Jejak Santri dalam Sejarah Bangsa: Dari Selarong hingga Pegangsaan Timur

Oleh: Abu PPBU

Di tanah Jawa, penjajah bukan hanya gentar menghadapi meriam dan senjata, tapi juga takut kepada santri—para pengamal ilmu, ahli dzikir, dan murid-murid tarekat yang memandang penjajahan bukan semata penindasan politik, melainkan pelanggaran terhadap martabat manusia dan amanat iman.

Dari pesantren-pesantren terpencil di pelosok desa, lahirlah sosok-sosok pemberani: tidak sekadar pejuang, melainkan insan berilmu, berjiwa tauhid, dan bermental merdeka. Mereka memahami kemerdekaan bukan hanya sebagai hak politik, tapi sebagai bentuk tertinggi dari ubudiyyah—penghambaan kepada Allah semata.


🌾 Santri Tarekat yang Menggetarkan Penjajah

Salah satu sosok santri yang paling ditakuti Belanda adalah seorang pemuda bernama Abdul Hamid, kelak dikenal dengan nama agung Pangeran Diponegoro. Ia lahir di Dusun Tegalrejo, Yogyakarta—di tengah suasana kesakralan dan kearifan pesantren Jawa.

Sejak muda, Diponegoro berguru kepada ulama besar:

  • Kyai Hasan Besari di Tegalsari, Ponorogo, tempat para bangsawan menimba ilmu agama.
  • Kyai Taftazani di Kartasura, pakar ilmu kalam dan tasawuf.
  • Kyai Baidlowi di Bagelen, sosok alim yang makamnya kini terletak di Glodegan, Bantul.
  • Dan terakhir, beliau menimba ilmu hikmah dari Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang, seorang ulama besar ahli thariqah.

Dari perjalanan ruhani itu, lahirlah seorang pemimpin yang bukan sekadar bangsawan, melainkan santri pejuang. Ketika beliau memimpin perang selama lima tahun (1825–1830 M), semangatnya bukan sekadar melawan penjajahan, tapi menegakkan keadilan dan menolak kezhaliman sebagai bagian dari iman.

Nama lengkapnya panjang, menandakan silsilah ilmu dan spiritualitasnya:
Kyai Haji Bendoro Raden Mas Abdul Hamid Ontowiryo Mustahar Herucokro Senopati Ing Alogo Sayyidin Pranotogomo Amirul Mu’minin Khalifatullah Tanah Jawi — lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro.

Kini patungnya berdiri gagah di Alun-alun Magelang, namanya diabadikan menjadi Kodam IV/Diponegoro dan Universitas Diponegoro. Meski jasadnya dimakamkan jauh di Makassar, semangatnya tetap hidup di dada para santri dan pejuang bangsa.


📿 Warisan Seorang Santri Pejuang

Di kamar peninggalannya di Magelang terdapat tiga benda sederhana: sebuah Al-Qur’an, kitab Taqrib, dan tasbih.

Ketiganya bukan sekadar pusaka, melainkan lambang jati diri seorang santri:

  • Al-Qur’an, sumber tauhid dan pedoman hidup.
  • Kitab Taqrib karya Imam Abu Syuja’, penanda bahwa beliau bermadzhab Syafi’i.
  • Tasbih, lambang dzikir, laku rohani, dan kesadaran spiritual yang tak pernah putus.

Sebagai seorang pengamal mazhab Syafi’i, Diponegoro menjalankan amalan sesuai tradisi pesantren: tarawih 20 rakaat, qunut Subuh, dua adzan saat Jumatan, dan shalat Id di masjid, bukan di lapangan.
Inilah wajah Islam pesantren: taat dalam syariat, kuat dalam spiritual, dan teguh dalam tradisi.


🔥 Dari Pesantren, Lahir Patriotisme

Diponegoro hanyalah satu dari sekian banyak santri yang menorehkan kisah perjuangan bangsa.
Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat), sang penggagas Taman Siswa, juga seorang santri. Ia berguru kepada Romo Kyai Sulaiman Zainuddin di Kalasan, Prambanan.

Semboyannya yang termasyhur—Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani—bukan sekadar prinsip pendidikan modern, melainkan cerminan adab santri: bahwa guru harus menjadi teladan, teman seperjuangan, sekaligus pembimbing ruhani.

