Bagi banyak pengamat modern, pesantren sering dicurigai: di sana ada hierarki, ada struktur ketaatan, ada sistem patronase — dan semua itu terdengar seperti “feodalisme” atau bahkan “perbudakan kultural.”
Namun, bagi Ismail Fajrie Alatas, penilaian seperti itu sering lahir dari cara pandang yang tergesa-gesa sekaligus terlalu modernis.
1. Tradisi Bukan Sisa Masa Lalu, Tapi Ekologi Makna
Dalam kerangka pemikiran Ismail, “tradisi” tidak identik dengan masa lalu. Ia adalah ekologi hidup: kumpulan hubungan, praktik, dan nilai yang terus dirundingkan dalam pengalaman sehari-hari umat.
Artinya, pesantren bukan artefak zaman kuno yang menolak modernitas, melainkan arena di mana manusia menegosiasikan kehidupan spiritual, sosial, dan moral mereka.
Ketika orang luar melihat struktur kiai-santri dan menamainya “feodal,” mereka sering gagal memahami bahwa hubungan itu tidak bekerja sebagai relasi penindasan, melainkan relasi adab.
Hierarki di pesantren bukan sistem kasta yang kaku, melainkan bentuk etika — di mana ketaatan adalah sarana menundukkan ego (takhalli), dan kepercayaan kepada guru adalah bagian dari pembentukan moral, bukan sekadar struktur kekuasaan.
2. Feodalisme atau Etika Adab?
Feodalisme, dalam arti kolonial atau feodal istana, bertumpu pada legitimasi darah, kekuasaan, dan kepemilikan tanah.
Sementara otoritas kiai bertumpu pada legitimasi spiritual dan moral — hasil dari proses panjang transmisi ilmu dan keberkahan (barakah).
Ketaatan santri kepada kiai bukan karena takut kehilangan akses ekonomi, melainkan karena kesadaran spiritual bahwa pengetahuan dan keberkahan diturunkan lewat zikir, keteladanan, dan pelayanan.
Jika dilihat dari luar, tentu proses itu tampak hierarkis; namun dari dalam, ia adalah sebuah latihan pembentukan diri (disciplining of the self) yang berbasis kerelaan, bukan pemaksaan.
3. “Kerja Paksa” atau “Disiplin Spiritual”?
Istilah seperti “kerja paksa di pesantren” sering muncul dari perspektif buruh modern yang memaknai kerja semata sebagai relasi ekonomi.
Padahal kerja dalam konteks pesantren — seperti membantu membersihkan madrasah, melayani kiai, menyiapkan makanan — dipahami sebagai bagian dari riyāḍah (latihan spiritual).
Ismail sering menekankan bahwa makna-makna seperti ini tidak bisa dibaca dari luar. Antropologi menuntut “thick description” — deskripsi mendalam yang memahami konteks simbolik dari tindakan.
Bagi santri, melayani bukan bentuk keterpaksaan, melainkan penghormatan dan proses penyucian diri.
Dengan demikian, relasi kerja di pesantren tidak bisa ditakar dengan logika produktivitas industri, karena dasarnya adalah nilai pengabdian (khidmah), bukan eksploitasi.
4. Bias Egalitarianisme: Melihat dari Luar, Menilai dari Atas
Bagi kalangan liberal atau modernis, kesetaraan jadi ukuran moral tertinggi.
Tapi Ismail menilai bahwa egalitarianisme juga tradisi — lahir dari sejarah Eropa, di mana manusia berjuang melawan raja dan gereja.
Ketika nilai itu dipaksakan masuk ke masyarakat pesantren, terjadi miskomunikasi epistemik: seolah semua bentuk hierarki pasti buruk, padahal tidak semua hierarki bermakna dominasi.
Di banyak masyarakat non-Barat, loyalitas, bakti, dan penghormatan pada guru bukan tanda ketertinggalan, melainkan struktur moral yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan solidaritas.
Kerumitan itulah yang hilang ketika pesantren dilihat hanya dari kacamata ideologi egalitarian.
5. Tradisi Sebagai Ruang Negosiasi
Pemikiran Ismail Fajrie Alatas juga menolak romantisasi tradisi. Ia tidak menutup mata terhadap potensi penyalahgunaan otoritas di pesantren.
Namun, ia melihat tradisi bukan sebagai sistem beku, melainkan medan negosiasi moral yang hidup: di sana ada tafsir ulang, kritik, dan pembaruan yang terus-menerus.
Artinya, memperbaiki tradisi tidak sama dengan menolaknya.
Kritik yang berguna bukan yang datang dari luar dengan rasa unggul, melainkan yang tumbuh dari dalam — sejalan dengan semangat islah (perbaikan).
Penutup: Kerendahan Hati Pengetahuan
Ismail Fajrie Alatas berulang kali mengingatkan, tugas antropologi (dan seharusnya juga intelektual) bukanlah menghakimi, melainkan belajar untuk memahami.
Dan memahami berarti menanggalkan klaim universalitas yang menutup empati.
Karena mungkin, yang kita sebut “feodalisme pesantren,” bagi mereka yang menjalaninya, justru bentuk hubungan kasih:
antara guru dan murid, antara ilmu dan amal, antara manusia dan Tuhan.
🟤 “Yang tampak sebagai keterikatan bagi mata modern, bisa jadi adalah jalan kebebasan bagi jiwa tradisional.” — Pandangan seperti ini, dalam kacamata Ismail, menuntut bukan kecerdasan logis semata, tapi kerendahan hati epistemik.
Leave a Reply