Oleh: Abu PPBU
Klaim bahwa Bani Jawi—sebuah istilah yang sering merujuk pada penduduk kepulauan Melayu, termasuk suku Jawa, Sunda, Melayu, Bugis, dan lainnya—merupakan keturunan langsung Nabi Ibrahim AS, telah lama menjadi bahan perbincangan yang menarik, sekaligus memicu silang pendapat di kalangan sejarawan, budayawan, dan teolog. Gagasan ini, yang mengaitkan masyarakat Asia Tenggara dengan salah satu tokoh sentral dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam), memiliki daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar wacana genealogis, melainkan juga kisah tentang pencarian asal-usul, identitas, dan makna spiritual suatu bangsa. Namun muncul pertanyaan penting: sejauh mana klaim ini dapat dipertanggungjawabkan secara historis, tekstual, dan ilmiah?
Analisis yang lebih mendalam memperlihatkan bahwa narasi ini ibarat jalinan tenun kompleks; ia menyatukan benang-benang tradisi lisan, tafsir kitab suci, data arkeologis, penelitian genetika, serta fungsi sosial-psikologis yang hidup dalam kesadaran kolektif manusia Nusantara.
Akar Tradisi dan Rujukan Tekstual
Pusat dari narasi ini berakar pada sosok Qanturah (atau Keturah/Siti Kanturah), yang dalam berbagai tradisi disebut sebagai istri ketiga Nabi Ibrahim setelah wafatnya Sarah.
1. Rujukan Kitab Suci dan Tafsir
Dalam Kitab Kejadian (25:1–6), disebutkan bahwa Ibrahim mengambil seorang istri lagi bernama Keturah, yang melahirkan enam anak: Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak, dan Suah. Pada ayat ke-6 dijelaskan: “Tetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian, kemudian ia menyuruh mereka—masih pada waktu ia hidup—meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.”
Frasa “ke sebelah timur” inilah yang sering menjadi pijakan tafsir para pendukung teori Bani Jawi. Dalam pandangan mereka, “Tanah Timur” merujuk pada gugusan kepulauan di Asia Tenggara, yang kini dikenal sebagai wilayah Nusantara atau Dunia Melayu.
2. Catatan Sejarawan Islam
Sejumlah sejarawan Muslim klasik turut menyinggung keterkaitan ini. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mengutip keterangan dari Abul Qasim As-Suhaili mengenai istri-istri Nabi Ibrahim dan anak-anak dari Qanturah binti Yaqthan Al-Kan’aniyah. Lebih jauh, Ibnu Atsir dalam Al-Kamil fi al-Tarikh bahkan menyinggung kemungkinan bahwa sebagian bangsa dari “Timur Jauh” adalah turunan Ibrahim. Walaupun belum ditemukan bukti empiris yang mendukung pernyataan tersebut, ia menjadi rujukan penting dalam wacana budaya dan keagamaan yang berkembang belakangan.
3. Sinkretisme dengan Mitologi Lokal
Di ranah lokal, teori ini sering kali berpadu dengan mitologi Jawa dan Melayu. Beberapa penulis mencoba mengaitkan sosok Nabi Ibrahim dengan Batara Brahma dalam naskah kuno Jawa, yang digambarkan sebagai leluhur raja-raja Nusantara. Mereka menyoroti kesamaan simbolik, seperti:
- Istri Ibrahim bernama Sara, sementara Brahma berpasangan dengan Saraswati.
- Ibrahim membawa ajaran tauhid, sementara dalam tradisi Veda awal, Brahman juga dimaknai sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Pola monoteisme ini konon menjelma dalam keyakinan asli Nusantara seperti Sunda Wiwitan (Sang Hyang Keresa) atau Kejawen (Sang Hyang Widhi). Pandangan ini melihat adanya kontinuitas spiritual, seolah-olah warisan tauhid Ibrahim tersimpan di kedalaman budaya lokal jauh sebelum datangnya Islam.
Perspektif Sejarah dan Bukti Arkeologis
Pencarian bukti historis juga kerap diarahkan pada sisa-sisa peradaban dan artefak kuno.
- Kota Kuno “Jawi” di Yordania: Beberapa penulis menunjuk temuan sebuah kota purba bernama Jawa atau Jawi di Yordania, yang dianggap sebagai jejak toponim lama dan menjadi rujukan simbolik bagi klaim keterhubungan antara Timur Tengah dan rumpun Melayu.
- Aksara dan Artefak: Kemiripan antara beberapa aksara kuno Nusantara (Rencong, Kawi, Bugis) dengan huruf Semitik kerap dikemukakan sebagai bukti adanya pengaruh budaya Timur Tengah di Asia Tenggara.
- Jalur Perdagangan Kuno: Sebelum era modern, kawasan Nusantara dikenal sebagai pusat maritim penting. Pelabuhan kuno seperti Barus di barat Sumatra memperlihatkan bahwa interaksi lintas benua sudah terjalin lama—fakta yang membuka kemungkinan pertukaran gen, budaya, dan kepercayaan.
Tinjauan Genetik dan Antropologi
Sejumlah pendekatan modern mencoba meninjau klaim ini lewat lensa biologi.
Penelitian genetik oleh seorang profesor di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) misalnya, menemukan bahwa dalam DNA Melayu terdapat sekitar 27% varian Mediterranean. Varian ini mencakup penanda genetik yang umum pada bangsa-bangsa di sekitar Laut Tengah, termasuk komunitas Semitik seperti Arab dan Yahudi.
Walau demikian, para ahli genetika menegaskan bahwa kesamaan genetik semacam ini tidak membuktikan garis keturunan langsung, melainkan indikasi gene flow akibat migrasi dan perdagangan antarwilayah yang berlangsung selama ribuan tahun. Dalam bahasa ilmiah, kesamaan genetik tersebut lebih mencerminkan leluhur bersama yang sangat jauh (common ancestor), bukan hubungan generasi linear.
Fungsi Sosial dan Psikologis
Terlepas dari sisi faktualnya, keyakinan sebagai keturunan Nabi Ibrahim memiliki makna sosial dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat Melayu-Nusantara.
- Penguatan Identitas Kolektif: Dengan mengaitkan diri kepada figur nabi agung, masyarakat Nusantara menemukan legitimasi sejarah dan rasa bangga spiritual bahwa mereka termasuk dalam “garis besar peradaban samawi.”
- Misi Perdamaian: Sebagaimana ditulis Dahlan Iskan dalam esainya “Bangsa Keturah”, gagasan ini mengandung pesan moral: karena Bani Jawi berasal dari “ibu yang berbeda” (Qanturah), namun dari “ayah yang sama” (Ibrahim), mereka memiliki mandat unik untuk menjadi jembatan perdamaian antara keturunan Sarah (Yahudi) dan Hajar (Arab).
- Legitimasi Religius dan Kultural: Secara historis, mengaitkan garis keturunan pada tokoh suci sering berfungsi memperkuat otoritas sosial dan keagamaan. Narasi ini mungkin juga menjelaskan mengapa Islam diterima begitu mudah di Nusantara—bukan semata karena dakwah luar, tetapi karena resonansi nilai tauhid yang dianggap sudah tertanam sejak masa lampau.
Kesimpulan
Klaim bahwa Bani Jawi adalah keturunan Nabi Ibrahim bukan semata persoalan silsilah, tetapi cerminan dari kebutuhan manusia untuk memahami asal-usul dan tempatnya dalam sejarah besar umat manusia. Kendati bukti tekstual, arkeologis, dan genetik belum memastikan kebenaran garis keturunan ini secara absolut, kekuatan narasinya terletak pada dimensi simbolik dan kultural—yakni kemampuannya memberi makna, menghubungkan iman dengan identitas, serta memelihara kebanggaan spiritual bangsa Melayu-Nusantara.
Dengan demikian, kisah ini tetap hidup bukan karena kepastian ilmiah, melainkan karena ia berbicara pada kerinduan manusia untuk mengenal dirinya dan Tuhannya melalui sejarah leluhur.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, 2019.
- Al-Kamil fi al-Tarikh, Ibn al-Athir.
- Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
- Kitab Kejadian 25:1–6, Perjanjian Lama.
- As-Suhaili, Abul Qasim. Rawd al-Unuf fi Tafsir al-Sirah an-Nabawiyyah.
- Iskan, Dahlan. “Bangsa Keturah,” dalam Disway.id, 2022.
- Rahman, N., et al. “Mitochondrial DNA Variations in the Malay Archipelago,” Journal of Human Genetics, Universiti Kebangsaan Malaysia, 2018.
- Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce, Yale University Press, 1988.
- Wibisono, S. “Asal-Usul dan DNA Melayu,” Jurnal Arkeogenetika Nusantara, Vol. 2, No. 1, 2020.
Leave a Reply