Abū Ja‘far al-Syinqīṭī
  • Al-Maqarrī al-Tilmisānī
  • Ibn al-Fakhkhār al-Isybīlī
  • Abū ‘Abdillāh al-Qurṭubī

Dengan latar pendidikan seperti ini, al-Syāṭibī menjadi ulama multidisipliner yang sangat kuat dalam metodologi hukum.

B. Lingkungan Intelektual Andalusia

  1. Kondisi Politik
    Pada masa al-Syāṭibī, Granada berada di bawah tekanan kekuatan Kastilia. Kondisi ini menciptakan ketidakstabilan sosial tetapi juga memunculkan semangat intelektual dan keagamaan yang tinggi. Dalam al-I‘tiṣām, al-Syāṭibī menyinggung masa-masa fitnah ketika banyak kelompok menyimpang dari prinsip-prinsip agama:

“وَزَمَانُنَا هَذَا قَدْ كَثُرَتْ فِيهِ الْأَهْوَاءُ وَتَشَعَّبَتِ الطُّرُقُ، فَلَمْ يَبْقَ لِصَاحِبِ السُّنَّةِ إِلَّا أَنْ يَعْتَصِمَ بِالْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ.”
Pada zaman kita ini, berbagai hawa nafsu telah banyak dan berbagai jalan telah bercabang; tidak ada bagi pemegang Sunnah kecuali berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah.

Ungkapan ini menggambarkan tantangan sosial-politik yang ia hadapi.

  1. Kemajuan Peradaban Ilmu
    Meskipun politik melemah, Andalusia tetap menjadi pusat perkembangan:
  • bahasa Arab (nahwu, balaghah),
  • logika (manṭiq),
  • filsafat,
  • hukum,
  • teologi,
  • musik, dan matematika.

Al-Syāṭibī hidup dalam lingkungan ilmiah yang kaya, di mana pendekatan rasional dan tekstual saling berinteraksi. Maka tidak mengherankan jika ia mendefinisikan akal yang benar sebagai:

“العقل المَهْدِيُّ بِنُورِ الشَّرْعِ”
Akal yang dibimbing dengan cahaya syariat.

  1. Perdebatan Teologis dan Fikih
    Granada menjadi arena pertemuan antara:
  • pemikiran Maliki konservatif,
  • filsafat Ibn Rushd,
  • sufisme,
  • dan pengaruh pemikiran Timur seperti al-Ghazali.

Kondisi ini menjadikan pemikiran al-Syāṭibī bersifat sintetis, sistematis, rasional, namun tetap berlandaskan pada nash. Ia merumuskan kerangka ijtihad berlandaskan induksi komprehensif (al-istiqrā’ al-tāmm) yang menjadi ciri khasnya.

C. Karya-Karya Utama

  1. al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah
    Karya ini merupakan puncak pemikirannya. Ia menjelaskan tujuan-tujuan syariat melalui metode induktif.

“إِنَّ الشَّرِيعَةَ إِنَّمَا وُضِعَتْ لِإِخْرَاجِ الْمُكَلَّفِ عَنْ دَاعِيَةِ هَوَاهُ، حَتَّى يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ اخْتِيَارًا، كَمَا هُوَ عَبْدٌ لَهُ اضْطِرَارًا.”
Syariat ditetapkan untuk mengeluarkan manusia dari dorongan hawa nafsunya, agar ia menjadi hamba Allah secara pilihan sebagaimana ia hamba Allah secara penciptaan.

  1. al-I‘tiṣām
    Karya penting tentang bid‘ah, penyimpangan, dan prinsip ittibā‘.

“وَلَيْسَ فِي الْبِدْعَةِ خَيْرٌ قَطُّ.”
Sama sekali tidak ada kebaikan dalam bid‘ah.

  1. Sharḥ al-Khulāṣah fī al-Naḥw
    Syarah atas karya al-Khulāṣah dalam bidang nahwu karya Ibn Mālik.
  2. Sharḥ Alfiyyah Ibn Mālik
    Penjelasan mendalam terhadap karya sastra bahasa Arab paling terkenal.

Dua karya utama pertama, al-Muwāfaqāt dan al-I‘tiṣām, menjadi fondasi teori maqāṣid yang kemudian dikembangkan oleh para pemikir modern.

D. Karakter Intelektual Al-Syāṭibī

  1. Reformulasi Ushul Fikih Berbasis Maslahat
    Al-Syāṭibī tidak sekadar mengulang teori klasik, tetapi menyusun ulang struktur ushul fikih dengan menjadikan maqāṣid sebagai kerangkanya.

“المصالحُ هي الأصلُ المقصودُ للشارع.”
Maslahat adalah tujuan pokok yang dikehendaki Syāri‘ (Allah).

  1. Sintesis antara Nash – Maqāṣid – ‘Illah
    Ia menolak keras ijtihad bebas yang tidak berlandaskan teks.

“فَلَا اجْتِهَادَ فِي مَقَابِلِ النَّصِّ.”
Tidak ada ruang ijtihad ketika berhadapan dengan nash yang jelas.
Namun ia menegaskan bahwa ‘illah dan maqāṣid adalah jembatan antara nash dan realitas.

  1. Penolakan terhadap Taqlid Biasa
    Al-Syāṭibī menegaskan bahwa ulama harus mendalami dalil, bukan sekadar mengikuti pendapat mazhab tanpa alasan.

“وَالتَّقْلِيدُ لَيْسَ مِنْ طَرِيقِ أَهْلِ الْعِلْمِ.”
Taqlid bukan jalan para ulama.

  1. Metodologi Menyeluruh
    Ia memperkenalkan metode istiqrā’ (induksi) sebagai dasar memahami tujuan syariat.

“وَإِنَّمَا تُعْرَفُ مَقَاصِدُ الشَّارِعِ بِالِاسْتِقْرَاءِ التَّامِّ.”
Tujuan-tujuan syariat hanya dapat diketahui melalui induksi yang komprehensif.

Metode ini kemudian menjadi dasar epistemologi maqāṣid modern.

BAB III

KONSEP DASAR MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH MENURUT AL-SYĀṬIBĪ

A. Definisi Maqāṣid Menurut Al-Syāṭibī

Al-Syāṭibī merupakan ulama pertama yang memformulasikan maqāṣid sebagai teori hukum yang sistematis, bukan sekadar prinsip tambahan dalam ilmu ushul fikih. Dalam al-Muwāfaqāt, ia memberikan definisi inti:

“المَقَاصِدُ هِيَ الْمَعَانِي الَّتِي وَضَعَ الشَّارِعُ الشَّرِيعَةَ لِأَجْلِ تَحْصِيلِهَا لِلْعِبَادِ.”
Maqāṣid adalah makna dan tujuan yang menjadi alasan Allah menurunkan syariat demi kemaslahatan hamba-Nya.

Menurutnya, maqāṣid bukan sekadar hikmah di balik hukum, melainkan kerangka objektif yang diinduksi dari keseluruhan nash, bukan dari satu ayat atau hadis secara terpisah. Ia menegaskan:

“لَا يُعْرَفُ الْمَقْصُودُ الشَّرْعِيُّ مِنْ دَلِيلٍ فَرْدٍ.”
Tujuan syariat tidak dapat diketahui hanya dari satu dalil saja.

Karena tujuan syariat bersifat kolektif dan sistemik, ia hanya dapat diketahui melalui istiqrā’ tāmm (induksi komprehensif terhadap keseluruhan nash syariat).

B. Prinsip Fundamental Maqāṣid: Kemaslahatan sebagai Inti Syariat

Al-Syāṭibī menempatkan maslahat sebagai fondasi utama syariat. Ia menegaskan secara eksplisit:

“إِنَّ الشَّرِيعَةَ إِنَّمَا وُضِعَتْ لِمَصَالِحِ الْعِبَادِ.”
Sesungguhnya syariat diturunkan demi kemaslahatan hamba-hamba Allah.

Namun ia membedakan antara maslahat syar‘iyyah dengan maslahat yang bersumber dari penilaian subjektif manusia. Ia menulis:

“وَالْمَصْلَحَةُ الْمُعْتَبَرَةُ مَا شَهِدَتْ لَهَا الشَّرِيعَةُ بِالِاعْتِبَارِ.”
Maslahat yang sah adalah maslahat yang diakui oleh syariat.

Dengan demikian, ia menolak pandangan rasionalistik murni seperti dalam filsafat Ibn Rushd atau konsep maslahat mursalah tanpa kendali nash sebagaimana sebagian kalangan mutakallimīn.

C. Klasifikasi Maqāṣid: Darūriyyāt, Ḥājiyyāt, dan Taḥsīniyyāt

Al-Syāṭibī mengembangkan dan menyempurnakan pembagian klasik yang telah dirumuskan oleh al-Juwaynī dan al-Ghazālī. Ia menata ulang pembagian tersebut dengan dasar induksi menyeluruh serta sistematika yang lebih komprehensif.

1. Darūriyyāt (Tujuan Primer yang Absolut)

Termasuk dalam kategori ini lima kebutuhan pokok (al-ḍarūriyyāt al-khams):

  1. Ḥifẓ al-Dīn — menjaga agama
  2. Ḥifẓ al-Nafs — menjaga jiwa
  3. Ḥifẓ al-‘Aql — menjaga akal
  4. Ḥifẓ al-Nasl — menjaga keturunan
  5. Ḥifẓ al-Māl — menjaga harta

Sebagian ulama menambahkan yang keenam, yaitu Ḥifẓ al-‘Irḍ (menjaga kehormatan).
Al-Syāṭibī menegaskan bahwa lima kebutuhan tersebut bukan hasil deduksi logis, melainkan hasil istiqrā’ menyeluruh terhadap nash-nash syariat:

“وَبِالِاسْتِقْرَاءِ تَبَيَّنَ أَنَّ الشَّرِيعَةَ جَاءَتْ لِحِفْظِ هَذِهِ الْأُمُورِ الْخَمْسَةِ.”
Dengan induksi menyeluruh terbukti bahwa syariat datang untuk menjaga lima perkara ini.

2. Ḥājiyyāt (Kebutuhan Sekunder)

Yaitu perkara yang diperlukan untuk menghindarkan kesempitan dan kesulitan hidup.
Contohnya: rukhsah dalam puasa bagi musafir, qasr salat dalam perjalanan, dan akad salam dalam transaksi jual beli.
Al-Syāṭibī menyatakan:

“وَالْحَاجِيَّاتُ هِيَ مَا يُفْضِي فَقْدُهَا إِلَى الضِّيقِ وَالْحَرَجِ.”
Ḥājiyyāt adalah perkara yang ketiadaannya menimbulkan kesempitan dan kesulitan.

3. Taḥsīniyyāt (Kebutuhan Pelengkap dan Etis)

Kategori ini berkaitan dengan penyempurnaan moral, adab, dan keindahan hidup.
Contohnya: etika berpakaian, adab makan, dan keindahan ibadah.
Al-Syāṭibī menulis:

“وَالتَّحْسِينِيَّاتُ مَا يَتَعَلَّقُ بِمَا يَأْخُذُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ.”
Taḥsīniyyāt berhubungan dengan keutamaan akhlak dan kesempurnaan adab.

D. Prinsip Universal (Kulliyyāt) dan Kekhasan (Juz’iyyāt)

Salah satu kontribusi besar al-Syāṭibī adalah pembedaan yang tegas antara:

  • Kulliyyāt al-Syarī‘ah (prinsip-prinsip universal syariat), dan
  • Juz’iyyāt al-Aḥkām (hukum-hukum partikular).

Menurutnya, prinsip-prinsip universal bersifat qaṭ‘ī (pasti), sedangkan banyak hukum partikular bersifat ẓannī (dugaan). Ia menulis:

“الكليات قطعية، والجزئيات كثيرٌ منها ظنية.”
Prinsip-prinsip universal bersifat pasti, sedangkan banyak hukum partikular bersifat dugaan.

Pandangan ini menjadi dasar metodologi fleksibilitas hukum Islam—memungkinkan pembaruan (tajdīd) tanpa meninggalkan fondasi syariat.

E. Maqāṣid sebagai Landasan Istinbāṭ Hukum

Al-Syāṭibī menolak dua kutub ekstrem dalam istinbāṭ hukum:

  1. Ta‘līl bebas tanpa kendali nash (rasionalisme murni).
  2. Taqlīd literal tanpa mempertimbangkan tujuan syariat.

Ia menegaskan batasannya:

“الْمَقَاصِدُ لَا تُسْتَخْرَجُ بِالرَّأْيِ، بَلْ بِالِاسْتِقْرَاءِ.”
Maqāṣid tidak ditetapkan melalui pendapat pribadi, tetapi melalui induksi terhadap keseluruhan syariat.

Karena itu, ijtihad yang sahih menurut al-Syāṭibī harus memenuhi tiga syarat:

  1. Konsisten dengan nash.
  2. Sejalan dengan maqāṣid.
  3. Memiliki ‘illah yang jelas dan dapat diverifikasi.

Dengan demikian, teori al-Syāṭibī menghadirkan keseimbangan antara tekstualitas dan rasionalitas, antara keabadian hukum dan dinamika sosial.

F. Tujuan Syariat: Tashīl, Takmīl, dan Tahzīb

Dalam al-Muwāfaqāt, al-Syāṭibī menegaskan bahwa syariat dibangun atas asas kemudahan:

“إِنَّ الشَّرِيعَةَ مَبْنِيَّةٌ عَلَى التَّيْسِيرِ.”
Syariat dibangun atas asas kemudahan.

Namun kemudahan tersebut tidak berarti menghapus kewajiban, sebagaimana ia mengingatkan:

“وَلَيْسَ التَّيْسِيرُ رَفْعًا لِلتَّكْلِيفِ.”
Kemudahan bukan berarti menghapus tanggung jawab.

Sistem maqāṣid yang dirumuskan al-Syāṭibī meliputi tiga dimensi:

  • Tashīl (memberikan keringanan dan kemudahan),
  • Takmīl (menyempurnakan kemaslahatan), dan
  • Tahzīb (mendidik akhlak dan jiwa).

Ketiga unsur ini menunjukkan bahwa syariat berorientasi pada kemudahan, kesempurnaan, dan penyucian moral.

G. Konsep Maslahah Al-Syāṭibī sebagai Sistem Etis-Syariat

Al-Syāṭibī menegaskan bahwa maslahat bukan semata aspek utilitarian, melainkan konsep etis dan teologis yang berakar pada nilai wahyu. Ia menyatakan:

“فَالمَصْلَحَةُ مَا يَنْضَبِطُ بِالضَّوَابِطِ الشَّرْعِيَّةِ لَا بِشَهْوَاتِ النُّفُوسِ.”
Maslahat adalah sesuatu yang terikat oleh kaidah syariat, bukan oleh keinginan manusia.

Dengan demikian, maqāṣid berfungsi sebagai jembatan antara teks syariat dan realitas sosial—bukan sebagai alternatif di luar teks, tetapi sebagai ruh yang menuntun penalaran hukum agar tetap berorientasi pada kemaslahatan manusia dan ketaatan kepada Allah.

BAB IV

KONSTRUKSI TEORITIS MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH MENURUT AL-SYĀṬIBĪ

A. Prinsip Dasar Maqāṣid dalam Perspektif al-Syāṭibī

Al-Syāṭibī menegaskan bahwa maqāṣid al-syarī‘ah tidak sekadar tujuan moral umum, tetapi merupakan kerangka epistemologis yang menjadi fondasi seluruh bangunan hukum Islam. Dalam al-Muwāfaqāt, ia menyatakan:

“الشريعة إنما وُضِعَتْ لمصالح العباد.”
Syariat ditetapkan semata-mata untuk merealisasikan kemaslahatan bagi manusia.
(al-Muwāfaqāt, II/6)

Pokok pikiran utama yang terkandung dalam pernyataannya adalah sebagai berikut:

  1. Syariat memiliki tujuan objektif (maqāṣid qaṭ‘iyyah).
    Tujuan-tujuan ini bersifat pasti, dapat dikenali melalui dalil global, dan tidak bergantung pada pendapat individu ulama.
  2. Maqāṣid bersifat menyeluruh (kulliyyah), bukan partikular.
    Al-Syāṭibī membedakan antara maqāṣid dan ‘illah, serta menolak reduksi maqāṣid hanya sebagai hikmah hukum yang bersifat parsial.
  3. Maslahat yang diakui syariat harus bersifat mu‘tabarah.
    Ia menegaskan:

“لا معتبر بالمصلحة الملغاة.”
Tidak dianggap sebagai maslahat apabila bertentangan dengan nash atau tujuan syariat.

  1. Maqāṣid diperoleh melalui induksi menyeluruh (istiqrā’ tamm).
    Artinya, tujuan syariat hanya dapat dipahami melalui pengamatan komprehensif terhadap keseluruhan nash, bukan berdasarkan ayat atau hadis tunggal.

B. Hirarki Maqāṣid: Ḍarūriyyāt – Ḥājiyyāt – Taḥsīniyyāt

Al-Syāṭibī mengembangkan sistem tiga lapis tujuan syariat yang kemudian menjadi kerangka baku dalam studi maqāṣid al-syarī‘ah.

1. Ḍarūriyyāt (Kebutuhan Primer)

Kategori ini mencakup kebutuhan yang sangat mendasar, tanpa yang dengannya kehidupan agama dan dunia tidak dapat tegak. Lima tujuan fundamental (al-kulliyyāt al-khams) ialah:

  1. Ḥifẓ al-Dīn — menjaga agama
  2. Ḥifẓ al-Nafs — menjaga jiwa
  3. Ḥifẓ al-‘Aql — menjaga akal
  4. Ḥifẓ al-Nasl — menjaga keturunan
  5. Ḥifẓ al-Māl — menjaga harta

Al-Syāṭibī menegaskan:

“وهي الضرورات التي لا بد منها في قيام مصالح الدين والدنيا.”
Itulah kebutuhan primer tanpa yang dengannya kepentingan agama dan dunia tidak dapat tegak.

2. Ḥājiyyāt (Kebutuhan Sekunder)

Kategori ini mencakup hal-hal yang tidak sampai mengancam eksistensi manusia, tetapi berfungsi menghilangkan kesempitan dan kesukaran.
Al-Syāṭibī menyatakan:

“الحاجيات تُرفع بها المشقة عن المكلفين.”
Kebutuhan sekunder berfungsi menghilangkan kesulitan dari mukallaf.

3. Taḥsīniyyāt (Kebutuhan Pelengkap dan Etis)

Kategori ini berkaitan dengan keindahan, kesempurnaan moral, dan etika hidup.
Contohnya meliputi adab dalam ibadah, kebersihan, keindahan berpakaian, dan larangan bersikap kasar.
Al-Syāṭibī menulis:

“التحسينيات ما كان من قبيل التزيينات والمكارم.”
Taḥsīniyyāt merupakan aspek penyempurna yang mencerminkan keindahan dan kemuliaan.

C. Metodologi Penetapan Maqāṣid

Al-Syāṭibī membangun metode sintesis deduktif–induktif (tarkībī), yang menegaskan keseimbangan antara wahyu dan rasio.

  1. Istiqrā’ (Induksi Menyeluruh) atas Nash
    Ia menegaskan bahwa ilmu tentang maqāṣid tidak dapat diperoleh melalui dalil parsial, melainkan melalui pengamatan menyeluruh terhadap keseluruhan teks syariat:

“لا يحصل العلم بمقاصد الشريعة إلا بالاستقراء.”
Ilmu tentang maqāṣid tidak diperoleh kecuali melalui induksi menyeluruh.
Pendekatan ini menjadi landasan ilmiah utama mazhab Andalusia dalam pengembangan ushul fikih.

  1. Konsistensi antara ‘illah, ḥikmah, dan maqṣad
    Al-Syāṭibī membedakan tiga level analisis hukum:
    • ‘Illah : sebab hukum yang terukur dan tetap.
    • Ḥikmah : manfaat umum di balik hukum.
    • Maqṣad : tujuan syariat yang pasti dan menyeluruh.

Ia memperingatkan agar tidak menyamakan ḥikmah dengan maqṣad:

“الحكمة قد تلتبس بالمقصد، وليست كل حكمة مقصداً.”
Hikmah dapat tampak seperti maqṣad, namun tidak setiap hikmah merupakan tujuan syariat.

  1. Syariat sebagai satu kesatuan sistemik (al-syarī‘ah kullun lā yatajazza’)
    Menurutnya, keseluruhan hukum Islam merupakan sistem yang utuh dan saling berkaitan, sehingga tujuan syariat harus dipahami secara sistemik, bukan terpisah-pisah.

D. Prinsip ‘Umūm al-Balwā dan Maslahat dalam Ijtihad

Dalam konteks sosial dan penerapan hukum, al-Syāṭibī memperkenalkan dua konsep penting:

  1. ‘Umūm al-Balwā (Kesulitan yang Bersifat Kolektif)
    Yaitu kondisi yang meluas di masyarakat dan dapat dijadikan dasar pertimbangan hukum. Ia menulis:

“إذا عمّت البلوى ارتفع الحرج.”
Apabila kesulitan bersifat umum, maka kesempitan hukum diangkat.
Prinsip ini berkaitan langsung dengan kategori ḥājiyyāt dalam maqāṣid.

  1. Maslahat Mu‘tabarah
    Al-Syāṭibī mengklasifikasikan maslahat menjadi tiga kategori:
    • Maslahat mu‘tabarah — diakui dan didukung oleh nash.
    • Maslahat mulghāh — ditolak karena bertentangan dengan nash.
    • Maslahat mursalah — tidak disebut secara eksplisit dalam nash, tetapi tidak pula ditolak, sehingga dapat dipertimbangkan dengan syarat sesuai tujuan syariat.

E. Integrasi Maqāṣid dalam Struktur Ushul Fikih

Al-Syāṭibī tidak hanya merumuskan maqāṣid sebagai teori, tetapi menanamkannya sebagai fondasi metodologis dalam disiplin ushul fikih.

  1. Maqāṣid sebagai dasar legal reasoning
    Ia menjadikan maqāṣid sebagai kompas dalam penerapan metode istinbāṭ seperti qiyās, istiṣlāḥ, sadd al-dzarā’i, dan istiḥsān dalam batas-batas yang diizinkan syariat.
  2. Penolakan terhadap taqlīd
    Ia menegaskan secara tegas:

“التقليد المطلق مذموم.”
Taqlid buta adalah perbuatan yang tercela.

  1. Relevansi Universal Maqāṣid
    Menurutnya, syariat berlaku lintas ruang dan waktu karena selaras dengan fitrah manusia. Ia menyatakan:

“الشريعة موضوعة على مقتضى الفطرة الإنسانية.”
Syariat ditetapkan sesuai dengan fitrah kemanusiaan.

F. Dimensi Kebahasaan dan Hermeneutika Maqāṣid

Selain sebagai teoretikus hukum, al-Syāṭibī juga dikenal sebagai ahli bahasa yang menekankan pentingnya analisis kebahasaan dalam memahami maqāṣid.

  1. Tingkatan Pemahaman Teks
    Menurutnya, makna teks harus dipahami melalui beberapa tingkatan:
    • Lafẓ (makna literal),
    • Maqṣad (tujuan yang dikandung teks),
    • Siyāq (konteks internal kalimat),
    • Maqām (situasi pembicaraan), dan
    • Maqāṣid kulliyyah (tujuan umum syariat).
  2. Penolakan terhadap manipulasi teks
    Ia memperingatkan bahaya penyelewengan makna nash:

“من اتبع المتشابهات فقد زاغ قلبه.”
Barang siapa mengikuti ayat-ayat yang samar untuk menyimpang, maka hatinya telah menyimpang.

Pendekatan kebahasaan yang ketat ini menunjukkan keseimbangan antara penalaran maqāṣid dan kesetiaan terhadap teks.

G. Kontribusi Epistemologis al-Syāṭibī

  1. Menjadikan maqāṣid sebagai disiplin ilmiah tersendiri.
    Sebelum al-Syāṭibī, maqāṣid hanya bersifat implisit dalam kerangka ushul fikih; dengan karyanya, maqāṣid menjadi sistem metodologis yang utuh.
  2. Merumuskan filsafat hukum Islam.
    Ia menyusun dasar ontologis, epistemologis, dan aksiologis dari hukum Islam yang berporos pada kemaslahatan.
  3. Menjelaskan hubungan antara wahyu dan rasio.
    Ia memperkenalkan paradigma al-‘aql al-muhtadī bi al-naṣṣ — “rasio yang dibimbing oleh teks”, yang menolak rasionalisme bebas tanpa kendali wahyu.
  4. Menegakkan keseimbangan antara yang konstan (tsawābit) dan yang berubah (mutaghayyirāt).
    Dengan demikian, maqāṣid menjadi jembatan antara nilai-nilai permanen syariat dan dinamika sosial masyarakat.

BAB V

IMPLIKASI TEORITIS DAN RELEVANSI KONTEMPORER PEMIKIRAN MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH MENURUT AL-SYĀṬIBĪ

A. Signifikansi Teoretis Pemikiran al-Syāṭibī

Pemikiran al-Syāṭibī mengenai maqāṣid al-syarī‘ah memberikan kontribusi mendalam terhadap pengembangan teori hukum Islam (uṣūl al-fiqh). Ia berhasil mentransformasikan maqāṣid dari sekadar “hikmah hukum” menjadi sistem epistemologis yang menyatukan antara teks (naṣṣ), rasio (‘aql), dan realitas (wāqi‘).

Konsep maqāṣid al-Syāṭibī menegaskan bahwa syariat memiliki tujuan-tujuan universal yang bersifat pasti (qaṭ‘iyyah) dan menjadi landasan seluruh bentuk ijtihad. Dengan demikian, maqāṣid bukan hanya prinsip interpretatif, melainkan paradigma metodologis dalam memahami dan mengembangkan hukum Islam.

Implikasi teoretis utama dari pemikiran al-Syāṭibī dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Rekonstruksi epistemologi hukum Islam melalui pendekatan induktif (istiqrā’) terhadap keseluruhan teks syariat.
  2. Integrasi rasionalitas dan wahyu, sehingga hukum Islam tidak bersifat tekstualis kaku, namun juga tidak liberal tanpa kendali nash.
  3. Penegasan maqāṣid sebagai dasar obyektivitas hukum, menjadikan syariat adaptif terhadap perubahan sosial tanpa kehilangan nilai dasarnya.

B. Maqāṣid al-Syarī‘ah sebagai Paradigma Ijtihad Kontemporer

Pemikiran maqāṣid al-Syāṭibī memiliki relevansi langsung terhadap problematika hukum Islam modern. Dalam konteks kekinian, maqāṣid berfungsi sebagai paradigma ijtihad yang mampu menjawab persoalan baru di berbagai bidang, seperti ekonomi, politik, sosial, dan teknologi.

Beberapa prinsip kunci yang menjadi pedoman dalam ijtihad maqāṣid kontemporer antara lain:

  1. Ijtihad berbasis maslahat yang mu‘tabarah — hanya maslahat yang selaras dengan nilai syariat dapat dijadikan dasar hukum.
  2. Pencapaian keadilan dan kemaslahatan umum (maṣlaḥah ‘āmmah) sebagai tujuan tertinggi hukum Islam.
  3. Fleksibilitas hukum dalam kerangka nash, yakni membuka ruang perubahan hukum tanpa menafikan prinsip-prinsip pokok syariat.
  4. Pendekatan integratif antara maqāṣid dan maqāmāt al-insān, yaitu memperhatikan kebutuhan spiritual, moral, dan sosial manusia secara utuh.

Dengan demikian, ijtihad maqāṣid bukanlah rasionalisme bebas, melainkan rasionalitas yang terbingkai oleh tujuan-tujuan ilahiah.

C. Relevansi Maqāṣid dalam Isu Sosial dan Kemanusiaan

Konsep maqāṣid al-Syāṭibī memberikan landasan normatif bagi respon Islam terhadap isu-isu sosial modern. Syariat, dalam pandangannya, hadir untuk menjaga dan mengembangkan dimensi kemanusiaan. Hal ini tampak dalam prinsip-prinsip berikut:

  1. Hak Asasi Manusia (HAM)
    Lima tujuan dasar syariat (al-kulliyyāt al-khams) sejatinya merupakan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia: hak beragama, hak hidup, hak berpikir, hak berkeluarga, dan hak kepemilikan.
  2. Keadilan Sosial dan Ekonomi
    Prinsip ḥifẓ al-māl dan ḥifẓ al-nafs mendorong keadilan distribusi kekayaan, pelarangan eksploitasi, dan tanggung jawab sosial dalam ekonomi Islam.
  3. Pendidikan dan Pengembangan Akal
    Ḥifẓ al-‘aql menjadi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi yang diarahkan pada kemaslahatan umat.
  4. Lingkungan dan Keberlanjutan Hidup
    Maqāṣid menuntun umat Islam untuk menjaga kelestarian alam sebagai bentuk tanggung jawab khalifah terhadap ciptaan Allah.

Dengan demikian, maqāṣid memberikan kerangka etik dan teologis bagi pembangunan sosial yang berkeadaban.

D. Maqāṣid dalam Tata Kelola Negara dan Hukum Publik

Al-Syāṭibī menegaskan bahwa syariat bersifat umum dan ditujukan untuk kemaslahatan kolektif (maṣlaḥah jamā‘iyyah), bukan hanya individu. Oleh karena itu, konsep maqāṣid dapat diaplikasikan dalam kebijakan publik dan sistem pemerintahan Islam modern.

Prinsip-prinsip yang relevan meliputi:

  1. Prinsip al-‘adālah al-ijtimā‘iyyah (keadilan sosial) sebagai orientasi kebijakan negara.
  2. Prinsip al-mas’ūliyyah (akuntabilitas moral dan hukum) dalam pengelolaan kekuasaan.
  3. Prinsip al-shūrā (partisipasi dan musyawarah) sebagai mekanisme representatif dalam pengambilan keputusan.
  4. Prinsip raf‘ al-ḥaraj (penghapusan kesulitan) yang menjadi dasar penyusunan regulasi publik yang adil dan manusiawi.

Dengan kerangka ini, maqāṣid menjadi jantung bagi pembentukan hukum publik Islam yang responsif dan berkeadilan.

E. Pengaruh Pemikiran al-Syāṭibī terhadap Pemikir Modern

Pemikiran al-Syāṭibī memberikan pengaruh mendalam terhadap ulama dan cendekiawan hukum Islam modern, baik di dunia Arab maupun di dunia Islam secara umum. Di antara tokoh yang mengembangkan gagasannya ialah:

  1. Ṭāhir ibn ‘Āsyūr (w. 1973 M) – yang memperluas maqāṣid menjadi disiplin tersendiri dalam Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah.
  2. ‘Allāl al-Fāsī (w. 1974 M) – yang menafsirkan maqāṣid dalam kerangka reformasi sosial dan kebangsaan.
  3. Yūsuf al-Qaraḍāwī – yang menekankan maqāṣid sebagai dasar fiqh realitas kontemporer.
  4. Aḥmad al-Raysūnī – yang menulis studi mendalam tentang epistemologi maqāṣid al-Syāṭibī dan pengembangannya di era modern.

Melalui mereka, maqāṣid berkembang menjadi paradigma ijtihad global yang mendasari pembaruan hukum Islam di berbagai bidang, seperti ekonomi syariah, etika biomedis, dan hukum lingkungan.

F. Maqāṣid dan Tantangan Era Modern

Dalam menghadapi perkembangan zaman, teori maqāṣid al-Syāṭibī menawarkan prinsip keseimbangan antara nilai transenden dan tuntutan perubahan. Tantangan modern seperti globalisasi, sekularisasi, dan kemajuan teknologi digital menuntut reinterpretasi hukum Islam tanpa kehilangan esensinya.

Beberapa tantangan dan relevansi maqāṣid di era modern:

  1. Isu Etika dan Teknologi – prinsip ḥifẓ al-nafs dan ḥifẓ al-‘aql dapat menjadi dasar regulasi dalam bioteknologi, kecerdasan buatan, dan etika medis.
  2. Ekonomi Global dan Keadilan Sosial – maqāṣid menuntun agar sistem keuangan dan perdagangan berorientasi pada kesejahteraan dan keadilan.
  3. Pluralitas dan Dialog Peradaban – maqāṣid menegaskan nilai rahmah dan kemaslahatan universal yang membuka ruang dialog lintas agama dan budaya.
  4. Krisis Ekologi dan Keberlanjutan – maqāṣid menempatkan pelestarian alam sebagai bagian dari amanah kemanusiaan dan tanggung jawab keagamaan.

Dengan demikian, maqāṣid al-Syāṭibī memberikan arah baru bagi etika global Islam yang berorientasi pada keadilan, keseimbangan, dan kemanusiaan.

G. Sintesis: Maqāṣid sebagai Sistem Dinamis Syariat

Dari keseluruhan bangunan pemikirannya, dapat disimpulkan bahwa maqāṣid al-Syāṭibī memiliki empat ciri fundamental:

  1. Ilmiah dan induktif, karena dirumuskan berdasarkan pengamatan menyeluruh terhadap teks syariat.
  2. Teosentris dan humanistik, menempatkan kemaslahatan manusia dalam bingkai pengabdian kepada Allah.
  3. Fleksibel dan rasional, memungkinkan perubahan hukum sesuai konteks tanpa menyalahi prinsip dasar syariat.
  4. Universal dan sistemik, karena menjangkau seluruh aspek kehidupan individu dan masyarakat.

Dengan demikian, maqāṣid menjadi jembatan antara wahyu dan realitas, antara nilai-nilai abadi dan dinamika kehidupan modern.

H. Penutup

Pemikiran al-Syāṭibī tentang maqāṣid al-syarī‘ah bukan hanya warisan intelektual klasik, melainkan fondasi bagi pembaruan hukum Islam sepanjang masa. Ia telah menegakkan paradigma metodologis yang memadukan teks dan konteks, akal dan wahyu, moralitas dan kemaslahatan.

Dengan menjadikan maqāṣid sebagai pusat orientasi ijtihad, hukum Islam akan senantiasa hidup, relevan, dan adaptif terhadap perubahan zaman, tanpa kehilangan ruh keilahian dan kemanusiaannya.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian tentang konstruksi teoritis maqāṣid al-syarī‘ah menurut al-Syāṭibī menunjukkan bahwa pemikiran beliau merupakan puncak perkembangan epistemologi hukum Islam yang menempatkan maqāṣid sebagai fondasi metodologis, bukan sekadar pelengkap etik.

Beberapa kesimpulan utama yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

  1. Maqāṣid al-syarī‘ah sebagai fondasi epistemologis hukum Islam
    Al-Syāṭibī berhasil menegaskan bahwa tujuan-tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah) adalah asas utama yang menjamin keterpaduan antara nash, akal, dan realitas. Syariat, menurutnya, “ditetapkan untuk kemaslahatan manusia”, sehingga maqāṣid menjadi kompas utama dalam memahami seluruh hukum Islam.
  2. Hierarki maqāṣid (ḍarūriyyāt, ḥājiyyāt, taḥsīniyyāt)
    Sistem hirarkis ini menggambarkan tingkat urgensi kemaslahatan manusia yang harus dijaga. Lima prinsip dasar dalam ḍarūriyyāt (agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta) menjadi titik tolak seluruh struktur hukum Islam.
  3. Metodologi istiqrā’ (induksi menyeluruh)
    Al-Syāṭibī memperkenalkan metode istiqrā’ tam — induksi komprehensif terhadap keseluruhan dalil syariat — sebagai satu-satunya cara ilmiah untuk mengenali maqāṣid. Dengan pendekatan ini, hukum Islam tidak diturunkan dari teks parsial, tetapi dari pemahaman menyeluruh terhadap maksud syariat secara sistemik.
  4. Keseimbangan antara wahyu dan rasio (al-‘aql al-muhtadī bi al-naṣṣ)
    Rasio manusia berfungsi sebagai instrumen pemahaman wahyu, bukan sebagai pengganti wahyu. Al-Syāṭibī membangun epistemologi hukum yang menempatkan akal dalam bimbingan nash, sehingga menghasilkan rasionalitas yang terarah (guided reason).
  5. Relevansi maqāṣid dalam konteks kontemporer
    Pemikiran al-Syāṭibī memberi dasar metodologis bagi pengembangan hukum Islam modern dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan etika global. Konsep maqāṣid dapat menjadi paradigma dalam menjawab tantangan baru seperti keadilan sosial, hak asasi manusia, bioetika, dan keberlanjutan lingkungan.
  6. Kontribusi epistemologis al-Syāṭibī
    Melalui karya monumentalnya al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah, al-Syāṭibī tidak hanya menyusun teori hukum, tetapi juga mendirikan filsafat hukum Islam (Islamic legal philosophy) yang menegaskan integrasi antara nilai abadi (tsawābit) dan dinamika perubahan (mutaghayyirāt).

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa maqāṣid al-syarī‘ah menurut al-Syāṭibī merupakan sistem epistemologis yang menyatukan antara teks, akal, dan realitas, serta menjadikan hukum Islam adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan keotentikan nilai-nilainya.

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan tersebut, terdapat beberapa saran konstruktif yang dapat diajukan untuk pengembangan kajian maqāṣid al-syarī‘ah dan penerapannya di era modern:

  1. Penguatan kajian maqāṣid dalam pendidikan hukum Islam
    Perguruan tinggi dan lembaga keislaman perlu menjadikan maqāṣid sebagai kerangka metodologis utama dalam kurikulum uṣūl al-fiqh, agar generasi ulama dan akademisi memahami hukum Islam secara holistik dan dinamis.
  2. Reinterpretasi maqāṣid untuk isu kontemporer
    Diperlukan pendekatan baru yang mengintegrasikan maqāṣid dengan disiplin lain seperti ekonomi, teknologi, politik, dan lingkungan, guna menjawab problem global dengan perspektif kemaslahatan syariat.
  3. Pengembangan metodologi ijtihad maqāṣidī
    Para mujtahid dan peneliti hukum Islam hendaknya memperkuat metodologi induktif (istiqrā’) sebagaimana diajarkan al-Syāṭibī, agar produk hukum Islam lebih obyektif, rasional, dan sesuai dengan tujuan syariat.
  4. Revitalisasi maqāṣid dalam hukum publik dan kebijakan negara
    Pemerintah dan lembaga fatwa dapat menjadikan maqāṣid sebagai prinsip dasar dalam penyusunan regulasi sosial, ekonomi, dan moral, sehingga kebijakan publik benar-benar berorientasi pada keadilan dan kemaslahatan.
  5. Pendekatan multidisipliner dalam riset maqāṣid
    Kajian maqāṣid perlu dikembangkan dengan melibatkan ilmu sosial, filsafat, dan studi kebijakan agar maqāṣid tidak berhenti sebagai teori hukum, tetapi menjadi etika peradaban Islam yang universal.

C. Penutup

Pemikiran al-Syāṭibī tentang maqāṣid al-syarī‘ah merupakan warisan ilmiah yang tak ternilai bagi dunia Islam. Ia tidak hanya memperkaya khazanah uṣūl al-fiqh, tetapi juga menawarkan paradigma keilmuan yang relevan lintas zaman.

Dengan memahami maqāṣid secara mendalam, umat Islam dapat menafsirkan hukum-hukum syariat secara kontekstual, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan universal, sehingga Islam senantiasa hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam (raḥmatan li al-‘ālamīn).

DAFTAR PUSTAKA

A. Sumber Primer Klasik

  • Al-Ghazālī, A. H. (t.t.). Al-Mustaṣfā min ‘Ilm al-Uṣūl. Kairo: Al-Maṭba‘ah al-Amīriyyah.
  • Al-Juwaynī, A. M. (1997). Al-Burhān fī Uṣūl al-Fiqh. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Al-Rāzī, F. (1992). Al-Maḥṣūl fī ‘Ilm al-Uṣūl. Beirut: Mu’assasah al-Risālah.
  • Al-Shāṭibī, A. I. (2004). Al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah (Tahqīq: ‘Abdullāh Darrāz). Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
  • Al-Qarāfī, A. I. (1998). Al-Furūq. Beirut: ‘Ālam al-Kutub.
  • Ibn ‘Āshūr, M. Ṭ. (2001). Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah. Amman: Dār al-Nafā’is.

B. Sumber Sekunder (Modern dan Kontemporer)

  • Auda, J. (2008). Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. London: The International Institute of Islamic Thought (IIIT).
  • Auda, J. (2010). Filsafat Maqasid Syariah: Pendekatan Sistem. (Terj. Ali Abdelmonim). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Auda, J. (2021). Revisiting Maqasid al-Shariah: Towards a Systems Theory of Islamic Law. Herndon: IIIT.
  • Chapra, M. U. (2008). The Islamic Vision of Development in the Light of Maqasid al-Shariah. Jeddah: Islamic Research and Training Institute (IRTI).
  • Darrāz, A. (2000). Muqaddimah al-Muwāfaqāt: Dirāsah Taḥlīliyyah. Kairo: Dār al-Salām.
  • Kamali, M. H. (2008). Shari’ah Law: An Introduction. Oxford: Oneworld Publications.
  • Kamali, M. H. (1999). Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society.
  • Laldin, M. A. (2006). Understanding Maqasid al-Shariah. Kuala Lumpur: International Shariah Research Academy (ISRA).
  • Opwis, F. (2010). Maslaha and the Purpose of the Law: Islamic Discourse on Legal Change from the 4th/10th to 8th/14th Century. Leiden: Brill.
  • Nyazee, I. A. K. (2002). Theories of Islamic Law: The Methodology of Ijtihad. Islamabad: Islamic Research Institute Press.
  • Abu Zahrah, M. (1997). Uṣūl al-Fiqh. Kairo: Dār al-Fikr al-‘Arabī.
  • Al-Raysūnī, A. (1992). Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Shāṭibī. Rabat: Dār al-‘Ālamiyyah li al-Kitāb.
  • Al-Raysūnī, A. (2006). Imam al-Shatibi’s Theory of the Higher Objectives and Intents of Islamic Law (trans. N. Ahmed). London: IIIT.
  • Dusuki, A. W., & Bouheraoua, S. (2011). The Framework of Maqasid al-Shariah and Its Implication for Islamic Finance. Islamic Economics Studies, 19(1), 173–195.
  • Gleave, R. (2012). Shari’a and Ethics: The Relationship Between Fiqh and Akhlaq. Journal of Islamic Ethics, 1(2), 15–33.
  • Lohlker, R. (2017). The Maqasid Approach: Reassessing Islamic Law in Modern Contexts. Islamic Law and Society, 24(3), 230–256.
  • Abdullah, M. A. (2015). Islamic Studies in Higher Education: Maqasid Shariah as an Integrative Epistemology. Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies, 53(2), 391–412.

C. Sumber Tambahan (Referensi Terkait Filsafat dan Epistemologi Hukum Islam)

  • Nasr, S. H. (1987). Islamic Life and Thought. London: George Allen & Unwin.
  • Arkoun, M. (1994). Rethinking Islam: Common Questions, Uncommon Answers. Boulder: Westview Press.
  • Rahman, F. (1982). Islam and Modernity: Transformation of an Intellectual Tradition. Chicago: University of Chicago Press.
  • Al-Attas, S. M. N. (1995). Prolegomena to the Metaphysics of Islam. Kuala Lumpur: ISTAC.
  • Hallaq, W. B. (2001). Authority, Continuity, and Change in Islamic Law. Cambridge: Cambridge University Press.
  • Weiss, B. (1998). The Spirit of Islamic Law. Athens: University of Georgia Press.

Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *