Oleh: Abi Weka
Pukul 05.30 pagi. Sebelum kaki menyentuh lantai yang dingin, tangan seorang perempuan kemungkinan besar sudah meraba sisi bantal, mencari benda pipih bercahaya itu: gawai.
Dalam lima menit pertama kesadarannya, ia mungkin sudah menjadi tiga orang sekaligus. Ia adalah seorang manajer yang membalas email mendesak, seorang ibu yang memesan sayur lewat aplikasi belanja untuk menu hari itu, dan seorang individu yang diam-diam membandingkan wajah bantalnya dengan story teman SMA yang tampak glowing saat lari pagi.
Perempuan dan gawai kini memiliki hubungan simbiosis yang rumit. Di satu sisi, teknologi adalah penyelamat praktis. Di sisi lain, ia adalah cermin retak yang membingungkan identitas.
Gawai: Asisten Setia atau Mandor yang Kejam?
Secara praktis, gawai adalah “perpanjangan tangan” perempuan modern. Sosiolog teknologi mungkin menyebut ini sebagai technological domestication. Kita menjinakkan teknologi untuk melayani kebutuhan rumah tangga dan karir.
Bayangkan betapa sulitnya peran ganda tanpa gawai. Aplikasi ojek online mengantar anak sekolah saat ibu harus rapat. Grup WhatsApp warga menjadi jaring pengaman sosial baru. Marketplace memungkinkan perempuan merintis UMKM dari ruang tamu. Gawai memberi perempuan otonomi dan efisiensi yang tidak dimiliki nenek moyang kita.
Namun, kenyamanan ini datang dengan harga mahal: hilangnya batas (boundary).
Gawai membuat perempuan “selalu ada” (always on). Bos bisa menagih laporan di jam makan malam, dan guru anak bisa mengirim tugas di akhir pekan. Gawai yang seharusnya menjadi alat bantu, berubah menjadi tali kekang digital. Perempuan terjebak dalam multitasking abadi yang melelahkan, di mana tubuh berada di dapur, tapi pikiran melayang di ruang cloud.
Krisis Identitas di Etalase Digital
Jika fungsi praktis gawai melelahkan fisik, maka fungsi sosialnya sering kali melukai jiwa.
Media sosial adalah etalase raksasa. Bagi perempuan, etalase ini menawarkan standar yang nyaris mustahil. Algoritma media sosial didesain untuk menyodorkan apa yang “kurang” dari diri kita. Merasa lelah mengurus anak? Algoritma menyodorkan video ibu-ibu yang sabar dan estetik. Merasa kurang cantik? Iklan klinik kecantikan muncul beruntun.
Identitas perempuan di dunia gawai sering kali terbelah. Ada “Diri Digital” yang terkurasi: foto liburan, prestasi anak, dan outfit of the day. Lalu ada “Diri Autentik”: yang menangis di kamar mandi karena kewalahan, yang berjerawat, dan yang cemas akan masa depan.
Bahayanya adalah ketika perempuan mulai menganggap “Diri Digital” itu sebagai standar keharusan, bukan sekadar album foto maya. Kita sibuk memoles identitas di layar demi validasi berupa likes, sementara identitas asli kita yang rapuh terabaikan dan kelaparan akan koneksi nyata.
Menemukan Keseimbangan Baru
Lantas, harus bagaimana? Membuang gawai dan kembali hidup di gua bukanlah opsi bijak di abad 21. Kuncinya ada pada “Kesadaran Digital” (Digital Mindfulness).
Perempuan perlu merebut kembali kendali atas gawai, bukan sebaliknya. Ini berarti berani menetapkan batas tegas: mematikan notifikasi pekerjaan saat bermain dengan anak, atau berhenti mengikuti akun-akun yang memicu rasa insecure.
Kita perlu menyadari bahwa gawai hanyalah alat (tool), bukan tuan (master), dan jelas bukan cermin penentu harga diri.
Identitas perempuan tidak ditentukan oleh seberapa rapi feed Instagram-nya, melainkan oleh ketangguhannya menghadapi realitas, kasih sayangnya pada orang sekitar, dan kemampuannya untuk tetap waras di tengah gempuran notifikasi.
Di tengah dunia gawai yang bising ini, tindakan paling radikal yang bisa dilakukan seorang perempuan adalah meletakkan ponselnya, menarik napas panjang, dan berkata pada dirinya sendiri: “Aku sudah cukup, dunia maya bisa menunggu.”
Leave a Reply