Pesantren Bukan Masalah, Tapi Solusi: Menjawab Tuduhan Tak Relevan

(Jawaban terhadap video: https://vm.tiktok.com/ZSSSwCXdk/

Oleh: Abu PPBU (Pengelola Pesantren) 

Beberapa waktu terakhir, beredar wacana yang cukup menggelisahkan: pesantren dianggap tidak relevan, bahkan ada usulan agar lembaga ini dihapus atau diubah secara radikal. Narasi semacam ini tidak hanya tendensius, tapi juga menunjukkan ketidaktahuan yang akut terhadap realitas pendidikan di Indonesia, khususnya di lapisan masyarakat bawah.

Sebagai seseorang yang berada langsung di lingkar dalam pengelolaan pesantren sekaligus bagian dari institusi Kementerian Agama, saya merasa perlu meluruskan beberapa kekeliruan sekaligus menegaskan kembali bahwa pesantren bukanlah beban negara, melainkan pilar pendidikan yang kokoh dan sangat dibutuhkan.

Pesantren: Pendidikan Inklusif yang Tak Tergantikan

Hal pertama yang perlu dipahami: pesantren adalah wajah asli pendidikan rakyat. Pesantren telah lama menjadi tempat berlindung dan belajar bagi anak-anak dari kalangan tidak mampu, yatim piatu, anak-anak dari pelosok pedalaman, desa tertinggal, dan keluarga marginal yang tak mampu menjangkau pendidikan formal.

Banyak pesantren tidak memungut biaya sama sekali. Jika pun ada iuran, biasanya bersifat sukarela dan sangat ringan. Makan bersama di dapur umum, tidur di asrama seadanya, kitab warisan dari kakak kelas — semua berjalan dalam semangat gotong royong dan keikhlasan. Guru-guru pesantren bahkan mengajar tanpa gaji, cukup dengan berkah dan penghargaan moral dari masyarakat.

Anggaran Negara untuk Pesantren Itu Kecil, Sangat Kecil

Narasi bahwa negara mengeluarkan anggaran besar untuk pesantren adalah mitos. Benar bahwa anggaran Ditjen Pendidikan Islam bisa mencapai puluhan triliun, tetapi itu mencakup ribuan RA, MI, MTs, MA, hingga perguruan tinggi keagamaan. Pesantren hanya mendapat bagian sangat kecil, bahkan sering tidak dapat bantuan sama sekali selama bertahun-tahun.

Bantuan insidental seperti BOS Pesantren atau pembangunan sarana sangat minim dan kompetitif. Banyak pesantren bertahan hidup hanya dengan swadaya masyarakat, infak jamaah, hasil usaha mandiri, dan dukungan alumni.

Peran Ganda Pesantren: Pendidikan, Sosial, Moral

Mereka yang menyerukan penghapusan pesantren lupa — atau tak tahu — bahwa pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan agama. Pesantren juga berfungsi sebagai:

Panti asuhan informal

Pusat pendidikan karakter dan akhlak

Benteng penyebaran nilai toleransi dan kearifan lokal

Mediator sosial di tengah konflik dan keresahan masyarakat

Sejak zaman kolonial, pesantren menjadi motor perlawanan terhadap penjajahan, sekaligus penjaga moral dan semangat kebangsaan. Tak sedikit kiai dan santri yang gugur demi republik ini.

Apakah Ilmu Agama Tak Relevan? Justru Sebaliknya

Menganggap ilmu agama tidak relevan adalah cara pandang yang sempit dan berbahaya. Di tengah krisis moral, korupsi, kekerasan, dan degradasi etika, pendidikan agama justru semakin penting untuk mengarahkan masyarakat pada kehidupan yang bermakna dan bertanggung jawab.

Jika bangsa ini kekurangan insinyur, kita bisa membangun politeknik. Tapi jika kita kekurangan orang jujur dan berakhlak, maka kita akan kehilangan fondasi bangsa. Dan pesantren adalah pusat pembentukan karakter itu.

Menghapus Pesantren = Menghapus Harapan Rakyat Kecil

Bayangkan jika pesantren benar-benar dihapus: ke mana anak-anak miskin di desa akan belajar? Ke sekolah swasta yang mahal? Ke kota yang tak ramah bagi kaum miskin? Atau ke jalanan, kembali menjadi korban putus sekolah dan eksploitasi sosial?

Tidak. Yang perlu kita lakukan bukan menghapus pesantren, tetapi menguatkannya, memodernisasi infrastrukturnya, dan mengakui kontribusinya sebagai pilar pendidikan alternatif yang sudah teruji oleh zaman.

Penutup: Pesantren Adalah Solusi

Pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan yang tumbuh dari bawah, hidup dari masyarakat, dan tetap bertahan dalam segala keterbatasan. Ia adalah warisan, sekaligus harapan.

Bukan pesantren yang harus dipertanyakan, tapi kepekaan kita sebagai bangsa: apakah kita masih peduli pada suara-suara dari desa, dari anak-anak yang tak punya seragam sekolah, dari guru-guru yang mengajar tanpa gaji?

Jika masih, maka jawaban kita seharusnya jelas: pesantren bukan masalah, pesantren adalah solusi.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *