Category: Blog

  • Analisis Komprehensif Pengaruh Ponsel Cerdas terhadap Kesehatan Mental dan Fisik Remaja Indonesia

    (Diolah dari berbagai sumber)

    1.1 Latar Belakang Masalah: Lanskap Digital Remaja Indonesia

    Di era digital yang semakin maju, ponsel pintar berbasis Android telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, terutama di kalangan remaja. Perangkat ini menyediakan akses instan ke informasi, hiburan, dan konektivitas sosial yang luas. Namun, seiring dengan penetrasi teknologi yang pesat, muncul kekhawatiran serius mengenai dampaknya terhadap kesehatan mental dan fisik generasi muda. Laporan dari berbagai sumber menunjukkan bahwa Indonesia berada di jajaran teratas negara dengan durasi waktu layar harian tertinggi secara global, dengan rata-rata masyarakatnya menghabiskan sekitar 5,7 jam per hari di depan layar pada tahun 2022.1 Data ini diperkuat oleh Kominfo yang mencatat 89% dari 167 juta penduduk Indonesia telah menggunakan ponsel pintar, dengan persentase penggunaan di kelompok usia remaja mencapai lebih dari 50%.3 Bahkan, paparan terhadap perangkat digital dimulai sejak usia sangat muda, di mana Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024 melaporkan 39,71% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler.4

    Fenomena ini menjadi semakin krusial ketika dikaitkan dengan data prevalensi masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Kementerian Kesehatan dan UNICEF Indonesia (2022) mencatat bahwa 15,5 juta (34,9%) remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.1 Besarnya angka ini menunjukkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan bukanlah sekadar masalah kebiasaan individual, melainkan sebuah isu kesehatan masyarakat yang sistemik, memerlukan analisis mendalam dan solusi terstruktur dari berbagai pihak. Laporan ini disusun untuk memberikan pemahaman yang komprehensif dan berbasis bukti mengenai hubungan antara penggunaan ponsel Android dan kondisi kesehatan mental dan fisik remaja, yang pada gilirannya dapat menginformasikan perumusan strategi penanganan yang efektif.

    1.2 Tujuan dan Ruang Lingkup Laporan

    Laporan ini memiliki tujuan utama untuk menganalisis secara mendalam dampak komprehensif, baik negatif maupun positif, dari penggunaan ponsel pintar terhadap kesehatan mental dan fisik remaja di Indonesia. Ruang lingkup laporan ini mencakup:

    1. Analisis mendalam terhadap dampak negatif, meliputi kecanduan, gangguan mental seperti kecemasan dan depresi, serta masalah fisik seperti gangguan penglihatan dan postur tubuh.
    2. Pemaparan dampak positif, seperti peran ponsel pintar sebagai alat pendidikan, fasilitator komunikasi, dan media untuk kreativitas.
    3. Perumusan rekomendasi holistik yang berorientasi pada kesejahteraan digital, ditujukan untuk berbagai pemangku kepentingan, termasuk remaja, orang tua, sekolah, dan pemerintah.

    Laporan ini dirancang untuk menjadi sumber referensi yang kredibel bagi para peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, praktisi kesehatan, dan orang tua dalam upaya bersama untuk membimbing generasi muda Indonesia agar dapat menavigasi dunia digital dengan cara yang sehat, bijaksana, dan produktif.

    2.1 Kerangka Konseptual: Mendefinisikan Ketergantungan dan Kesejahteraan Digital

    Untuk memahami secara mendalam pengaruh ponsel cerdas, penting untuk mendefinisikan konsep-konsep kunci yang relevan. Kecanduan gadget atau smartphone didefinisikan sebagai kondisi di mana individu kehilangan kendali diri terhadap penggunaan perangkat, yang ditandai dengan gejala seperti menarik diri dari lingkungan sosial dan kesulitan mengendalikan emosi.5 Prevalensi kecanduan ini sangat mengkhawatirkan di Indonesia. Sebuah penelitian menemukan bahwa 61% remaja di salah satu SMA di Bandung Barat mengalami ketergantungan pada handphone, sementara hanya 39% yang tidak.7 Data lain menunjukkan bahwa lebih dari 19% remaja di Indonesia diketahui mengalami kecanduan gawai, sebuah angka yang diperoleh dari survei di 34 provinsi.2

    Fenomena lain yang sangat terkait adalah Nomophobia, sebuah istilah yang merupakan singkatan dari no mobile phone phobia, atau ketakutan ekstrem saat terpisah dari ponsel.9 Remaja yang mengalami nomophobia merasa seolah-olah mereka kehilangan bagian penting dari identitas diri dan kemampuan untuk berkomunikasi.9 Penelitian di Yogyakarta dan Bandung menemukan prevalensi nomophobia tingkat sedang hingga berat yang sangat tinggi, dengan 71% siswa berada dalam rentang tersebut di Yogyakarta dan 42.9% di Bandung mengalami nomophobia berat.9

    Laporan ini menggunakan kerangka Kesejahteraan Digital (Digital Well-being) sebagai lensa untuk menganalisis dan merumuskan solusi. Kesejahteraan digital didefinisikan sebagai pengalaman subjektif dalam mencapai keseimbangan optimal antara manfaat dan kerugian yang diperoleh dari konektivitas online.11 Pendekatan ini mengakui bahwa teknologi bukanlah musuh yang harus dihindari, melainkan sebuah alat yang penggunaannya harus dikelola secara bijaksana dan bertanggung jawab.

    2.2 Statistik Kunci Penggunaan HP Android pada Remaja Indonesia

    Data kuantitatif merupakan fondasi penting dalam laporan ini, memberikan gambaran yang jelas mengenai skala masalah yang dihadapi. Analisis data dari berbagai sumber menghasilkan tabel berikut yang mengilustrasikan kondisi penggunaan dan ketergantungan ponsel pintar di kalangan remaja Indonesia.

    Tabel 1: Data Prevalensi Penggunaan dan Ketergantungan Smartphone pada Remaja Indonesia

    Data KunciAngka/PersentaseSumber Data
    Rata-rata Durasi Harian5,7 jam/hari1
    Prevalensi Kecanduan Gadget/Internet>19% (nasional), 61% (studi kasus)2
    Prevalensi Nomophobia (tingkat sedang-berat)71% (studi kasus Yogyakarta)9
    Prevalensi Masalah Kesehatan Mental pada Remaja34,9% (15,5 juta remaja)1
    Prevalensi Korban Cyberbullying45%1

    Analisis terhadap data ini menunjukkan sebuah gambaran yang konsisten dan mengkhawatirkan. Rata-rata durasi penggunaan yang sangat tinggi secara langsung berkorelasi dengan tingginya prevalensi kecanduan gawai.7 Durasi waktu layar yang berlebihan menjadi faktor pendorong utama di balik masalah kesehatan mental dan fisik yang signifikan. Ratusan kasus anak yang harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Cisarua akibat kecanduan gawai 5 bukanlah sekadar insiden terisolasi, melainkan bukti nyata bahwa masalah ini telah mencapai tingkat krisis kesehatan publik yang memerlukan intervensi serius dan terkoordinasi. Dengan memahami skala masalah melalui data ini, langkah-langkah selanjutnya untuk analisis dampak dan perumusan solusi dapat dilakukan dengan lebih terarah.

    3.1 Gangguan Psikologis: Kecanduan, Kecemasan, dan Depresi

    Penggunaan ponsel pintar yang berlebihan dapat memicu serangkaian gangguan psikologis yang serius pada remaja. Fenomena kecanduan gawai, yang ditandai dengan rendahnya kontrol diri 7, dapat mengakibatkan masalah perilaku dan gejala mirip

    Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), di mana remaja kesulitan memusatkan perhatian, memiliki perilaku impulsif, dan hiperaktif.5 Kondisi ini jika tidak ditangani dapat berdampak besar pada prestasi akademik dan kemampuan berinteraksi.

    Selain itu, nomophobia, atau ketakutan terpisah dari ponsel, sangat berkaitan erat dengan peningkatan tingkat kecemasan dan depresi pada remaja.9 Remaja yang sangat bergantung pada ponsel cenderung merasa lebih cemas dan memiliki pandangan diri yang negatif saat gawai mereka tidak ada.9 Penelitian menunjukkan bahwa nomophobia dapat menyebabkan kurangnya komunikasi dengan lingkungan sekitar, di mana remaja lebih memilih berinteraksi melalui ponsel daripada secara tatap muka.9 Kondisi ini berisiko memperburuk masalah kesehatan mental di masa depan.9

    3.2 Perbandingan Sosial dan Kesehatan Emosional

    Salah satu mekanisme paling merusak dari media sosial adalah perbandingan sosial yang konstan. Paparan konten yang disaring, diedit, dan seringkali tidak realistis di platform seperti TikTok dapat memicu perbandingan sosial yang intens.1 Remaja mulai membandingkan kehidupan nyata mereka yang “biasa” dengan representasi ideal yang ditampilkan orang lain di media sosial.1

    Perbandingan sosial ini menciptakan siklus yang merusak. Awalnya, perbandingan ini secara langsung menurunkan harga diri remaja, menyebabkan mereka merasa tidak mampu, kesepian, dan kurang berharga.1 Perasaan negatif ini kemudian mendorong mereka untuk semakin mencari validasi dan koneksi di media sosial, yang justru meningkatkan intensitas penggunaan dan ketergantungan.13 Siklus ini menciptakan ketergantungan yang destruktif: semakin rendah harga diri, semakin tinggi kecanduan media sosial, yang pada gilirannya memperburuk kecemasan dan depresi.13 Kondisi ini menjelaskan mengapa 96.4% remaja merasa kurang memahami cara mengatasi stres akibat masalah yang mereka alami, menunjukkan kurangnya mekanisme koping yang efektif di luar dunia digital.16

    3.3 Penarikan Diri Sosial dan Cyberbullying

    Paradoks penggunaan ponsel pintar terletak pada kemampuannya untuk mempermudah komunikasi jarak jauh sambil secara bersamaan merusak interaksi sosial tatap muka. Meskipun ponsel dapat memperluas jaringan pertemanan secara daring, penggunaan yang berlebihan membuat remaja cenderung menjadi individualistis, menarik diri, dan kurang peduli dengan lingkungan sekitar mereka.2 Mereka menjadi kurang cakap dalam berkomunikasi secara interpersonal, yang merupakan keterampilan sosial penting untuk perkembangan emosional.14

    Ancaman lain yang signifikan adalah cyberbullying, yang didefinisikan sebagai kekerasan yang dialami remaja melalui dunia siber.17 Data menunjukkan bahwa

    cyberbullying adalah ancaman nyata bagi remaja Indonesia, dengan UNICEF melaporkan 45% remaja Indonesia pernah menjadi korban.1 Studi lain menunjukkan bahwa 50% dari 41 remaja berusia 13-15 tahun telah mengalami

    cyberbullying.18 Dampak dari

    cyberbullying jauh melampaui sekadar perasaan sakit hati; pengalaman ini dapat menyebabkan kerusakan citra diri, kecemasan parah, depresi, post-traumatic stress disorder (PTSD), dan dalam kasus ekstrem, bahkan memicu ideasi bunuh diri.1 Bagi korban,

    cyberbullying dapat memicu perilaku berisiko lainnya seperti mencontek, bolos sekolah, atau penyalahgunaan zat.17

    4.1 Gangguan Mata dan Penglihatan

    Penggunaan gawai yang berkepanjangan secara langsung memengaruhi kesehatan mata. Masalah yang paling umum dilaporkan adalah digital eye strain atau kelelahan mata digital dan sindrom mata kering.1 Paparan cahaya biru dari layar dalam waktu yang lama dapat menyebabkan mata perih dan penurunan fungsi penglihatan.19 Data menunjukkan bahwa frekuensi keluhan mata meningkat secara signifikan pada pengguna yang menghabiskan lebih dari 6 jam di depan layar setiap hari.19 Keluhan ini seringkali juga disertai dengan sakit kepala.6

    4.2 Masalah Postur dan Muskuloskeletal

    Kebiasaan menundukkan kepala dan leher saat menggunakan ponsel dalam waktu lama telah melahirkan fenomena yang dikenal sebagai “tech neck” atau Forward Head Posture (FHP).1 Kondisi ini adalah konsekuensi langsung dari postur tubuh yang buruk yang terjadi secara terus-menerus.21

    Tabel 2: Hubungan Kausalitas Penggunaan Smartphone dan Gangguan Kesehatan Fisik

    Aktivitas DigitalMekanisme FisikGangguan FisikDampak Jangka Panjang
    Penggunaan ponsel dengan menunduk dalam waktu lamaPeningkatan beban pada tulang belakang leher dan fleksi yang berlebihanNyeri leher, bahu melengkung, dan nyeri punggung kronisKelainan postur permanen (tech neck), cedera otot dan ligamen, serta gangguan pernapasan
    Duduk/tiduran sambil bermain ponsel dalam waktu lamaGaya hidup sedentari dan kurangnya aktivitas fisikKelelahan, nyeri otot, dan risiko obesitasMasalah kardiovaskular dan diabetes tipe 2

    Seperti yang diilustrasikan dalam tabel, hubungan antara perilaku digital dan dampak fisik bukanlah kebetulan. Kebiasaan menunduk menyebabkan beban berlebihan pada tulang belakang leher dan memicu aktivasi otot yang tidak normal, yang pada akhirnya membatasi rentang gerak leher dan menyebabkan nyeri kronis.21 Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan perubahan postur tubuh yang permanen, seperti tubuh membungkuk dan bahu melengkung, yang tidak hanya mengganggu penampilan tetapi juga dapat memengaruhi kelancaran pernapasan.19 Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan intervensi praktis, seperti perubahan posisi secara berkala, melakukan peregangan, dan, jika perlu, terapi fisik.19

    4.3 Gangguan Tidur dan Gaya Hidup Sedentari

    Penggunaan ponsel pintar di malam hari secara signifikan memengaruhi kualitas tidur remaja. Sebuah studi menemukan bahwa 79,4% remaja di Indonesia memiliki kualitas tidur yang buruk.12 Mekanisme di balik ini adalah paparan cahaya biru dari layar yang menghambat produksi hormon melatonin, hormon yang bertanggung jawab untuk mengatur siklus tidur-bangun. Akibatnya, remaja lebih mudah mengalami insomnia dan jam biologis mereka terganggu.19 Kurangnya tidur yang berkualitas kemudian berdampak pada kelelahan, kelesuan, perhatian yang terpecah, dan sakit kepala di siang hari.12

    Selain itu, intensitas waktu layar yang tinggi secara langsung berhubungan dengan gaya hidup sedentari atau kurang gerak.1 Kebiasaan ini meningkatkan risiko obesitas, terutama jika tidak diimbangi dengan olahraga dan pola makan yang sehat.6 Obesitas pada remaja dapat memperburuk masalah kesehatan kardiovaskular dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dalam jangka panjang.1

    5.1 Dampak Positif dalam Aspek Pendidikan dan Kognitif

    Meskipun laporan ini secara dominan menyoroti risiko, penting untuk mengakui bahwa ponsel pintar adalah alat serbaguna yang menawarkan manfaat signifikan, terutama dalam konteks pendidikan. Ponsel dapat meningkatkan pengetahuan remaja dengan mempermudah akses ke berbagai sumber informasi, e-book, dan aplikasi pendidikan.22 Kemampuan ini sangat membantu siswa untuk mencari materi pelajaran tambahan dan menyelesaikan tugas sekolah secara efisien.

    Selain itu, ponsel telah merevolusi komunikasi antara guru, siswa, dan orang tua, terutama selama periode pembelajaran jarak jauh. Grup percakapan di aplikasi seperti WhatsApp atau Telegram memastikan bahwa informasi penting dapat disampaikan dan diterima dengan cepat oleh semua pihak.22 Ponsel juga dapat berfungsi sebagai alat bantu kognitif; dengan fitur kamera dan perekam suara, siswa dapat mendokumentasikan materi pelajaran untuk dipelajari kembali di rumah, yang berpotensi mempertajam kemampuan mengingat.22 Namun, terdapat dualitas dalam hal ini. Meskipun ponsel dapat membantu ingatan eksternal, ketergantungan berlebihan pada gawai untuk melakukan tugas-tugas penalaran dapat mengurangi daya nalar dan memori alami otak.6 Oleh karena itu, kunci untuk meraih manfaat positif adalah dengan menggunakan gawai secara bijak, seperti yang direkomendasikan dalam beberapa tips, termasuk mengatur waktu, tetap fokus, dan memilih aplikasi yang sesuai untuk pembelajaran.23

    5.2 Manfaat untuk Konektivitas Sosial dan Kreativitas

    Ponsel Android juga memfasilitasi konektivitas sosial yang luas. Platform media sosial memungkinkan remaja untuk tetap terhubung dengan teman-teman yang berada jauh dan memperluas jaringan pertemanan mereka.24 Jika digunakan secara positif, teknologi ini dapat menjadi ruang untuk membangun hubungan dan merasa bagian dari komunitas yang lebih besar.24

    Lebih dari itu, ponsel telah menjadi alat yang memberdayakan remaja untuk berekspresi secara kreatif. Remaja dapat memanfaatkan berbagai aplikasi untuk mengeksplorasi minat mereka, seperti seni, musik, atau bahasa, dan membagikan karya mereka secara global.24 Ponsel juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kesadaran sosial, memungkinkan remaja untuk berpartisipasi dalam diskusi dan mengampanyekan isu-isu penting yang mereka pedulikan.24 Ini adalah bukti nyata bahwa ponsel adalah alat yang netral, dan dampaknya sangat bergantung pada cara perangkat tersebut digunakan.

    Masalah ini membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan multidimensi, yang melibatkan intervensi di tingkat individu, keluarga, dan sistemik. Solusi yang efektif tidak berarti melarang penggunaan gawai, melainkan mendorong penggunaan teknologi secara bijaksana dan bertanggung jawab.1

    6.1 Peran Individu Remaja: Regulasi Diri dan Literasi Digital

    Remaja didorong untuk membangun keterampilan digital well-being atau kesejahteraan digital, yang mencakup regulasi emosi dan kontrol diri.11 Strategi praktis yang dapat diterapkan meliputi:

    • Membatasi Waktu Layar: Menetapkan batasan waktu harian untuk penggunaan ponsel dan mematikan gawai 30-60 menit sebelum tidur untuk memastikan kualitas tidur yang baik.19
    • Mengalihkan Perhatian: Menghapus aplikasi yang adiktif atau yang menjadi penyebab kecanduan.26 Mengisi waktu luang dengan kegiatan lain seperti membaca buku, berolahraga, atau melakukan hobi non-layar.1
    • Meningkatkan Sosialisasi Tatap Muka: Memperbanyak waktu bersosialisasi secara langsung dengan teman dan keluarga.26

    6.2 Peran Orang Tua dan Keluarga: Digital Parenting yang Proaktif

    Orang tua memegang peran krusial dalam membimbing anak-anak mereka. Gaya pengasuhan yang terlalu permisif atau tidak konsisten dalam menetapkan batasan waktu layar dapat memperburuk kecanduan digital.27 Oleh karena itu, penerapan

    digital parenting yang proaktif sangat diperlukan. Strategi yang dapat diterapkan meliputi:

    • Jelaskan dan Edukasi: Berbicara secara terbuka dan jujur dengan anak tentang bahaya penggunaan ponsel yang berlebihan, termasuk risiko multitasking terhadap fokus dan risiko di media sosial.27
    • Tetapkan Batasan yang Jelas: Menetapkan aturan yang tegas mengenai waktu dan tempat penggunaan ponsel, seperti tidak menggunakannya saat makan bersama atau membatasi penggunaan di akhir pekan.1
    • Jadilah Teladan yang Baik: Orang tua harus memberikan contoh perilaku digital yang sehat. Sulit bagi anak untuk dibatasi jika mereka melihat orang tua mereka sendiri terus-menerus terpaku pada layar.5
    • Dampingi dan Terlibat: Mendampingi anak saat menggunakan internet untuk memahami konten yang mereka konsumsi dan aplikasi yang mereka gunakan.4
    • Dorong Aktivitas Non-Layar: Secara aktif mendorong dan menyediakan kegiatan fisik di luar ruangan atau aktivitas lain yang menarik untuk mengalihkan perhatian dari gawai.1

    6.3 Peran Komunitas, Sekolah, dan Pemerintah: Intervensi Sistemik

    Solusi untuk isu ini tidak dapat hanya dibebankan pada individu dan keluarga; diperlukan intervensi sistemik yang melibatkan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan.1

    • Literasi Digital: Institusi pendidikan dan pemerintah harus secara proaktif mengajarkan literasi digital. Ini melampaui kemampuan teknis, mencakup kemampuan berpikir kritis terhadap konten daring, kemampuan mengelola privasi, dan keterampilan menghadapi cyberbullying.1
    • Peningkatan Layanan Kesehatan Mental: Sangat penting untuk meningkatkan akses dan promosi layanan kesehatan mental, termasuk melalui telekonsultasi.1 Ini akan memastikan remaja yang berjuang dengan masalah kesehatan mental akibat penggunaan gawai dapat menerima bantuan yang dibutuhkan.
    • Kolaborasi Multilateral: Diperlukan kolaborasi yang erat antara keluarga, institusi pendidikan, penyedia layanan kesehatan, dan pemerintah untuk menciptakan ekosistem digital yang lebih aman dan suportif bagi perkembangan optimal generasi muda Indonesia.1

    Pengaruh ponsel Android terhadap kesehatan mental dan fisik remaja di Indonesia merupakan isu multifaktorial yang menuntut pemahaman mendalam dan tindakan terpadu. Data menunjukkan bahwa durasi waktu layar yang berlebihan telah memicu berbagai dampak negatif yang signifikan, mulai dari kecanduan, kecemasan, depresi, cyberbullying, hingga masalah fisik seperti tech neck dan gangguan penglihatan. Di sisi lain, ponsel pintar juga menawarkan manfaat besar dalam aspek pendidikan, konektivitas sosial, dan kreativitas, yang menunjukkan bahwa perangkat ini bukanlah akar masalahnya, melainkan cara penggunaannya yang bermasalah.

    Oleh karena itu, kesimpulan utama dari laporan ini adalah bahwa solusi yang efektif tidak terletak pada pelarangan total atau demonisasi teknologi. Sebaliknya, pendekatan yang paling menjanjikan adalah pendekatan yang holistik, kolaboratif, dan proaktif. Dengan membekali remaja dengan keterampilan regulasi diri dan literasi digital, mengimplementasikan strategi digital parenting yang sehat di tingkat keluarga, serta menciptakan lingkungan digital yang aman dan suportif melalui kolaborasi antarlembaga, generasi muda Indonesia dapat dibimbing untuk menavigasi dunia digital dengan sehat, produktif, dan bertanggung jawab.

    1. Dampak Screen Time pada Kesehatan Mental dan Fisik Kaum …, accessed September 15, 2025, https://poltekkespangkalpinang.ac.id/dampak-screen-time-pada-kesehatan-mental-dan-fisik-kaum-muda-di-indonesia-tantangan-dan-solusi
    2. PENGGUNAAN GADGET DAN PERUBAHAN PERILAKU REMAJA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS TUBAN, accessed September 15, 2025, https://journal.mandiracendikia.com/index.php/JIK-MC/article/download/1389/1118/9504
    3. Mengulik Perkembangan Penggunaan Smartphone di Indonesia – GoodStats, accessed September 15, 2025, https://goodstats.id/article/mengulik-perkembangan-penggunaan-smartphone-di-indonesia-sT2LA
    4. Komitmen Pemerintah Melindungi Anak di Ruang Digital – Komdigi, accessed September 15, 2025, https://www.komdigi.go.id/berita/artikel/detail/komitmen-pemerintah-melindungi-anak-di-ruang-digital
    5. Kecanduan Smartphone, Ratusan Anak Masuk RSJ Cisarua – Halodoc, accessed September 15, 2025, https://www.halodoc.com/artikel/kecanduan-smartphone-ratusan-anak-masuk-rsj-cisarua
    6. 10 Dampak Buruk Smartphone Bagi Remaja – SMAN Bareng, accessed September 15, 2025, https://smanbareng.sch.id/2020/07/13/10-dampak-buruk-smartphone-bagi-remaja/
    7. KETERGANTUNGAN HANDPHONE PADA REMAJA – Open Journal …, accessed September 15, 2025, https://jurnal.polkesban.ac.id/index.php/jkifn/article/download/1377/734/6897
    8. Survei: 19,3 Persen Anak Indonesia Kecanduan Internet – CNN Indonesia, accessed September 15, 2025, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20211002135419-255-702502/survei-193-persen-anak-indonesia-kecanduan-internet
    9. Self esteem dan nomophobia pada remaja: Peran mediasi loneliness, accessed September 15, 2025, https://ejournal.umm.ac.id/index.php/pjsp/issue/download/1632/239
    10. Nomophobia di Kalangan Mahasiswa Indonesia: Ketergantungan Smartphone yang Kian Mengkhawatirkan – Universitas Airlangga Official Website, accessed September 15, 2025, https://unair.ac.id/nomophobia-di-kalangan-mahasiswa-indonesia-ketergantungan-smartphone-yang-kian-mengkhawatirkan/
    11. New Perspective on Digital Well-Being by Distinguishing Digital Competency From Dependency: Network Approach – Journal of Medical Internet Research, accessed September 15, 2025, https://www.jmir.org/2025/1/e70483
    12. Pengaruh Intensitas Penggunaan Smartphone terhadap Kualitas …, accessed September 15, 2025, https://ejurnalmalahayati.ac.id/index.php/MAHESA/article/view/16962
    13. Hubungan Kecemasan Sosial dan Harga Diri dengan Kecanduan Media Sosial pada Remaja | Jurnal Penelitian Perawat Profesional – Open Journal Systems, accessed September 15, 2025, https://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/view/6709
    14. PENGARUH HARGA DIRI DAN ADIKSI MEDIA SOSIAL TERHADAP …, accessed September 15, 2025, https://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/download/8077/pdf
    15. hubungan social comparison dengan self-esteem pada remaja pengguna tik tok vina lusiana – SciSpace, accessed September 15, 2025, https://scispace.com/pdf/hubungan-social-comparison-dengan-self-esteem-pada-remaja-k9uzpwsw0n.pdf
    16. Pengaruh Sosial Media bagi Kesehatan Mental Gen Z di Indonesia BERANDA, accessed September 15, 2025, https://mum.id/news/pengaruh-sosial-media-bagi-kesehatan-mental-gen-z-di-indonesia
    17. Apa Itu Cyber Bulliying – Biro Umum dan PBJ – Kemendikdasmen, accessed September 15, 2025, https://biroumumpbj.kemendikdasmen.go.id/view/berita/news/apa-itu-cyber-bulliying/1032
    18. Preventive Measures of Cyberbullying on … – Lentera Hukum, accessed September 15, 2025, https://ejlh.jurnal.unej.ac.id/index.php/ejlh/article/download/23503/10266
    19. Terbanyak, 98,7 Persen Warga Indonesia Gunakan Hp, Ini 10 Dampaknya – Lentera Today, accessed September 15, 2025, https://lenteratoday.com/post/item/223197/Terbanyak-987-Persen-Warga-Indonesia-Gunakan-Hp-Ini-10-Dampaknya
    20. Tingkat Pengetahuan Mahasiswa tentang Terjadinya Mata Lelah Akibat Penggunaan Gadget – FAKUMI MEDICAL JOURNAL, accessed September 15, 2025, https://fmj.fk.umi.ac.id/index.php/fmj/article/download/304/310/
    21. Fenomena Kecanduan Smartphone sebagai Penyebab Gangguan …, accessed September 15, 2025, https://unair.ac.id/en/post_fetcher/fakultas-vokasi-fenomena-kecanduan-smartphone-sebagai-penyebab-gangguan-postur-leher-kenali-mulai-remaja/
    22. Ketahui Dampak Positif dan Negatif Handphone bagi Pelajar, accessed September 15, 2025, https://www.smadwiwarna.sch.id/dampak-positif-dan-negatif-handphone-bagi-pelajar/
    23. 7 Tips Penggunaan Gadget Bagi Siswa untuk Pembelajaran, accessed September 15, 2025, https://www.acerid.com/pendidikan/tips-penggunaan-gadget-bagi-siswa-untuk-pembelajaran
    24. Memahami Peluang dan Tantangan Media Sosial dalam Kehidupan Remaja – Sinotif, accessed September 15, 2025, https://sinotif.com/memahami-peluang-dan-tantangan-media-sosial-dalam-kehidupan-remaja/
    25. Dampak Positif dan Negatif HP Bagi Pelajar | Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan – Disperkimta, accessed September 15, 2025, https://disperkimta.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/dampak-positif-dan-negatif-hp-bagi-pelajar-13
    26. 4 Cara Mengatasi Remaja yang Kecanduan Gadget – Halodoc, accessed September 15, 2025, https://www.halodoc.com/artikel/4-cara-mengatasi-remaja-yang-kecanduan-gadget
    27. PARENTING IN THE DIGITAL ERA: INDONESIAN PARENTS’ ADAPTATION TO TECHNOLOGY, accessed September 15, 2025, https://www.journalfkipuniversitasbosowa.org/index.php/klasikal/article/download/1418/624/2939
    28. Ibu Harus Tahu, Ini Cara Mengatasi Anak Kecanduan HP – Halodoc, accessed September 15, 2025, https://www.halodoc.com/artikel/ibu-harus-tahu-ini-cara-mengatasi-anak-kecanduan-hp
    29. 9 Cara Ampuh Mengatasi Anak Kecanduan Gadget – Hello Sehat, accessed September 15, 2025, https://hellosehat.com/parenting/anak-6-sampai-9-tahun/perkembangan-anak/mengatasi-anak-kecanduan-gadget/
    30. Peran Orang Tua Dalam Pengawasan Penggunaan Gadget Pada Anak – Kota Cimahi, accessed September 15, 2025, https://cimahikota.go.id/index.php/artikel/detail/913-peran-orang-tua-dalam-pengawasan-penggunaan-gadget-pada-anak
    31. Pentingnya Literasi Digital Bagi Generasi Muda Untuk Mengenali Dampak Globalisasi Adanya Tren K-Pop, accessed September 15, 2025, https://jurnalistiqomah.org/index.php/merdeka/article/view/5076/3370
    32. Pentingnya Literasi Digital bagi Remaja di Zaman Modern – Universitas Alma Ata Yogyakarta, accessed September 15, 2025, https://almaata.ac.id/pentingnya-literasi-digital-bagi-remaja-di-zaman-modern/