Tag: #PendidikanPesantren

  • Jejak Santri yang Dihapus dari Sejarah Bangsa

    Oleh: Abu PPBU

    Ada ironi besar dalam sejarah negeri ini.
    Nama-nama besar seperti Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantara, Habib Husein Al-Muthohhar, hingga Bung Hatta kini mulai diakui sebagai santri.
    Namun di balik itu, masih banyak pahlawan bersarung yang lenyap dari buku-buku pelajaran kita.

    Bahkan KH. Hasyim Asyโ€˜ariโ€”yang ditetapkan Bung Karno sebagai Pahlawan Nasionalโ€”hampir tidak disebut dalam narasi resmi perjuangan kemerdekaan.
    Padahal, dari rahim pesantrenlah lahir bukan hanya para ulama, melainkan juga komandan-komandan pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI.


    ๐Ÿ“œ Jejak Para Komandan Santri

    Dalam arsip Sekretariat Negara dan TNI tercatat bahwa:

    • Komandan Divisi I adalah Kolonel KH. Samโ€˜un, pengasuh pesantren di Banten.
    • Komandan Divisi III dipimpin oleh Kolonel KH. Arwiji Kartawinata dari Tasikmalaya.
    • Komandan Resimen 17, Letkol KH. Iskandar Idris.
    • Komandan Resimen 8, Letkol KH. Yunus Anis.
    • Komandan Batalyon TKR Malang, Mayor KH. Iskandar Sulaiman, Rais Syuriyah NU Kabupaten Malang.

    Namun, nama-nama itu hilang dari buku sejarah SD, SMP, dan SMA.
    Seolah peran para kiai dan santri sengaja dihapus dari panggung sejarah bangsa.


    โš”๏ธ Laskar Tanpa Gaji, Tentara Tanpa Upah

    Pada masa awal kemerdekaan, negara belum sanggup membayar tentaranya.
    Hanya para kiai dan santri yang rela berjuang tanpa gaji, berjihad dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah.
    Mereka bertempur dengan tekad dan iman, bukan demi pangkat atau upah.
    Baru pada tahun 1950, tentara mulai menerima gaji dari negara.


    ๐Ÿ”ฅ Resolusi Jihad dan Lahirnya 10 November

    Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya bukan sekadar โ€œpertempuran kemerdekaanโ€.
    Ia adalah letusan jihad fi sabilillah, yang disulut oleh fatwa PBNU pada 22 Oktober 1945 โ€” kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

    Ketika pasukan Inggris datang bersama Belanda yang ingin kembali berkuasa, Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU:

    โ€œApa kewajiban umat Islam bila negeri ini diserang kembali oleh penjajah?โ€

    KH. Hasyim Asyโ€˜ari menjawab tegas melalui Resolusi Jihad:

    โ€œBagi umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Surabaya, wajib โ€˜ain membela tanah air dari penjajahan.โ€

    Fatwa itu menggema dari masjid ke masjid, dari langgar ke langgar.
    Arek-arek Suroboyo pun bangkit tanpa menunggu komando.
    Begitu mendengar kata โ€œjihadโ€, mereka meneriakkan โ€œAllahu Akbar!โ€ dan menyerbu pos-pos Inggris.

    Pertempuran dahsyat pecah sejak 27โ€“29 Oktober 1945, menewaskan ribuan serdadu Inggris.
    Namun sejarah resmi nyaris tidak menyinggung bahwa semua itu berawal dari fatwa jihad seorang ulama pesantren.

    Pada 30 Oktober, Brigadir Jenderal Mallaby โ€” pemimpin pasukan Inggris โ€” tewas di Jembatan Merah akibat granat yang dilempar seorang pemuda Ansor.
    Inggris murka. Mereka mengeluarkan ultimatum:

    โ€œJika hingga 9 November senjata tidak diserahkan, maka 10 November Surabaya akan dibombardir dari darat, laut, dan udara.โ€

    Dan benar.
    Pagi 10 November 1945, Surabaya dibombardir. Kota terbakar, ribuan syuhada gugur.
    Namun dari kobaran api itu lahirlah semangat yang tak pernah padam:
    โ€œHubbul Wathan Minal Imanโ€ โ€” cinta tanah air adalah bagian dari iman.


    ๐Ÿฉธ Jihad, Bukan Tawuran

    KH. Agus Sunyoto dalam bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad (Lirboyo, 2017) berkata:

    โ€œArek-arek Suroboyo menyebutnya bukan perang, tapi tawuran.
    Mereka bergerak tanpa komando, hanya dengan semangat jihad dan cinta pada ulama.โ€

    Dari Kediri datang pasukan santri Lirboyo di bawah pimpinan KH. Mahrus.
    Dari Jombang, Pasuruan, Mojokerto, Malang, hingga Cirebon โ€” mereka berdatangan, menempuh jarak ratusan kilometer.
    Bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat Kristen, Konghucu, dan Buddha ikut berjuang.
    Semangat jihad telah menjelma menjadi semangat kemanusiaan dan kebangsaan.


    ๐Ÿ“– Saatnya Mengembalikan Sejarah yang Dipotong

    Sejarah bangsa tidak akan utuh tanpa pesantren.
    Para kiai bukan hanya guru ruhani, tetapi juga arsitek kemerdekaan.
    Mereka mendidik rakyat, mengobarkan jihad, dan menegakkan republik โ€” tanpa pamrih dan tanpa imbalan.

    Kini saatnya kita berkata jujur:
    Jika sejarah terus dipotong, maka suatu hari sejarah kita sendiri yang akan memotong kita.

    Sudah waktunya anak-anak Indonesia belajar sejarah sebagaimana adanya โ€”
    bahwa santri, ulama, dan pesantren adalah pilar utama lahirnya republik ini.

  • Bisnis Pendidikan: Mengajar Satu Jiwa, Mengubah Seribu Dunia

    Oleh: Guru PPBU

    Ada โ€œbisnisโ€ yang tak pernah masuk neraca keuangan, tetapi menentukan naik-turunnya sebuah bangsa: pendidikan. Kita sering menyebutnya layanan publik, tugas negara, atau urusan orang tua. Tetapi bila โ€œbisnisโ€ dimaknai sebagai upaya paling serius manusia untuk menanam, merawat, dan memanen masa depanโ€”maka bisnis terbesar kita adalah mencetak generasi. Setiap kelas adalah pabrik masa depan, setiap buku adalah mesin kecil perubahan, dan setiap guru adalah investor utama yang menanamkan modal paling mahal: kepercayaan, pengetahuan, dan nilai.

    Masalahnya, kata โ€œbisnisโ€ kerap membuat dahi berkerut. Kita takut sekolah jadi pasar, anak jadi komoditas, guru jadi operator target. Kekhawatiran itu ada benarnya. Komersialisasi pendidikan yang tak beretika bisa mengubah belajar menjadi transaksi: bayar-semoga naik nilai. Namun menolak model bisnis sama sekali juga keliru. Pendidikan butuh perencanaan, pembiayaan berkelanjutan, tata kelola yang rapi, indikator mutu, dan akuntabilitasโ€”semua unsur yang lazim dalam bisnis yang sehat. Bedanya, tujuan akhirnya bukan laba finansial, melainkan laba peradaban.

    Keuntungan pendidikan tampil dalam tiga lapis. Pertama, keuntungan personal: anak yang belajar dengan benar tumbuh percaya diri, melek literasi-numerasi, cakap sosial, dan siap belajar sepanjang hayat. Kedua, keuntungan sosial: kohesi komunitas menguat, intoleransi menyusut, partisipasi warga membaik. Ketiga, keuntungan ekonomi: produktivitas naik, inovasi tumbuh, dan jurang kesenjangan bisa dipersempit. Anehnya, bagian paling menentukan justru yang paling sulit diukur: rasa ingin tahu, empati, integritas. Inilah dividen tak terlihat yang menahan rapuhnya masyarakat.

    Kalau begitu, seperti apa โ€œmodel bisnisโ€ pendidikan yang bermartabat?

    1. Guru sebagai aset utama
      Tak ada sekolah bagus tanpa guru yang terus bertumbuh. Gaji layak, pengembangan profesional berkesinambungan, ruang otonomi di kelas, dan budaya refleksi harus jadi prioritas. Investasi pada guru bukan biaya, melainkan mesin ROI jangka panjang. Kita sering tergoda membeli perangkat baruโ€”padahal perangkat terbaik tetap manusia yang dimampukan.
    2. Kurikulum yang relevan dan bermakna
      Anak butuh fondasi kokoh (literasi, numerasi, sains) sekaligus kompas moral (karakter, empati, kejujuran) dan peta zaman (kewargaan digital, literasi data, kepekaan ekologi, wirausaha sosial). Kurikulum tidak boleh sibuk mengejar hafalan, lalu lupa menyalakan rasa ingin tahu. Belajar mestinya bergerak dari buku ke kehidupan: proyek, riset kecil, kerja tim, pemecahan masalah nyata di lingkungan.
    3. Ekosistem kolaboratif: sekolahโ€“keluargaโ€“komunitasโ€“dunia usaha
      Anak tumbuh dalam kampung, bukan dalam ruang hampa. Orang tua, organisasi masyarakat, perpustakaan publik, UMKM, perguruan tinggi, dan perusahaan dapat menjadi mitra. Magang yang bermartabat, kelas inspirasi, adopsi perpustakaan, atau laboratorium hidup di desa adalah wujud kolaborasi yang masuk akal. Boleh menggandeng industri, tetapi garis etiknya jelas: anak bukan target penjualan.
    4. Teknologi sebagai alat pembebas, bukan pengganti guru
      Platform belajar, analitik sederhana, dan konten digital bisa memperluas akses dan mempersonalisasi pembelajaran. Namun teknologi tanpa pedagogi hanya menjadi layar terang tanpa makna. Prinsipnya: inklusif, hemat, aman data, dan relevan. Kita ingin anak melek digital, bukan kecanduan gawai; kritis terhadap informasi, bukan tenggelam dalam pusaran algoritma.
    5. Pembiayaan berkeadilan dan transparan
      Pendidikan yang baik butuh dana yang cukup dan pasti. Di sinilah skema campuran bisa bekerja: alokasi publik yang kuat, beasiswa berbasis kebutuhan, endowment sekolah, gotong royong alumni, kemitraan yang etis. Kuncinya transparansi: masyarakat berhak tahu ke mana setiap rupiah pergi dan apa dampaknya terhadap mutu belajar.
    6. Budaya mutu yang manusiawi
      Mutu perlu diukur, tetapi jangan menjadikan angka sebagai satu-satunya kompas. Gunakan asesmen formatif yang menuntun, bukan menghukum. Pantau kemajuan murid, dukung yang tertinggal, rayakan proses, bukan sekadar puncak nilai. Di banyak tempat, satu-satunya hal yang dibutuhkan anak untuk maju hanyalah seorang dewasa yang percaya pada potensinya.

    Apa yang menghalangi? Tiga jebakan klasik. Pertama, mentalitas proyek: semangat di awal, habis danaโ€”habislah cerita. Kedua, kosmetik digital: beli perangkat mahal, pakai seminggu, lalu terkunci di lemari. Ketiga, kultus ranking: mengejar peringkat hingga lupa substansi belajar. Tiga-tiganya bisa diatasi bila kepemimpinan sekolah tegas memegang nilai, pemerintah konsisten pada kebijakan yang melindungi yang paling rentan, dan masyarakat ikut mengawasi serta terlibat.

    Lalu apa yang bisa kita lakukan mulai besok pagi?

    • Kepala sekolah: alihkan rapat yang bertele-tele menjadi komunitas belajar guru; satu jam latihan mengajar lebih berharga daripada sepuluh slide rencana.
    • Pemerintah daerah: pastikan anggaran menyentuh ruang kelasโ€”bukan hanya pagar dan spanduk. Targetkan literasi dasar, pelatihan guru, dan perpustakaan hidup.
    • Dunia usaha: sisihkan sebagian keuntungan untuk program literasi, beasiswa berbasis kebutuhan, dan kelas keterampilan yang tidak menggiring anak menjadi pekerja murah, melainkan warga yang cakap.
    • Orang tua: jadikan rumah sebagai โ€œkampus kecilโ€โ€”rutinkan membaca bersama, berbincang, bertanya. Internet di rumah bisa menjadi jendela dunia, selama ada kompas nilai.
    • Guru: rawat rasa ingin tahu. Tugas guru bukan menjawab semua pertanyaan, tetapi mengajarkan cara bertanya yang lebih baik.

    Pada akhirnya, pendidikan adalah bisnis kepercayaan. Kita menanam hari ini, memanen bertahun-tahun kemudian, kadang bukan kita yang menikmati hasilnya. Itulah sebabnya ia pekerjaan terdalam sekaligus paling mulia. Mengajar satu jiwa berarti menyalakan seribu lampu kecil yang akan menerangi lorong-lorong yang tak pernah kita datangi. Dan ketika cukup banyak lampu menyala, kita menyebutnya peradaban.

    Bisnis pendidikan? Yaโ€”selama kita sepakat bahwa laba terbesarnya adalah manusia yang utuh: cerdas, beradab, dan peduli. Mengajar satu jiwa, mengubah seribu dunia.