Tag: #AdakahTuhan?

  • Tuhan, Kesunyian, dan Pohon yang Tumbang di Tengah Hutan

    Oleh: Abu PPBU

    Dalam lanskap modern yang penuh dengan suara, gesekan opini, dan skeptisisme epistemologis, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan tidak pernah benar-benar menemukan titik akhir. Di era digital, ruang perdebatan publik justru semakin bising. Tidak jarang muncul pernyataan provokatif seperti, “Kalau Tuhan memang ada, biarlah saya diazab sekarang juga.” Ketika tidak terjadi apa-apa, kesimpulan yang terburu-buru pun diambil: “Berarti Tuhan tidak ada.”

    Namun, apakah ketidakterjadian sesuatu dapat dijadikan bukti ketiadaannya? Pertanyaan itu membawa kita pada problem dasar: apakah manusia dapat mengukur sesuatu yang transenden dengan instrumen kepekaannya yang terbatas?


    Tuhan: Konsep atau Realitas Ontologis?

    Sebagian kalangan memandang Tuhan sebagai konstruksi kognitif—produk dari kebutuhan manusia akan makna dan rasa aman. Dalam sudut pandang ini, jika tidak ada pikiran manusia yang mengidekan Tuhan, maka konsep itu pun lenyap; tidak ada kesadaran, tidak ada Tuhan.

    Akan tetapi, apakah sesuatu yang tidak terpikirkan manusia secara otomatis berarti tidak ada? Sejarah ilmu pengetahuan membuktikan sebaliknya. Virus, gelombang elektromagnetik, dan partikel subatomik pernah berada dalam ranah “ketidaktahuan manusia”—namun keberadaannya tidak bergantung pada pengetahuan tersebut. Keterbatasan persepsi tidak pernah menjadi bukti ketiadaan.

    Pertanyaan filsuf George Berkeley menjadi relevan di sini:
    **“If a tree falls in a forest and no one is around to hear it, does it make a sound?”**¹
    Pertanyaan itu bukan tentang pohon, tetapi tentang hubungan antara realitas dan persepsi. Apakah keberadaan menuntut kesadaran manusia agar menjadi nyata?

    Dalam diskursus teologi Islam, kenyataan Ilahi dipandang tidak bergantung kepada pengamatan manusia. Ibn al-Jawzī meriwayatkan sebuah ungkapan yang sering dikaitkan dengan doa Nabi ﷺ:
    «كَمَا كُنْتَ لَا يُدْرِكُكَ وَهْمٌ مِنْ قَبْلُ فَكَذَلِكَ لَا يُدْرِكُكَ وَهْمٌ بَعْدُ»
    _“Sebagaimana Engkau tidak tersentuh oleh prasangka sebelumnya, begitu pula Engkau tidak tersentuh oleh prasangka sesudahnya.”_²

    Dalam perspektif ini, Tuhan tidak menunggu untuk “dipikirkan” agar dapat ada; justru manusialah yang bergantung pada keberadaan yang lebih dahulu.


    Keheningan dan Jejak yang Tak Tersentuh Indra

    Kebenaran spiritual sering berada di wilayah yang tidak dapat ditangkap melalui observasi empiris. Filsuf-teolog Carl Sagan pernah menyatakan sebuah prinsip yang kemudian menjadi kutipan populer:
    **“Absence of evidence is not evidence of absence.”**³
    Ketiadaan bukti empiris tidak otomatis meniadakan realitas metafisik.

    Ketika seseorang mengatakan, “Saya tidak merasakan Tuhan,” hal itu mungkin bukan tentang ketiadaan Tuhan, melainkan tentang ketidaksiapan alat persepsi manusia. Keheningan tidak selalu berarti tidak ada suara; kadang indera kita tidak berada pada frekuensi yang tepat untuk mendengarnya.

    Rumi mengekspresikan dimensi ini dengan puitis:
    «ليس الصوت صوته بل الصمت صوته»
    _“Bukan suara yang merupakan suara-Nya, melainkan keheningan.”_⁴

    Ada pengalaman batin yang tidak dapat diuji, hanya dapat dihuni.


    Di Antara Percaya dan Tidak Percaya

    Mungkin yang paling manusiawi bukanlah keyakinan mutlak, tetapi keberanian untuk terus bertanya. Di tengah ketidakpastian, iman menyerupai lentera kecil di gelap malam: tidak cukup untuk menerangi seluruh jalan, namun cukup untuk melangkah setahap demi setahap.

    Søren Kierkegaard menyebut iman sebagai lompatan eksistensial:
    **“Faith is a leap into the absurd.”**⁵
    Skeptisisme pun, dalam bentuk lain, tetap merupakan keyakinan—hanya saja diarahkan kepada objek yang berbeda.

    Pada akhirnya, pertanyaan mengenai eksistensi Tuhan mungkin bukan persoalan yang dapat dituntaskan oleh debat publik atau metode eksperimental. Pertanyaan itu lebih merupakan dialog panjang antara manusia dan kesadarannya.

    Seperti pohon yang tumbang di tengah hutan—meski tak terdengar oleh siapa pun—bekasnya tetap tertinggal pada tanah tempat ia jatuh. Begitu pula Tuhan: tidak selalu terdengar, tetapi jejak-Nya terasa di dalam cara manusia mencari, bertanya, meragu, dan pada akhirnya menemukan keheningan yang berbicara.


    Catatan Kaki

    1. George Berkeley, A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge (Dublin: Jeremy Pepyat, 1710), 45.
    2. Ibn al-Jawzī, al-Muntaẓam fī Tārīkh al-Mulūk wa al-Umam, ed. Muḥammad ʿAbd al-Qādir ʿAṭā (Beirut: Dār al-Kutub al-ʿIlmiyyah, 1992), 1:112.
    3. Carl Sagan, quoted in The Demon-Haunted World: Science as a Candle in the Dark (New York: Random House, 1995), 213.
    4. Jalāl al-Dīn Rūmī, al-Mathnawī al-Maʿnawī, ed. Reynold A. Nicholson (Tehran: Behjat, 1977), 2:345.
    5. Søren Kierkegaard, Fear and Trembling, trans. Alastair Hannay (London: Penguin, 1985), 67.