Begitu pula dengan Habib Husein Al-Muthohhar, seorang keturunan Rasulullah ﷺ dari Kauman, Semarang. Ia dikenal bukan hanya sebagai ulama, tapi juga komponis dan diplomat. Dari tangannya lahir lagu “Syukur” dan “Hari Merdeka”—dua karya monumental yang menanamkan spirit dzikir dan nasionalisme ke dalam jiwa setiap anak bangsa.

Ketika bertugas sebagai duta besar di Vatikan, beliau tidak larut dalam arus sekularitas Eropa; justru mendirikan masjid di pusat dunia Katolik itu. Sebuah tanda bahwa di manapun berada, santri tetap menjunjung tinggi iman, ilmu, dan Indonesia.


🇮🇩 Pesantren dan Jiwa Kebangsaan

Patriotisme Indonesia tidak lahir dari senjata semata, melainkan dari ketulusan ilmu dan keyakinan para ulama.
Bahkan Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi)—seorang tokoh pergerakan kebangsaan berdarah Belanda—pernah berujar:

“Kalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.”

Ia bukan santri, tapi ia menyaksikan langsung bahwa pesantren-lah benteng terakhir moral dan kesadaran rakyat Nusantara. Ketika pendidikan kolonial memisahkan rakyat dari akar budayanya, pesantren justru menyatukan mereka dalam nilai, iman, dan cita-cita kebebasan.


🤲🏻 Bung Hatta: Putra Kyai Naqsyabandiyyah

Ketika Soekarno bersiap membacakan teks Proklamasi di Pegangsaan Timur, 17 Agustus 1945, ia meminta didampingi seorang yang beriman dan berilmu—seorang putra ulama.

Yang berdiri di sampingnya adalah H. Mohammad Hatta, putra dari Kyai Haji Jamil, guru Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Batuampar, Sumatera Barat.
Kedisiplinan spiritual Hatta, kebersahajaan hidupnya, serta kejujuran yang tak tergoyahkan adalah warisan langsung dari pendidikan tarekat sang ayah.

Jarang kita dengar dalam pelajaran sekolah bahwa Bung Hatta bukan hanya ekonom dan negarawan ulung, melainkan anak seorang mursyid tarekat.
Dari ayahnya, ia belajar zuhud dan ikhlas; dari pesantren, ia belajar menimbang setiap keputusan dengan hati yang bersih.


📜 Kembali ke Pesantren

Dalam sebuah mau‘idzah hasanah di Krapyak, Yogyakarta, Syaikhona Maimoen Zubair pernah berkata kepada para santrinya:

“Kamu mondok di sini, nggak usah bingung mau jadi apa. Yang penting ngaji, sekolah, dan beradab. Sebab yang menjadikan itu Gusti Allah Subhanahu Wa Ta‘ala.”

Beliau menambahkan dengan senyum khasnya:

“Aku dulu juga tidak pernah memikirkan akan jadi apa. Yang penting ngaji, nderes Qur’an, hafalkan nadzoman, shalat berjamaah. Ternyata Gusti Allah menakdirkanku jadi manusia yang bermanfaat, hingga bisa melangkah ke gedung DPR/MPR di Senayan.”

Pesan sederhana itu menyimpan makna mendalam:
Bahwa tugas santri adalah menuntut ilmu, mendidik akhlak, dan memperbaiki niat. Ketika Allah yang menata langkah, maka tidak ada nasib yang lebih mulia selain menjadi manusia yang bermanfaat bagi bangsa dan agama.


🌸 Penutup: Santri dan Jiwa Merdeka

Dari Pangeran Diponegoro hingga Bung Hatta, dari Ki Hajar Dewantara hingga Habib Husein Al-Muthohhar, kita melihat satu benang merah yang sama:
Bahwa pesantren adalah sumber kekuatan spiritual, moral, dan kebangsaan.

Para santri bukan hanya penghafal kitab, tapi juga penjaga nurani bangsa.
Mereka berdiri di garis depan saat penjajah datang, dan di barisan pendidik ketika republik ini berdiri.

Maka jangan ragu mengirim anak-anakmu ke pesantren.
Di sanalah tumbuh generasi yang berpikir jernih, berjiwa merdeka, dan tunduk hanya kepada Allah.
Sebab dari pesantren-pesantren itulah lahir manusia-manusia yang tenang dalam dzikir, teguh dalam perjuangan, dan tulus dalam pengabdian —
pewaris sejati jiwa kemerdekaan Indonesia.


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *