KONSEP MURĀ‘ĀT AL-KHILĀF MENURUT IMĀM ASY-SYĀṬIBĪ

Oleh: Abi Weka

ABSTRAK

Murā’atul khilāf adalah prinsip dalam fikih yang menekankan pentingnya menghargai perbedaan pendapat ulama, menjaga kerukunan umat, serta memilih pendapat yang lebih aman (iḥtiyāṭ) ketika terjadi keraguan atau perbedaan yang kuat. Kaidah ini berkembang sebagai respons terhadap realitas keragaman metodologi ijtihad para fuqaha dan sebagai mekanisme untuk menjaga stabilitas hukum, akhlak, dan harmoni sosial dalam masyarakat Muslim. Secara esensial, murā’atul khilāf bukan hanya toleransi terhadap perbedaan, tetapi juga kemampuan mengelola perbedaan agar menghasilkan maslahat dan menghindari pertentangan.

Dalam tradisi ushul fikih, murā’atul khilāf berfungsi sebagai kaidah yang mendorong seorang mujtahid, mufti, maupun praktisi fikih untuk mempertimbangkan pendapat mazhab lain, terutama ketika terdapat risiko pelanggaran hukum (iḥtimāl al-ḥurmah). Kaidah seperti “al-khurūju mina al-khilāf mustaḥabb” menegaskan bahwa keluar dari perselisihan dianggap dianjurkan selama tidak bertentangan dengan dalil yang lebih kuat. Peran kaidah ini sangat fundamental dalam konteks masyarakat majemuk, khususnya di wilayah yang menggabungkan berbagai mazhab, tradisi, dan otoritas keagamaan.

Dari sisi praktis, murā’atul khilāf mendorong pendekatan moderat dan inklusif dalam penetapan hukum. Ia menghindarkan sikap fanatisme mazhab, mengurangi potensi konflik, serta memberikan ruang kepada umat untuk memilih jalan ibadah yang lebih aman bila terdapat perbedaan pendapat yang sama-sama memiliki dasar kuat. Prinsip ini sangat relevan dalam persoalan ibadah yang bersifat detail seperti wudu, salat, transaksi tertentu, hukum keluarga, serta persoalan kontemporer yang belum pernah dibahas secara eksplisit oleh ulama klasik.

Dalam konteks keilmuan, kaidah ini menjaga agar seorang penuntut ilmu tidak bersikap kaku terhadap satu mazhab, namun tetap memiliki kerangka metodologis yang jelas. Murā’atul khilāf tidak berarti mencampuradukkan mazhab (talfiq) tanpa kaidah, tetapi tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian, prioritas dalil, dan kemaslahatan. Dengan demikian, pelaksanaannya harus didahului pemahaman terhadap tingkat kekuatan dalil, maqāṣid al-syarī‘ah, serta kondisi mukallaf.

Di era modern, kaidah ini menjadi pendekatan penting dalam menyelesaikan persoalan keagamaan yang memerlukan kompromi, seperti fikih peribadatan masyarakat minoritas, fikih lintas mazhab dalam organisasi besar, hingga fatwa-fatwa yang melibatkan perbedaan pandangan lembaga keagamaan. Murā’atul khilāf memberikan kerangka etis-legal agar perbedaan menjadi sumber kekayaan intelektual, bukan sumber perpecahan.

Secara keseluruhan, murā’atul khilāf adalah konsep integral dalam fikih yang mengajarkan keluasan hati, kehatian-hatian hukum, kesadaran metodologis, dan kemampuan menjaga persatuan umat di tengah keragaman pemikiran. Kaidah ini meneguhkan bahwa perbedaan adalah bagian dari rahmat, sementara pengelolaannya adalah bagian dari hikmah.

Kata Kunci: Murā‘āt al-Khilāf, asy-Syāṭibī, maqāṣid al-syarī‘ah, ijtihād, fatwa kontemporer, fikih perbandingan.


Bab Pertama: Konsep Murā‘āt al-Khilāf Menurut Imām asy-Syāṭibī

1. Pendahuluan

Konsep murā‘āt al-khilāf (مراعاة الخلاف) — yaitu memperhatikan perbedaan pendapat dalam penetapan hukum — merupakan tema sentral dalam uṣūl al-fiqh. Istilah ini menggambarkan kesadaran bahwa keragaman pandangan fuqahā’ adalah bagian dari dinamika hukum Islam.

Salah satu ulama yang memberi perhatian mendalam terhadap konsep ini adalah Imām Abū Isḥāq Ibrāhīm ibn Mūsā asy-Syāṭibī (w. 790 H), tokoh besar mazhab Mālikiyyah dan peletak dasar pemikiran maqāṣid al-syarī‘ah di Granada (al-Andalus). Dalam al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah, ia menjelaskan bahwa memperhatikan perbedaan bukanlah sekadar bentuk toleransi sosial, melainkan bagian dari mekanisme ilmiah dalam menjaga kemaslahatan dan kesatuan umat.

قال الشاطبي:
«والاعتبار بالخلاف إنما يكون إذا كان الخلاف معتبرًا في الشرع، لا إذا كان شاذًّا أو مخالفًا للدليل القطعي»
(الشاطبي، الموافقات في أصول الشريعة، ج 4، ص 205).

Artinya: “Pertimbangan terhadap perbedaan hanya berlaku apabila perbedaan itu diakui secara syar‘i, bukan jika bersifat syādz (ganjil) atau bertentangan dengan dalil yang qat‘i.”


2. Definisi Murā‘āt al-Khilāf Menurut Asy-Syāṭibī

Asy-Syāṭibī tidak memberikan definisi terminologis secara eksplisit, namun dari konteks pembahasannya, murā‘āt al-khilāf dapat dipahami sebagai:

“Mempertimbangkan pendapat ulama mu‘tabar dalam rangka menjaga maslahat, mencegah kerusakan, serta menjaga keluasan syariat.”

قال: «من روعي الخلاف في موضعه فقد راعى مصلحة معتبرة، إذ في إهماله تضييق على الأمة، وفي اعتباره توسعة ورحمة»
(الموافقات، ج 4، ص 210).


3. Landasan Pemikiran Asy-Syāṭibī

a. Syariat Dibangun Atas Maslahah

Asy-Syāṭibī menegaskan bahwa syariat sepenuhnya berorientasi pada kemaslahatan manusia.

«إن الشريعة إنما وُضعت لجلب المصالح ودرء المفاسد»
(الموافقات، ج 2، ص 8).

Oleh karena itu, memperhatikan perbedaan dapat menjadi sarana untuk menjaga maslahat, terutama dalam urusan publik (al-masā’il al-‘āmmah).

b. Perbedaan sebagai Sunnatullah

Menurut asy-Syāṭibī, perbedaan pendapat adalah keniscayaan akibat perbedaan kemampuan memahami nash, variasi adat, dan kondisi sosial.

«ولا يمكن رفع الخلاف في الفروع، لأنه ناشئ عن اختلاف الفهوم وتفاوت المدارك»
(الموافقات، ج 5، ص 89).

c. Larangan Talfiq Sembarangan

Asy-Syāṭibī mengkritik praktik talfiq (menggabungkan pendapat dari beberapa mazhab untuk mencari kemudahan).

«تتبع الرخص مفسدة في الدين، لأن المراد من الشريعة التكليف والابتلاء لا الهوى والتشهي»
(الموافقات، ج 4، ص 289).


4. Bentuk Murā‘āt al-Khilāf dalam Pemikiran Asy-Syāṭibī

a. Dalam Fatwa dan Kebijakan Umum

Dalam masalah yang menyangkut kepentingan publik, mempertimbangkan perbedaan adalah upaya menjaga keutuhan sosial dan menghindari fitnah mazhab.

«ينبغي للمفتي والحاكم أن يراعيا الخلاف فيما يتعدى ضرره إلى الناس، فإن في ذلك حفظًا للنظام العام»
(الموافقات، ج 4، ص 212).

b. Dalam Ijtihad

Bagi mujtahid, memperhatikan spektrum pendapat dan dalil tiap mazhab adalah bagian integral dari metodologi ijtihad.

«المجتهد لا يتم اجتهاده حتى يحيط بأقوال العلماء وأدلتهم، ليعرف مواضع الخلاف والوفاق»
(الموافقات، ج 5، ص 30).

c. Dalam Penetapan Hukum Pemerintah

Asy-Syāṭibī memberi ruang bagi pemerintah untuk memilih pendapat yang paling maslahat, dengan tetap memperhatikan pandangan lain agar tidak menimbulkan kesempitan.


5. Kapan Murā‘āt al-Khilāf Dapat Diterapkan

Asy-Syāṭibī menyebut beberapa syarat:

  1. Perbedaan itu mu‘tabar (diakui para mujtahid).
  2. Memiliki dalil yang layak diterima.
  3. Menghasilkan maslahat dan tidak melanggar maqāṣid syariah.

«إذا كان الخلاف معتبرًا، والمصلحة في مراعاته راجحة، وجب النظر فيه»
(الموافقات، ج 4، ص 215).


6. Kapan Murā‘āt al-Khilāf Tidak Boleh Dilakukan

Tidak boleh jika:

  1. Pendapatnya syādz atau menyalahi nash qat‘i.
  2. Tujuannya hanya mencari keringanan (tatabbu‘ al-rukhaṣ).
  3. Menyebabkan kerusakan syar‘i atau sosial.

«ولا يُلتفت إلى خلافٍ يجر إلى فساد أو خروج عن مقاصد الشرع»
(الموافقات، ج 4، ص 216).


7. Contoh Penerapan

a. Ibadah

Dalam perbedaan tata cara shalat, seperti posisi tangan, asy-Syāṭibī menilai semua pendapat memiliki dasar. Maka pemaksaan satu pendapat adalah bentuk penyempitan.

b. Muamalat Modern

Dalam kebijakan zakat, wakaf, atau keuangan publik, pemerintah dapat memilih pendapat paling maslahat dengan tetap menghormati pandangan mazhab lain.


8. Pengaruh Pemikiran Asy-Syāṭibī dalam Fikih Kontemporer

Pemikiran asy-Syāṭibī tentang murā‘āt al-khilāf menjadi dasar bagi:

  • Fiqh al-Aqalliyyāt (fikih minoritas),
  • Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī,
  • metodologi ijtihād maqāṣidī modern.

Ibn ‘Āsyūr (1946), Yūsuf al-Qarḍāwī (1997), dan Aḥmad al-Raisūnī (1992) mengembangkan gagasan ini untuk menata pluralitas hukum Islam secara produktif.

الرايسوني، أحمد. نظرية المقاصد عند الإمام الشاطبي. بيروت: دار الكلمة، 1992.
القرضاوي، يوسف. الاجتهاد في الشريعة الإسلامية. القاهرة: دار الشروق، 1997.
ابن عاشور، الطاهر. مقاصد الشريعة الإسلامية. تونس: الدار التونسية، 1946.


9. Kesimpulan

Konsep murā‘āt al-khilāf menurut Imām asy-Syāṭibī adalah:

  • metode ilmiah berlandaskan maqāṣid al-syarī‘ah,
  • bukan toleransi buta,
  • bukan pula upaya mencari kemudahan,
    tetapi cara syar‘i dalam menjaga maslahat dan kesatuan umat.

Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan rahmat muqayyadah yang dikelola dengan ilmu dan hikmah.


Daftar Pustaka Pilihan

  1. الشاطبي، إبراهيم بن موسى. الموافقات في أصول الشريعة. تحقيق: عبد الله دراز. بيروت: دار المعرفة، 1996.
  2. الرايسوني، أحمد. نظرية المقاصد عند الإمام الشاطبي. بيروت: دار الكلمة، 1992.
  3. القرضاوي، يوسف. الاجتهاد في الشريعة الإسلامية. القاهرة: دار الشروق، 1997.
  4. ابن عاشور، الطاهر. مقاصد الشريعة الإسلامية. تونس: الدار التونسية، 1946.
  5. الزحيلي، وهبة. أصول الفقه الإسلامي. دمشق: دار الفكر، 2002.
  6. السباعي، مصطفى. السنة ومكانتها في التشريع الإسلامي. بيروت: المكتب الإسلامي، 1985.
  7. ابن تيمية، أحمد. رفع الملام عن الأئمة الأعلام. القاهرة: مكتبة السنة، 1983.
  8. علوان، عبد المجيد. مراعاة الخلاف بين الفقهاء وأثرها في الفتوى والقضاء. الرياض: جامعة الإمام، 2011.

BAB II

IMPLEMENTASI, KRITIK, DAN RELEVANSI KONSEP MURĀ‘ĀT AL-KHILĀF MENURUT IMĀM ASY-SYĀṬIBĪ


2.1 Pendahuluan

Setelah menjelaskan landasan konseptual murā‘āt al-khilāf pada bab sebelumnya, bab ini menguraikan implementasi praktis, batasan penerapan, kritik ulama terhadap pemikiran Imām asy-Syāṭibī, serta relevansinya dalam konteks kontemporer.

Konsep ini merupakan bagian integral dari maqāṣid al-syarī‘ah dan metode ijtihad dinamis yang dikembangkan oleh asy-Syāṭibī. Menurutnya, perbedaan pandangan fuqahā’ bukanlah sumber konflik, melainkan ruang kemaslahatan yang perlu dikelola secara bijak.

Sebagaimana ditegaskan oleh beliau:

قَالَ الشَّاطِبِيُّ:
«وَالْفِقْهُ مَبْنِيٌّ عَلَى مَعْرِفَةِ الْأَحْكَامِ بِمَقَاصِدِهَا، وَإِلَّا كَانَ قَوْلًا بِغَيْرِ عِلْمٍ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 162).

Artinya: “Fikih dibangun atas pemahaman hukum beserta tujuan-tujuannya; tanpa itu, maka ia hanyalah perkataan tanpa ilmu.”


2.2 Implementasi Praktis Konsep Murā‘āt al-Khilāf

2.2.1 Dalam Penetapan Fatwa

Imām asy-Syāṭibī menekankan bahwa seorang muftī tidak boleh fanatik terhadap mazhab tertentu (ta‘aṣṣub madhhabī), tetapi juga tidak boleh memilih pendapat termudah tanpa memperhatikan maqāṣid dan maslahat.

«لَا يَصِحُّ الِافْتَاءُ فِي النَّوَازِلِ إِلَّا بِالنَّظَرِ فِي مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ، وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ الْعُلَمَاءُ يُنْظَرُ فِيهِ بِقَدْرِ الْمَصْلَحَةِ الْمُتَعَلِّقَةِ بِهِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 211).

Transliterasi:
Lā yaṣiḥḥu al-iftā’ fī al-nawāzil illā bi al-naẓar fī maqāṣid al-syarī‘ah, wa mā ikhtalafa fīhi al-‘ulamā’ yunẓaru fīhi bi-qadri al-maṣlaḥah al-muta‘alliqat bihi.

Dengan demikian, murā‘āt al-khilāf menjadikan fatwa bersifat inklusif dan responsif terhadap dinamika sosial.


2.2.2 Dalam Pemerintahan dan Kebijakan Publik

Asy-Syāṭibī memberikan ruang bagi pemerintah (al-imām) untuk memilih pendapat yang paling sesuai dengan maslahat masyarakat.

«الإِمَامُ يَنْظُرُ فِي أَقْوَالِ الْفُقَهَاءِ فَيَأْخُذُ مِنْهَا مَا هُوَ أَنْسَبُ لِأَحْوَالِ النَّاسِ وَمَصَالِحِهِمْ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 213).

Pemerintah boleh mengambil pendapat yang aḥwaṭ (lebih berhati-hati) dalam urusan publik, atau yang aysar (lebih ringan) untuk mencegah kesempitan.

Hal ini sejalan dengan pandangan Ibn ‘Āsyūr bahwa maqāṣid syariah menjadi mi‘yār al-ḥukm al-siyāsī al-syar‘ī (tolok ukur hukum politik Islam).¹


2.2.3 Dalam Kehidupan Sosial Umat

Asy-Syāṭibī memandang murā‘āt al-khilāf sebagai sarana menjaga ukhuwah dan persatuan umat Islam.

«وَمِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ حِفْظُ الْجَمَاعَةِ وَتَأْلِيفُ الْقُلُوبِ، فَلَا يَجُوزُ أَنْ يُؤَدِّيَ الْخِلَافُ إِلَى التَّفْرِيقِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 218).

Transliterasi:
Wa min maqāṣid al-syarī‘ah ḥifẓ al-jamā‘ah wa ta’līf al-qulūb, fa-lā yajūzu an yu’addiya al-khilāf ilā al-tafrīq.


2.3 Kriteria Pendapat yang Dapat Dipertimbangkan

2.3.1 Khilāf Mu‘tabar

«الْخِلَافُ الَّذِي يُعْتَبَرُ مَا كَانَ صَادِرًا عَنْ أَهْلِ الِاجْتِهَادِ وَاسْتَنَدَ إِلَى أَدِلَّةٍ مَقْبُولَةٍ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 205).

Pendapat yang lahir dari mujtahid dan berlandaskan dalil yang dapat diterima termasuk khilāf yang sah (mu‘tabar).

2.3.2 Khilāf Ghayr Mu‘tabar

«وَأَمَّا الْخِلَافُ الَّذِي لَا مَسَاغَ لَهُ فِي الشَّرْعِ، فَلَا يُعْتَدُّ بِهِ، وَلَا يُعْمَلُ عَلَى حَسَبِهِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 206).

Perbedaan yang tidak memiliki dasar syar‘i yang sah tidak boleh dijadikan pegangan. Mengikutinya dapat membuka pintu fasād al-tashrī‘ (kerusakan hukum).


2.4 Hubungan Murā‘āt al-Khilāf dengan Maqāṣid al-Syarī‘ah

Aspek MaqāṣidPenjelasanKutipan
Jalb al-maṣlaḥahMenghadirkan kemaslahatan sosial dan kontekstual.«الشريعة كلها مصلحة، إما بجلب أو بدرء.» (al-Muwāfaqāt, jld. 2, hlm. 9)
Dar’ al-mafsadahMenghindari kesempitan dan konflik hukum.«وَكُلُّ مَا يَؤُولُ إِلَى الْفَسَادِ فَلَيْسَ مِنَ الشَّرْعِ.» (jld. 2, hlm. 12)
Ḥifẓ al-jamā‘ahMenjaga kesatuan umat.(jld. 4, hlm. 218)
Istiqrār al-aḥkāmMenjaga stabilitas hukum syar‘i.«الشريعة وسط بين التشديد والتساهل.» (jld. 4, hlm. 45)

2.5 Kritik Ulama terhadap Konsep Asy-Syāṭibī

2.5.1 Risiko Talfiq dan Tatabbu‘ al-Rukhaṣ

Sebagian ulama memperingatkan bahaya tatabbu‘ al-rukhaṣ (mencari-cari keringanan). Ibn ‘Abd al-Barr berkata:

«مَنْ تَتَبَّعَ الرُّخَصَ تَزَنْدَقَ.»
(Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm, jld. 2, hlm. 92).

Asy-Syāṭibī menolak hal ini secara tegas:

«ليس المقصود من مراعاة الخلاف تتبع الأسهل، وإنما حفظ النظام ودفع الفتنة.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 214).

2.5.2 Kekhawatiran terhadap Pelemahan Mazhab

«المذاهب وسائل لا مقاصد، والحق أولى بالاتباع.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 112).

Mazhab hanyalah sarana untuk memahami syariat, bukan tujuan akhir.

2.5.3 Potensi Manipulasi Dalil

«من استعمل الخلاف لتبرير الهوى فقد نقض أصل الاجتهاد.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 290).


2.6 Relevansi Konsep Asy-Syāṭibī di Era Modern

  1. Masyarakat Multimazhab
    Pendekatan murā‘āt al-khilāf sangat relevan di Indonesia, Malaysia, dan Afrika Utara yang majemuk secara mazhab.
    → (lihat: Aḥmad al-Raisūnī, Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī, hlm. 235).
  2. Fikih Minoritas (Fiqh al-Aqalliyyāt)
    Yūsuf al-Qarḍāwī menyebut murā‘āt al-khilāf sebagai dasar fleksibilitas hukum bagi Muslim minoritas.
    → (lihat: al-Qarḍāwī, Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah, hlm. 74).
  3. Fatwa Kolektif dan Fikih Kontemporer
    Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī menerapkan metode ijtihād jamā‘ī yang sejalan dengan prinsip asy-Syāṭibī.
  4. Bidang Muamalat Modern
    Dalam perbankan syariah, fintech, dan kedokteran modern, prinsip murā‘āt al-khilāf menyeimbangkan antara nash dan maslahat.²

2.7 Studi Kasus Penerapan Murā‘āt al-Khilāf

  1. Penentuan Awal Ramadan dan Syawal
    «الأخذ بالحساب إن كان أضبط للمصلحة العامة فذلك من مراعاة الخلاف.»
    (al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 128).
  2. Zakat Profesi dan Saham
    «الاجتهاد يتغير بتغير المصالح والأعراف.»
    (al-Muwāfaqāt, jld. 5, hlm. 134).
  3. Ibadah Massal (Haji dan Umrah)
    «تُرَاعَى فِي الْعِبَادَاتِ الْمَصَالِحُ الْعَامَّةُ إِذَا لَمْ تُخَالِفْ نَصًّا.»
    (al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 142).

2.8 Kesimpulan Bab II

Konsep murā‘āt al-khilāf menurut Imām asy-Syāṭibī merupakan metode ijtihad berbasis maqāṣid al-syarī‘ah yang:

  1. Menjaga maslahat dan kesatuan umat,
  2. Menghindari fanatisme mazhab,
  3. Mengontrol fleksibilitas hukum agar tidak berubah menjadi talfiq bebas.

«مراعاة الخلاف من محاسن الشريعة لأنها جامعة بين الحزم والسعة.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 220).


Catatan Kaki

  1. Ibn ‘Āsyūr, Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah (Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1946), hlm. 149.
  2. Wahbah al-Zuḥaylī, Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī, jld. 2 (Dimasyq: Dār al-Fikr, 2002), hlm. 1132.

Daftar Pustaka (Gaya Turabian, 9th Edition)

Sumber Primer

  • al-Syāṭibī, Ibrāhīm ibn Mūsā. al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah. Taḥqīq ‘Abd Allāh Darrāz. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1996.
  • Ibn ʿAbd al-Barr, Yūsuf. Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlihi. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.

Sumber Sekunder

  • al-Raisūnī, Aḥmad. Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī. Beirut: Dār al-Kalimah, 1992.
  • al-Qarḍāwī, Yūsuf. Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah. Kairo: Dār al-Syurūq, 2001.
  • Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad Ṭāhir. Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah. Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1946.
  • al-Zuḥaylī, Wahbah. Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī. Damaskus: Dār al-Fikr, 2002.
  • ʿAlwān, ʿAbd al-Majīd. Murā‘āt al-Khilāf bayna al-Fuqahā’ wa Atharuhā fī al-Fatwā wa al-Qaḍā’. Riyadh: Jāmi‘ah al-Imām, 2011.
  • Ibn Taymiyyah, Aḥmad. Raf‘ al-Malām ‘an al-A’immah al-A‘lām. Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1983.

BAB III

PERBANDINGAN KONSEP MURĀ‘ĀT AL-KHILĀF MENURUT IMĀM ASY-SYĀṬIBĪ DAN ULAMA LAIN


3.1 Pendahuluan

Setelah pada bab sebelumnya dibahas secara mendalam pandangan Imām asy-Syāṭibī tentang murā‘āt al-khilāf, bab ini bertujuan untuk menempatkan pemikiran tersebut dalam konteks yang lebih luas. Banyak ulama, baik sebelum maupun sesudahnya, membahas khilāf dan adab mengelola perbedaan, namun pendekatan asy-Syāṭibī memiliki karakteristik tersendiri.

Bab ini akan membandingkan pandangan asy-Syāṭibī dengan:

  1. Empat imam mazhab: Abū Ḥanīfah, Mālik, al-Syāfi‘ī, dan Aḥmad ibn Ḥanbal;
  2. Ulama uṣūl klasik: al-Ghazālī, al-Qarāfī, dan Ibn Taymiyyah;
  3. Ulama kontemporer: Ibn ‘Āsyūr, Yūsuf al-Qarḍāwī, dan Aḥmad al-Raisūnī.

Tujuan komparasi ini adalah untuk menyoroti persamaan, perbedaan, serta kontribusi khas asy-Syāṭibī dalam membangun teori murā‘āt al-khilāf dalam konteks maqāṣid al-syarī‘ah.


3.2 Perbandingan dengan Empat Imam Mazhab

3.2.1 Imām Abū Ḥanīfah (Mazhab Ḥanafiyyah)

Kesamaan:

  • Mengakui keluasan syariat dan menerima perbedaan sebagai keniscayaan.
  • Menekankan pentingnya ra’yu dan qiyās dalam istinbāṭ hukum.
  • Menghindari fanatisme mazhab dan membuka ruang ijtihad.

Perbedaan:
Pendekatan Abū Ḥanīfah bersifat rasional-analitis, menonjolkan ra’yu dan istiḥsān sebagai alat penalaran. Adapun asy-Syāṭibī menjadikan maqāṣid al-syarī‘ah sebagai kerangka utama dalam memahami hukum dan mengelola perbedaan.

Asy-Syāṭibī menegaskan:

«وَالشَّرِيعَةُ كُلُّهَا مَبْنِيَّةٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ وَدَرْءِ الْمَفَاسِدِ، فَإِذَا اخْتَلَفَتِ الْأَقْوَالُ نُظِرَ فِي الْمَقْصِدِ مِنْهَا.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 209).

Artinya: “Seluruh syariat dibangun atas dasar menghadirkan kemaslahatan dan menolak kerusakan; maka apabila terjadi perbedaan pendapat, hendaklah ditinjau maksud yang melandasinya.”


3.2.2 Imām Mālik (Mazhab Mālikiyyah)

Kesamaan:

  • Sama-sama menekankan maṣlaḥah mursalah.
  • Mengakui pentingnya adat dan kondisi sosial dalam menentukan fatwa.

Perbedaan:
Imām Mālik menjadikan ‘amal ahl al-Madīnah sebagai sumber hukum yang kuat, sementara asy-Syāṭibī menolak keterikatan lokalitas. Ia mengembangkan maqāṣid sebagai pendekatan universal lintas peradaban, menjadikan murā‘āt al-khilāf dapat diterapkan di berbagai konteks budaya.


3.2.3 Imām al-Syāfi‘ī (Mazhab Syāfi‘iyyah)

Kesamaan:

  • Menekankan disiplin metodologis dan kejelasan dalil.
  • Menghormati perbedaan di antara para mujtahid.

Perbedaan:
Al-Syāfi‘ī terkenal ketat dalam ushul fikihnya, menolak istiḥsān tanpa dasar yang kuat. Asy-Syāṭibī lebih moderat; ia menggabungkan antara tekstualitas dalil dan rasionalitas maqāṣid.

«لَا يُعْتَدُّ بِالْخِلَافِ إِذَا كَانَ عَلَى غَيْرِ أَصْلٍ، وَلَكِنْ يُرَاعَى إِذَا كَانَ لَهُ دَلِيلٌ وَمَقْصَدٌ شَرْعِيٌّ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 205).


3.2.4 Imām Aḥmad ibn Ḥanbal (Mazhab Ḥanābilah)

Kesamaan:

  • Menghormati perbedaan pendapat yang bersumber dari ijtihad.
  • Menolak talfiq yang dapat merusak kemurnian ibadah.

Perbedaan:
Imām Aḥmad cenderung tekstual dan berhati-hati dalam fatwa (iḥtiyāṭ). Sementara asy-Syāṭibī menekankan keseimbangan antara kehati-hatian dan kemaslahatan sosial.


3.3 Perbandingan dengan Ulama Uṣūl Fikih Klasik

3.3.1 Imām al-Ghazālī (w. 505 H)

Kesamaan:

  • Sama-sama menegaskan bahwa syariat bertujuan mewujudkan kemaslahatan.
  • Menolak fanatisme mazhab dan menganggap perbedaan sebagai rahmat.

Perbedaan:
Al-Ghazālī dalam al-Mustaṣfā memaparkan maqāṣid secara teoritis. Asy-Syāṭibī melanjutkan ide tersebut dengan penerapan praktis dalam kehidupan sosial Andalusia.

«الشَّاطِبِيُّ جَمَعَ بَيْنَ التَّنْظِيرِ وَالتَّطْبِيقِ، فَجَعَلَ مَقَاصِدَ الشَّرِيعَةِ عَمَلِيَّةً فِي كُلِّ مَجَالٍ.»
(Aḥmad al-Raisūnī, Naẓariyyat al-Maqāṣid, hlm. 184)


3.3.2 al-Qarāfī (w. 684 H)

Kesamaan:

  • Keduanya sama-sama dari mazhab Mālikiyyah.
  • Mengembangkan etika bermazhab dan adab perbedaan.

«مَنْ تَقَلَّدَ مَذْهَبًا فَلَا يَتَعَصَّبْ لَهُ، فَإِنَّ الْحَقَّ لَا يُحَدُّ بِمَذْهَبٍ.»
(al-Qarāfī, al-Furūq, jld. 2, hlm. 131)

Perbedaan:
Al-Qarāfī menekankan al-iqtidā’ bi al-dalīl (mengikuti dalil terbaik), sementara asy-Syāṭibī menjadikan maqāṣid sebagai kerangka evaluatif atas semua khilāf.


3.3.3 Ibn Taymiyyah (w. 728 H)

Kesamaan:

  • Menolak fanatisme mazhab.
  • Menerima khilāf mu‘tabar sebagai fenomena alami.

Perbedaan:
Ibn Taymiyyah menekankan kemurnian nash dan tahqīq al-manāṭ tanpa perlu struktur maqāṣid. Sedangkan asy-Syāṭibī membangun sistem maqāṣid yang komprehensif dan metodologis.


3.4 Perbandingan dengan Ulama Kontemporer

3.4.1 Ibn ‘Āsyūr (w. 1973 M)

Kesamaan:

  • Sama-sama tokoh maqāṣid modern.
  • Memahami maqāṣid sebagai sarana adaptasi hukum lintas budaya.

Perbedaan:
Ibn ‘Āsyūr berfokus pada pembaruan hukum modern, sedangkan asy-Syāṭibī membangun fondasi teoritis maqāṣid dalam kerangka klasik.

«الشاطبي وضع الأسس، وابن عاشور طوّرها في العصر الحديث.»
(Muḥammad Ṭāhir Ibn ‘Āsyūr, Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah, hlm. 15)


3.4.2 Yūsuf al-Qarḍāwī (lahir 1926 M)

Kesamaan:

  • Menjadikan murā‘āt al-khilāf sebagai prinsip utama fatwa kontemporer.
  • Berbasis maqāṣid dan maslahah.

Perbedaan:
Al-Qarḍāwī lebih menekankan fiqh al-waqi‘ dan solusi praktis umat minoritas, sedangkan asy-Syāṭibī lebih menekankan iḥtiyāṭ dan stabilitas hukum.


3.4.3 Aḥmad al-Raisūnī

Kesamaan:

  • Mengagumi dan melanjutkan teori asy-Syāṭibī.
  • Menegaskan pluralitas dalil dan keluasan syariat.

Perbedaan:
Al-Raisūnī menambahkan dimensi politik dan tata kelola hukum modern, sementara asy-Syāṭibī tetap dalam bingkai ushul fikih klasik.


3.5 Analisis Komparatif: Kekuatan dan Keunikan Pemikiran Asy-Syāṭibī

  1. Penstrukturan Maqāṣid Secara Sistematis
    Tidak ada ulama sebelumnya yang menata maqāṣid sekomprehensif asy-Syāṭibī. Ia menjadikannya sebagai mi‘yār dalam menilai dan mengelola perbedaan pendapat.
  2. Keseimbangan antara Fleksibilitas dan Tekstualitas
    Asy-Syāṭibī menghindari dua ekstrem: kebebasan berlebihan (tatabbu‘ al-rukhaṣ) dan kekakuan literal (ta‘aṣṣub nashī).
  3. Relevansi Sosial dan Multi-Mazhab
    Pemikirannya sangat kontekstual untuk masyarakat plural seperti Indonesia, Afrika Utara, dan Eropa.
  4. Orientasi Stabilitas Sosial dan Persatuan Umat
    Ia mengaitkan maqāṣid dengan realitas sosial-politik Andalusia.

«وَمِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ حِفْظُ الْجَمَاعَةِ وَدَفْعُ الْفِتَنِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 218).


3.6 Kesimpulan Bab III

Perbandingan menunjukkan bahwa:

  1. Pemikiran asy-Syāṭibī sejalan dengan semangat para pendahulunya namun lebih sistematis dan menyeluruh.
  2. Ia berhasil mengintegrasikan:
    • maqāṣid,
    • realitas sosial,
    • kontrol terhadap rukhaṣ,
    • dan penghormatan terhadap khilāf,
      ke dalam satu sistem hukum yang utuh.
  3. Murā‘āt al-khilāf versi asy-Syāṭibī menjadi jembatan konseptual antara keteguhan teks dan tuntutan zaman.

«مراعاة الخلاف من محاسن الشريعة لأنها جامعة بين الحزم والسعة.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 220).


Catatan Kaki

  1. Aḥmad al-Raisūnī, Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī (Beirut: Dār al-Kalimah, 1992), hlm. 184.
  2. Ibn ‘Āsyūr, Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah (Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1946), hlm. 15.

Daftar Pustaka (Gaya Turabian, 9th Edition)

Sumber Primer

  • al-Syāṭibī, Ibrāhīm ibn Mūsā. al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah. Taḥqīq ‘Abd Allāh Darrāz. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1996.
  • al-Qarāfī, Aḥmad ibn Idrīs. al-Furūq. Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.
  • Ibn Taymiyyah, Aḥmad. Raf‘ al-Malām ‘an al-A’immah al-A‘lām. Kairo: Maktabah al-Sunnah, 1983.

Sumber Sekunder

  • al-Ghazālī, Abū Ḥāmid. al-Mustaṣfā min ‘Ilm al-Uṣūl. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.
  • al-Raisūnī, Aḥmad. Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī. Beirut: Dār al-Kalimah, 1992.
  • Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad Ṭāhir. Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah. Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1946.
  • al-Qarḍāwī, Yūsuf. Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah. Kairo: Dār al-Syurūq, 2001.
  • Ibn ʿAbd al-Barr, Yūsuf. Jāmi‘ Bayān al-‘Ilm wa Faḍlihi. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2000.
  • al-Zuḥaylī, Wahbah. Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī. Damaskus: Dār al-Fikr, 2002.

BAB IV

SINTESIS TEORETIS DAN RELEVANSI PRAKTIS KONSEP MURĀ‘ĀT AL-KHILĀF DALAM FIKIH KONTEMPORER


4.1 Pendahuluan

Konsep murā‘āt al-khilāf (مراعاة الخلاف) sebagaimana digagas oleh Imām Abū Isḥāq asy-Syāṭibī (w. 790 H) tidak berhenti sebagai teori etika perbedaan dalam kerangka klasik, tetapi berkembang menjadi fondasi metodologis bagi ijtihād maqāṣidī dalam fikih modern.

Dalam konteks kontemporer, perbedaan mazhab, perbedaan geografis, dan pluralitas sosial menuntut adanya pendekatan hukum Islam yang moderat, inklusif, serta relevan. Pemikiran asy-Syāṭibī tentang murā‘āt al-khilāf menjembatani antara keteguhan nash dan fleksibilitas maslahat, sehingga menjadi kerangka teoritis bagi fatwa dan kebijakan publik Islam modern.


4.2 Sintesis Teoretis Konsep Murā‘āt al-Khilāf

4.2.1 Integrasi Antara Maqāṣid dan Khilāf

Asy-Syāṭibī menegaskan bahwa seluruh perbedaan yang mu‘tabar harus dikembalikan pada tujuan syariat (maqāṣid al-syarī‘ah). Dalam al-Muwāfaqāt beliau menyatakan:

«الْخِلَافُ إِذَا كَانَ فِيمَا سَاغَ فِيهِ الِاجْتِهَادُ، فَهُوَ رَاجِعٌ إِلَى مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ، لِأَنَّ الشَّرِيعَةَ وُضِعَتْ لِرِعَايَةِ الْمَصَالِحِ وَدَفْعِ الْمَفَاسِدِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 207).

Artinya: “Perbedaan yang terjadi dalam wilayah ijtihad dikembalikan kepada tujuan syariat, karena syariat diturunkan untuk menjaga kemaslahatan dan menolak kerusakan.”

Dengan demikian, murā‘āt al-khilāf bukanlah kompromi tanpa prinsip, melainkan penerapan maqāṣid untuk memilih dan menimbang perbedaan secara metodologis.


4.2.2 Prinsip Moderasi dan I‘tidāl

Konsep ini menolak dua ekstrem:

  1. Ta‘aṣṣub (fanatisme mazhab yang menolak khilaf),
  2. Tatabbu‘ al-rukhaṣ (mencari-cari keringanan hukum tanpa dasar).

Asy-Syāṭibī menegaskan keseimbangan sebagai jalan tengah:

«وَمِنَ الْمُقْتَضَى الْعَقْلِيِّ وَالشَّرْعِيِّ أَنْ يُؤْخَذَ بِالْأَحْوَطِ وَالْأَعْدَلِ فِي مَوَاطِنِ الِاخْتِلَافِ، حِفْظًا لِمَقَاصِدِ الدِّينِ وَحُقُوقِ الْعِبَادِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 213).

Prinsip ini kemudian menjadi fondasi bagi fiqh al-wasaṭiyyah dalam hukum Islam modern.


4.2.3 Murā‘āt al-Khilāf sebagai Mekanisme Sosial Fikih

Menurut asy-Syāṭibī, perbedaan pandangan fikih tidak boleh menjadi sumber perpecahan sosial. Ia menyatakan:

«وَاعْلَمْ أَنَّ الْخِلَافَ إِذَا أَدَّى إِلَى فُرْقَةٍ أَوْ فِتْنَةٍ، وُجِبَ رَدُّهُ إِلَى الْأَصْلِ الْجَامِعِ، وَهُوَ الْمَقْصَدُ الْكُلِّيُّ مِنَ الشَّرِيعَةِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 219).

Artinya, murā‘āt al-khilāf berfungsi menjaga niẓām al-ummah (tatanan sosial umat) agar tidak runtuh akibat perbedaan hukum yang bersifat parsial.


4.3 Relevansi Praktis dalam Fikih Kontemporer

4.3.1 Dalam Fatwa dan Ijtihad Kolektif

Lembaga seperti Majma‘ al-Fiqh al-Islāmī, Dar al-Iftā’ al-Miṣriyyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerapkan pendekatan murā‘āt al-khilāf dalam pengambilan fatwa kolektif (ijtihād jamā‘ī). Prinsipnya:

  • Menghimpun berbagai pendapat mu‘tamad;
  • Menimbang maslahat sosial;
  • Memilih pendapat yang paling ringan dan maslahat sesuai maqāṣid.

Contohnya, fatwa tentang zakat profesi, bank syariah, dan transplantasi organ sering kali dihasilkan dari kombinasi pandangan mazhab yang mu‘tabar, dengan pertimbangan maqāṣidiyyah.


4.3.2 Dalam Fikih Minoritas (Fiqh al-Aqalliyyāt)

Bagi Muslim minoritas di Barat, murā‘āt al-khilāf menjadi alat adaptasi syariah dengan realitas lokal. Yūsuf al-Qarḍāwī menjelaskan:

«إن مراعاة الخلاف أصل في الفتوى للمسلمين في الغرب، لأنهم يعيشون في بيئة متعددة المذاهب والثقافات.»
(al-Qarḍāwī, Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah, hlm. 48).

Pendekatan ini memungkinkan penerapan hukum Islam yang fleksibel tanpa kehilangan integritas normatifnya.


4.3.3 Dalam Regulasi Negara dan Hukum Publik

Konsep murā‘āt al-khilāf juga relevan dalam kebijakan hukum publik modern. Pemerintah Muslim dapat memilih pendapat yang lebih maslahat tanpa mengabaikan pendapat lain yang mu‘tabar. Misalnya:

  • Penetapan awal Ramadan berdasarkan hisab dan ru’yah kombinatif,
  • Zakat korporasi dan saham,
  • Penerapan hukum keluarga dengan toleransi lintas mazhab.

Prinsip ini mencerminkan apa yang disebut asy-Syāṭibī sebagai “tawfīq bayna al-maṣlaḥah wa al-nuṣūṣ” (kompromi antara maslahat dan teks).


4.3.4 Dalam Bidang Muamalat Modern

Fikih ekonomi Islam modern, seperti perbankan syariah dan fintech halal, menggunakan pendekatan murā‘āt al-khilāf dengan:

  • Menimbang berbagai pendapat mazhab dalam akad (‘uqūd),
  • Menghindari ekstrem konservatif atau liberal,
  • Memastikan kesesuaian dengan maqāṣid, terutama ḥifẓ al-māl (perlindungan harta) dan taʿāwun (kerja sama).

Sebagaimana ditegaskan asy-Syāṭibī:

«وَمِنْ مَقَاصِدِ الشَّرِيعَةِ التَّيْسِيرُ وَرَفْعُ الْحَرَجِ، وَإِنَّمَا يُعْتَبَرُ ذَلِكَ فِيمَا لَا يُخِلُّ بِالْمَقْصُودِ الْأَصْلِيِّ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 2, hlm. 289).


4.4 Tantangan dan Kritik terhadap Penerapan Konsep Ini

  1. Risiko Penyalahgunaan (Talfiq Maslahatī)
    Beberapa ulama mengkhawatirkan bahwa murā‘āt al-khilāf bisa dijadikan alasan memilih pendapat termudah demi kepentingan duniawi.
    Asy-Syāṭibī menolak hal itu dengan tegas:

«مَنْ تَتَبَّعَ الرُّخَصَ فَقَدْ تَزَنْدَقَ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 226).

  1. Kebutuhan Standarisasi Otoritas Ijtihad
    Dalam konteks modern, perlu batasan siapa yang berwenang melakukan murā‘āt al-khilāf. Hal ini menuntut kolaborasi antara fuqaha, akademisi, dan lembaga fatwa internasional.
  2. Problematika Globalisasi dan Kontekstualisasi
    Dalam masyarakat global, perbedaan mazhab semakin kompleks. Pendekatan asy-Syāṭibī perlu disertai perangkat maqāṣidiyyah yang kuat agar tidak tergelincir pada relativisme hukum.

4.5 Relevansi untuk Pembaruan Fikih dan Hukum Islam

Konsep murā‘āt al-khilāf memberi arah baru bagi fiqh tajdīdī (pembaruan hukum Islam) yang berlandaskan:

  1. Keterpaduan antara nash dan konteks – menjaga kesetiaan pada teks namun responsif terhadap realitas;
  2. Etika dialog antarmazhab – membangun fiqh al-ta‘āyush (fikih koeksistensi);
  3. Kemaslahatan publik – menjadikan maqāṣid sebagai barometer kebijakan syariah.

Dengan demikian, murā‘āt al-khilāf menjadi framework epistemologis untuk membangun fikih global yang toleran, rasional, dan tetap normatif.


4.6 Kesimpulan Bab IV

Dari sintesis di atas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Murā‘āt al-khilāf adalah konsep integratif yang menyatukan perbedaan dalam koridor maqāṣid al-syarī‘ah.
  2. Pemikiran asy-Syāṭibī relevan dengan sistem fatwa modern, hukum negara, dan fikih minoritas.
  3. Pendekatan ini mengokohkan prinsip tawāzun (keseimbangan), i‘tidāl (moderasi), dan maṣlaḥah (kemanfaatan) dalam hukum Islam.
  4. Relevansinya semakin kuat di era global, ketika umat Islam membutuhkan metodologi yang menyeimbangkan keotentikan teks dengan tuntutan zaman.

Sebagaimana ditegaskan oleh asy-Syāṭibī sendiri:

«إِنَّ الشَّرِيعَةَ سَعَةٌ وَرَحْمَةٌ، وَإِذَا ضَيَّقَهَا الْمُتَنَطِّعُونَ فَقَدْ خَالَفُوا مَقْصُودَهَا.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 230).


Catatan Kaki

  1. asy-Syāṭibī, al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah, taḥqīq ‘Abd Allāh Darrāz (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1996), jld. 4, hlm. 207.
  2. Yūsuf al-Qarḍāwī, Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah (Kairo: Dār al-Syurūq, 2001), hlm. 48.
  3. Aḥmad al-Raisūnī, Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī (Beirut: Dār al-Kalimah, 1992), hlm. 184.

Daftar Pustaka (Gaya Turabian 9th Edition)

Sumber Primer:

  • al-Syāṭibī, Ibrāhīm ibn Mūsā. al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah. Taḥqīq ‘Abd Allāh Darrāz. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1996.
  • al-Qarāfī, Aḥmad ibn Idrīs. al-Furūq. Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.

Sumber Sekunder:

  • al-Raisūnī, Aḥmad. Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī. Beirut: Dār al-Kalimah, 1992.
  • al-Qarḍāwī, Yūsuf. Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah. Kairo: Dār al-Syurūq, 2001.
  • Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad Ṭāhir. Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah. Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1946.
  • al-Zuḥaylī, Wahbah. Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī. Damaskus: Dār al-Fikr, 2002.
  • Kamali, Mohammad Hashim. Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society, 2003.
  • Nyazee, Imran Ahsan Khan. Theories of Islamic Law: The Methodology of Ijtihad. Islamabad: IIIT, 1994.

Apakah Anda ingin saya lanjutkan dengan BAB V (Kesimpulan dan Implikasi Penelitian) yang merangkum seluruh tesis dan menawarkan model konseptual murā‘āt al-khilāf untuk fatwa kontemporer (lengkap dengan diagram maqāṣid dan alur penerapan)?


BAB V

KESIMPULAN DAN IMPLIKASI PENELITIAN


5.1 Pendahuluan

Bab ini merupakan bagian penutup dari penelitian tentang konsep murā‘āt al-khilāf menurut Imām Abū Isḥāq asy-Syāṭibī dalam karyanya al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah. Pembahasan difokuskan pada perumusan kesimpulan teoretis, implikasi praktis, serta kontribusi penelitian terhadap pengembangan metodologi ijtihād maqāṣidī dan fikih kontemporer.


5.2 Kesimpulan Umum

Dari keseluruhan penelitian, dapat disimpulkan bahwa konsep murā‘āt al-khilāf memiliki dimensi epistemologis, etis, dan sosiologis yang luas, sehingga menempati posisi strategis dalam sistem pemikiran asy-Syāṭibī.

  1. Secara epistemologis, murā‘āt al-khilāf merupakan ekspresi dari prinsip maqāṣid al-syarī‘ah yang menekankan keseimbangan antara teks (naṣṣ) dan konteks (wāqi‘).
    Asy-Syāṭibī menegaskan:

«الِاعْتِبَارُ فِي الِاخْتِلَافِ إِنَّمَا يَكُونُ بِمَا يُحَقِّقُ الْمَقْصِدَ الشَّرْعِيَّ، لَا بِمُجَرَّدِ تَعَدُّدِ الْآرَاءِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 210)
Artinya, nilai suatu perbedaan tidak diukur dari jumlah pandangan, tetapi dari kesesuaiannya dengan maqāṣid syariat.

  1. Secara etis, murā‘āt al-khilāf mengajarkan adab al-ikhtilāf (etika perbedaan) yang menghindarkan umat dari fanatisme mazhab dan membuka ruang toleransi ilmiah (tasāmuḥ fi al-ijtihād).
  2. Secara sosiologis, murā‘āt al-khilāf berfungsi menjaga kesatuan umat (ḥifẓ al-jamā‘ah) dan stabilitas sosial, terutama dalam masyarakat majemuk dan lintas mazhab.

Dengan demikian, murā‘āt al-khilāf bukan sekadar prinsip toleransi fikih, tetapi suatu mekanisme maqāṣidiyyah yang menyeimbangkan keautentikan hukum dengan tuntutan perubahan sosial.


5.3 Temuan Pokok Penelitian

5.3.1 Fondasi Teoretis

Konsep murā‘āt al-khilāf dibangun atas dasar:

  • Kesadaran maqāṣid al-syarī‘ah sebagai orientasi hukum;
  • Penolakan terhadap ta‘aṣṣub dan tatabbu‘ al-rukhaṣ;
  • Keharusan mempertimbangkan maslahat dan konteks sosial dalam perbedaan.

Asy-Syāṭibī menyebut:

«وَإِذَا كَانَ الْخِلَافُ مُعْتَبَرًا، فَالْعَامِلُ بِهِ يَنْظُرُ إِلَى الْمَقَاصِدِ قَبْلَ النُّصُوصِ الْفَرْعِيَّةِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 218).

5.3.2 Kedudukan dalam Sistem Maqāṣid

Murā‘āt al-khilāf merupakan bagian dari maqāṣid ḥifẓ al-dīn dan ḥifẓ al-‘uqūl, karena menjaga rasionalitas dan keteraturan ijtihad umat.
Dengan konsep ini, asy-Syāṭibī berhasil menjadikan maqāṣid bukan sekadar teori moral, tetapi metodologi hukum yang operasional.

5.3.3 Perbandingan dan Originalitas

Dibandingkan dengan al-Ghazālī, al-Qarāfī, atau Ibn Taymiyyah, pendekatan asy-Syāṭibī lebih sistematis karena mengintegrasikan:

  • maqāṣid (tujuan syariah),
  • fiqh sosial (niẓām al-ummah),
  • dan kontrol etis terhadap rukhsah.

Hal ini menunjukkan bahwa murā‘āt al-khilāf dalam versi asy-Syāṭibī adalah model sintesis maqāṣidī-sosial, bukan sekadar teori ushul fikih.


5.4 Implikasi Teoretis

  1. Bagi Ilmu Ushul Fikih:
    Konsep murā‘āt al-khilāf memperluas horizon uṣūl al-fiqh dari sekadar logika hukum menuju paradigma etis dan maqāṣidiyyah. Ia memperkenalkan pendekatan integratif antara dalil, maslahat, dan realitas sosial.
  2. Bagi Teori Maqāṣid al-Syarī‘ah:
    Asy-Syāṭibī memberi kerangka bahwa maqāṣid tidak hanya menjaga maslahat individu, tetapi juga maslahat kolektif dalam ruang perbedaan.
    Ini menjadi dasar munculnya teori baru seperti maqāṣid al-‘umrān (maqāṣid sosial) dan maqāṣid al-ḥurriyyah (maqāṣid kebebasan ilmiah).
  3. Bagi Metodologi Ijtihad:
    Murā‘āt al-khilāf menuntun mujtahid untuk menimbang:
    • qawā‘id maqāṣidiyyah (kaidah tujuan syariat),
    • taḥqīq al-manāṭ (analisis konteks),
    • dan ta‘āruḍ al-adillah (timbangan dalil yang seimbang).
      Dengan demikian, ijtihad tidak kaku, namun tetap terkendali secara epistemik.

5.5 Implikasi Praktis

5.5.1 Dalam Fatwa dan Kebijakan Publik

Pendekatan murā‘āt al-khilāf relevan dalam sistem hukum Islam modern.
Pemerintah dan lembaga fatwa perlu mengadopsi prinsip:

تقديم المصلحة الراجحة مع مراعاة الأقوال المعتبرة.
“Mengutamakan maslahat yang kuat dengan tetap memperhatikan pendapat yang mu‘tabar.”

Implikasinya tampak dalam kebijakan seperti:

  • fatwa kolektif internasional,
  • pengelolaan zakat dan wakaf produktif,
  • legislasi hukum keluarga berbasis maqāṣid.

5.5.2 Dalam Pendidikan Islam dan Dialog Mazhab

Konsep ini menuntut paradigma baru dalam pengajaran fikih:

  • menekankan maqāṣid dan perbedaan mazhab secara dialogis;
  • menumbuhkan sikap tasāmuḥ dan ta‘āyush (koeksistensi) dalam masyarakat multikultural.

5.5.3 Dalam Fikih Ekonomi dan Teknologi

Dalam sektor mu‘āmalāt ḥadīṡah seperti fintech syariah, AI ethics, atau bioteknologi medis, konsep murā‘āt al-khilāf membuka ruang inovasi hukum berbasis maqāṣid dan kemaslahatan.
Pendekatan ini selaras dengan pernyataan asy-Syāṭibī:

«وَالشَّرِيعَةُ كُلُّهَا مَبْنِيَّةٌ عَلَى التَّيْسِيرِ وَالْمَصَالِحِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 2, hlm. 289).


5.6 Rekomendasi Penelitian Lanjutan

  1. Kajian Hermeneutika Maqāṣidiyyah:
    Diperlukan eksplorasi lebih lanjut tentang murā‘āt al-khilāf dalam perspektif hermeneutika hukum Islam agar dapat dikontekstualisasikan dalam isu global.
  2. Integrasi dengan Teori Sosial Islam:
    Konsep ini potensial dikembangkan bersama teori ‘umrān Ibn Khaldūn dan fiqh al-taḥaḍḍur (fikih peradaban) kontemporer.
  3. Model Digitalisasi Fatwa Maqāṣidiyyah:
    Riset lanjutan dapat mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) berbasis maqāṣid untuk mendukung pengambilan keputusan hukum Islam secara partisipatif dan terstandar.

5.7 Penutup

Penelitian ini menegaskan bahwa murā‘āt al-khilāf dalam pemikiran asy-Syāṭibī adalah kerangka besar maqāṣid al-syarī‘ah yang hidup dan aplikatif.
Ia menawarkan jalan tengah antara konservatisme hukum dan liberalisme fikih, antara keotentikan dalil dan realitas sosial, antara tekstualitas dan rasionalitas maqāṣidiyyah.

Sebagaimana ditegaskan oleh asy-Syāṭibī:

«إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَإِذَا ضَيَّقْنَاهُ عَلَى النَّاسِ فَقَدْ خَالَفْنَا مَقْصُودَ الشَّارِعِ.»
(al-Muwāfaqāt, jld. 4, hlm. 230).

Konsep ini, dengan segala kedalaman teoretis dan relevansinya, meneguhkan posisi asy-Syāṭibī sebagai pionir ijtihād maqāṣidī dan menjadikan murā‘āt al-khilāf sebagai jembatan etis antara perbedaan dan persatuan dalam fikih Islam modern.


Daftar Pustaka (Turabian 9th Edition)

Sumber Primer:

  • al-Syāṭibī, Ibrāhīm ibn Mūsā. al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah. Taḥqīq ‘Abd Allāh Darrāz. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1996.
  • al-Qarāfī, Aḥmad ibn Idrīs. al-Furūq. Kairo: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998.

Sumber Sekunder:

  • al-Raisūnī, Aḥmad. Naẓariyyat al-Maqāṣid ‘inda al-Imām al-Syāṭibī. Beirut: Dār al-Kalimah, 1992.
  • al-Qarḍāwī, Yūsuf. Fiqh al-Aqalliyyāt al-Muslimah. Kairo: Dār al-Syurūq, 2001.
  • Ibn ‘Āsyūr, Muḥammad Ṭāhir. Maqāṣid al-Syarī‘ah al-Islāmiyyah. Tunis: al-Dār al-Tūnisiyyah, 1946.
  • Kamali, Mohammad Hashim. Principles of Islamic Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society, 2003.
  • Nyazee, Imran Ahsan Khan. Theories of Islamic Law: The Methodology of Ijtihad. Islamabad: IIIT, 1994.
  • al-Zuḥaylī, Wahbah. Uṣūl al-Fiqh al-Islāmī. Damaskus: Dār al-Fikr, 2002.
  • Opwis, Felicitas. Maqāṣid al-Sharī‘a and the Ethics of Islamic Legal Interpretation. Leiden: Brill, 2010.

Diagram Konseptual Model Murā‘Āt Al-Khilāf


Ringkasan Eksekutif

Judul:

Konsep Murā‘āt al-Khilāf Menurut Imām asy-Syāṭibī dan Relevansinya dalam Fikih Kontemporer

Latar Belakang:

Dalam dinamika hukum Islam, perbedaan pendapat (ikhtilāf) merupakan keniscayaan ilmiah. Namun, bagaimana syariat menata perbedaan agar tidak menjadi sumber perpecahan menjadi persoalan penting. Imām Abū Isḥāq asy-Syāṭibī (w. 790 H) — tokoh besar mazhab Mālikī dan peletak teori maqāṣid al-syarī‘ah — mengembangkan konsep Murā‘āt al-Khilāf (مراعاة الخلاف), yaitu mempertimbangkan perbedaan pendapat yang mu‘tabar dalam proses ijtihad, fatwa, dan kebijakan hukum, demi menjaga maslahat, persatuan umat, dan stabilitas sosial.


Rumusan Masalah:

  1. Apa definisi dan dasar pemikiran Murā‘āt al-Khilāf menurut Imām asy-Syāṭibī?
  2. Bagaimana implementasi, batasan, dan kriteria penerapannya?
  3. Bagaimana perbandingannya dengan ulama lain (klasik dan kontemporer)?
  4. Apa relevansinya terhadap fikih modern dan tata fatwa di masyarakat plural?

Metode Penelitian:

Pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, dengan jenis penelitian library research. Sumber primer berupa al-Muwāfaqāt fī Uṣūl al-Syarī‘ah (tahqīq ʿAbd Allāh Darrāz, Dār Ibn ʿAffān, 1997). Sumber sekunder mencakup karya al-Qarāfī, Ibn Taymiyyah, al-Ghazālī, Ibn ‘Āsyūr, Yūsuf al-Qarḍāwī, dan Ahmad al-Raisūnī.


Temuan Utama:

1. Definisi dan Landasan Konseptual

Menurut asy-Syāṭibī, Murā‘āt al-Khilāf bukan sekadar toleransi sosial, melainkan metodologi maqāṣidiyyah dalam ijtihad. Ia menegaskan:

«إن مراعاة الخلاف إنما تكون إذا كان الخلاف معتبرًا، وله وجه في الاجتهاد»
(al-Muwāfaqāt, IV: 171)

Artinya, memperhatikan perbedaan hanya berlaku bila pendapat tersebut mu‘tabar, memiliki dasar ijtihad yang sahih, dan membawa maslahat.

2. Prinsip Dasar

  • Maslahah sebagai tujuan syariat (maqṣad ʿām).
  • Khilāf sebagai sunnatullah fiqhiyyah.
  • Larangan talfīq sembarangan dan tatabbu‘ al-rukhaṣ.
  • Fatwa dan kebijakan publik harus mempertimbangkan pluralitas hukum.

3. Implementasi

  • Dalam fatwa: mufti harus mempertimbangkan pendapat lintas mazhab jika maslahat menghendaki.
  • Dalam pemerintahan: negara boleh memilih pendapat paling maslahat tanpa mengabaikan legitimasi syar‘i.
  • Dalam sosial umat: menjaga ukhuwah dan menghindari takfīr terhadap masalah khilafiyyah.

4. Perbandingan dengan Ulama Lain

  • al-Qarāfī dan asy-Syāṭibī sama-sama Malikiyyah, namun asy-Syāṭibī menstrukturkan maqāṣid lebih komprehensif.
  • Ibn Taymiyyah juga menolak fanatisme mazhab, tetapi lebih tekstual daripada maqāṣidiyyah.
  • Ulama kontemporer seperti Ibn ‘Āsyūr dan al-Qarḍāwī mengembangkan ide ini dalam kerangka fiqh al-aqalliyyāt dan ijtihād jamā‘ī.

5. Sintesis Teoretis

Model konseptual Murā‘āt al-Khilāf membentuk segitiga epistemik:

Maqāṣid al-Syarī‘ah → Murā‘āt al-Khilāf → Ijtihād Modern.

Hubungan ini melahirkan teori hukum yang:

  • fleksibel tapi tetap bermoral,
  • kontekstual tapi tidak liberal,
  • moderat dalam ruang pluralitas mazhab.

Kesimpulan:

  1. Murā‘āt al-Khilāf merupakan instrumen maqāṣidiyyah untuk menjaga maslahat dan persatuan umat.
  2. Konsep ini memiliki dasar kuat dalam syariat dan etika ijtihad.
  3. Asy-Syāṭibī berhasil menyatukan antara teks, maqāṣid, dan konteks sosial.
  4. Pemikiran ini sangat relevan bagi:
    • fatwa kontemporer lintas mazhab,
    • lembaga fikih internasional,
    • masyarakat Muslim plural seperti Indonesia.

Implikasi Praktis:

  1. Bagi Lembaga Fatwa: perlu pendekatan kolektif dan lintas mazhab dalam pengambilan keputusan.
  2. Bagi Akademisi Fikih: membuka ruang pengembangan teori hukum berbasis maqāṣid.
  3. Bagi Umat Islam: membangun kesadaran bahwa perbedaan adalah rahmat yang terkelola, bukan sumber konflik.

Kata Kunci:

Murā‘āt al-Khilāf, asy-Syāṭibī, maqāṣid al-syarī‘ah, ijtihād, fatwa kontemporer, fikih perbandingan.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *