Blog

  • Yazid bin Mu‘awiyah: Noda Sejarah Islam yang Tak Terhapuskan

    1. Latar Belakang

    Yazid bin Mu‘awiyah adalah khalifah kedua dari dinasti Umayyah. Ia naik tahta pada tahun 60 H menggantikan ayahnya, Mu‘awiyah bin Abi Sufyan. Penobatan Yazid menuai kontroversi karena dianggap menyalahi tradisi syura (musyawarah) yang berlaku sebelumnya. Banyak sahabat besar seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, dan terutama Husain bin ‘Ali, menolak baiat kepadanya.

    2. Tragedi Karbala (61 H)

    Penolakan Sayyidina Husain terhadap baiat Yazid berujung pada peristiwa tragis di Karbala, Irak, pada 10 Muharram 61 H. Dalam peristiwa ini:

    • Husain bin ‘Ali ra bersama keluarga dan pengikutnya yang sedikit dikepung oleh pasukan besar yang setia kepada Yazid.
    • Mereka ditahan dari air, didera kelaparan, dan akhirnya dibantai dengan kejam.
    • Husain ra syahid, bersama sebagian besar keluarganya, termasuk bayi yang masih menyusu.

    Peristiwa Karbala meninggalkan luka mendalam bagi umat Islam sepanjang sejarah.

    3. Kontroversi Pandangan Ulama

    • Sebagian ulama Sunni tidak menyalahkan Yazid secara langsung, karena ia dianggap tidak memerintahkan secara eksplisit pembunuhan Husain, melainkan kebijakan kejam gubernurnya, ‘Ubaidillah bin Ziyad. Namun, mereka tetap mengecam kelalaiannya.
    • Sebagian besar ulama lain menilainya bertanggung jawab karena sebagai khalifah, ia berkuasa penuh. Ibn Katsir, misalnya, menyebut Yazid sebagai penguasa yang zalim.
    • Ulama Syiah menempatkan Yazid sebagai simbol kezaliman terbesar dalam sejarah Islam.

    4. Yazid dan Noda Sejarah Islam

    Selain Karbala, Yazid juga dikaitkan dengan:

    • Peristiwa Al-Harrah (63 H): pasukan Yazid menyerang Madinah, membantai penduduk, dan merampas harta.
    • Penyerangan Ka‘bah (64 H): Ka‘bah dilempari manjaniq hingga rusak.

    Rangkaian tragedi ini mempertegas gambaran kelam pemerintahannya.

    5. Pelajaran Berharga

    • Bahaya kekuasaan tanpa syura: pemaksaan baiat Yazid menunjukkan bagaimana politik dinasti bisa menimbulkan konflik berdarah.
    • Kezaliman membawa bencana sejarah: meskipun Yazid berkuasa singkat (3 tahun), noda sejarahnya tetap diingat sepanjang zaman.
    • Syahidnya Husain ra: menjadi simbol abadi perlawanan terhadap tirani dan ketidakadilan.

    6. Penutup

    Yazid bin Mu‘awiyah mungkin sudah lama wafat, tetapi peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahannya, khususnya tragedi Karbala, menjadi noda sejarah Islam yang tak terhapuskan. Umat Islam bisa berbeda pandangan dalam menilai sosok Yazid, tetapi semua sepakat bahwa Husain bin ‘Ali adalah cucu kesayangan Nabi ﷺ yang terbunuh secara zalim, dan darah sucinya menjadi peringatan bagi generasi setelahnya untuk selalu berdiri melawan tirani.

  • 📖 Shalat sebagai Manifestasi Tertinggi dari Tauhid

    Oleh: Angga PPBU

    Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Segala amal ibadah seorang muslim berpangkal dari tauhid, yaitu pengesaan Allah ﷻ. Dari sekian banyak ibadah, shalat menempati posisi paling tinggi sebagai manifestasi tauhid, karena di dalamnya terkandung pengakuan, penghambaan, dan penyerahan diri sepenuhnya hanya kepada Allah.

    Allah berfirman:

    وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
    “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Ṭāhā: 14)

    • Rasulullah ﷺ bersabda: «رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلامُ، وَعَمُودُهُ الصَّلاةُ»
      “Pokok perkara (agama) adalah Islam, tiangnya adalah shalat.” (HR. Tirmidzi)
    • Shalat menjadi pembeda antara muslim dan kafir, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: «العَهْدُ الذي بيننا وبينهم الصلاة، فمَنْ تَرَكها فقد كفر»
      “Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, sungguh ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi, Nasa’i)
    1. Pengakuan Rubūbiyyah Allah
      • Dalam setiap takbir, seorang muslim mengagungkan Allah sebagai Rabb semesta alam.
      • Gerakan rukuk dan sujud adalah simbol ketundukan mutlak kepada-Nya.
    2. Ibadah hanya untuk Allah (Ulūhiyyah)
      • Shalat adalah ibadah murni, tidak boleh ditujukan kepada selain Allah.
      • Kalimat iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn (hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) adalah inti tauhid ulūhiyyah.
    3. Mengenal Asmā’ wa Ṣifāt Allah
      • Dalam doa dan bacaan shalat, seorang muslim menyebut nama-nama Allah yang indah: Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Ghafur, As-Sami‘, Al-Basir.
      • Hal ini menanamkan keyakinan bahwa Allah Maha Mendengar doa dan Maha Melihat amal hamba.
    • Mencegah kemungkaran: “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabūt: 45)
    • Menumbuhkan ikhlas dan khusyuk: shalat hanya untuk Allah, bukan untuk dipuji manusia.
    • Menguatkan kesabaran dan tawakal: shalat menghubungkan hati dengan Allah dalam suka maupun duka.

    Shalat bukan sekadar gerakan lahiriah, melainkan penegasan iman bahwa tiada Tuhan selain Allah. Seorang muslim yang menjaga shalatnya berarti menjaga tauhidnya. Karena itu, tidak berlebihan bila dikatakan bahwa shalat adalah manifestasi tertinggi dari tauhid dalam kehidupan seorang muslim.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    «أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ صَلَحَ سَائِرُ عَمَلِهِ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَسَدَ سَائِرُ عَمَلِهِ»
    “Amal yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalnya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)


  • 📖 Kajian: Tauhid dalam Kehidupan Muslim

    Oleh: Santri PPBU

    Secara bahasa, tauhid berarti “mengesakan”. Dalam istilah syariat, tauhid adalah meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah ﷻ adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya.

    Allah berfirman:

    وَإِلَـٰهُكُمْ إِلَـٰهٌ وَاحِدٌۖ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ
    “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)

    Para ulama membagi tauhid ke dalam tiga bentuk:

    1. Tauhid Rubūbiyyah
      Meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemilik, Pengatur alam semesta.
      👉 Contoh: yakin bahwa rezeki, hidup, mati, semua diatur Allah.
    2. Tauhid Ulūhiyyah
      Mengesakan Allah dalam ibadah; shalat, doa, zikir, hanya ditujukan kepada-Nya.
      👉 Contoh: tidak meminta kepada selain Allah dalam perkara yang hanya Allah kuasa memberi.
    3. Tauhid Asmā’ wa Ṣifāt
      Menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah sebagaimana dalam Al-Qur’an dan hadits, tanpa menolak, menyelewengkan, atau menyamakan dengan makhluk.
      👉 Contoh: meyakini Allah Maha Melihat, tetapi tidak sama dengan penglihatan manusia.
    • Fondasi iman: Tauhid adalah dasar agama Islam. Tanpa tauhid, amal tidak bernilai.
    • Sumber ketenangan: Orang bertauhid yakin bahwa hanya Allah tempat bergantung.
    • Penguat akhlak: Kesadaran tauhid menjadikan seorang muslim ikhlas, jujur, dan tidak mudah tergoda syirik.
    • Pemersatu umat: Umat Islam dipersatukan dengan kalimat tauhid lā ilāha illallāh.

    Tauhid tidak berhenti pada konsep, tetapi harus terwujud dalam kehidupan:

    • Ibadah murni kepada Allah: shalat tepat waktu, doa, zikir.
    • Bekerja dengan ikhlas: mencari nafkah sebagai ibadah, bukan sekadar materi.
    • Berani menolak syirik & bid‘ah: tidak bergantung pada jimat, ramalan, atau kekuatan selain Allah.
    • Sabar dan tawakal: menerima takdir dengan ridha, tetap berusaha sebaik-baiknya.

    Tauhid adalah cahaya yang membimbing hidup seorang muslim. Dengan tauhid, seorang hamba akan selamat dunia dan akhirat. Rasulullah ﷺ bersabda:

    «مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ»
    “Barangsiapa mengucapkan ‘lā ilāha illallāh’, maka ia akan masuk surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

  • 📖 Kajian: Amar Ma‘rūf Nahi Munkar dalam Perspektif Hadits

    Amar ma‘rūf nahi munkar adalah salah satu kewajiban pokok dalam Islam, yang menegakkan moralitas individu dan menjaga ketertiban sosial. Rasulullah ﷺ menekankan pentingnya peran umat Islam dalam mencegah kemungkaran, baik dengan tangan, lisan, maupun hati. Hadits-hadits terkait menunjukkan bahwa meninggalkan kewajiban ini dapat mengundang azab Allah secara kolektif.

    1. Hadits Abu Sa‘id al-Khudri (HR. Muslim)

    «مَن رَأَى مِنكُم مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِن لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِن لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ»
    Artinya: Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu, dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.

    1. Hadits riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad

    «إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»
    Artinya: Sesungguhnya jika manusia melihat orang zalim lalu mereka tidak mencegahnya, hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya kepada mereka semua.

    1. Redaksi lain

    «مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلَمْ يُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ يُوشِكُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَعُمَّهُ بِعِقَابٍ»
    Artinya: Barangsiapa melihat kemungkaran lalu tidak mengubahnya dengan tangannya, hampir saja Allah akan meratakan azab-Nya.

    1. Kewajiban Amar Ma‘rūf Nahi Munkar
      • Hadits Muslim menegaskan bahwa setiap muslim wajib menolak kemungkaran sesuai kemampuannya.
      • Urutan tangan → lisan → hati menunjukkan tingkatan daya upaya.
    2. Konsekuensi Sosial jika Diabaikan
      • Hadits Abu Dawud dan Tirmidzi mengingatkan: bila kemungkaran dibiarkan, azab Allah tidak hanya menimpa pelaku maksiat, tapi juga masyarakat yang pasif.
      • Ini menekankan tanggung jawab kolektif.
    3. Dimensi Iman
      • Menolak kemungkaran adalah bukti iman.
      • Diam terhadap kemungkaran hanya boleh pada level qalbī (hati), itu pun tanda lemahnya iman.
    4. Aspek Keadilan Sosial
      • Hadits tentang orang zalim menegaskan bahwa amar ma‘rūf nahi munkar tidak hanya pada skala pribadi, tapi juga pada kezaliman sosial-politik.
      • Mencegah kezaliman adalah benteng agar umat tidak hancur secara kolektif.
    • Individu: menjaga diri dari maksiat.
    • Masyarakat: tercipta kontrol sosial Islami.
    • Negara: pemimpin dan rakyat sama-sama punya tanggung jawab amar ma‘rūf nahi munkar.
    • Spiritual: meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri kepada Allah.

    Hadits-hadits Nabi ﷺ menunjukkan bahwa amar ma‘rūf nahi munkar:

    1. Merupakan kewajiban umat Islam dengan tingkatan sesuai kemampuan.
    2. Menjadi indikator kekuatan iman seseorang.
    3. Bila ditinggalkan, mendatangkan azab kolektif dari Allah.
    4. Harus diterapkan dalam skala pribadi, sosial, dan struktural.
    • Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Iman.
    • Abu Dawud, Sunan Abu Dawud.
    • Tirmidzi, Sunan at-Tirmidzi.
    • Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah.
    • Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad.
  • Bisnis Pendidikan: Mengajar Satu Jiwa, Mengubah Seribu Dunia

    Oleh: Guru PPBU

    Ada “bisnis” yang tak pernah masuk neraca keuangan, tetapi menentukan naik-turunnya sebuah bangsa: pendidikan. Kita sering menyebutnya layanan publik, tugas negara, atau urusan orang tua. Tetapi bila “bisnis” dimaknai sebagai upaya paling serius manusia untuk menanam, merawat, dan memanen masa depan—maka bisnis terbesar kita adalah mencetak generasi. Setiap kelas adalah pabrik masa depan, setiap buku adalah mesin kecil perubahan, dan setiap guru adalah investor utama yang menanamkan modal paling mahal: kepercayaan, pengetahuan, dan nilai.

    Masalahnya, kata “bisnis” kerap membuat dahi berkerut. Kita takut sekolah jadi pasar, anak jadi komoditas, guru jadi operator target. Kekhawatiran itu ada benarnya. Komersialisasi pendidikan yang tak beretika bisa mengubah belajar menjadi transaksi: bayar-semoga naik nilai. Namun menolak model bisnis sama sekali juga keliru. Pendidikan butuh perencanaan, pembiayaan berkelanjutan, tata kelola yang rapi, indikator mutu, dan akuntabilitas—semua unsur yang lazim dalam bisnis yang sehat. Bedanya, tujuan akhirnya bukan laba finansial, melainkan laba peradaban.

    Keuntungan pendidikan tampil dalam tiga lapis. Pertama, keuntungan personal: anak yang belajar dengan benar tumbuh percaya diri, melek literasi-numerasi, cakap sosial, dan siap belajar sepanjang hayat. Kedua, keuntungan sosial: kohesi komunitas menguat, intoleransi menyusut, partisipasi warga membaik. Ketiga, keuntungan ekonomi: produktivitas naik, inovasi tumbuh, dan jurang kesenjangan bisa dipersempit. Anehnya, bagian paling menentukan justru yang paling sulit diukur: rasa ingin tahu, empati, integritas. Inilah dividen tak terlihat yang menahan rapuhnya masyarakat.

    Kalau begitu, seperti apa “model bisnis” pendidikan yang bermartabat?

    1. Guru sebagai aset utama
      Tak ada sekolah bagus tanpa guru yang terus bertumbuh. Gaji layak, pengembangan profesional berkesinambungan, ruang otonomi di kelas, dan budaya refleksi harus jadi prioritas. Investasi pada guru bukan biaya, melainkan mesin ROI jangka panjang. Kita sering tergoda membeli perangkat baru—padahal perangkat terbaik tetap manusia yang dimampukan.
    2. Kurikulum yang relevan dan bermakna
      Anak butuh fondasi kokoh (literasi, numerasi, sains) sekaligus kompas moral (karakter, empati, kejujuran) dan peta zaman (kewargaan digital, literasi data, kepekaan ekologi, wirausaha sosial). Kurikulum tidak boleh sibuk mengejar hafalan, lalu lupa menyalakan rasa ingin tahu. Belajar mestinya bergerak dari buku ke kehidupan: proyek, riset kecil, kerja tim, pemecahan masalah nyata di lingkungan.
    3. Ekosistem kolaboratif: sekolah–keluarga–komunitas–dunia usaha
      Anak tumbuh dalam kampung, bukan dalam ruang hampa. Orang tua, organisasi masyarakat, perpustakaan publik, UMKM, perguruan tinggi, dan perusahaan dapat menjadi mitra. Magang yang bermartabat, kelas inspirasi, adopsi perpustakaan, atau laboratorium hidup di desa adalah wujud kolaborasi yang masuk akal. Boleh menggandeng industri, tetapi garis etiknya jelas: anak bukan target penjualan.
    4. Teknologi sebagai alat pembebas, bukan pengganti guru
      Platform belajar, analitik sederhana, dan konten digital bisa memperluas akses dan mempersonalisasi pembelajaran. Namun teknologi tanpa pedagogi hanya menjadi layar terang tanpa makna. Prinsipnya: inklusif, hemat, aman data, dan relevan. Kita ingin anak melek digital, bukan kecanduan gawai; kritis terhadap informasi, bukan tenggelam dalam pusaran algoritma.
    5. Pembiayaan berkeadilan dan transparan
      Pendidikan yang baik butuh dana yang cukup dan pasti. Di sinilah skema campuran bisa bekerja: alokasi publik yang kuat, beasiswa berbasis kebutuhan, endowment sekolah, gotong royong alumni, kemitraan yang etis. Kuncinya transparansi: masyarakat berhak tahu ke mana setiap rupiah pergi dan apa dampaknya terhadap mutu belajar.
    6. Budaya mutu yang manusiawi
      Mutu perlu diukur, tetapi jangan menjadikan angka sebagai satu-satunya kompas. Gunakan asesmen formatif yang menuntun, bukan menghukum. Pantau kemajuan murid, dukung yang tertinggal, rayakan proses, bukan sekadar puncak nilai. Di banyak tempat, satu-satunya hal yang dibutuhkan anak untuk maju hanyalah seorang dewasa yang percaya pada potensinya.

    Apa yang menghalangi? Tiga jebakan klasik. Pertama, mentalitas proyek: semangat di awal, habis dana—habislah cerita. Kedua, kosmetik digital: beli perangkat mahal, pakai seminggu, lalu terkunci di lemari. Ketiga, kultus ranking: mengejar peringkat hingga lupa substansi belajar. Tiga-tiganya bisa diatasi bila kepemimpinan sekolah tegas memegang nilai, pemerintah konsisten pada kebijakan yang melindungi yang paling rentan, dan masyarakat ikut mengawasi serta terlibat.

    Lalu apa yang bisa kita lakukan mulai besok pagi?

    • Kepala sekolah: alihkan rapat yang bertele-tele menjadi komunitas belajar guru; satu jam latihan mengajar lebih berharga daripada sepuluh slide rencana.
    • Pemerintah daerah: pastikan anggaran menyentuh ruang kelas—bukan hanya pagar dan spanduk. Targetkan literasi dasar, pelatihan guru, dan perpustakaan hidup.
    • Dunia usaha: sisihkan sebagian keuntungan untuk program literasi, beasiswa berbasis kebutuhan, dan kelas keterampilan yang tidak menggiring anak menjadi pekerja murah, melainkan warga yang cakap.
    • Orang tua: jadikan rumah sebagai “kampus kecil”—rutinkan membaca bersama, berbincang, bertanya. Internet di rumah bisa menjadi jendela dunia, selama ada kompas nilai.
    • Guru: rawat rasa ingin tahu. Tugas guru bukan menjawab semua pertanyaan, tetapi mengajarkan cara bertanya yang lebih baik.

    Pada akhirnya, pendidikan adalah bisnis kepercayaan. Kita menanam hari ini, memanen bertahun-tahun kemudian, kadang bukan kita yang menikmati hasilnya. Itulah sebabnya ia pekerjaan terdalam sekaligus paling mulia. Mengajar satu jiwa berarti menyalakan seribu lampu kecil yang akan menerangi lorong-lorong yang tak pernah kita datangi. Dan ketika cukup banyak lampu menyala, kita menyebutnya peradaban.

    Bisnis pendidikan? Ya—selama kita sepakat bahwa laba terbesarnya adalah manusia yang utuh: cerdas, beradab, dan peduli. Mengajar satu jiwa, mengubah seribu dunia.

  • Jual Beli Pendidikan Bukan tentang Uang, Melainkan Investasi Masa Depan

    Oleh: Guru PPBU

    Kata “jual beli” dalam pendidikan sering bikin kening berkerut. Seolah-olah anak jadi komoditas, guru jadi sales, sekolah jadi etalase. Kekhawatiran itu wajar—komersialisasi liar bisa mengubah belajar menjadi transaksi dingin: bayar, dapat nilai. Namun kalau kita mau jujur, selalu ada pertukaran dalam pendidikan: orang tua mengalokasikan waktu, tenaga, dan dana; guru mempersembahkan keahlian dan kepedulian; sekolah membangun ekosistem. Uang mungkin ikut mengalir, tapi yang sebenarnya “dibeli” adalah masa depan. Harga dibayar hari ini; nilainya menuai puluhan tahun kemudian.

    Pendidikan seperti menanam kebun. Benihnya ilmu, tanahnya karakter, airnya kasih sayang, sinarnya teladan. Tidak ada panen semalam. Karena itu, kacamata yang tepat bukan “berapa biayanya,” melainkan “apa yang tumbuh darinya.” Di titik ini, frasa “jual beli pendidikan” perlu kita balik maknanya: bukan pasar gelap mimpi orang tua, melainkan mekanisme sehat untuk memastikan sumber daya—uang, waktu, perhatian—bertemu dengan kualitas pembelajaran yang benar.

    Yang membuat pendidikan bernilai bukan gedung kinclong atau brosur glossy, tetapi hal-hal yang sering tak tercetak di pamflet: seorang guru yang sabar mendampingi anak yang tertinggal; perpustakaan yang hidup; asesmen yang menuntun, bukan menghukum; lingkungan yang aman, bebas perundungan. Inilah aset-aset yang menghasilkan dividen jangka panjang: rasa ingin tahu, daya tahan, empati, integritas. Sulit diukur, tetapi tanpa itu, angka-angka rapor hanyalah kulit.

    Masalahnya, ketika pendidikan diperlakukan murni sebagai komoditas, kita tergoda membeli ilusi—paket kilat, ranking instan, gawai mahal—lalu lupa pada proses. Kita mengejar hasil cepat dan murah, padahal yang kita butuhkan adalah hasil bermakna dan tahan lama. Pendidikan yang baik memang memerlukan biaya, tetapi biaya terbesar justru berada pada hal-hal tak terlihat: waktu refleksi guru, pelatihan berkelanjutan, kurikulum yang relevan, bimbingan konseling yang peka, kolaborasi dengan orang tua dan komunitas. Itu semua bukan “ongkos tambahan,” melainkan inti investasi.

    Mari konkret. Dua sekolah sama-sama memasang iuran. Yang satu menghabiskan dana untuk gerbang megah dan spanduk prestasi; yang lain menyalurkannya ke pelatihan pedagogi, perpustakaan, laboratorium sederhana, program literasi dan numerasi yang serius, serta pendampingan orang tua. Dua atau tiga tahun kemudian, bedanya terasa: di sekolah kedua, anak lebih berani bertanya, lebih tahan menghadapi masalah, dan guru lebih percaya diri meracik pembelajaran. Biayanya mungkin mirip, tetapi ROI peradabannya jelas berbeda.

    Bagaimana agar “jual beli” ini tetap bermartabat dan benar-benar menjadi investasi masa depan?

    • Pertama, anak bukan objek, melainkan subjek. Semua keputusan harus bertanya: apakah ini memperluas kesempatan belajar anak, memperkuat karakternya, melindungi keselamatannya? Jika tidak, berhenti di situ.
    • Kedua, guru adalah aset utama. Gaji yang layak dan pengembangan profesional bukan kemurahan hati, melainkan mesin pengganda kualitas. Perangkat canggih tak akan menolong bila manusia di kelas merasa kecil dan lelah.
    • Ketiga, transparansi itu wajib. Masyarakat berhak tahu ke mana uang mengalir dan apa dampaknya terhadap mutu pembelajaran. Papan skor yang jujur mendorong perbaikan, bukan sekadar pencitraan.
    • Keempat, teknologi seperlunya, pedagogi seutuhnya. Gawai hanyalah alat; yang membebaskan adalah cara menggunakannya. Prinsipnya inklusif, aman, relevan.
    • Kelima, pembiayaan berkeadilan. Jangan biarkan kualitas tergantung tebal-tipis dompet. Skema beasiswa berbasis kebutuhan, gotong royong alumni, dan dukungan publik mesti memastikan talenta tak tersaring oleh harga.

    Peran setiap pihak berbeda tetapi saling mengunci. Pemerintah memastikan fondasi: guru berkualitas, kurikulum yang bermakna, anggaran yang menyentuh ruang kelas. Sekolah mengelola dengan nilai: budaya belajar yang hangat, asesmen yang humanis, kepemimpinan yang konsisten. Dunia usaha berkontribusi dengan etika: beasiswa, kelas inspirasi, magang yang mendidik—bukan menjadikan murid target pasar. Orang tua menanamkan kebiasaan: membaca bersama, berdialog, memberi teladan. Dan kita semua, sebagai warga, menjaga agar percakapan tentang pendidikan tak mandek pada biaya, tetapi naik kelas menjadi percakapan tentang nilai.

    Pada akhirnya, ini soal keberanian menunda gratifikasi. Kita menanam hari ini, memetik esok, mungkin bukan kita yang menikmati buahnya. Tapi begitulah investasi paling mulia bekerja. Kota-kota yang ramah, ekonomi yang tangguh, demokrasi yang dewasa—semuanya lahir dari ruang-ruang belajar yang menumbuhkan manusia utuh.

    Jadi, ketika kita berkata “jual beli pendidikan,” mari kita sepakati: yang dipertukarkan bukan hanya rupiah, tetapi kepercayaan; yang diukur bukan hanya kelulusan, tetapi keluhuran; yang dicari bukan sekadar nilai, tetapi nilai-nilai. Uang hanyalah alat. Masa depan—itu tujuan. Dan setiap kali ada satu anak yang berani bertanya “kenapa” dan terus mencari “bagaimana,” di situlah investasi itu mulai berbunga.

  • Strategi Pengembangan Pendidikan Pesantren: Berakar pada Tradisi, Melaju ke Masa Depan

    Pesantren adalah ekosistem pendidikan yang tumbuh dari tanah air sendiri: berakar pada tradisi keilmuan turath, bernafas dakwah, dan berpijak pada pemberdayaan masyarakat. Tantangannya hari ini kian kompleks—disrupsi digital, dinamika ekonomi, hingga tuntutan inklusivitas—namun ruhnya tetap sama: mencetak manusia berilmu, beradab, dan berdaya. Kuncinya bukan meninggalkan tradisi, melainkan menenun ulang tradisi dengan kecakapan zaman.[1][2][3]

    1. Kurikulum integratif-transformatif
    • Satukan tafaqqquh fi al-din (tafsir, fikih, ushul) dengan sains, literasi data, kewargaan digital, dan etika lingkungan. Rancang berbasis maqashid syariah agar relevansi kurikulum terjaga lintas konteks.
    • Terapkan project- dan inquiry-based learning berbasis masalah riil pesantren/desa (mis. sanitasi, ekonomi halal, mitigasi bencana).[2][3][11]
    1. Pemetaan jalur dan profil lulusan
    • Selaraskan desain program dengan pengakuan negara atas fungsi pesantren: pendidikan (diniyah formal, muadalah, ma’had aly), dakwah, dan pemberdayaan.[1]
    • Definisikan profil lulusan: ulama-riset, pendidik, wirausaha sosial, dan pemimpin komunitas; turunkan ke capaian pembelajaran per jenjang.
    1. Profesionalisasi guru/ustaz
    • Kembangkan pelatihan rutin: pedagogi-andragogi, microteaching, asesmen formatif, dan manajemen kelas berbasis kasih sayang.
    • Bangun komunitas belajar guru lintas pesantren; dorong mentoring, lesson study, dan refleksi praktik mengajar.[4]
    1. Penjaminan mutu berbasis nilai
    • Terapkan siklus PDCA dan prinsip TQM untuk mutu pembelajaran, asrama, dan layanan santri. Tetapkan standar minimal (input–proses–output–outcome), audit internal berkala, dan tracer study alumni untuk umpan balik.[5]
    1. Ekosistem riset turath dan literasi ilmiah
    • Hidupkan halaqah riset: takhrij, tahqiq, dan syarah tematik yang menautkan kitab kuning dengan isu kontemporer (keuangan syariah mikro, etika AI, perubahan iklim).
    • Bangun jurnal/working paper pesantren serta perpustakaan digital kitab dan referensi modern; kemitraan dengan kampus untuk pendampingan metodologi.[6][1]
    1. Transformasi digital yang beretika
    • Adopsi LMS open-source, repositori materi, dan perangkat asesmen digital sederhana; lengkapi dengan pedoman adab bermedia dan keamanan siber.
    • Tingkatkan kompetensi TIK pendidik sesuai kerangka UNESCO (perencanaan, pengajaran, evaluasi berbasis TIK).[7]
    1. Kemandirian ekonomi dan wirausaha sosial
    • Integrasikan kewirausahaan sosial ke kurikulum: koperasi santri, agroteknologi ramah lingkungan, kuliner sehat, atau unit halal value chain. Kelola wakaf produktif untuk menopang beasiswa dan riset.[1][8]
    1. Kemitraan multipihak (triple helix)
    • Bentuk kemitraan strategis dengan perguruan tinggi (riset dan peningkatan kapasitas), industri halal (magang, penyerapan lulusan), dan pemerintah daerah (program pemberdayaan desa).[9]
    1. Inklusivitas, ramah anak, dan kesetaraan gender
    • Pastikan akses santri putra–putri, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan melalui fasilitas, kurikulum, serta SOP anti-perundungan dan mekanisme pelaporan yang aman.[10][13]
    1. Pesantren hijau
    • Terapkan ESD: konservasi air, pengelolaan sampah, kebun pangan pesantren, dan energi surya skala kecil sebagai laboratorium hidup integrasi sains–fikih lingkungan.[11]
    1. Tata kelola dan kepatuhan regulasi
    • Susun rencana strategis 5 tahun, anggaran berbasis program, transparansi keuangan, serta dewan penasehat yang melibatkan kiai, nyai, profesional, dan alumni. Penuhi standar pendirian/penyelenggaraan sesuai regulasi Kemenag.[12]
    1. Kesejahteraan dan perlindungan santri
    • Prioritaskan layanan kesehatan, gizi, kesehatan mental, dan perlindungan anak; latih seluruh pengasuh pada pencegahan kekerasan dan penanganan insiden yang berperspektif korban.[13]
    1. Moderasi beragama dan jejaring global
    • Perkuat kurikulum moderasi beragama, literasi mazhab, dan dialog lintas iman. Kembangkan program pertukaran/kolaborasi riset dengan jaringan pesantren dan lembaga Islam di ASEAN–Timur Tengah.[14]
    • 0–12 bulan: audit kebutuhan, pelatihan inti guru, uji coba modul integratif, SOP perlindungan santri, dan kemitraan awal.
    • 1–3 tahun: perluas kurikulum integratif, operasionalisasi LSM/LMS, kembangkan unit usaha sosial, dan jalankan penjaminan mutu.
    • 3–5 tahun: konsolidasi ekosistem riset, internasionalisasi program unggulan, dan replikasi praktik baik ke jejaring pesantren.

    Akhirnya, kekuatan pesantren ada pada harmoni antara khidmah kepada ilmu, kasih sayang dalam asuhan, dan ketangguhan dalam pelayanan masyarakat. Dengan strategi yang rapi namun lentur, pesantren bukan hanya mampu bertahan—ia memimpin perubahan dengan akhlak.

  • Fabel: Ketika Cermin Jiwa Retak

    Oleh: Seniman PPBU

    Di sebuah desa yang tersembunyi di kaki bukit hijau, setiap penduduk memiliki sebuah cermin istimewa. Bukan cermin biasa, melainkan Cermin Jiwa. Bila seorang melihatnya, bukan wajah yang tampak, melainkan bayangan hatinya: kebaikan, kelembutan, keberanian, juga kejujuran. Dengan cermin itulah para penduduk belajar mengenal diri mereka, dan saling menghargai satu sama lain.

    Awalnya, desa itu tenteram. Setiap pagi, orang-orang tersenyum melihat kilauan kasih sayang dalam diri mereka sendiri. Mereka membantu tetangga tanpa pamrih, karena cermin selalu mengingatkan bahwa kebaikan adalah cahaya yang memperindah jiwa.

    Namun, seiring waktu, benih kecil iri hati mulai tumbuh. Seekor Burung Merak yang indah merasa tersinggung ketika Cermin Jiwanya memantulkan kesombongan kecil di balik sayapnya. Ia tak ingin orang lain melihatnya. Lalu seekor Kelinci, yang rajin bekerja di ladang, merasa sakit hati saat tahu Cermin Jiwanya memperlihatkan rasa malas tersembunyi yang tidak disadarinya. “Mengapa ada noda dalam bayangan dirinya, sementara tetangga tampak bersinar begitu terang?” gumamnya.

    Satu per satu, para penduduk desa mulai saling curiga. Setiap kali mereka menatap cermin sendiri, bukannya belajar memperbaiki diri, mereka sibuk membandingkan dengan milik tetangga.

    “Cerminku retak! Pasti karena kau menjelek-jelekkanku diam-diam!” kata seekor Kambing pada Ayam tetangganya.

    “Tidak! Justru engkaulah yang membuat hatiku muram, hingga cermin ini mulai pecah!” balas Ayam.

    Dan benar saja, retakan-retakan kecil bermunculan di setiap Cermin Jiwa. Dari seberkas garis halus, lambat laun menjadi pecahan menyilang. Hingga akhirnya, tak ada seorang pun yang bisa lagi melihat pantulan kebaikan dalam dirinya. Yang tampak hanyalah bayangan kusam penuh iri, amarah, dan kesedihan. Desa yang dulu hangat berubah dingin. Saling senyum berganti tatapan curiga. Permusuhan menggantikan persaudaraan.

    Namun, di sudut desa, seekor Rusa Tua masih menyimpan sepotong kecil Cermin Jiwa yang belum retak. Setiap malam, ia menatapnya dalam diam. Walau bayangan kebaikannya hanya seberkas cahaya kecil, itu cukup untuk mengingatkan: “Retakan ini datang bukan karena cermin, melainkan dari hati kita sendiri.”

    Keesokan harinya, Rusa Tua mengundang penduduk berkumpul. Ia meletakkan cermin kecil itu di tengah lingkaran. “Lihatlah, masih ada kilau yang tersisa,” katanya dengan tenang. “Bila kita berhenti memandang keburukan tetangga, bila kita kembali merawat jiwa sendiri, cermin-cermin itu dapat pulih.”

    Awalnya mereka ragu. Tapi ketika satu demi satu mencoba, sesuatu terjadi: retakan di cermin mereka mulai menyatu, perlahan-lahan menyembuhkan diri. Ternyata, obatnya bukan menyalahkan orang lain, melainkan menumbuhkan welas asih dari dalam hati.

    Sejak hari itu, penduduk desa belajar pelajaran pahit: Cermin Jiwa bukan sekadar benda, melainkan penjaga batin. Ia akan retak jika jiwa dipenuhi iri, namun akan bersinar kembali bila hati dipenuhi kasih.

    Pesan Moral:
    Iri hati dan kebencian hanya akan memecahkan kebaikan dalam diri kita sendiri. Jika kita mampu melihat cermin hati dengan jujur, memperbaiki diri tanpa menyalahkan orang lain, maka cahaya kebaikan akan kembali bersinar—baik untuk diri sendiri maupun bagi sekitar.

  • Makna Ruh dalam Al-Qur’an

    Oleh : Khalisa AJM

    Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam memuat banyak konsep mendasar tentang manusia dan kehidupan. Salah satu konsep penting adalah tentang ruh. Allah menyebut istilah rūḥ dalam berbagai konteks, baik berhubungan dengan penciptaan manusia, turunnya wahyu, maupun sebagai makhluk ghaib yang misterius. Hakikat ruh merupakan salah satu rahasia Allah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-Isrā’ [17]: 85.

    Kajian ini bertujuan untuk menelusuri makna ruh dalam Al-Qur’an, dengan merujuk pada beberapa ayat serta penafsiran para ulama, agar memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang kedudukannya dalam kehidupan manusia.


    1. Etimologi Ruh

    Kata rūḥ berasal dari akar kata r-w-ḥ yang bermakna kelembutan, kesejukan, dan kehidupan. Dari akar yang sama lahir kata rīḥ (angin). Secara terminologi, rūḥ dipahami sebagai unsur halus ciptaan Allah yang dengannya manusia hidup.

    2. Penyebutan Ruh dalam Al-Qur’an

    Al-Qur’an menyebut kata rūḥ dalam beragam makna sesuai konteks ayat:

    a. Ruh sebagai sumber kehidupan manusia

    • QS. al-Hijr [15]:29: “Apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”
      👉 Makna: ruh sebagai tiupan Ilahi yang menghidupkan jasad.

    b. Ruh sebagai wahyu (al-Qur’an)

    • QS. asy-Syūrā [42]:52: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (al-Qur’an) dari perintah Kami…”
      👉 Makna: ruh sebagai petunjuk yang menghidupkan hati.

    c. Ruh al-Qudus (Malaikat Jibril)

    • QS. an-Nahl [16]:102: “Ruh al-Qudus menurunkan al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar…”
      👉 Makna: ruh adalah Jibril sebagai pembawa wahyu.

    d. Ruh sebagai rahasia Ilahi

    • QS. al-Isrā’ [17]:85: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.”
      👉 Makna: hakikat ruh adalah misteri yang tidak dapat dicapai sepenuhnya oleh akal manusia.

    3. Penafsiran Ulama

    • Ibn Katsīr: ruh memiliki banyak makna; bisa berarti Jibril, wahyu, atau jiwa manusia.
    • Al-Rāzī: ruh adalah sesuatu yang lembut dan tidak bisa ditangkap oleh indra, namun menjadi sebab hidupnya jasad.
    • Al-Qurṭubī: ayat al-Isrā’:85 menegaskan keterbatasan manusia dalam memahami rahasia Allah.

    4. Dimensi Filosofis dan Spiritual

    • Ruh adalah anugerah Ilahi yang menjadikan manusia mulia.
    • Ruh melambangkan kesadaran dan spiritualitas, sementara jasad melambangkan fisik.
    • Ruh juga dipakai sebagai simbol wahyu yang menghidupkan hati, sebagaimana ruh menghidupkan jasad.

    1. Makna ruh dalam Al-Qur’an bersifat multiinterpretatif:
      • Nafas kehidupan manusia.
      • Wahyu yang menghidupkan hati.
      • Malaikat Jibril sebagai pembawa risalah.
      • Rahasia Allah yang hakikatnya tidak diketahui manusia.
    2. Ruh adalah unsur pokok dalam keberadaan manusia, sekaligus simbol penting dalam pemahaman spiritual.
    3. Hakikat ruh tetap menjadi rahasia Ilahi yang hanya diketahui Allah, tetapi keberadaannya menjadi dasar bagi kehidupan jasmani dan rohani manusia.

    • Al-Qur’an al-Karīm.
    • Ibn Katsīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
    • Al-Qurṭubī, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān.
    • Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb.
    • M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah.