Oleh: Abi Wayka
Bagian I: Wahyu Kertas
Langit di atas Kota Kapital selalu kelabu, seperti kubah gereja yang penuh asap dupa, hanya saja di sini baunya bukan harum, melainkan campuran oli, knalpot, dan daging murah yang dipanggang di pinggiran jalan. Di antara gedung-gedung kaca yang menjulang seperti menara Babel baru, sesuatu tergantung di udara: selembar uang $100 raksasa, bergetar seperti fosfor, bersinar kekuningan.
Ia tidak jatuh. Tidak juga bergerak. Hanya melayang, seakan diturunkan dari tangan ilahi yang baru saja mengganti kitab-kitab suci dengan kain kertas yang dilapisi tinta hijau. Wajah Benjamin Franklin terlihat samar dalam cahaya itu, bak nabi baru yang menatap dingin ke umatnya.
Kami, para penganut, berlutut di bawahnya. Ada yang memejamkan mata, ada yang merapal doa, sebagian hanya mengangkat ponsel untuk memotret—lalu menjual foto itu di pasar digital. Di abad ini, kami tahu: agama yang paling cepat menyebar bukanlah agama wahyu, melainkan lembaran itu.
Namaku Arka. Dan seperti jutaan umat lain, aku bukanlah pemberontak, apalagi nabi. Aku hanyalah seorang penganut yang belajar melakukan ketaatan sehari-hari: ketaatan pada cicilan, pada kontrak kerja, pada skor kreditku. Namun, berbeda dengan orang lain, aku masih sering bertanya-tanya—apakah kenyamanan sungguh bisa menebus kekosongan?
Di kantor Notaris Agung, tempat ritual utama kami berlangsung, aula besar itu selalu dipenuhi suara mesin ketik dan printer yang berdengung seperti paduan suara malaikat digital. Setiap perjanjian ditandatangani dengan tinta hitam di atas materai merah darah: itu syahadat baru kami, hitam di atas putih kertas, dicap resmi oleh negara.
Di balik meja, seorang notaris berwajah dingin menatapku tanpa emosi. Tangannya bergerak cepat, seolah ia sudah hafal seluruh teks liturgi yang harus dibacakan. Ia tidak butuh wahyu, cukup formulir dengan nomor registrasi. Kitab Suci kami bukan lagi Injil, Al-Qur’an, atau Weda—tapi Katalog Kontrak, lengkap dengan klausul penalti.
Dan ironinya, kami semua menjadi pendakwahnya. Anak kecil menabungkan receh di celengan berbentuk bank mini, para pekerja membagi tips finansial seperti doa bersama, dan para pejabat negara berdiri di panggung menyampaikan khotbah investasi. Di televisi, khotbah prime time diselingi iklan kredit berbunga rendah. Semua berlomba memuliakan saldo, seperti orang dulu berlomba menghafal ayat suci.
Sesekali, aku bertanya dalam hati: Jika setiap agama menjanjikan kehidupan setelah mati, lalu apa yang dijanjikan Agama Saldo? Dan aku tahu jawabannya: hidup sebelum mati, tapi dengan cicilan sampai mati.
Bagian II: Etika yang Terbakar
Malam itu, Kota Kapital terasa lebih sunyi dari biasanya. Gedung-gedung bursa masih berkilauan, tapi di bawah menara tertinggi—tempat angka-angka merayakan misa harian mereka—Arka berjalan ke ruang bawah tanah, menembus lorong beton yang disegel graffiti merah: simbol dolar dicat menyerupai salib terbalik.
Di sana, sebuah api unggun kecil berkobar di tengah lingkaran. Bukan api perayaan, melainkan api pemakaman. Di atasnya, perlahan dimasukkan lembar-lembar sebuah buku tua: Etika Protestan karya Weber. Setiap halaman yang masuk menimbulkan letupan kecil, aroma gosong bercampur bau tinta lama.
Mengelilingi api, para pengusaha berjas mahal duduk seperti jemaat istimewa. Wajah mereka berkilat diterangi nyala, mata mereka kosong tapi puas.
Matra, lelaki tua berjas putih dengan dasi emas, berdiri di depan api. Dialah Imam Besar Keuntungan. Matanya menyala tajam, seperti kitab yang dijilid dengan kode saham.
“Weber benar,” suaranya berat. “Kapitalisme lahir dari etika religius. Tapi itu masa lalu. Etika adalah fondasi. Dan ketika menara sudah tinggi, fondasi itu bisa dihancurkan.”
Ia melempar halaman terakhir ke dalam api. Api menyala terang, mewarnai lorong itu bagai wahyu neraka.
“Hari ini kita menyembah kerja paling religius yang ada: menyembah keuntungan.“
Para pengusaha berlutut. Ada yang merapal doa, ada pula yang menekan aplikasi saham dan menyahut: “Amin.”
Arka merasakan dada sesak. Masih ada bisikan moralitas di dalam dirinya. Tapi Matra melanjutkan khotbah:
“Korupsi? Itu bukan kejahatan moral. Itu sakramen baru. Pajak? Itu zakat yang bisa dialihkan. Ingatlah: tanpa korupsi, roda keuntungan tak berjalan. Liturgi kita butuh darah, sama seperti liturgi lama butuh kurban.”
Saat api makin besar, bayangan simbol dolar dipantulkan di dinding. Semua kepala menunduk. Semua kecuali Arka—yang masih menatap, ngeri sekaligus takjub.
Untuk sesaat, ia merasa: ia sedang berada di dalam katedral iblis, dan iblis itu berbentuk kurs dolar.
Bagian III: Ketaatan dan Kredit
Hidup di Kota Kapital adalah liturgi tanpa akhir. Alarm ponsel Arka bukan sekadar tanda pagi, melainkan panggilan wajib: “Jatuh tempo cicilan rumah Anda.” Azan baru bagi para umat kredit.
Di jalan raya, papan reklame neon menggantung di atas gereja tua yang kini menjelma bank investasi. Tulisannya mencolok: “Buy 1 Salvation, Get 1 Redemption Free.” Umat mengantre masuk, bukan untuk pengakuan dosa, tapi untuk menyerahkan dokumen-kitab doa mereka: slip gaji, KTP, fotokopi kartu keluarga.
Arka berjalan bersama arus itu. Ia taat cicilan rumah, taat angsuran mobil mewah yang hanya jadi lambang gengsi, taat pada gaya hidup yang menuntut ia terus bekerja. Dalam agama saldo, ketaatan diukur dari reputasi finansial—bukan kedalaman jiwa.
Sore itu, ia menjumpai seorang pengemis tua di pojokan jalan. Dengan kaleng berkarat, si pengemis mengulurkan tangannya. Arka, merasa sebagai penganut yang baik, memberi selembar uang. Ada sensasi suci menyelimuti dadanya.
Namun suara hati berbisik: Tanyakan dulu, dari mana asal hartamu.
Arka kaku. Ia tahu: uang itu berasal dari perusahaan yang memecat ratusan buruh setiap minggu demi “efisiensi.” Dari bonus yang lahir lewat manipulasi laporan neraca. Dari proyek yang menutup mata atas korban kerja.
Sedekahnya hanyalah ritual pembersih, sakramen basa-basi untuk menutupi darah yang menempel di tangannya.
Si pengemis menunduk, berbisik terima kasih. Tapi Arka justru merasa lelaki itu jauh lebih murni: paling tidak ia tidak menipu siapapun tentang asal-usul remah yang dia punya.
Arka berjalan pergi. Tapi rahangnya mengeras. Ketaatan dan dosa berjalan di jalan yang sama. Bedanya, di Kota Kapital, dosa bisa dicicil.
Bagian IV: Altar ATM
Malam itu, udara dingin berhembus melewati lorong-lorong kaca. Deretan mesin ATM memancarkan cahaya neon hijau, berjejer bagaikan altar-altar dalam katedral.
Puluhan umat berlutut. Ada yang memeluk kartu debit seperti rosario, ada yang mengangkat slip transaksi bagai kitab doa, ada pula yang berfoto selfie dengan saldo terbaru sebagai hosti digital. Suara klik, dengung, dan printer mini menjadi litani misa mereka.
Di langit-langit, proyektor menampilkan simbol dolar raksasa yang berkilau hijau, menutup seluruh penglihatan. Tuhan digantikan logo bank.
Arka maju. Ia memasukkan kartu, menekan tombol. Angka-angka muncul di layar—ayat-ayat sucinya: saldo, cicilan, sisa limit kredit.
“Kita hidup di zaman di mana iman diukur dari jumlah angka, bukan isi hati,” bisiknya pedih.
Di belakang layar televisi, seorang pejabat negara berkhotbah pada rakyat: “Sabar, ikhlas, dan bersyukur.” Dan Arka tahu, kata-kata itu hanyalah doa palsu:
Sabar berarti menerima ketidakadilan.
Ikhlas berarti dirampok dengan doa.
Bersyukur berarti mengucap terima kasih atas remah.
Tangannya gemetar saat menekan tombol penarikan tunai. Mesin berdengung seperti organ pipa suci. Lembaran uang keluar satu demi satu, bercahaya suci di bawah neon hijau. Orang-orang menarik napas panjang, sebagian bersujud.
Arka menunduk. Bibirnya bergerak dalam doa tanpa kata. Ia tahu siapa yang sebenarnya ia sembah malam itu: bukan Tuhan, bukan moralitas, tetapi angka-angka yang dingin.
Selamat datang di agama paling populer di bumi: Agama Duit.
Di sini, doa ditarik lewat kartu, surga dicetak di slip saldo,
dan setiap umat berharap, saldo surgawi mereka kelak cukup untuk menebus dosa duniawi.
Mesin terus berputar. Kertas terus keluar. Dunia semakin hening.
Dan Arka tahu: ia adalah penganut yang sangat taat.
✨ Selesai!
Leave a Reply