Oleh: Ahmad Zain
Di kaki pegunungan yang selalu diselimuti kabut, ada sebuah lembah yang sepi. Di sanalah terletak mata air yang tak pernah kering, meski kemarau membakar tanah atau hujan merendam bumi. Orang-orang desa menamakannya Tirta Naya—air yang dipercaya membawa rahasia kehidupan.
Banyak yang ingin mendekat, tapi mereka selalu pulang dengan tangan kosong. Ada yang tersesat, ada yang mendengar suara gaib mengusir, ada pula yang hatinya diguncang ketakutan. Hanya segelintir orang dengan jiwa jernih yang mampu menatap mata air itu.
Aruna, pemuda berwajah teduh namun hatinya gelisah, suatu malam bermimpi. Ia melihat cahaya biru berdenyut di dalam hutan, mengalir seperti nadi. Suara halus berbisik di telinganya: “Datanglah, karena engkau sedang mencari dirimu sendiri.”
Keesokan harinya, ia berjalan menembus hutan. Semakin jauh, langkahnya semakin ringan, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menuntun. Pepohonan menunduk, angin berputar, dan burung-burung seakan menyingkir memberi jalan.
Akhirnya, ia tiba di hadapan Tirta Naya. Air itu tidak sekadar jernih—ia memantulkan langit sekaligus kedalaman bumi. Ketika Aruna menatapnya, wajahnya bercabang menjadi banyak bayangan: dirinya yang kecil, yang remaja, yang terluka, yang tersenyum, bahkan dirinya yang belum ia kenal.
Dengan gemetar, Aruna mencedok segenggam air. Begitu ia meneguknya, dunia seakan berhenti berputar. Dalam sekejap, matanya dipenuhi kilatan cahaya: ia melihat benih yang tumbuh menjadi pohon, sungai yang mengalir ke samudra, bintang yang meledak lalu lahir kembali, dan manusia yang menangis lalu tertawa. Semua berulang dalam lingkaran tak berujung.
Lalu, terdengar suara, bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri:
“Hidup adalah aliran. Air yang berhenti, akan busuk. Jiwa yang berhenti, akan mati. Mengalirlah, meski harus jatuh berkali-kali, karena setiap jatuh adalah jalan pulang menuju samudra.”
Aruna menangis, entah karena lega atau karena tersentuh. Ia merasa semua luka hidupnya, semua pertanyaan yang membebaninya, melebur dalam kesejukan air itu.
Ketika ia kembali ke desa, orang-orang menatapnya dengan heran. Tatapannya dalam, langkahnya ringan, dan senyumnya membuat hati orang lain ikut tenang. Sejak itu, siapa pun yang berbicara dengannya merasa seakan berbincang dengan mata air itu sendiri.
Namun, saat ditanya apa rahasianya, Aruna hanya tersenyum dan berkata:
“Aku hanyalah setetes air dari mata air kehidupan. Yang kalian lihat bukan aku, melainkan alirannya.”
Dan semenjak itu, ia hidup bukan untuk dirinya semata, melainkan untuk mengalirkan kesejukan ke setiap orang yang ditemuinya—seperti percikan mata air kehidupan yang tak pernah kering.
Pulang ke Samudra
Sejak meneguk Tirta Naya, Aruna hidup dengan kesejukan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Senyumnya menenangkan, kata-katanya sederhana tapi menusuk ke lubuk jiwa, dan banyak orang yang merasa tercerahkan hanya dengan duduk bersamanya.
Namun, di balik ketenangan itu, Aruna mulai merasakan sesuatu: sebuah panggilan halus, seakan air yang pernah diminumnya bergetar di dalam tubuhnya. Saat malam sunyi, ia mendengar bisikan:
“Engkau telah mencicipi, tapi belum menyelami. Engkau telah menjadi percikan, tapi samudra menunggumu.”
Bisikan itu membuatnya gelisah. Ia pun memutuskan kembali ke lembah. Perjalanannya kali ini berbeda—hutan yang dulu seakan menyambut, kini menghadangnya. Ranting-ranting melintang seperti dinding, kabut menebal, suara-suara asing berbisik di telinganya: “Kembali saja… kau akan hilang di sini… hidupmu cukup di desa…”
Namun Aruna terus melangkah, meski tubuhnya lelah. Ia sadar, perjalanan sejati bukan lagi menembus hutan di luar, melainkan menembus hutan di dalam dirinya sendiri.
Ketika akhirnya sampai, mata air itu tak lagi bening seperti dulu. Warnanya gelap, beriak, seakan menolak. Aruna menunduk, lalu melihat bayangan dirinya—namun kini penuh noda: kesombongan karena dipuja orang, rasa ingin dianggap suci, dan ketakutan kehilangan kedamaian yang ia rasakan.
Aruna tersadar. Mata air itu sedang menguji. Airnya bukan kotor, melainkan memantulkan kekeruhan jiwanya.
Dengan pasrah, ia berlutut dan berkata lirih:
“Wahai sumber kehidupan, bersihkanlah aku dari diriku sendiri.”
Saat ia meneguk air yang keruh itu, seketika dadanya terasa seperti terbakar. Seluruh kepalsuan, ketakutan, dan kemelekatan terbongkar satu per satu. Ia menjerit, lalu menangis, lalu tertawa, seakan seluruh dirinya hancur sekaligus terlahir kembali.
Air itu pun perlahan kembali bening. Namun kali ini, bukan sekadar memantulkan wajahnya—ia melihat samudra luas, tak bertepi, tak berujung. Ia mengerti, mata air hanyalah pintu, sedangkan samudra adalah tujuan.
Saat kembali ke desa, orang-orang tak lagi melihat Aruna hanya sebagai pemuda. Mereka merasa sedang berhadapan dengan sungai yang mengalir menuju samudra—tenang, mendalam, dan tak terukur.
Dan ketika ada yang bertanya apa yang ia temukan, Aruna hanya tersenyum dan menjawab:
“Percikan itu mengajarkan aku untuk hidup. Samudra itu mengajarkan aku untuk lenyap.”
Sungai yang Menyusuri Dunia
Aruna kembali dari Tirta Naya dengan hati yang luas seperti samudra. Ia tidak lagi haus akan pujian atau takut pada celaan. Orang-orang di desa mulai memanggilnya Sang Penyejuk, sebab setiap orang yang berbicara dengannya merasa jiwanya ikut mengalir.
Namun, mata air kehidupan tidak membiarkan siapa pun berhenti. Setelah ujian di lembah, kini ujian datang dari arah yang lebih sulit: manusia itu sendiri.
Ujian Pertama: Kekuasaan
Suatu hari, para tetua desa datang menawarkan Aruna jabatan pemimpin.
“Kau bijak, kau menenangkan, engkaulah yang pantas memimpin kami.”
Aruna terdiam. Dalam dirinya muncul riak halus: keinginan untuk mengatur, keinginan untuk didengar. Tapi ia segera teringat pada bisikan samudra: “Air yang menguasai wadah akan membusuk. Air yang mengalir akan memberi kehidupan.”
Ia menolak halus, lalu berkata:
“Aku bukan pemimpin. Aku hanya sungai kecil. Biarlah kalian memilih siapa yang bisa menjaga ladang dan rumah kalian. Tugasku hanyalah mengalir di antara kalian.”
Tetua tertegun. Mereka sadar, kekuasaan tidak bisa memikatnya.
Ujian Kedua: Cinta
Aruna kemudian diuji dengan sesuatu yang lebih halus: cinta seorang perempuan. Seorang gadis desa bernama Lirya, bermata bening seperti pagi hari, jatuh hati padanya. Ia mendekat, menawarkan kasih dan harapan untuk membangun keluarga.
Aruna merasakan hatinya bergetar. Untuk sesaat, ia ingin berhenti, berakar, hidup damai dalam pelukan seorang istri. Tetapi malam itu, di dalam mimpinya, ia kembali melihat samudra: luas, tak bertepi, menanti aliran sungai.
Air itu berbisik:
“Cinta yang menahanmu adalah genangan. Cinta yang melepaskanmu adalah arus menuju keabadian.”
Dengan berat hati, Aruna menatap Lirya dan berkata lembut:
“Engkau adalah bunga yang indah, tetapi aku hanyalah air. Bila aku berhenti padamu, aku akan membusuk. Biarkan aku mengalir, agar cintaku untukmu tetap hidup dalam doa, meski tanpa ikatan.”
Air matanya jatuh, dan Lirya pun menangis. Namun, ia mengerti: cinta yang tak memiliki, justru adalah cinta yang paling murni.
Ujian Ketiga: Kehilangan
Tak lama kemudian, ibunda Aruna wafat. Kesedihan menyelimuti desa. Orang-orang ingin melihat Aruna runtuh, menangis, meratap, seperti manusia lainnya. Namun yang mereka lihat adalah keheningan yang dalam.
Aruna duduk di samping makam ibunya, menatap tanah basah, lalu berbisik:
“Ibu tidak hilang. Ia kembali menjadi air, menyusup ke akar, menguap ke awan, lalu hujan kembali. Tidak ada kehilangan. Yang ada hanyalah perubahan bentuk.”
Orang-orang menangis mendengarnya. Mereka sadar, Aruna telah melewati ujian terakhir: ia tidak lagi terikat oleh dunia, tapi juga tidak lari darinya. Ia hadir, memberi makna, tanpa pernah menggenggam.
Sejak hari itu, Aruna tak pernah menyebut dirinya guru. Ia tetap menjadi orang biasa, hidup bersama warga, membantu sawah, memikul kayu, tersenyum pada anak-anak. Tapi setiap kali orang menatap matanya, mereka merasa seakan sedang menatap mata air kehidupan itu sendiri—jernih, dalam, dan tak bertepi.
Lenyap dalam Samudra
Tahun-tahun berlalu. Desa tempat Aruna tinggal tumbuh makmur. Sawah menghijau, sungai jernih, hati orang-orang tenang. Mereka sering berkata,
“Selama Aruna ada, desa kita takkan kekeringan.”
Namun Aruna sendiri tahu, ia hanyalah sungai kecil. Air yang ia bawa bukan miliknya, melainkan titipan dari Tirta Naya—sumber kehidupan yang tak pernah kering.
Pada suatu malam yang sunyi, langit berkelip dengan bintang yang tampak lebih dekat dari biasanya. Aruna duduk di tepi sungai, menatap arus yang mengalir. Di kejauhan, ia melihat cahaya biru yang dulu pernah menuntunnya menuju lembah. Suara halus berbisik sekali lagi:
“Sungai, tibalah saatmu pulang. Engkau bukan lagi percikan, engkau bukan lagi aliran. Kini samudra menanti.”
Aruna tersenyum. Ia berdiri, berjalan perlahan menuju hutan. Orang-orang yang melihatnya malam itu mengatakan wajahnya bercahaya, seakan ia membawa bintang di dalam dadanya.
Esok paginya, desa gempar: Aruna tidak ditemukan. Tidak di rumah, tidak di ladang, tidak di hutan. Hanya tersisa jejak kaki menuju arah Tirta Naya, lalu hilang.
Warga berbondong-bondong mencari. Mereka tiba di tepi lembah, namun mata air itu tampak berbeda: permukaannya luas, memantulkan langit dengan kedalaman tak terukur. Dan di tengah beningnya air, mereka melihat sekilas bayangan Aruna, tersenyum, lalu lenyap seperti riak.
Sejak itu, orang-orang percaya bahwa Aruna bukan hilang, melainkan telah menyatu dengan samudra. Ia tidak lagi ada sebagai satu tubuh, tapi ia hadir dalam setiap tetes hujan, dalam kesegaran embun pagi, dalam sungai yang menyejukkan tanah, dan dalam hati mereka yang haus akan makna.
Orang bijak di desa berkata:
“Aruna telah menjadi air itu sendiri. Ia tak meninggalkan kita, ia mengalir dalam kehidupan.”
Dan benar, setiap kali seseorang merasa kehilangan, ia hanya perlu meneguk seteguk air dan menenangkan diri. Seolah-olah suara Aruna kembali berbisik lembut dari dalam jiwa:
“Hidup adalah aliran, bukan genangan. Mengalirlah, sampai engkau pun lenyap dalam samudra.”
🌊 Tamat 🌊
Makna yang terkandung dalam cerpen “Percikan Mata Air Kehidupan”:
- Hidup sebagai aliran
– Air menjadi simbol kehidupan: ia tidak boleh berhenti, karena jika berhenti ia akan keruh dan busuk. Demikian pula hidup: harus terus bergerak, belajar, memberi, dan mengalir.
- Pencarian jati diri
– Aruna melambangkan manusia yang gelisah mencari arti hidup. Mata air menjadi cermin jiwa: bening ketika hati jernih, keruh ketika hati kotor.
- Ujian kehidupan
– Kekuasaan, cinta, dan kehilangan adalah ujian besar manusia. Aruna belajar bahwa semuanya harus dijalani tanpa melekat, sebab melekat berarti genangan, sedangkan melepaskan berarti aliran.
- Peleburan diri
– Pada akhirnya, Aruna “lenyap” dalam samudra, melambangkan fana’ (peleburan ego) dalam kehidupan yang lebih luas. Ia tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, melainkan menjadi bagian dari aliran kehidupan semesta.
- Pesan filosofis-spiritual
– Cerita ini menegaskan bahwa makna sejati hidup bukanlah kepemilikan atau keabadian individu, melainkan keberanian untuk mengalir, memberi manfaat, dan akhirnya menyatu dengan sumber kehidupan
Tirta Naya adalah nama imajiner untuk mata air suci yang menjadi simbol sumber kehidupan.
Secara etimologis:
- “Tirta” berasal dari bahasa Sanskerta (juga dikenal dalam tradisi Jawa), artinya air suci, air kehidupan, atau tempat suci.
- “Naya” dalam Sanskerta bisa berarti jalan, petunjuk, atau pembimbing.
Jadi Tirta Naya bisa dimaknai sebagai:
“Air kehidupan yang memberi jalan/petunjuk”.
Dalam cerpen, ia berfungsi sebagai simbol spiritual:
- Mata air sejati yang tidak pernah kering → melambangkan sumber ilahi.
- Hanya bisa ditemui oleh jiwa yang jernih → melambangkan pembersihan batin.
- Airnya mencerminkan keadaan hati → melambangkan kejujuran diri.
- Dari percikan menuju samudra → melambangkan perjalanan ruhani dari ego menuju fana’ (peleburan) dan baqa’ (keabadian bersama Yang Maha Hidup).