Blog

  • Santri: Dari Langgar ke Medan Juang

    Ada masa ketika penjajah Belanda bukan hanya takut pada meriam atau barisan prajurit bersenjata. Yang paling mereka khawatirkan justru adalah sosok bersarung, bersorban, dan membawa kitab kuning โ€” para santri ngaji dan ahli tarekat yang tersebar di pelosok Jawa dan Nusantara.

    Salah satunya bernama Abdul Hamid, seorang santri kelahiran dusun Tegalrejo, Yogyakarta. Sejak muda ia menimba ilmu kepada para ulama besar: Kyai Hasan Besari di Tegalsari Ponorogo, Kyai Taftazani di Kartasura, Kyai Baidlowi di Bagelen, hingga Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang. Dari mereka ia mempelajari tafsir, fikih, hingga hikmah โ€” ilmu yang mempertemukan keteguhan akal dan kehalusan nurani.

    Nama santri Abdul Hamid itu kelak dikenal dunia sebagai Pangeran Diponegoro, pejuang besar yang memimpin Perang Jawa (1825โ€“1830), sebuah perang yang berakar pada semangat keagamaan dan keadilan sosial.
    Di kamar peninggalannya di Magelang masih tersisa tiga benda sederhana: Al-Qurโ€™an, kitab Taqrib, dan tasbih.
    Tiga pusaka itu, dalam simbolisme pesantren, melambangkan tiga hal: tauhid, fiqih, dan dzikir. Atau dalam bahasa lain: iman, ilmu, dan amal โ€” fondasi sekaligus sumber keberanian para santri.

    Bahkan tokoh pergerakan awal seperti Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) mengakui bahwa semangat perjuangan Indonesia banyak disulut oleh kaum santri. Dalam salah satu tulisannya ia menuturkan secara jujur:

    โ€œKalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.โ€

    Ironisnya, Dekker sendiri bukan santri, melainkan keturunan Belanda yang awalnya dikirim untuk memperkuat kuasa kolonial. Justru dari bergaul dengan para kiai dan pejuang Islam, ia melihat kekuatan moral yang tak bisa ditaklukkan oleh senjata atau politik.

    Sedikit yang tahu bahwa Suwardi Suryaningrat, atau yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, juga pernah nyantri kepada Romo Kyai Sulaiman Zainuddin di Kalasan, Prambanan. Dari tempat itu pula ia menyerap nilai-nilai kesederhanaan, adab, dan kebangsaan yang kelak dirumuskan dalam semboyan abadi:
    Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

    Nilai-nilai itu bukan sekadar gagasan pedagogis modern, melainkan pancaran etika pesantren โ€” bahwa seorang guru adalah teladan, masyarakat adalah ruang belajar, dan ilmu harus dihidupi, bukan sekadar dihafal.

    Dari Semarang datang kisah Sayyid Husein al-Muthohhar, seorang habib keturunan Rasulullah ๏ทบ yang juga komponis ulung. Ia menulis lagu โ€œSyukurโ€ โ€” nyanyian yang serupa dzikir kenegaraan: โ€œDari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh…โ€.
    Bait-baitnya mengalir seperti doa santri selepas shalat, tapi bergaung di panggung Indonesia merdeka. Ia juga pencipta lagu โ€œHari Merdekaโ€, yang cengkok nadanya, katanya, terinspirasi langsung dari lantunan adzan.

    Ketika bertugas sebagai duta besar di Vatikan, Habib Husein justru membangun masjid โ€” simbol keberanian seorang muslim untuk menanam nilai di tengah budaya lain tanpa kehilangan jati diri. Inilah bentuk santri dalam wajah yang paling universal.

    Tak banyak tahu bahwa Mohammad Hatta, proklamator dan wakil presiden pertama RI, juga lahir dari keluarga ulama tarekat. Ayahnya, KH. Jamil, adalah guru Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Batuampar, Sumatera Barat.
    Jadi, ketika Bung Karno mengajaknya mendampingi pembacaan teks proklamasi, yang berdiri di sebelahnya bukan hanya wakil presiden, tapi juga putra kyai โ€” simbol bersatunya kekuatan spiritual dan kebangsaan.

    Di akhir pengajian di Pondok Krapyak Yogyakarta, KH. Maimoen Zubair pernah berpesan kepada para santri:

    โ€œKamu mondok di sini tak usah bingung mau jadi apa. Yang penting ngaji. Yang menjadikan kamu nanti itu Gusti Allah. Kalau kita menunaikan kewajiban menuntut ilmu, maka Allah akan menata hidup kita. Dan kalau Allah yang menata, pasti baik.โ€

    Pesan itu tampak sederhana, namun di situlah rahasia kekuatan kaum santri: ketekunan, keikhlasan, dan keyakinan penuh bahwa ilmu bukan alat mencari dunia, melainkan jalan menuju kemerdekaan batin dan sosial.

    Dari Selarong hingga Pegangsaan Timur, dari padepokan Tegalsari hingga Vatikan, jejak para santri membentang sebagai jalan sunyi yang membentuk sejarah bangsa.
    Mereka mungkin tidak semua tercatat di buku pelajaran, tetapi cahaya ilmunya menyala di setiap lembar sejarah.

    Ketika Douwes Dekker berkata bahwa tanpa pesantren patriotisme bangsa akan runtuh, itu bukan pujian kosong. Ia melihat bahwa pesantren โ€” dengan segala kesederhanaannya โ€” adalah tempat ditempa jiwa-jiwa yang merdeka.

    Maka benar kata pepatah lama pesantren:
    “Ngaji sing tenanan, mulane urip ora mung kanggo awak dewe.”
    (Sungguh-sungguhlah dalam belajar agama, sebab hidup ini bukan semata untuk diri sendiri.)

    Tulisan ini disarikan dari Mauidloh Hasanah KH. Maimoen Zubair di Krapyak, Yogyakarta, serta berbagai sumber sejarah tentang peran santri dalam pembentukan karakter bangsa, terutama melalui tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantara, Habib Husein al-Muthohhar, dan Mohammad Hatta.

  • Warisan Para Nabi: Semakin Dalam Ilmu, Semakin Berat Ujian

    Oleh: Abu PPBU

    Allah sudah menjelaskan sejak lama dalam QS. Al-Furqan: 31:

    โ€œBegitulah! Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi dari kalangan orang-orang berdosa.โ€

    Artinya sederhana tapi dalam: bahkan para Nabiโ€”manusia paling suciโ€”tidak luput dari musuh. Maka wajar bila para ulama, yang menjadi penerus warisan mereka, juga menghadapi hal serupa.
    Ilmu itu bukan jubah kebesaran, tapi jalan ujian.

    Berikut lima bentuk ujian yang hampir selalu datang kepada orang berilmu โ€” dan justru menjadi tanda bahwa Allah sedang meninggikan derajatnya:

    Setiap kali kau terpeleset sedikit, musuh akan bersorak besar. Mereka menunggu saat kau lemah agar bisa menertawaimu. Kadang sakit, tapi justru di situlah bukti bahwa ilmumu mengguncang kebatilan.

    Syaikh Mutawalli As-Syaโ€™rawi berkata:

    โ€œKalau kau melihat seorang alim tanpa musuh, ketahuilah, ia telah kehilangan sebagian warisan dari Nabi.โ€

    Pelajarannya: Kalau orang yang membela kebenaran tidak punya penentang, mungkin ia sudah terlalu diam.

    Yang menyesakkan bukan kebencian dari luar, tapi luka dari orang terdekat. Teman lama yang dulu mendukungmu tiba-tiba menertawakanmu. Mereka bilang kamu berubah, sombong, atau berlebihan.

    Pelajarannya: Di sinilah keikhlasan diuji. Ilmu bukan hanya tentang banyaknya hafalan, tapi tentang kemampuan menahan hati ketika dicela orang yang kau cintai.

    Orang awam sering bicara seenaknya:

    โ€œIlmunya nggak nyambung sama kehidupan.โ€
    โ€œNgapain ngurus agama kayak gitu?โ€

    Mereka menilai dengan logika sempit dan menuntut yang benar menyesuaikan persepsi mereka. Padahal, kebenaran tak bergantung pada popularitas.

    Orang bijak Jawa bilang,

    โ€œKiai sejati tidak terburu-buru menjawab ocehan orang bodoh.โ€

    Pelajarannya: Kadang yang paling bijak bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang.

    Ini yang paling halus tapi paling menyakitkan. Imam Al-Ghazali pernah menulis,

    โ€œYang paling menyakiti ulama bukan orang bodoh, melainkan ulama lain yang dengki.โ€

    Ironis, tapi nyata. Persaingan bukan soal uang, tapi pengaruh dan penghormatan. Mereka merasa harus โ€œmenangโ€ dalam urusan ilmu. Padahal, ilmu tidak pernah menjadi medan perebutan gengsi.

    Pelajarannya: Biarkan iri menjadi bebannya sendiri. Kamu cukup berjalan lurus, karena Allah tahu siapa yang ikhlas.

    Kadang ini ujian yang paling sunyi. Dihormati banyak orang, tapi kesepian di rumah. Anak-anakmu merasa kamu sibuk. Pasangan merasa kamu jauh. Ibumu kadang mengeluh, โ€œKau terlalu serius dengan urusan agama.โ€

    Tapi ingatlah, para Nabi pun diuji di sisi yang sama.
    Nabi Nuh ditentang anaknya. Nabi Ibrahim ditolak ayahnya. Rasulullah ๏ทบ disakiti keluarganya sendiri.

    Pelajarannya: Jangan merasa gagal. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan ruang baru untuk hatimuโ€”lebih lapang, lebih sabar, lebih matang.

    Syaikh Ibn โ€˜Athaillah pernah menulis,

    โ€œJika seorang alim bersabar atas ujian-ujian ini, Allah akan mengangkatnya sebagai imam yang diikuti.โ€

    Dan Allah berfirman dalam QS. Al-โ€˜Ankabut: 2โ€“3:

    โ€œApakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata โ€˜Kami berimanโ€™, tanpa diuji?โ€

    Yang paling berat ujiannya, kata Nabi ๏ทบ, adalah para Nabi sendiriโ€”lalu orang-orang yang paling dekat mengikuti jejak mereka.

    Seorang alim sejati tidak takut pada permusuhan. Ia tahu, setiap ejekan, setiap tuduhan, setiap jarak, adalah tanda bahwa ia sedang di jalur yang benar.

    Maka jika hari ini kamu dicaci, ditolak, atau dijauhi karena berpegang pada kebenaranโ€”jangan kecil hati.
    Kau sedang ditempa, bukan dihukum.

    Dan ingatlah pesan yang menenangkan dari Syaikh Mutawalli As-Syaโ€˜rawi:

    โ€œJika engkau melihat seorang alim tanpa musuh, ketahuilah, sedikitlah warisannya dari Nabi.โ€

  • Hasan Hanafi: Pemikir, Proyek Intelektual, dan Warisan Gagasan Progresif

    Oleh: Abi Wayka

    Hasan Hanafi (1935โ€“2021) adalah seorang filsuf dan pemikir Islam kontemporer asal Mesir yang kerap disebut sebagai salah satu intelektual Muslim paling berpengaruh di abad ke-20. Pemikirannya konsisten menyoroti keterbelakangan umat Islam dan dominasi budaya Barat, seraya menawarkan kerangka yang berpijak pada revitalisasi khazanah Islam klasik, penyusunan kembali teologi, hingga kritik radikal terhadap orientalisme Barat.

    Lebih dari sekadar akademisi, Hanafi tampil sebagai โ€œpemikir pejuangโ€ โ€” seorang intelektual yang meyakini bahwa teologi tidak boleh berhenti pada langit, melainkan harus turun menyentuh bumi: persoalan kemiskinan, penindasan, kolonialisme, dan perjuangan mustadhโ€˜afin.


    Kehidupan dan Pendidikan

    Hasan Hanafi lahir di Kairo pada 13 Februari 1935, dari keluarga Bani Suwaif di Mesir bagian selatan [1][2]. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan kecerdasannya โ€” di usia lima tahun ia telah hafal Al-Qurโ€™an [1].

    Pendidikan awalnya ditempuh di madrasah tradisional, kemudian melesat ke jalur filsafat ketika ia masuk Universitas Kairo dan meraih gelar sarjana filsafat pada 1956 [2]. Pada periode studinya di Kairo itulah ia mulai bersentuhan dengan diskursus Ikhwanul Muslimin dan menyerap dinamika reformis Islam [3].

    Perjalanan intelektual seriusnya berlangsung di Universitas Sorbonne, Paris (1956โ€“1966). Di sana ia mendalami filsafat Barat, khususnya fenomenologi Edmund Husserl, hingga meraih gelar doktor dengan disertasinya Essai sur la Mรฉthode dโ€™Exรฉgรจse (1966). Disertasi setebal 900 halaman ini kemudian memperoleh penghargaan sebagai salah satu karya terbaik di Mesir (1971) [3][5].

    Sekembali ke Mesir, ia mengabdikan diri di Universitas Kairo sebagai pengajar filsafat, sekaligus aktif menjadi dosen tamu di berbagai universitas internasional: Prancis, Amerika Serikat, Belgia, Kuwait, hingga Jepang [3].


    Karya-Karya Utama

    Produktivitas Hanafi nampak dari karya dalam tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Prancis. Beberapa karyanya yang monumental antara lain:

    • Al-Yasar al-Islami (Kiri Islam, 1981) โ€“ Jurnal yang menjadi manifestonya mengenai gagasan โ€œKiri Islamโ€ [3]. Walau hanya terbit sekali karena dilarang pemerintah Mesir, gagasan di dalamnya menyebar luas [5].
    • Min al-โ€˜Aqidah ila al-Tsaurah (Dari Akidah Menuju Revolusi, 1988) โ€“ Lima jilid karya besar yang menyerukan transformasi teologi dari spekulasi teosentris menuju praksis sosial antroposentris [4].
    • Al-Turats wa al-Tajdid (Tradisi dan Pembaruan, 1980) โ€“ Proyek intelektual utamanya untuk merevitalisasi khazanah klasik dan menjadikan tradisi sebagai landasan perlawanan terhadap imperialisme budaya [2].
    • Muqaddimah fi โ€˜Ilm al-Istighrab (Pengantar Oksidentalisme, 1991) โ€“ Fondasi bagi sebuah disiplin ilmu baru: mengkaji Barat secara kritis dari perspektif Timur, sebagai antitesis orientalisme [5].
    • Dirasat Islamiyah (1981) โ€“ Menguraikan pembaruan di berbagai bidang keilmuan Islam: ushul fiqh, teologi, filsafat [8].

    Pokok-Pokok Pemikiran

    1. Kiri Islam (Al-Yasar al-Islami)

    โ€œKiri Islamโ€ bagi Hanafi berarti keberpihakan umat terhadap kaum lemah dan mayoritas miskin (mustadhโ€˜afin). Ia terinspirasi kemenangan Revolusi Iran (1979) dan kegagalan modernisme Islam dalam menghadapi penindasan [2].

    Visi utamanya mencakup:

    • Revolusi Tauhid: Menafsirkan tauhid sebagai kesatuan sosial-kemanusiaan, bukan sekadar ajaran abstrak [4].
    • Perlawanan terhadap Hegemoni Barat: Menolak dominasi kultural Barat [5].
    • Analisis Realitas: Menjadikan kondisi umat, kemiskinan, keterbelakangan sebagai titik awal refleksi keagamaan [5].

    2. Rekonstruksi Teologi

    Bagi Hanafi, teologi Islam klasik hanyalah โ€œwacana langitโ€ yang gagal berpijak pada kebutuhan sosial-politik umat [1][9]. Ia menawarkan transformasi menuju teologi pembebasan, yaitu:

    • Dari teosentris โ†’ antroposentris.
    • Iman sebagai motivasi etis-tindakan nyata, bukan dogma kosong [13].
    • Hermeneutika & fenomenologi sebagai metode membaca teks dalam konteks sosial [1].

    3. Oksidentalisme

    Sebagai antitesis orientalisme, Hanafi mencanangkan disiplin oksidentalisme (al-Istighrab) [5]. Inisiatif ini bertujuan:

    • Membongkar mitos โ€œkepemimpinan universalโ€ Barat [9].
    • Membangun kembali kesadaran diri umat Islam.
    • Mengkaji Barat secara kritis dan objektif, bukan meninggikannya atau serta-merta menolaknya [10].

    Kontribusi yang Ditinggalkan

    1. Pelopor Teologi Pembebasan Islam โ€“ Menyatukan iman dengan perjuangan sosial.
    2. Kritik Radikal pada Orientalisme & Westernisasi โ€“ Mengembalikan martabat intelektual dunia Islam.
    3. Metodologi Interdisipliner โ€“ Mengintegrasikan hermeneutika, fenomenologi, hingga sosiologi untuk studi Islam.
    4. Pengaruh Global โ€“ Pemikirannya menggema dari Arab hingga Indonesia, kerap menjadi inspirasi kajian teologi progresif [15].

    Penutup

    Hanafi adalah sosok penuh kontroversi namun berpengaruh. Kiri Islam, teologi pembebasan, dan oksidentalisme bukan sekadar doktrin intelektual, tetapi proyek peradaban โ€” sebuah upaya agar Islam tidak hanya dipahami sebagai agama ritual, melainkan sebagai kekuatan pembebasan sejati.


    ๐Ÿ“š Referensi Lebih Lanjut:

    1. The Columnist
    2. Kalimahsawa.ID
    3. Neliti โ€“ Kiri Islam dan Proyek al-Turats wa Tajdid
    4. IJoASER โ€“ Teologi Islam Hanafi
    5. Ensiklopedia Islam
    6. Sosiologi79
    7. Islami.co โ€“ Orbituari Hanafi
    8. Hamzah Harun Al-Rasyid Blogspot
    9. Kompasiana
    10. CORE โ€“ Oksidentalisme
    11. IndoProgress
    12. Sosiologi79 โ€“ Pemikiran dan Karya
    13. Repository Universitas Riau
    14. Jurnal IAIS Sambas
    15. Digilib UINSA
    16. ResearchGate
  • Kajian Hadits: Membedah Perdebatan Keabsahan Hadits sebagai Sumber Otentik Islam

    Oleh: Abu PPBU

    Hadits, sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Al-Qurโ€™an, menempati posisi sangat sentral dalam membentuk teologi, hukum, moralitas, dan peradaban Islam. Ia menjadi pijakan utama bagi penetapan kaidah syariah maupun etika kehidupan umat. Namun, sepanjang sejarah, konsep otoritas dan otentisitas hadits tidak pernah lepas dari perdebatan.

    Tradisi Islam sejak awal mengembangkan metodologi yang sangat seksama untuk memastikan keaslian riwayat, sedangkan sebagian akademisi Barat modern justru memandangnya dengan kacamata kritik historis, menafsirkan hadits sebagai konstruksi sosial-politik yang dilembagakan dengan stempel keagamaan.

    Tulisan ini membedah perdebatan tersebut dari tiga perspektif: (1) Argumen kritis sarjana Barat, (2) Metodologi pembelaan ulama Islam, dan (3) Pendekatan kontemporer lintas paradigma.


    1. Argumen Kritis Sarjana Barat: Hadits sebagai Produk Historis

    Tokoh utama dalam arus skeptis adalah Ignaz Goldziher (w. 1921) dan Joseph Schacht (w. 1969). Mereka menampilkan kerangka kritik-historis terhadap hadits Islam dengan beberapa premis metodologis:

    • Argumentum e Silentio (Argumen dari Keheningan): Goldziher dan Schacht menilai, karena tidak ditemukan kodifikasi hadits resmi pada abad pertama Hijriah, berarti hadits belum diperlakukan setara dengan Al-Qurโ€™an saat itu.
    • Projecting Back (Proyeksi Mundur): Menurut Schacht, hadits-hadits hukum pasca Nabi diproyeksikan ke masa Rasulullah untuk memberi legitimasi teologis. Jalur sanad yang tampak rapi dianggap rekayasa โ€œretroaktifโ€.
    • Common Link Theory: Rantai perawi yang bertemu pada satu titik (common link) justru ditafsirkan bukan sebagai puncak transmisi, melainkan sumber rekayasa awal.
    • Motivasi Sosial-Politik: Goldziher (1890) menilai hadits sering digunakan untuk kepentingan ideologis: memihak Dinasti Umayyah atau Abbasiyah, atau mendukung mazhab tertentu.

    Kesimpulannya: hadits lebih tepat dilihat sebagai refleksi sosial-politik abad ke-2/3 H daripada bentuk autentik ajaran abad pertama.


    2. Respon dan Metodologi Ulama Islam: Kritik Hadits sebagai Ilmu

    Jauh sebelum munculnya kritik sejarah modern, ulama Islam telah membangun disiplin โ€˜Ulum al-Hadฤซts sebagai sistem verifikasi internal yang amat kompleks. Al-Khatฤซb al-Baghdฤdฤซ (w. 463 H) dalam Al-Kifฤyah fฤซ โ€˜Ilm al-Riwฤyah menyebutnya sebagai โ€œแนฃinฤโ€˜ahโ€ (ilmu teknis) yang melatih objektivitas dan kehati-hatian dalam meriwayatkan.

    Kritik Sanad

    Melalui ilmu Rijฤl al-แธคadฤซts, setiap perawi diuji dari aspek โ€˜adฤlah (moralitas) dan แธabแนญ (ketajaman hafalan dan catatan).[12][14]
    Ibn แธคajar al-โ€˜Asqalฤnฤซ dalam Tahdhฤซb al-Tahdhฤซb menelusuri ribuan biografi untuk menilai apakah seorang perawi jujur, แธฅฤfiแบ“, atau mudallis.
    Imam al-Bukhฤrฤซ secara ketat mengharuskan bukti empiris pertemuan langsung antara guru dan murid sebelum meriwayatkan.

    Kritik Matan

    Selain sanad, isi hadits (matn) juga dikritisi. Ulama menolak riwayat yang bertentangan dengan Al-Qurโ€™an, hadits mutawฤtir, akal sehat, atau fakta sejarah.
    Imam al-Shฤfiโ€˜ฤซ (w. 204 H) dan Ibn al-แนขalฤแธฅ (w. 643 H) sudah menekankan pentingnya naqd al-matn untuk menjaga pemahaman agama dari penyimpangan.

    Kodifikasi Awal

    Kritik orientalis tentang โ€œketerlambatan penulisanโ€ dijawab dengan konteks tradisi oral Arab. Ulama seperti al-Khaแนญฤซb dan al-Dhahabฤซ menjelaskan bahwa sejak abad pertama sudah ada แนฃaแธฅฤซfah pribadi seperti แนขaแธฅฤซfah Hammฤm ibn Munabbih, murid Abu Hurairah.
    Kodifikasi resmi dimulai pada masa โ€˜Umar bin โ€˜Abd al-โ€˜Azฤซz (w. 101 H) yang memerintahkan Ibn Shihฤb al-Zuhrฤซ menulis hadits-hadits Nabi.


    3. Pandangan Kontemporer: Antara Skeptisisme dan Jalan Tengah

    a. Pembelaan Sarjana Muslim Modern

    Dr. Muแธฅammad Muแนฃแนญafฤ al-Aโ€˜แบ“amฤซ (1930โ€“2017) membantah Goldziher dan Schacht dalam Studies in Early Hadith Literature dan On Schachtโ€™s Origins of Muhammadan Jurisprudence.
    Ia membuktikan keberadaan naskah-naskah hadits abad pertama dan menunjukkan bias euro-sentris analisis Schacht.

    Sarjana Muslim lainnya seperti Fuโ€™ฤd Sezgin dalam Tฤrฤซkh al-Turฤth al-โ€˜Arabฤซ (Geschichte des Arabischen Schrifttums) menelusuri bukti papirus dan manuskrip awal Islam yang menunjukkan berkembangnya tradisi tulis sejak generasi sahabat.

    b. Kritik Balik dari Akademisi Barat Baru

    Harald Motzki (w. 2019) melalui isnad-cum-matn analysis menguji kronologi hadits dan menemukan bahwa banyak riwayat dapat ditelusuri kembali ke abad pertama Hijriah. Ia menolak common link theory sebagai indikasi pemalsuan, melainkan kemungkinan besar sebagai simpul primer dalam transmisi lisan.

    c. Ulama Progresif Muslim

    Beberapa intelektual Muslim kontemporer (seperti Ali Mustafa Yaqub dan Syuhudi Ismail) mengusulkan pendekatan integratif: memanfaatkan kesadaran kritis historis tanpa meninggalkan epistemologi โ€˜Ulum al-Hadฤซts.
    Dengan cara ini, otentisitas hadits tetap dipertahankan, namun penggunaannya disesuaikan dengan maqฤแนฃid al-syarฤซโ€˜ah pada konteks kekinian.


    4. Kesimpulan: Dua Paradigma Besar yang Terus Berjumpa

    Inti perdebatan terletak pada asumsi epistemologis:

    ParadigmaAsumsi DasarImplikasi
    Orientalis Skeptis (Goldziherโ€“Schacht)Semua hadits dianggap palsu sampai terbukti sahih.Hadits dilihat sebagai hasil konstruksi sosial.
    Tradisi Islam (โ€˜Ulum al-แธคadฤซts)Semua hadits dianggap otentik jika lolos kritik sanad dan matan.Hadits adalah lanjutan wahyu yang terjaga melalui transmisi keilmuan.

    Tesis skeptis memang berpengaruh luas di Barat, tetapi tidak dapat menafikan kesinambungan ilmiah tradisi Islam serta banyaknya bukti independen dari dalam turats yang menguatkannya. Kini, perdebatan ini justru menjadi titik temu produktif antara epistemologi Islam klasik dan metode kritis modernโ€”suatu ruang dialog yang menegaskan kedalaman khazanah Islam serta relevansinya di tengah wacana global.


    DAFTAR PUSTAKA

    Sumber Arab & Turats Islam

    1. Al-Khatฤซb al-Baghdฤdฤซ, Al-Kifฤyah fฤซ โ€˜Ilm al-Riwฤyah. Beirut: Dฤr al-Kutub, 1980.
    2. Ibn แธคajar al-โ€˜Asqalฤnฤซ, Tahdhฤซb al-Tahdhฤซb. Beirut: Dฤr al-Maโ€˜rifah, 1968.
    3. Fuโ€™ฤd Sezgin, Tฤrฤซkh al-Turฤth al-โ€˜Arabฤซ (Geschichte des Arabischen Schrifttums). Leiden: Brill, 1967.
    4. Ibn al-แนขalฤแธฅ, โ€˜Ulลซm al-แธคadฤซts. Beirut: Dฤr al-Fikr, 1986.
    5. al-Dhahabฤซ, Tadhkirah al-แธคuffฤแบ“. Beirut: Dฤr al-Kutub al-โ€˜Ilmiyyah, 1998.
    6. Syuhudi Ismail, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1988.
    7. Ali Mustafa Yaqub, Kritik Hadis. Jakarta: Pustaka Firdaus, 1995.
    8. Ramli Abdul Wahid, Kritik Matan Hadis. Medan: IAIN Press, 2008.

    Sumber Non-Arab

    1. Ignaz Goldziher, Muhammedanische Studien. Halle: Niemeyer, 1890.
    2. Joseph Schacht, The Origins of Muhammadan Jurisprudence. Oxford: Clarendon, 1950.
    3. Harald Motzki, โ€œThe Origins of Islamic Jurisprudence: A Reconsideration of Schachtโ€™s Paradigm,โ€ Islamic Law and Society 1, no.1 (1994).
    4. Jonathan A.C. Brown, Hadith: Muhammadโ€™s Legacy in the Medieval and Modern World. Oxford: Oneworld, 2009.
    5. Nabia Abbott, Studies in Arabic Literary Papyri II: Qurโ€™anic Commentary and Tradition. Chicago: University of Chicago Press, 1967.
    6. Gregor Schoeler, The Oral and the Written in Early Islam. London: Routledge, 2006.
    7. M.M. Azami, Studies in Early Hadith Literature. Indianapolis: American Trust Publications, 1978.
    8. โ€”โ€”, On Schachtโ€™s Origins of Muhammadan Jurisprudence. Cambridge: Islamic Texts Society, 1996.
    9. Harald Motzki (ed.), Hadith: Origins and Developments. London: Routledge, 2004.
  • Jejak Santri dalam Sejarah Bangsa: Dari Selarong hingga Pegangsaan Timur

    Oleh: Abu PPBU


    Abstrak

    Tulisan ini menelusuri kontribusi historis dan spiritual kaum santri dalam pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Dari Pangeran Diponegoro hingga Bung Hatta, dari Ki Hajar Dewantara hingga Habib Husein Al-Muthohhar, para tokoh santri menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan agama, melainkan pusat pembentukan kesadaran kebangsaan, etika sosial, dan semangat keislaman yang moderat. Dengan pendekatan historis dan kultural, tulisan ini berupaya menguraikan bagaimana nilai-nilai pesantren bertransformasi menjadi jiwa perjuangan bangsa.

    Kata kunci: santri, pesantren, kebangsaan, Islam Nusantara, sejarah


    Pendahuluan

    Sejarah Indonesia kerap menempatkan peran kaum santri pada posisi pinggiran. Dalam buku-buku pelajaran resmi, narasi perjuangan nasional cenderung berfokus pada tokoh-tokoh sekuler atau militeristik, sementara dimensi religius dan spiritual dari perjuangan bangsa jarang dibahas secara mendalam. Padahal, dari pesantren-pesantren di lereng gunung dan lembah pedesaan, lahir manusia-manusia tangguh yang memiliki dua kekuatan: ilmu dan iman.

    Jejak perjuangan para santri tidak hanya terpatri di dalam hikayat lokal, tetapi juga dalam dokumen resmi kolonial yang mengakui kegigihan mereka dalam perlawanan. Dalam konteks itu, tulisan ini berusaha merekonstruksi kembali peran penting kaum santri โ€” dari medan laga di Selarong hingga detik pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur.


    Santri sebagai Subjek Sejarah Perlawanan

    Salah satu figur santri yang paling menonjol dalam sejarah perlawanan terhadap penjajah adalah Pangeran Diponegoro (1785โ€“1855), seorang bangsawan sekaligus murid para ulama dan ahli tarekat.1 Dididik di lingkungan yang religius di Tegalrejo, Yogyakarta, Diponegoro menimba ilmu dari sejumlah kiai besar seperti Kyai Hasan Besari di Tegalsari Ponorogo, Kyai Taftazani di Kartasura, Kyai Baidlowi di Bagelen, serta Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang.

    Perang Jawa (1825โ€“1830) yang ia pimpin bukan semata-mata konflik politik, melainkan jihad fi sabilillah melawan ketidakadilan kolonial. Perlawanan itu berlangsung selama lima tahun dan menjadi simbol pertama kebangkitan nasional berbasis moral dan spiritual.

    Peninggalannya di Magelang โ€” Al-Qurโ€™an, kitab Taqrib, dan tasbih โ€” bukan sekadar artefak pribadi, melainkan manifestasi dari sintesis tauhid, fikih, dan tasawuf: tiga elemen utama karakter santri.2 Melalui simbol-simbol itu, Diponegoro mewariskan konsep perjuangan yang berpijak pada keimanan dan keadilan sosial.


    Pesantren dan Nasionalisme Kultural

    Peran pesantren dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan tampak pula dalam figur Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat). Sebelum mendirikan Taman Siswa, ia pernah berguru kepada Romo Kyai Sulaiman Zainuddin di Kalasan, Prambanan. Prinsip pendidikannyaโ€”Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayaniโ€”merupakan kristalisasi etika pesantren: guru sebagai teladan, warga sebagai pembelajar, dan masyarakat sebagai ekosistem ilmu.

    Nilai-nilai ini menunjukkan kesinambungan antara habitus pesantren dan pedagogi kebangsaan. Dalam konteks Islam Nusantara, pendidikan santri tidak hanya membentuk individu religius, tetapi juga warga negara yang sadar akan tanggung jawab sosialnya.3

    Demikian pula Habib Husein Al-Muthohhar (1910โ€“1993), ulama dan komponis keturunan Rasulullah ๏ทบ dari Semarang. Ia menulis lagu โ€œSyukurโ€ dan โ€œHari Merdekaโ€ โ€” dua karya spiritual-nasional yang merangkum esensi dzikir dalam bentuk kebangsaan. Saat bertugas sebagai duta besar di Vatikan, Habib Husein tetap menjunjung dua hal: keimanan dan cinta tanah air.


    Pesantren sebagai Benteng Moral Bangsa

    โ€œKalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur,โ€ ujar Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), tokoh kebangkitan nasional berdarah Belanda.4 Pernyataan itu bukan hiperbola. Dekker menyadari bahwa ketika penjajah berusaha melemahkan kepercayaan diri rakyat melalui sistem pendidikan kolonial, pesantren justru menjadi ruang pembebasan intelektual dan kemandirian sosial.

    Di pesantren diajarkan bahwa kemerdekaan sejati ialah kebebasan dari sifat tamak, takut, dan taklid buta. Dalam pengajaran klasiknya, para kiai kerap mengutip perkataan Imam al-Ghazali: man lam yahkum bima โ€˜alim, faโ€˜ilmuhu la yanfaโ€˜u, โ€œBarang siapa tidak mengamalkan ilmunya, maka ilmunya tidak bermanfaat.โ€ Spirit inilah yang menumbuhkan idealisme kejujuran dan kesederhanaan dalam tubuh bangsa.


    Spiritualitas di Balik Proklamasi

    Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu tokoh utama dalam Proklamasi Kemerdekaan, H. Mohammad Hatta (1902โ€“1980), lahir dari keluarga ulama tarekat. Ayahnya, Kyai Haji Jamil, adalah guru Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Batuampar, Sumatera Barat.5

    Etos zuhud, kedisiplinan, dan kecermatan moral yang diwariskan dari pendidikan tasawuf terasa jelas dalam pribadi Hatta. Ia menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi etika politik: bahwa kekuasaan bukan untuk keangkuhan, tapi untuk pengabdian.

    Ketika Soekarno mengajak Hatta untuk mendampingi pembacaan teks proklamasi, itu bukan pilihan politis semata, melainkan simbol keseimbangan antara karisma dan kesalehan, antara karunia intelektual dan keikhlasan seorang santri.


    Kembali ke Pesantren: Pendidikan Sebagai Jalan Ihsan

    Dalam satu sesi mauโ€˜idzah hasanah di Pondok Krapyak, KH. Maimoen Zubair pernah berpesan:

    โ€œKamu mondok di sini, nggak usah bingung mau jadi apa. Yang penting ngaji, nderes Qurโ€™an, belajar dengan adab. Sebab yang menjadikan adalah Gusti Allah.โ€

    Ungkapan sederhana itu sesungguhnya mengandung landasan filsafat pendidikan khas pesantren: niat lillah, amal saleh, dan tawakkal. Dalam sejarah bangsa ini, formula itu terbukti melahirkan manusia-manusia hebat โ€” bukan karena ambisi pribadi, tetapi karena keikhlasan.


    Penutup

    Dari Pangeran Diponegoro hingga Bung Hatta, dari Ki Hajar Dewantara hingga Habib Husein Al-Muthohhar, rangkaian sejarah itu mengajarkan bahwa pesantren bukan hanya ruang tafaqquh fiddin, tetapi juga laboratorium peradaban.

    Para santri adalah penjaga moralitas bangsaโ€”mereka yang berdiri di antara kepasrahan dan perjuangan, antara sujud dan kemerdekaan. Maka, menengok sejarah pesantren bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya dekolonisasi narasiโ€”mengembalikan ruh spiritual dalam pembacaan sejarah nasional.

    Footnotes

    1. Sagimun M.D., Pangeran Diponegoro: Pahlawan Nasional, Jakarta: Balai Pustaka, 1985. โ†ฉ
    2. Agus Sunyoto, Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Jakarta: LKiS, 2012. โ†ฉ
    3. Abdurrahman Masโ€™ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004. โ†ฉ
    4. Douwes Dekker, Pikiran dan Cita-cita Nasionalisme, Batavia: Kolff, 1918. โ†ฉ
    5. Syarifuddin Jurdi, Mohammad Hatta: Biografi Santri Modernis dari Minangkabau, Bandung: Mizan, 2014. โ†ฉ
  • Jejak Santri yang Dihapus dari Sejarah Bangsa

    Oleh: Abu PPBU

    Ada ironi besar dalam sejarah negeri ini.
    Nama-nama besar seperti Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantara, Habib Husein Al-Muthohhar, hingga Bung Hatta kini mulai diakui sebagai santri.
    Namun di balik itu, masih banyak pahlawan bersarung yang lenyap dari buku-buku pelajaran kita.

    Bahkan KH. Hasyim Asyโ€˜ariโ€”yang ditetapkan Bung Karno sebagai Pahlawan Nasionalโ€”hampir tidak disebut dalam narasi resmi perjuangan kemerdekaan.
    Padahal, dari rahim pesantrenlah lahir bukan hanya para ulama, melainkan juga komandan-komandan pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI.


    ๐Ÿ“œ Jejak Para Komandan Santri

    Dalam arsip Sekretariat Negara dan TNI tercatat bahwa:

    • Komandan Divisi I adalah Kolonel KH. Samโ€˜un, pengasuh pesantren di Banten.
    • Komandan Divisi III dipimpin oleh Kolonel KH. Arwiji Kartawinata dari Tasikmalaya.
    • Komandan Resimen 17, Letkol KH. Iskandar Idris.
    • Komandan Resimen 8, Letkol KH. Yunus Anis.
    • Komandan Batalyon TKR Malang, Mayor KH. Iskandar Sulaiman, Rais Syuriyah NU Kabupaten Malang.

    Namun, nama-nama itu hilang dari buku sejarah SD, SMP, dan SMA.
    Seolah peran para kiai dan santri sengaja dihapus dari panggung sejarah bangsa.


    โš”๏ธ Laskar Tanpa Gaji, Tentara Tanpa Upah

    Pada masa awal kemerdekaan, negara belum sanggup membayar tentaranya.
    Hanya para kiai dan santri yang rela berjuang tanpa gaji, berjihad dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah.
    Mereka bertempur dengan tekad dan iman, bukan demi pangkat atau upah.
    Baru pada tahun 1950, tentara mulai menerima gaji dari negara.


    ๐Ÿ”ฅ Resolusi Jihad dan Lahirnya 10 November

    Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya bukan sekadar โ€œpertempuran kemerdekaanโ€.
    Ia adalah letusan jihad fi sabilillah, yang disulut oleh fatwa PBNU pada 22 Oktober 1945 โ€” kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

    Ketika pasukan Inggris datang bersama Belanda yang ingin kembali berkuasa, Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU:

    โ€œApa kewajiban umat Islam bila negeri ini diserang kembali oleh penjajah?โ€

    KH. Hasyim Asyโ€˜ari menjawab tegas melalui Resolusi Jihad:

    โ€œBagi umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Surabaya, wajib โ€˜ain membela tanah air dari penjajahan.โ€

    Fatwa itu menggema dari masjid ke masjid, dari langgar ke langgar.
    Arek-arek Suroboyo pun bangkit tanpa menunggu komando.
    Begitu mendengar kata โ€œjihadโ€, mereka meneriakkan โ€œAllahu Akbar!โ€ dan menyerbu pos-pos Inggris.

    Pertempuran dahsyat pecah sejak 27โ€“29 Oktober 1945, menewaskan ribuan serdadu Inggris.
    Namun sejarah resmi nyaris tidak menyinggung bahwa semua itu berawal dari fatwa jihad seorang ulama pesantren.

    Pada 30 Oktober, Brigadir Jenderal Mallaby โ€” pemimpin pasukan Inggris โ€” tewas di Jembatan Merah akibat granat yang dilempar seorang pemuda Ansor.
    Inggris murka. Mereka mengeluarkan ultimatum:

    โ€œJika hingga 9 November senjata tidak diserahkan, maka 10 November Surabaya akan dibombardir dari darat, laut, dan udara.โ€

    Dan benar.
    Pagi 10 November 1945, Surabaya dibombardir. Kota terbakar, ribuan syuhada gugur.
    Namun dari kobaran api itu lahirlah semangat yang tak pernah padam:
    โ€œHubbul Wathan Minal Imanโ€ โ€” cinta tanah air adalah bagian dari iman.


    ๐Ÿฉธ Jihad, Bukan Tawuran

    KH. Agus Sunyoto dalam bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad (Lirboyo, 2017) berkata:

    โ€œArek-arek Suroboyo menyebutnya bukan perang, tapi tawuran.
    Mereka bergerak tanpa komando, hanya dengan semangat jihad dan cinta pada ulama.โ€

    Dari Kediri datang pasukan santri Lirboyo di bawah pimpinan KH. Mahrus.
    Dari Jombang, Pasuruan, Mojokerto, Malang, hingga Cirebon โ€” mereka berdatangan, menempuh jarak ratusan kilometer.
    Bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat Kristen, Konghucu, dan Buddha ikut berjuang.
    Semangat jihad telah menjelma menjadi semangat kemanusiaan dan kebangsaan.


    ๐Ÿ“– Saatnya Mengembalikan Sejarah yang Dipotong

    Sejarah bangsa tidak akan utuh tanpa pesantren.
    Para kiai bukan hanya guru ruhani, tetapi juga arsitek kemerdekaan.
    Mereka mendidik rakyat, mengobarkan jihad, dan menegakkan republik โ€” tanpa pamrih dan tanpa imbalan.

    Kini saatnya kita berkata jujur:
    Jika sejarah terus dipotong, maka suatu hari sejarah kita sendiri yang akan memotong kita.

    Sudah waktunya anak-anak Indonesia belajar sejarah sebagaimana adanya โ€”
    bahwa santri, ulama, dan pesantren adalah pilar utama lahirnya republik ini.

  • Jejak Santri dalam Sejarah Bangsa: Dari Selarong hingga Pegangsaan Timur

    Oleh: Abu PPBU

    Di tanah Jawa, penjajah bukan hanya gentar menghadapi meriam dan senjata, tapi juga takut kepada santriโ€”para pengamal ilmu, ahli dzikir, dan murid-murid tarekat yang memandang penjajahan bukan semata penindasan politik, melainkan pelanggaran terhadap martabat manusia dan amanat iman.

    Dari pesantren-pesantren terpencil di pelosok desa, lahirlah sosok-sosok pemberani: tidak sekadar pejuang, melainkan insan berilmu, berjiwa tauhid, dan bermental merdeka. Mereka memahami kemerdekaan bukan hanya sebagai hak politik, tapi sebagai bentuk tertinggi dari ubudiyyahโ€”penghambaan kepada Allah semata.


    ๐ŸŒพ Santri Tarekat yang Menggetarkan Penjajah

    Salah satu sosok santri yang paling ditakuti Belanda adalah seorang pemuda bernama Abdul Hamid, kelak dikenal dengan nama agung Pangeran Diponegoro. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Yogyakartaโ€”di tengah suasana kesakralan dan kearifan pesantren Jawa.

    Sejak muda, Diponegoro berguru kepada ulama besar:

    • Kyai Hasan Besari di Tegalsari, Ponorogo, tempat para bangsawan menimba ilmu agama.
    • Kyai Taftazani di Kartasura, pakar ilmu kalam dan tasawuf.
    • Kyai Baidlowi di Bagelen, sosok alim yang makamnya kini terletak di Glodegan, Bantul.
    • Dan terakhir, beliau menimba ilmu hikmah dari Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang, seorang ulama besar ahli thariqah.

    Dari perjalanan ruhani itu, lahirlah seorang pemimpin yang bukan sekadar bangsawan, melainkan santri pejuang. Ketika beliau memimpin perang selama lima tahun (1825โ€“1830 M), semangatnya bukan sekadar melawan penjajahan, tapi menegakkan keadilan dan menolak kezhaliman sebagai bagian dari iman.

    Nama lengkapnya panjang, menandakan silsilah ilmu dan spiritualitasnya:
    Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Muโ€™minin Khalifatullah Tanah Jawi โ€” lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

    Kini patungnya berdiri gagah di Alun-alun Magelang, namanya diabadikan menjadi Kodam IV/Diponegoro dan Universitas Diponegoro. Meski jasadnya dimakamkan jauh di Makassar, semangatnya tetap hidup di dada para santri dan pejuang bangsa.


    ๐Ÿ“ฟ Warisan Seorang Santri Pejuang

    Di kamar peninggalannya di Magelang terdapat tiga benda sederhana: sebuah Al-Qurโ€™an, kitab Taqrib, dan tasbih.

    Ketiganya bukan sekadar pusaka, melainkan lambang jati diri seorang santri:

    • Al-Qurโ€™an, sumber tauhid dan pedoman hidup.
    • Kitab Taqrib karya Imam Abu Syujaโ€™, penanda bahwa beliau bermadzhab Syafiโ€™i.
    • Tasbih, lambang dzikir, laku rohani, dan kesadaran spiritual yang tak pernah putus.

    Sebagai seorang pengamal mazhab Syafiโ€™i, Diponegoro menjalankan amalan sesuai tradisi pesantren: tarawih 20 rakaat, qunut Subuh, dua adzan saat Jumatan, dan shalat Id di masjid, bukan di lapangan.
    Inilah wajah Islam pesantren: taat dalam syariat, kuat dalam spiritual, dan teguh dalam tradisi.


    ๐Ÿ”ฅ Dari Pesantren, Lahir Patriotisme

    Diponegoro hanyalah satu dari sekian banyak santri yang menorehkan kisah perjuangan bangsa.
    Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat), sang penggagas Taman Siswa, juga seorang santri. Ia berguru kepada Romo Kyai Sulaiman Zainuddin di Kalasan, Prambanan.

    Semboyannya yang termasyhurโ€”Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayaniโ€”bukan sekadar prinsip pendidikan modern, melainkan cerminan adab santri: bahwa guru harus menjadi teladan, teman seperjuangan, sekaligus pembimbing ruhani.

    Begitu pula dengan Habib Husein Al-Muthohhar, seorang keturunan Rasulullah ๏ทบ dari Kauman, Semarang. Ia dikenal bukan hanya sebagai ulama, tapi juga komponis dan diplomat. Dari tangannya lahir lagu โ€œSyukurโ€ dan โ€œHari Merdekaโ€โ€”dua karya monumental yang menanamkan spirit dzikir dan nasionalisme ke dalam jiwa setiap anak bangsa.

    Ketika bertugas sebagai duta besar di Vatikan, beliau tidak larut dalam arus sekularitas Eropa; justru mendirikan masjid di pusat dunia Katolik itu. Sebuah tanda bahwa di manapun berada, santri tetap menjunjung tinggi iman, ilmu, dan Indonesia.


    ๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ Pesantren dan Jiwa Kebangsaan

    Patriotisme Indonesia tidak lahir dari senjata semata, melainkan dari ketulusan ilmu dan keyakinan para ulama.
    Bahkan Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)โ€”seorang tokoh pergerakan kebangsaan berdarah Belandaโ€”pernah berujar:

    โ€œKalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.โ€

    Ia bukan santri, tapi ia menyaksikan langsung bahwa pesantren-lah benteng terakhir moral dan kesadaran rakyat Nusantara. Ketika pendidikan kolonial memisahkan rakyat dari akar budayanya, pesantren justru menyatukan mereka dalam nilai, iman, dan cita-cita kebebasan.


    ๐Ÿคฒ๐Ÿป Bung Hatta: Putra Kyai Naqsyabandiyyah

    Ketika Soekarno bersiap membacakan teks Proklamasi di Pegangsaan Timur, 17 Agustus 1945, ia meminta didampingi seorang yang beriman dan berilmuโ€”seorang putra ulama.

    Yang berdiri di sampingnya adalah H. Mohammad Hatta, putra dari Kyai Haji Jamil, guru Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Batuampar, Sumatera Barat.
    Kedisiplinan spiritual Hatta, kebersahajaan hidupnya, serta kejujuran yang tak tergoyahkan adalah warisan langsung dari pendidikan tarekat sang ayah.

    Jarang kita dengar dalam pelajaran sekolah bahwa Bung Hatta bukan hanya ekonom dan negarawan ulung, melainkan anak seorang mursyid tarekat.
    Dari ayahnya, ia belajar zuhud dan ikhlas; dari pesantren, ia belajar menimbang setiap keputusan dengan hati yang bersih.


    ๐Ÿ“œ Kembali ke Pesantren

    Dalam sebuah mauโ€˜idzah hasanah di Krapyak, Yogyakarta, Syaikhona Maimoen Zubair pernah berkata kepada para santrinya:

    โ€œKamu mondok di sini, nggak usah bingung mau jadi apa. Yang penting ngaji, sekolah, dan beradab. Sebab yang menjadikan itu Gusti Allah Subhanahu Wa Taโ€˜ala.โ€

    Beliau menambahkan dengan senyum khasnya:

    โ€œAku dulu juga tidak pernah memikirkan akan jadi apa. Yang penting ngaji, nderes Qurโ€™an, hafalkan nadzoman, shalat berjamaah. Ternyata Gusti Allah menakdirkanku jadi manusia yang bermanfaat, hingga bisa melangkah ke gedung DPR/MPR di Senayan.โ€

    Pesan sederhana itu menyimpan makna mendalam:
    Bahwa tugas santri adalah menuntut ilmu, mendidik akhlak, dan memperbaiki niat. Ketika Allah yang menata langkah, maka tidak ada nasib yang lebih mulia selain menjadi manusia yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.


    ๐ŸŒธ Penutup: Santri dan Jiwa Merdeka

    Dari Pangeran Diponegoro hingga Bung Hatta, dari Ki Hajar Dewantara hingga Habib Husein Al-Muthohhar, kita melihat satu benang merah yang sama:
    Bahwa pesantren adalah sumber kekuatan spiritual, moral, dan kebangsaan.

    Para santri bukan hanya penghafal kitab, tapi juga penjaga nurani bangsa.
    Mereka berdiri di garis depan saat penjajah datang, dan di barisan pendidik ketika republik ini berdiri.

    Maka jangan ragu mengirim anak-anakmu ke pesantren.
    Di sanalah tumbuh generasi yang berpikir jernih, berjiwa merdeka, dan tunduk hanya kepada Allah.
    Sebab dari pesantren-pesantren itulah lahir manusia-manusia yang tenang dalam dzikir, teguh dalam perjuangan, dan tulus dalam pengabdian โ€”
    pewaris sejati jiwa kemerdekaan Indonesia.

  • Serial Kajian Hukum Islam Kontemporer

    Bagian I โ€” Bioetika & Fikih Kedokteran Kontemporer

    Rekayasa genetika manusia (terutama human germline genome editing โ€” HGE) berpotensi mengubah sifat yang diturunkan kepada generasi berikutnya. Ini membuka peluang besar untuk menyembuhkan penyakit genetik, tetapi juga menimbulkan risiko keselamatan (off-target effects), implikasi etik (eugenika, ketidakadilan), dan masalah lintas-generasi yang tak terbalikkan. Kejadian 2018 (He Jiankui) menjadi titik balik kesadaran global tentang kebutuhan tata kelola yang ketat. PubMed Central+1

    • Fakta singkat: Pada akhir 2018 He Jiankui mengumumkan kelahiran bayi hasil editing gen CCR5 (mengklaim resistensi HIV) menggunakan CRISPR-Cas9; pengumuman memicu kecaman internasional karena pelanggaran etika, transparansi, persetujuan, dan prosedur klinis; He kemudian dihukum (penjara dan denda) oleh pengadilan Tiongkok; kasus memicu reformasi tata kelola R&D di Tiongkok dan dorongan internasional untuk standar global. Axios+1
    • Pelajaran utama:
      1. Prosedur eksperimen klinis tanpa legitimasi etis dan regulasi dapat menghasilkan pelanggaran serius dan kerusakan reputasi sains.
      2. HGE memerlukan pengawasan multi-level: etika, regulasi klinis, transparansi, dan registri global.
      3. Kasus menegaskan perlunya moratorium/pengecualian yang hati-hati pada aplikasi klinis HGE sampai bukti keamanan, manfaat, dan legitimasi sosial tersedia. PubMed Central+1

    Prinsip bioetika umum yang harus diutamakan:

    • Non-maleficence (jangan merugikan): kehati-hatian terhadap risiko off-target & efek lintas-generasi.
    • Beneficence (berbuat baik): potensi menyembuhkan penyakit serius yang tidak dapat diatasi cara lain.
    • Justice (keadilan): menghindari ketidaksetaraan akses atau eugenika sosial.
    • Autonomy (persetujuan): informed consent yang sah (kompleks untuk calon generasi mendatang).
    • Precaution (kehati-hatian intergenerasi): mengutamakan pencegahan kerusakan pada generasi di masa depan.
      Dalam perspektif maqฤแนฃid al-sharฤซโ€˜ah: แธฅifแบ“ al-nafs (menjaga nyawa) dapat menjadi argumen untuk terapi somatik, tetapi แธฅifแบ“ al-nasl (menjaga nasab/keturunan) dan larangan terhadap manipulasi yang mengancam martabat manusia menuntut pembatasan ketatโ€”terutama pada HGE yang diwariskan. (Implikasi fiqh: mengutamakan darโ€™ al-mafsadah).
    • WHO (2021): menerbitkan A Framework for Governance for Human Genome Editing โ€” mendorong pembentukan mekanisme pengawasan nasional, registry global HGE, kebijakan lisensi/otorisasi, dan keterlibatan publik. WHO menekankan perlunya standar global untuk penelitian dan aplikasi klinis. IRIS
    • UNESCO / Deklarasi Universal: menekankan bahwa genom manusia adalah warisan kemanusiaan dan harus dilindungi dari praktik yang melanggar martabat atau hak asasi. UNESCO
    • Komunitas ilmiah & etik (Nuffield, National Academies, jurnal bioetika): banyak rekomendasi mendorong moratorium klinis pada HGE sampai ada bukti keselamatan, serta panggilan untuk dialog publik dan kebijakan berbasis bukti. Nuffield Council on Bioethics+1
    • Global: negara-negara bercampur: kebanyakan melarang atau membatasi HGE yang diwariskan; beberapa mengizinkan riset in vitro dengan pembatasan; beberapa memperbarui aturan pasca-2018. Ada usaha membangun registri dan standar global (WHO). Global Gene Editing Regulation Tracker+1
    • China: kasus He memicu penguatan kebijakan etika penelitian, hukuman pada pelanggar, dan restrukturisasi tata kelola. Taylor & Francis Online
    • Indonesia: sampai beberapa literatur (2022) menyatakan belum ada regulasi khusus untuk rekayasa genetika manusia, namun baru-baru ini (2024) ada pembaruan regulasi terkait produk rekayasa genetika (terutama pangan/biotek mikroba) โ€” Pemerintah mengeluarkan regulasi pengawasan produk GE; belum jelas ketentuan spesifik HGE klinis sehingga negara perlu menutup celah regulasi untuk intervensi manusia. (Laporan ringkasan pemerintahan: Reg. No. 19/2024 tentang pengawasan produk genetika). journal.unpad.ac.id+1

    Berikut paket rekomendasi terstruktur: ringkas, operasional, dan bisa diadaptasi ke konteks Indonesia/negara Islam.

    1. Prinsip kehati-hatian (precautionary principle): larang aplikasi klinis HGE germline sampai standar keselamatan & etik terpenuhi.
    2. Pisahkan riset dasar dari uji klinis: ijinkan riset laboratorium (in vitro) dengan pengawasan etis ketat, larang transfer embrio hasil editing ke uterus manusia tanpa otorisasi khusus.
    3. Pembedaan somatik vs germline: izinkan terapi somatik yang terbukti aman/efektif; larang atau atur sangat ketat HGE yang diwariskan.
    4. Kepastian hukum & penegakan: sanksi pidana/administratif untuk eksperimen ilegal (seperti pada kasus He Jiankui). Axios+1
    1. National Human Genome Editing Authority (NHGEA) โ€” badan independen lintas-sektor (kesehatan, sains, etika, agama, hukum) yang:
      • memberi lisensi penelitian & uji klinis;
      • mengelola National Registry HGE;
      • menetapkan pedoman pelaporan keamanan & audit;
      • menerbitkan panduan informed consent.
    2. National Ethics Review Board for Genetic Interventions (NERB-GI) โ€” otoritas etik untuk menilai protokol riset; wajib sebelum NHGEA terbitkan lisensi.
    3. Fatwa Council / Ulama-Medis Panel โ€” khusus bagi negara berpenduduk Muslim: panel ulama + ilmuwan medis untuk menilai kesesuaian maqฤแนฃid & memberi rekomendasi fatwa dinamis. (Mengaitkan hukum syariah dengan regulasi teknis).
    1. Registri nasional & global: semua proyek editing harus terdaftar di registri nasional; data inti berkontribusi ke registri internasional WHO. IRIS
    2. Kriteria lisensi uji klinis HGE (minimal): bukti pra-klinik kuat, manfaat terapetik yang tak ada alternatifnya, rencana pemantauan jangka panjang lintas-generasi, proteksi data & privasi, serta mekanisme kompensasi bila terjadi iatrogenesis.
    3. Persetujuan (consent) multilevel: subjek dewasa, komite etik, dan pengawasan regulator; untuk intervensi yang dapat diwariskan, konsultasi publik dan persetujuan sosial diperlukan. Journal of Ethics

    Berikut contoh pasal yang bisa dijadikan fondasi undang-undang/regulasi:

    Pasal A โ€” Definisi

    1. โ€œHuman Germline Genome Editing (HGE)โ€ adalah perubahan genom manusia yang dapat diturunkan ke keturunan berikutnya.
    2. โ€œSomatic Genome Editing (SGE)โ€ adalah perubahan genom pada individu yang tidak diwariskan.

    Pasal B โ€” Larangan & Izin

    1. Dilarang: melakukan HGE yang ditanamkan ke embrio manusia yang kemudian ditanamkan pada uterus manusia tanpa lisensi khusus dari NHGEA.
    2. Diizinkan secara terbatas: SGE pada indikasi penyakit serius yang tidak dapat diobati dengan terapi lain, setelah persetujuan NERB-GI dan lisensi NHGEA.

    Pasal C โ€” Registri & Pelaporan

    1. Semua penelitian HGE/SGE harus didaftarkan di Registri Nasional sebelum implementasi.
    2. Pelanggaran pendaftaran dikenai sanksi administratif dan kriminal sesuai Pasal X.

    Pasal D โ€” Sanksi

    1. Pelaksanaan HGE tanpa lisensi: pidana penjara minimal X tahun dan/atau denda minimal Y rupiah; pembekuan izin institusi; publikasi pelanggaran. (contoh: China menjatuhkan hukuman pidana pada kasus He). Axios
    • Pemantauan lintas-generasi: wajib untuk setiap subjek yang mengalami editing germline (jika diizinkan untuk tujuan riset terbatas) โ€” catatan kesehatan terintegrasi.
    • Rencana mitigasi risiko: protokol jika muncul efek samping jangka panjang.
    • Transparansi ilmiah: kewajiban publikasi data keselamatan, kecuali yang dilindungi privasi.
    1. Segera tetapkan moratorium sifia pada HGE germline klinis sampai NHGEA & NERB-GI terbentuk. Hal ini sejalan dengan kehati-hatian maqฤแนฃid (mengutamakan darโ€™ al-mafsadah).
    2. Bentuk Panel Ulama-Sains (Fatwa Dinamis) yang dapat menilai kasus-kasus baru (mis. terapi gen somatik untuk penyakit berat) sehingga ada legitimasi agama yang adaptif.
    3. Perluas regulasi No.19/2024 (yang saat ini mengatur GE produk terutama pangan/biotek mikroba) untuk mencakup HGE manusia; masukkan ketentuan tentang riset klinis, registri, dan sanksi. USDA Apps+1
    4. Kampanye literasi publik & dialog inklusif (ulama, ilmuwan, publik) untuk membangun pemahaman, legitimasi, dan penjagaan terhadap potensi penyalahgunaan (eugenika/komersialisasi). Nuffield Council on Bioethics
    • Ikut serta aktif pada registri WHO dan adopsi standar WHO Framework for Governance untuk menjamin interoperabilitas regulasi dan pelaporan. IRIS
    • Pertukaran data & audit silang dengan badan regulator internasional untuk mencegah โ€˜science tourismโ€™ (eksperimen pindahan ke negara berregulasi longgar).
    • Greely HT et al., CRISPR’d babies (overview of He Jiankui incident). PubMed Central
    • News & court outcome: โ€œChinese gene-editing scientist sentenced to 3 yearsโ€ (news, Axios/AP coverage). Axios
    • WHO Expert Advisory Committee, Human Genome Editing: A Framework for Governance (2021). IRIS
    • UNESCO โ€” Human Genome & Human Rights (ethical framing). UNESCO
    • Nuffield Council on Bioethics, Genome editing and human reproduction (policy guide). Nuffield Council on Bioethics
    • Analisis kebijakan/regulasi Indonesia & update Reg. No.19/2024 (USDA/FAS summary 2025). USDA Apps
  • JEJAK TASYRI’: MENGURAI EVOLUSI HUKUM ISLAM DARI MASA WAHYU HINGGA ERA DIGITAL

    Setelah runtuhnya kekuasaan kolonial di dunia Muslim pada paruh pertama abad ke-20, tantangan baru muncul: bagaimana menempatkan hukum Islam dalam format state nation modern?

    Bandingkan:

    • Di era klasik, syariโ€˜ah merupakan basis menyeluruh hukum publik dan privat.
    • Di era kolonial, syariโ€˜ah dipersempit ke ranah keluarga dan ibadah.
    • Di era pasca-kolonial, posisi syariโ€˜ah justru dinegosiasikan ulang dalam kerangka negara-bangsa, konstitusi tertulis, dan sistem hukum plural.

    Proses ini bukan hanya sekadar politik hukum, tapi juga pergulatan identitas: sejauh mana syariโ€˜ah masuk menjadi โ€œrohโ€ negara?

    Banyak negara Muslim yang lahir dari kolonialisme mewarisi sistem hukum Barat (civil law atau common law) sebagai struktur negara. Namun aspirasi mayoritas Muslim tetap ingin melihat syariโ€˜ah hadir dalam konstitusi.

    • Mesir (1923, 1971): Konstitusi 1971 memuat klausul terkenal bahwa “syariah Islam adalah sumber utama legislasi“. Ini muncul sebagai hasil kompromi antara ulama al-Azhar dan kelompok modernis-sekuler. [1]
    • Pakistan (1947): Dibangun dengan visi โ€œNegara Muslimโ€, Konstitusi Pakistan (1956 dan 1973) menegaskan hukum Islam sebagai sumber inspirasi, bahkan membentuk Federal Shariah Court untuk menilai legislasi agar sesuai syariโ€˜ah. [2]
    • Indonesia (1945): Sidang BPUPKI melahirkan Piagam Jakarta (22 Juni 1945), yang mencantumkan โ€œkewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknyaโ€. Namun demi persatuan, tujuh kata itu dihapus 18 Agustus 1945. Hukum Islam akhirnya diberi ruang terutama dalam hukum keluarga melalui Peradilan Agama. [3]

    Proses ini menggambarkan sebuah pola: syariโ€˜ah tidak selalu ditolak, tapi diposisikan dalam kompromi konstitusional yang seimbang dengan realitas pluralisme negara-bangsa.

    Ketegangan utama dalam era pasca-kolonial adalah bagaimana menyeimbangkan universalitas syariโ€˜ah dengan nasionalisme modern.

    • Bagi sebagian pemikir (misalnya Rashid Rida), syariโ€˜ah adalah sistem hukum transnasional yang tak bisa dipersempit oleh batas negara. [4]
    • Namun dalam praktik politik, syariโ€˜ah harus dinegosiasikan dengan model nation-state yang masing-masing eksklusif, berdaulat, dan plural secara demografis.

    Di sinilah muncul berbagai model: ada negara yang menjadikan syariโ€˜ah sumber utama (seperti Mesir, Pakistan), ada yang menjadikannya sumber inspirasi tanpa supremasi hukum (Indonesia, Malaysia), dan ada pula yang memprivatkannya ke ranah moral-spiritual (Turki sekuler).

    Menariknya, hukum Islam pada era ini paling banyak diimplementasikan dalam ranah hukum keluarga (personal status law).

    Contoh:

    • Mesir (1920, 1929, 1955): Reformasi hukum keluarga via legislasi modern, mengatur pernikahan, perceraian, waris.
    • Indonesia (1974): UU Perkawinan sebagai hasil kompromi antara hukum Islam dan hukum nasional.
    • Tunisia (1956): Kode Status Personal Tunisia melarang poligami, interpretasi progresif atas maqฤแนฃid al-sharฤซโ€˜ah.

    Reformulasi ini memberi ruang bagi syariโ€˜ah untuk โ€œhadirโ€ tanpa harus menguasai sistem hukum publik sepenuhnya.

    Menurut Subhi Mahmasani, ada dua kecenderungan utama: [5]

    1. Formalisasi Syariโ€˜ah: Menjadikan syariโ€˜ah sebagai teks konstitusi dan sumber legislasi utama.
    2. Inspirasi Etis: Menempatkan nilai syariโ€˜ah sebagai โ€œroh kebangsaanโ€ yang memberi arah moral, namun implementasi teknisnya diserahkan ke sistem hukum positif bercorak Barat.

    Keduanya berjalan berdampingan, tergantung dinamika politik nasional masing-masing negara.

    Era pasca-kolonial memperlihatkan bagaimana hukum Islam dinegosiasikan dalam bingkai negara-bangsa. Dari kompromi Piagam Jakarta di Indonesia, konstitusionalisasi syariโ€˜ah di Pakistan, hingga reformasi hukum keluarga di Mesir dan Tunisia, semua menunjukkan satu benang merah: syariโ€˜ah tetap hidup, tetapi dalam format baru sesuai dengan โ€œbahasaโ€ nasionalisme modern.

    Artikel selanjutnya akan membahas Artikel 5: Globalisasi dan Hak Asasi Manusia: Tantangan Baru bagi Syariโ€˜ah, yang akan menyoroti tarik-ulur antara hukum Islam dengan diskursus universal HAM, demokrasi, dan kesetaraan gender.

    1. Khudari Bek, Muhammad. Tฤrฤซkh al-Tashrฤซโ€˜ al-Islฤmฤซ. Kairo: Dฤr al-Fikr al-โ€˜Arabฤซ, 1960.
    2. Zafar, Muhammad. The Constitutional Development of Pakistan. Karachi: Oxford University Press, 1980.
    3. Boland, B.J. The Struggle of Islam in Modern Indonesia. The Hague: Nijhoff, 1982.
    4. Rida, Rashid. Al-Khilฤfah aw al-Imฤmah al-โ€˜Uแบ“mฤ. Kairo: Al-Manฤr, 1923.
    5. Mahmasani, Subhi. Falsafat al-Tashrฤซโ€˜ fฤซ al-Islฤm. Beirut: Dฤr al-โ€˜Ilm li al-Malฤyฤซn, 1961.
    6. Hallaq, Wael B. Shariโ€˜a: Theory, Practice, Transformations. Cambridge: Cambridge University Press, 2009.
  • AL-QUR’AN: SUMBER KEKACAUAN ATAU JUSTIFIKASI POLITIK?

    Belakangan ini, banyak video dan diskusi di media sosial yang menyebut Al-Qur’an sebagai sumber kekacauan, kekerasan, dan perang. Tuduhan semacam ini seringkali muncul dari pemahaman yang dangkal, bias, atau bahkan sengaja diselewengkan. Salah satu contoh yang bisa kita lihat adalah video di YouTube ini: https://youtu.be/wlrNuPAZjGc?si=ujpy7v-OmHu8zcU2. Dalam tulisan ini, saya ingin mencoba meluruskan beberapa mispersepsi tersebut.

    Sejarah membuktikan bahwa kitab suci, termasuk Al-Qur’an, sering menjadi sorotanโ€”baik sebagai panduan spiritual maupun alat yang diperdebatkan dalam konflik sosial dan politik. Namun, apakah benar Al-Qur’an menjadi penyebab kekacauan? Atau justru ia disalahpahami dan disalahgunakan untuk kepentingan politik tertentu?

    Jika kita melihat sejarah Islam, memang benar bahwa konflik dan kekerasan pernah terjadi, terutama di masa-masa awal. Peristiwa seperti pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan, perselisihan antara Khalifah Ali bin Abi Thalib dan Aisyah dalam Perang Jamal, hingga tragedi Karbala sering dijadikan “bukti” oleh pihak-pihak tertentu untuk menuduh bahwa Islam, atau bahkan Al-Qur’an, memiliki kaitan dengan kekerasan.

    Tetapi jika kita telaah lebih dalam, banyak sejarawan, baik Muslim maupun non-Muslim, sepakat bahwa konflik-konflik ini lebih banyak disebabkan oleh perebutan kekuasaan dan kepentingan politik suku-suku Arab pada masa itu. Karen Armstrong, seorang penulis dan sejarawan agama, dalam bukunya Muhammad: A Prophet for Our Time, menjelaskan bahwa konflik ini lebih mencerminkan dinamika politik pasca-wafatnya Nabi Muhammad daripada ajaran Al-Qur’an itu sendiri.

    Misalnya, Perang Jamal dan Perang Shiffin terjadi karena ambisi politik dan perbedaan kepentingan, bukan semata-mata karena perbedaan teologis. Memang benar bahwa ayat-ayat Al-Qur’an digunakan oleh kedua pihak untuk membenarkan tindakan mereka, tetapi pertanyaannya: apakah tindakan mereka benar-benar mencerminkan pesan Al-Qur’an?

    Salah satu ayat yang sering dikutip untuk menuduh bahwa Islam mendorong kekerasan adalah Surat At-Taubah: 5, yang berbunyi: “…perangilah orang-orang musyrik di mana saja kamu jumpai mereka…”. Jika hanya membaca ayat ini secara terpisah, tentu ayat ini terlihat seperti seruan untuk perang tanpa batas. Namun, pemahaman seperti ini sangat berbahaya karena mengabaikan konteks sejarahnya.

    Ayat ini diturunkan pada masa ketika umat Islam di Madinah menghadapi ancaman serius dari kaum musyrikin Mekkah yang berkali-kali melanggar perjanjian damai. Jadi, konteksnya adalah perang defensif, bukan seruan universal untuk membunuh siapa saja yang tidak seiman. Ulama seperti Imam Al-Qurtubi dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa ayat-ayat seperti ini bersifat kondisional dan tidak bisa dilepaskan dari konteksnya.

    Di sisi lain, ada banyak ayat dalam Al-Qur’an yang menyerukan perdamaian dan keadilan. Misalnya, Surat Al-Mumtahanah: 8 menyatakan:
    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak mengusirmu dari negerimu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.”

    Ayat ini menunjukkan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kebencian terhadap orang yang berbeda keyakinan, selama mereka tidak memusuhi umat Islam.

    Salah satu alasan mengapa Al-Qur’an sering dianggap kontroversial adalah karena sulit memisahkan agama dari politik, terutama dalam sejarah Islam. Islam lahir di tengah masyarakat Arab yang tribal, di mana agama, budaya, dan politik saling terkait erat. Al-Qur’an memberikan pedoman moral, tetapi bagaimana pedoman tersebut digunakan sangat bergantung pada niat para pemimpin.

    Misalnya, Dinasti Umayyah pada abad ke-7 sering menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk membenarkan kekuasaan mereka. Namun, praktik politik mereka, seperti nepotisme dan eksploitasi sumber daya, justru bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini kemudian memicu munculnya oposisi seperti kelompok Syiah, yang menilai bahwa Al-Qur’an telah disalahgunakan oleh penguasa.

    Di era modern, kelompok-kelompok ekstremis seperti ISIS juga menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk membenarkan kekerasan mereka. Namun, mayoritas ulama di seluruh dunia, termasuk ulama Al-Azhar, dengan tegas mengecam tindakan mereka sebagai penyimpangan dari ajaran Islam.

    Jadi, apakah benar Al-Qur’an adalah sumber kekacauan? Jawabannya bergantung pada bagaimana kita membaca dan memahaminya. Tanpa analisis yang mendalam tentang sejarah, konteks ayat, dan tujuan penggunaannya, mudah bagi orang untuk menyalahkan Al-Qur’an. Padahal, jika dipahami dengan benar, Al-Qur’an justru mengandung banyak pesan tentang perdamaian, keadilan, dan toleransi.

    Sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Asad dalam The Message of the Qur’an, Al-Qur’an adalah kitab yang menyerukan kesatuan dan kebaikan. Namun, ia juga dapat disalahgunakan oleh mereka yang punya agenda politik atau ambisi tertentu. Di sinilah pentingnya pendekatan yang adil dan hati-hati dalam memahami kitab suci ini.

    Pertanyaannya sekarang: apakah kita hanya akan menilai Al-Qur’an dari segelintir ayat yang dipahami secara salah? Atau kita mau membuka diri untuk memahami pesan sejatinya? Jawabannya ada pada niat dan usaha kita masing-masing.

    Tulisan ini mencoba menyoroti pentingnya membaca Al-Qur’an secara utuh dan dalam konteks yang benar. Tuduhan bahwa Al-Qur’an adalah sumber kekacauan lebih banyak mencerminkan kesalahpahaman atau penyalahgunaan daripada isi kitab itu sendiri. Mari kita berdiskusi dan memahami dengan lebih hati-hati, agar tidak terjebak pada prasangka.