Santri, Abangan, dan Priyayi: Sejarah yang Diputarbalikkan

Oleh: Abi Wayka

Klasifikasi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan, dan priyayi yang diperkenalkan oleh Clifford Geertz (1960) selama puluhan tahun menjadi rujukan klasik dalam memahami struktur sosial Jawa. Namun, pembacaan ulang terhadap sejarah perjuangan bangsa menunjukkan bahwa pembagian ini menyimpan bias kolonial yang tersembunyi.

Kelompok santri yang sering dianggap “tradisional” dan “tertutup terhadap modernitas” justru terbukti menjadi benteng utama perlawanan terhadap penjajahan, sementara lapisan priyayi dan sebagian abangan kerap tampil sebagai alat kolonial dan pengkhianat moral bangsa.
Tulisan ini menelusuri jejak sejarah tersebut serta menunjukkan bagaimana pesantren berperan sebagai pusat daya tahan spiritual dan politik bangsa Indonesia.

Dalam karya monumentalnya The Religion of Java (1960), Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga kategori besar:

  1. Santri, yaitu kelompok yang menjadikan Islam sebagai pandangan hidup yang menyeluruh, bukan sekadar identitas budaya.
  2. Abangan, mereka yang beragama Islam secara kultural, namun masih mempraktikkan tradisi sinkretik warisan pra-Islam.
  3. Priyayi, lapisan bangsawan birokratis — warisan feodalisme kerajaan yang kemudian berasimilasi dengan struktur administrasi kolonial.

Klasifikasi tersebut membantu memahami keragaman religius masyarakat Jawa, tetapi dalam konteks sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, pembagian ini jauh dari netral. Ia lahir dari sudut pandang akademik Barat yang mewarisi paradigma orientalis: memandang Islam “tradisional” sebagai penghalang modernitas.
Akibatnya, citra santri dikonstruksikan sebagai “ortodoks”, “fanatik”, dan “tidak rasional” — stereotip yang secara ideologis menguntungkan kolonialisme.

Fakta sejarah justru menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan paling gigih datang dari kalangan pesantren.
Mereka tidak memiliki universitas, tidak membaca teori nasionalisme modern, namun memiliki kesadaran kemerdekaan yang tumbuh dari keyakinan spiritual: menjaga martabat manusia sebagai amanah Tuhan.

  • Banten (1888): Pesantren Caringin dan Anyer menjadi pusat pemberontakan petani di bawah pimpinan para kiai menolak penghinaan kolonial terhadap Islam.
  • Cianjur–Sukabumi: Kiai Sanusi dari Pesantren Gunung Puyuh dan Cantayan memimpin perlawanan terhadap dominasi Belanda.
  • Tasikmalaya (1944): Kiai Zainal Musthafa di Pesantren Sukamanah menolak synchronisasi agama di bawah Jepang, dan gugur sebagai syuhada.
  • Jombang (1945): Kiai Hasyim Asy’ari dari Pesantren Tebuireng mengeluarkan Resolusi Jihad, yang memantik pertempuran heroik di Surabaya.
  • Yogyakarta: Pangeran Diponegoro menempa semangat perlawanan bersama Kiai Maja di Pesantren Tegalrejo.
  • Aceh dan Sumatera Barat: Dari dayah hingga surau, ulama-ulama seperti Teungku Chik di Tiro dan Tuanku Imam Bonjol menjadi simbol jihad melawan penjajah.

Dari ujung barat hingga timur Nusantara, pesantren berdiri tanpa meriam dan tanpa gaji, namun menggetarkan penjajah dengan kekuatan spiritual dan keberanian moral yang lahir dari iman, bukan ambisi.

Sementara itu, lapisan priyayi—yang tumbuh dari dunia istana dan dipoles oleh sistem kolonial—justru menjadi perpanjangan tangan penjajahan.
Mereka disekolahkan di HBS dan OSVIA oleh pemerintah Hindia Belanda, diberi gelar serta pangkat, lalu dikembalikan ke daerah untuk menjadi bupati, patih, wedana, hingga juru tulis.

Tugas resmi mereka adalah “mengatur rakyat.”
Tetapi secara faktual, mereka menjadi aparat pemungut pajak, penegak tanam paksa, dan pengawas ketertiban kolonial.
Ironinya, merekalah yang kemudian disebut “kaum terpelajar,” sementara para kiai dan guru mengaji dianggap “orang kampung”.

Dari sinilah lahir mentalitas elite feodal modern: berpenampilan rasional, tetapi berpikiran kolonial; menyebut diri “pembaharu,” padahal hanya melanjutkan tradisi tunduk pada kekuasaan.

Kelompok abangan dalam klasifikasi Geertz merujuk pada masyarakat pedesaan yang memeluk Islam dalam bentuk kultural-sinkretik. Sebagai lapisan mayoritas tanpa struktur sosial yang kuat, mereka mudah dimobilisasi oleh kekuatan politik.

Selama masa kolonial hingga 1960-an, posisi mereka terbelah:

  • Sebagian bergabung ke PKI, dengan semangat anti-feodalisme dan anti-kiai.
  • Sebagian lain mendukung PNI, yang berporos pada nasionalisme sekuler.
  • Sementara kelompok santri bersatu dalam Masyumi, membawa Islam sebagai fondasi moral politik nasional.

Di tengah pusaran ideologi itu, muncul semboyan penuh kebencian terhadap pesantren:
“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati.”
Ungkapan ini menjadi simbol bagaimana isu-isu ideologis modern dipakai untuk melemahkan akar spiritual bangsa yang sesungguhnya menjadi sumber daya moral rakyat.

Tujuh dekade setelah kemerdekaan, pola lama itu hidup kembali dengan wajah baru.
Pesantren diserang dengan tuduhan bahwa ia feodal, anti-intelektual, tidak terbuka terhadap sains dan kemajuan.
Sementara pola pikir priyayi modern—yang dulu menjadi alat penjajahan—justru diagungkan atas nama “rasionalitas” dan “intelektualitas.”

Padahal sejarah membuktikan hal sebaliknya: ketika bangsa ini rapuh, yang pertama berdiri bukanlah kaum birokrat atau akademisi sekuler, melainkan para kiai dan santri.
Mereka menjaga nurani bangsa, bukan dengan teori, tetapi dengan pengorbanan.

Pesantren bukan peninggalan masa lalu, melainkan benteng kebudayaan yang menjaga keseimbangan antara akal dan adab, antara modernitas dan spiritualitas.
Jika sejarah menempatkan santri sebagai kelompok “tradisional” dan “terbelakang”, maka justru di sanalah letak kemajuan sejati: keteguhan untuk berpihak pada yang benar, bukan pada yang berkuasa.

Dan setiap kali muncul tuduhan feodalisme terhadap pesantren, sejarah berbisik pelan:
mereka yang dulu tunduk kepada Belanda kini masih tunduk pada ideologi Barat yang sama—yang memusuhi spiritualitas bangsanya sendiri.

Geertz, Clifford. The Religion of Java. Chicago: University of Chicago Press, 1960.
Ricklefs, M. C. Islamisation and Its Opponents in Java. Singapore: NUS Press, 2012.
Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942. Jakarta: UI Press, 1982.
van Niel, Robert. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. The Hague: W. van Hoeve, 1960.
Feith, Herbert. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1962.
Wawancara lisan dengan saksi sejarah konflik 1948 dan 1965, Jawa Timur (koleksi penulis, 2025).


Discover more from Bustanul Ulum Press

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *