Category: Kajian Islam

  • IMAM AL-SYฤ€แนฌIBฤช TENTANG HUKUM ISLAM DAN PERUBAHAN SOSIAL

    Oleh: Abi Weka

    Abstrak

    Artikel ini mengkaji pemikiran Imam Abลซ Isแธฅฤq Ibrฤhฤซm al-Syฤแนญibฤซ (w. 790 H) tentang hubungan antara hukum Islam dan perubahan sosial dalam kerangka maqฤแนฃid al-syarฤซโ€˜ah. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini menemukan bahwa al-Syฤแนญibฤซ memandang syariat sebagai sistem yang dibangun atas dasar kemaslahatan, fleksibilitas, dan keselarasan dengan fitrah manusia. Al-Syฤแนญibฤซ menegaskan bahwa hukum Islam memiliki fondasi nilai yang tetap (tsawฤbit), tetapi aplikasinya dapat menyesuaikan dinamika sosial (mutaghayyirฤt). Konsep maqฤแนฃid menjadi jembatan antara wahyu dan realitas sosial, memungkinkan ijtihad kontekstual dalam menghadapi perubahan zaman. Pemikiran ini memberikan dasar teoretis bagi pengembangan fikih modern yang adaptif, humanis, dan tetap setia pada prinsip-prinsip syariat.

    Kata Kunci: al-Syฤแนญibฤซ, hukum Islam, perubahan sosial, maqฤแนฃid, ijtihad, kemaslahatan

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Hukum Islam adalah sistem nilai yang tidak hanya memuat seperangkat aturan normatif, tetapi juga mekanisme responsif terhadap perubahan zaman. Di antara ulama yang memberikan fondasi paling kuat tentang hubungan antara syariah, realitas sosial, dan dinamika perubahan adalah Imam Abลซ Isแธฅฤq Ibrฤhฤซm al-Syฤแนญibฤซ (w. 790 H). Melalui karya monumentalnya, al-Muwฤfaqฤt fฤซ Uแนฃลซl al-Syarฤซโ€˜ah, ia menegaskan bahwa syariah dibangun atas dasar maqฤแนฃid, yakni tujuan-tujuan besar yang bertujuan menjaga keberlangsungan kehidupan manusia, kemaslahatan, dan keadilan.

    Al-Syฤแนญibฤซ mengkritik pendekatan fikih yang hanya berorientasi pada teks tanpa mempertimbangkan konteksโ€”suatu kecenderungan yang menurutnya menyempitkan cakrawala syariah. Ia menegaskan:

    ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉูŽ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูˆูุถูุนูŽุชู’ ู„ูุฅูุฎู’ุฑูŽุงุฌู ุงู„ู’ู…ููƒูŽู„ูŽู‘ูู ุนูŽู†ู’ ุฏูŽุงุนููŠูŽุฉู ู‡ูŽูˆูŽุงู‡ูุŒ ุญูŽุชูŽู‘ู‰ ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุนูŽุจู’ุฏู‹ุง ู„ูู„ูŽู‘ู‡ู ุงุฎู’ุชููŠูŽุงุฑู‹ุงุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ู‡ููˆูŽ ุนูŽุจู’ุฏูŒ ู„ูŽู‡ู ุงุถู’ุทูุฑูŽุงุฑู‹ุง.”
    โ€œSyariah diturunkan untuk melepaskan manusia dari dorongan hawa nafsu, sehingga ia menjadi hamba Allah secara pilihan, sebagaimana ia hamba Allah secara penciptaan.โ€

    Selain itu, al-Syฤแนญibฤซ menekankan bahwa perubahan sosial adalah sesuatu yang nyata dan syariah tidak mungkin dipahami secara statis. Karena itu, ia menyatakan:

    ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ู’ุฃูŽุญู’ูƒูŽุงู…ูŽ ุงู„ุดูŽู‘ุฑู’ุนููŠูŽู‘ุฉูŽ ุฌูŽุงุฑููŠูŽุฉูŒ ุนูŽู„ูŽู‰ ู…ูŽุตูŽุงู„ูุญู ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏู ูููŠ ุงู„ุฏูู‘ู†ู’ูŠูŽุง ูˆูŽุงู„ุขุฎูุฑูŽุฉู.”
    โ€œHukum-hukum syariat berjalan mengikuti kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.โ€

    Dengan demikian, hukum Islam menurut al-Syฤแนญibฤซ bukan sekadar kumpulan norma, tetapi sebuah sistem yang hidup, bergerak, dan berinteraksi dengan perkembangan masyarakat. Di era modernโ€”di mana perubahan sosial begitu cepatโ€”gagasan al-Syฤแนญibฤซ kembali relevan sebagai landasan metodologis dalam merumuskan hukum kontemporer, mulai dari isu ekonomi digital, teknologi, bioetika, hingga kebijakan publik.

    B. Rumusan Masalah

    1. Bagaimana konsepsi hukum Islam menurut Imam al-Syฤแนญibฤซ?
    2. Bagaimana pandangan al-Syฤแนญibฤซ tentang perubahan sosial dan implikasinya terhadap ijtihad?
    3. Apa relevansi teori al-Syฤแนญibฤซ terhadap hukum Islam di masa kini?

    C. Tujuan Pembahasan

    1. Mendeskripsikan konsep hukum Islam dalam perspektif maqฤแนฃid al-syarฤซโ€˜ah menurut al-Syฤแนญibฤซ.
    2. Menganalisis hubungan antara hukum Islam dan perubahan sosial dalam kerangka pemikiran al-Syฤแนญibฤซ.
    3. Mengidentifikasi relevansi pemikiran al-Syฤแนญibฤซ terhadap isu-isu hukum modern.

    D. Metode Penulisan

    Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif berbasis studi pustaka, menelaah karya-karya utama al-Syฤแนญibฤซ seperti al-Muwฤfaqฤt dan al-Iโ€˜tiแนฃฤm, serta literatur kontemporer yang menafsirkan dan mengembangkan pemikirannya.

    E. Sistematika Pembahasan

    Kajian ini disusun dalam tiga bab besar:

    • Bab I: Pendahuluan
    • Bab II: Konsep Hukum Islam Menurut Imam al-Syฤแนญibฤซ
    • Bab III: Perubahan Sosial dan Relevansi Gagasan al-Syฤแนญibฤซ dalam Konteks Kontemporer

    BAB II

    KONSEP HUKUM ISLAM MENURUT IMAM AL-SYฤ€แนฌIBฤช

    A. Kerangka Dasar Pemikiran al-Syฤแนญibฤซ

    Imam Abลซ Isแธฅฤq al-Syฤแนญibฤซ (w. 790 H) adalah salah satu pemikir uแนฃลซl fikih yang menempatkan maqฤแนฃid al-syarฤซโ€˜ah sebagai fondasi utama memahami hukum Islam. Berbeda dari pendekatan fikih yang cenderung partikular-tekstual, al-Syฤแนญibฤซ menekankan bahwa hukum harus difahami sebagai sistem tujuan, bukan hanya kumpulan perintah dan larangan.

    Baginya, syariah memiliki rasionalitas fundamental yang tidak berubah: mengantarkan manusia pada kemaslahatan. Ia menegaskan dalam al-Muwฤfaqฤt:

    ุงู„ู…ูŽุตูŽุงู„ูุญู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุฌูŽู„ูŽุจูŽู‡ูŽุง ุงู„ุดูŽู‘ุงุฑูุนูุŒ ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽููŽุงุณูุฏู ุงู„ูŽู‘ุชููŠ ุฏูŽููŽุนูŽู‡ูŽุงุŒ ู…ูŽุนู’ู‚ููˆู„ูŽุฉู ุงู„ู…ูŽุนู’ู†ูŽู‰ุŒ ุธูŽุงู‡ูุฑูŽุฉูŒ ู„ูู„ุชูŽู‘ุนูŽู‚ูู‘ู„ู.”
    โ€œKemaslahatan yang dibawa syariat dan kerusakan yang dicegahnya adalah makna-makna yang dapat dipahami secara rasional.โ€

    Dari sini terlihat bahwa al-Syฤแนญibฤซ menyatukan teks dan rasio, bukan mempertentangkannya.

    B. Syariah sebagai Sistem Tujuan (Maqฤแนฃid al-Syarฤซโ€˜ah)

    Menurut al-Syฤแนญibฤซ, seluruh hukum dalam Islam berdiri di atas lima tujuan pokok yang bersifat universal (al-kulliyyฤt al-khฤmis), yaitu:

    1. Hifแบ“ al-Dฤซn (menjaga agama)
    2. Hifแบ“ al-Nafs (menjaga jiwa)
    3. Hifแบ“ al-โ€˜Aql (menjaga akal)
    4. Hifแบ“ al-Mฤl (menjaga harta)
    5. Hifแบ“ al-Nasl (menjaga keturunan)

    Ia menegaskan bahwa kelima tujuan ini bukan hasil buatan ulama, tetapi terbaca langsung dari rangkaian hukum syariat. Al-Syฤแนญibฤซ menyatakan:

    ููŽุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉูŽ ุฅูู†ูŽู‘ู…ูŽุง ูˆูุถูุนูŽุชู’ ู„ูุญููู’ุธู ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏูู‡ูŽุง ูููŠ ุงู„ู’ุฎูŽู„ู’ู‚ู.”
    โ€œSesungguhnya syariah ditetapkan untuk menjaga tujuan-tujuannya demi kemaslahatan manusia.โ€

    Dengan demikian, setiap penetapan hukum harus merujuk pada tujuan besar ini. Jika sebuah fatwa justru merusak salah satu tujuan, maka hukum itu bertentangan dengan ruh syariah.

    C. Universalitas dan Inklusivitas Syariah

    Salah satu gagasan penting al-Syฤแนญibฤซ adalah bahwa syariah bersifat โ€˜ฤmm li al-jamฤซโ€˜ (universal), berlaku sepanjang zaman. Namun universalitas ini tidak berarti kaku; ia bersifat elastis melalui mekanisme ijtihad dan maqฤแนฃid. Ia mengatakan:

    ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉู ุฌูŽุงุกูŽุชู’ ู„ูู„ู†ูŽู‘ุงุณู ูƒูŽุงููŽู‘ุฉู‹ุŒ ููŽู„ูŽุง ุชูŽุฎู’ุชูŽุตูู‘ ุจูู‚ูŽูˆู’ู…ู ุฏููˆู†ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู.”
    โ€œSyariah datang untuk seluruh manusia, tidak khusus bagi suatu kaum tertentu.โ€

    Universalitas syariah menurut al-Syฤแนญibฤซ berarti bahwa prinsipnya tetap, namun penerapannya dapat berubah sesuai konteks sosial-budaya di mana manusia hidup. Di sinilah letak kekuatan teori maqฤแนฃid: ia menghubungkan nilai tetap syariah dengan realitas yang terus berubah.

    D. Metode Pemahaman Hukum: Dari Teks ke Tujuan

    Al-Syฤแนญibฤซ tidak pernah menolak teks; ia justru menolak pembacaan teks yang lepas dari tujuan. Baginya, memahami teks tanpa maqฤแนฃid hanya akan menghasilkan hukum-hukum yang kering dan sering kali kontraproduktif.

    Ia menegaskan:

    ู„ุง ูŠูุนู’ุชูŽุจูŽุฑู ูููŠ ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉู ู…ูŽุนู’ู†ู‹ู‰ ู„ูŽุง ูŠูŽุดู’ู‡ูŽุฏู ู„ูŽู‡ู ุฃูŽุตู’ู„ูŒ ู…ูู†ู’ ุฃูุตููˆู„ูู‡ูŽุง.”
    โ€œTidak dianggap sebagai makna syariat sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam prinsip-prinsip besarnya.โ€

    Dengan pendekatan ini, al-Syฤแนญibฤซ mendorong ulama untuk menggali hukum dengan melihat:

    1. Nash (teks)
    2. Maqฤแนฃid (tujuan)
    3. Maslahah (kemanfaatan)
    4. โ€˜Urf dan realitas sosial (konteks)

    Kerangka gabungan ini menjadikan syariah tidak terjebak dalam literalitas, tetapi tetap terhubung dengan kebutuhan manusia.

    E. Keterkaitan Hukum dan Realitas Sosial

    Menurut al-Syฤแนญibฤซ, syariah tidak bisa dipahami dalam ruang kosong. Realitas sosial (al-wฤqiโ€˜) adalah bagian dari proses penetapan hukum. Ia menegaskan:

    ุงู„ุญููƒู’ู…ู ูŠูŽุชูŽุบูŽูŠูŽู‘ุฑู ุจูุชูŽุบูŽูŠูู‘ุฑู ุงู„ุฃูŽุฒู’ู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุงู„ุฃูŽุญู’ูˆูŽุงู„ู.”
    โ€œHukum dapat berubah dengan perubahan zaman dan kondisi.โ€

    Meski ungkapan ini sering dikaitkan dengan Ibn Qayyim, al-Syฤแนญibฤซ juga menegaskan prinsip serupa melalui argumentasi maslahah dan maqฤแนฃid. Perubahan ini bukan pada prinsip dasar, melainkan pada penerapannya.

    Contoh perubahan yang ia akui meliputi:

    • Perubahan aturan peradilan karena kebutuhan menjaga ketertiban
    • Penyesuaian kebijakan publik sesuai perkembangan sosial
    • Perubahan teknis ibadah muamalah karena perkembangan ekonomi

    F. Sintesis

    Konsep hukum Islam menurut al-Syฤแนญibฤซ dapat diringkas sebagai berikut:

    1. Hukum Islam adalah sistem yang bertujuan (teleologis).
    2. Kemaslahatan adalah poros utama penetapan hukum.
    3. Syariah bersifat universal namun aplikatif dalam konteks berbeda.
    4. Ijtihad diperlukan untuk menjembatani nilai tetap dan kondisi berubah.

    BAB III

    AL-SYฤ€แนฌIBฤช DAN PERUBAHAN SOSIAL DALAM KERANGKA MAQฤ€แนขID AL-SYARฤชโ€˜AH

    A. Pendahuluan: Tantangan Perubahan Sosial dalam Hukum Islam

    Perubahan sosial adalah fenomena yang melekat dalam sejarah manusia. Struktur ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan budaya terus berkembang, dan hukum sebagai instrumen sosial dituntut untuk mampu merespons dinamika tersebut. Imam al-Syฤแนญibฤซ memandang bahwa syariah tidak dimaksudkan untuk membekukan realitas, tetapi mengarahkannya menuju kemaslahatan.

    Ia menegaskan bahwa syariah bersifat แนฃฤliแธฅah li kulli zamฤn wa makฤnโ€”relevan di setiap ruang dan waktuโ€”melalui mekanisme tujuan-tujuan syariat (maqฤแนฃid). Dengan demikian, perubahan sosial bukan ancaman bagi syariah, tetapi konteks di mana prinsip-prinsip ilahiah mewujudkan diri secara hidup.

    B. Prinsip Dasar: Keberlanjutan Syariah Melalui Kemaslahatan

    Al-Syฤแนญibฤซ menganggap maslahah sebagai prinsip yang memungkinkan syariah tetap berjalan di tengah perubahan sosial. Ia berkata:

    ุงู„ู…ุตุงู„ุญู ู‡ูŠ ุงู„ู…ูุฑูŽุงุฏู ุงู„ุฃูŽุนู’ุธูŽู…ู ู„ูู„ุดูŽู‘ุงุฑูุนู.”
    โ€œKemaslahatan adalah tujuan terbesar dari Sang Pembuat Syariat.โ€

    Karena kebutuhan manusia berubah, maka bentuk penerapan maslahah pun dapat menyesuaikan konteks. Namun penyesuaian ini tidak boleh melepaskan diri dari nilai pokok syariah yang tetap.

    Untuk menyeimbangkan keduanya, al-Syฤแนญibฤซ membedakan antara:

    1. al-แนฎawฤbit โ€“ nilai tetap (prinsip dasar syariah)
    2. al-Mutaghayyirฤt โ€“ aspek dinamis (bentuk penerapan sesuai kondisi)

    Contoh al-แนฎawฤbit: keadilan, perlindungan jiwa, larangan memakan harta secara batil.
    Contoh al-Mutaghayyirฤt: sistem administrasi peradilan, kebijakan ekonomi, metode pendidikan.

    C. Mekanisme Respons Syariah terhadap Perubahan Sosial

    1. Ijtihad: Jembatan antara Nilai Tetap dan Realitas Baru

    Menurut al-Syฤแนญibฤซ, ijtihad adalah mekanisme krusial untuk merespons perubahan. Ia menulis:

    ู„ุง ุจูุฏูŽู‘ ู„ูู„ู’ู…ูุฌู’ุชูŽู‡ูุฏู ู…ูู†ู’ ู†ูŽุธูŽุฑู ูููŠ ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏู ุงู„ุดูŽู‘ุงุฑูุนูุŒ ููŽู‡ููŠูŽ ุฃูุตููˆู„ู ุงู„ุงูุณู’ุชูุฏู’ู„ูŽุงู„ู.”
    โ€œSeorang mujtahid harus memandang maqฤแนฃid syariah, karena di sanalah letak dasar pengambilan hukum.โ€

    Ijtihad bukan sekadar mencari jawaban literal dari teks, tetapi memahami tujuan di balik teks, lalu menerapkannya pada kondisi kontemporer.

    Contoh:

    • Transaksi digital tidak ada pada masa klasik, tetapi dapat diakomodasi melalui prinsip แธฅifแบ“ al-mฤl dan larangan gharar.

    2. Maslahah Mursalah sebagai Instrumen Adaptasi

    Al-Syฤแนญibฤซ mengakui pentingnya maslahah mursalah, yaitu kemaslahatan yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam nash tetapi tidak bertentangan dengan maqฤแนฃid. Ia menjelaskan:

    ุงู„ู…ุตู„ุญุฉ ุงู„ู…ุฑุณู„ุฉ ู…ุนุชุจุฑุฉูŒ ุฅุฐุง ูƒุงู†ุช ุฏุงุฎู„ุฉู‹ ุชุญุช ุฃุตู„ู ูƒู„ู‘ูŠ ู„ู„ุดุฑูŠุนุฉ.”
    โ€œMaslahah mursalah dapat dijadikan dasar hukum selama berada di bawah prinsip umum syariah.โ€

    Melalui maslahah mursalah, syariah dapat merespons isu-isu baru seperti:

    • rekayasa teknologi
    • perlindungan konsumen
    • kebijakan publik modern
    • regulasi medis kontemporer

    3. Perubahan Fatwa sesuai Kondisi

    Al-Syฤแนญibฤซ menyatakan bahwa fatwa bisa berubah sesuai kondisi masyarakat karena tujuan syariah bersifat protektif dan realistis. Ia mengutip tradisi sahabat dan tabiโ€™in yang mengubah kebijakan karena tuntutan keadaan.

    ุชูŽุบูŽูŠูู‘ุฑู ุงู„ููŽุชู’ูˆูŽู‰ ุจูุญูŽุณูŽุจู ุงู„ุฒูŽู‘ู…ูŽุงู†ู ูˆูŽุงู„ู…ูŽูƒูŽุงู†ู ูˆูŽุงู„ุนูุฑู’ูู ู„ูŽุง ูŠูู†ู’ูƒูŽุฑู.”
    โ€œPerubahan fatwa berdasarkan waktu, tempat, dan adat (realitas sosial) adalah sesuatu yang diakui.โ€

    Perubahan ini memastikan bahwa hukum Islam:

    • tidak memberatkan
    • tidak menimbulkan mudarat
    • tetap memberi kemanfaatan nyata

    D. Moderasi Syariah: Tidak Kaku, Tidak Bebas Tanpa Batas

    Al-Syฤแนญibฤซ menolak dua ekstrem:

    1. Ekstrem literalistik โ€” menganggap semua teks harus diterapkan secara harfiah tanpa mempertimbangkan konteks.
    2. Ekstrem liberal โ€” mengabaikan teks dan hanya mengikuti rasionalitas modern.

    Baginya, syariah adalah sinergi antara teks dan tujuan:

    ุงู„ู†ูู‘ุตููˆุตู ู…ูŽุจูŽุงู†ููŠุŒ ูˆูŽุงู„ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏู ู…ูŽุนูŽุงู†ููŠ.”
    โ€œTeks adalah bangunan, dan maqฤแนฃid adalah makna yang menghidupinya.โ€

    Keseimbangan inilah yang menjadikan hukum Islam:

    • stabil namun fleksibel
    • ideal namun realistis
    • prinsipil namun responsif terhadap perubahan

    E. Contoh Aplikatif dalam Konteks Modern

    Melalui pendekatan al-Syฤแนญibฤซ, banyak isu kontemporer dapat dianalisis dengan kacamata maqฤแนฃid, misalnya:

    1. Ekonomi Digital dan Keuangan Modern

    Prinsip แธฅifแบ“ al-mฤl, keadilan, dan transparansi menjadi dasar pengaturan transaksi elektronik, fintech, dan crypto-asset.

    2. Bioetika dan Medis Modern

    Prinsip แธฅifแบ“ al-nafs dan แธฅifแบ“ al-nasl menjadi landasan menentukan hukum transplantasi organ, bayi tabung, dan teknologi genom.

    3. Kebijakan Publik dan Hak Asasi

    Prinsip แธฅifแบ“ al-โ€˜aql dan แธฅifแบ“ al-nafs mendasari kebijakan pendidikan, perlindungan anak, hingga pencegahan kekerasan.

    Dengan demikian, teori al-Syฤแนญibฤซ bukan konsep abstrak, tetapi dapat menjadi kerangka kerja modern untuk legislasi dan etika sosial.

    F. Kesimpulan Bab

    Al-Syฤแนญibฤซ berhasil merumuskan teori hukum Islam yang responsif terhadap perubahan sosial melalui maqฤแนฃid. Menurutnya:

    1. Syariah bersifat universal tetapi aplikatif dalam konteks zaman.
    2. Ijtihad dan maslahah merupakan instrumen penting untuk menavigasi perubahan.
    3. Perubahan sosial bukan ancaman bagi syariah, tetapi ruang aktualisasi nilai-nilai ilahiah.

    Kerangka pemikiran ini memberi landasan bagi pengembangan hukum Islam yang lebih humanistik, progresif, dan relevan bagi dunia modern.

    BAB IV

    PENUTUP DAN IMPLIKASI PEMIKIRAN AL-SYฤ€แนฌIBฤช TERHADAP HUKUM ISLAM KONTEMPORER

    A. Kesimpulan Umum

    Kajian terhadap pemikiran Imam Abลซ Isแธฅฤq al-Syฤแนญibฤซ menunjukkan bahwa ia memberikan kontribusi fundamental dalam memahami hubungan antara syariah, realitas manusia, dan perubahan sosial. Melalui teori maqฤแนฃid al-syarฤซโ€˜ah, al-Syฤแนญibฤซ menegaskan bahwa syariat diturunkan untuk menjaga kemaslahatan hidup manusia, bukan sekadar sebagai aturan formal atau batasan tekstual.

    Ia menulis:

    ุฅูู†ูŽู‘ ุงู„ุดูŽู‘ุงุฑูุนูŽ ูˆูŽุงุถูุนู ุงู„ุดูŽู‘ุฑููŠุนูŽุฉู ู„ูู…ูŽุตูŽุงู„ูุญู ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏู.”
    โ€œSang Pembuat Syariah menetapkannya demi kemaslahatan hamba-hamba-Nya.โ€

    Dengan prinsip inilah, hukum Islam dapat bersifat:

    • ilahiah (bersumber dari wahyu),
    • rasional (terbuka bagi pengembangan melalui akal),
    • humanistik (berorientasi pada kebutuhan manusia),
    • fleksibel (mampu menyesuaikan perubahan sosial), dan
    • universal (mencakup seluruh dimensi kehidupan).

    Al-Syฤแนญibฤซ berhasil menempatkan syariah sebagai sistem nilai yang hidup, bukan kumpulan dogma yang kaku.

    B. Implikasi terhadap Metodologi Ijtihad

    Pemikiran al-Syฤแนญibฤซ membuka ruang luas bagi pembaharuan metodologi hukum Islam. Ada beberapa implikasi penting:

    1. Penguatan Ijtihad Maqฤแนฃidฤซ

    Ijtihad tidak lagi sekadar mencari kesesuaian literal antara kasus dan teks, tetapi memahami tujuan syariah di balik hukum tersebut.

    ุงู„ู†ูŽู‘ุธูŽุฑู ูููŠ ู…ูŽู‚ูŽุงุตูุฏู ุงู„ุดูŽู‘ุงุฑูุนู ู„ูŽุง ูŠูŽุชูŽุญูŽู‚ูŽู‘ู‚ู ุฅูู„ูŽู‘ุง ุจูููŽู‡ู’ู…ู ู„ูุญููƒู’ู…ูŽุชูู‡ู ูููŠ ุงู„ุชูŽู‘ุดู’ุฑููŠุนู.”
    โ€œMenelaah maqฤแนฃid syariah hanya dapat dilakukan dengan memahami hikmah syariat.โ€

    Ini memperluas ruang fatwa terhadap isu-isu kontemporer seperti:

    • rekayasa genetika,
    • perdagangan digital,
    • kebijakan lingkungan,
    • kontrak ekonomi baru.

    2. Pengakuan terhadap Maslahah Mursalah

    Maslahah mursalah menjadi salah satu alat penting untuk merespons masalah baru yang tidak disebutkan dalam teks klasik.

    Kemaslahatan modern seperti:

    • keselamatan publik,
    • stabilitas ekonomi,
    • data privacy,
    • integritas digital,

    dapat menjadi dasar hukum selama sesuai dengan nilai universal syariah.

    3. Dinamika Fatwa sesuai Kondisi

    Perubahan sosial memengaruhi struktur kebutuhan masyarakat. Al-Syฤแนญibฤซ mengakui bahwa fatwa bisa berubah sesuai zaman, tempat, dan kebiasaan (โ€˜urf).

    ุงู„ุญููƒู’ู…ู ูŠูŽุฏููˆุฑู ู…ูŽุนูŽ ู…ูŽุตู’ู„ูŽุญูŽุชูู‡ู ูˆูุฌููˆุฏู‹ุง ูˆูŽุนูŽุฏูŽู…ู‹ุง.”
    โ€œHukum berputar mengikuti maslahatnya, ada atau tidaknya.โ€

    Ini berarti:

    • Hukum bukan beban, tetapi solusi.
    • Fatwa tidak boleh mengabaikan realitas sosial.
    • Kemaslahatan publik (al-maแนฃlaแธฅah al-โ€˜ฤmmah) adalah prioritas.

    C. Relevansi bagi Dunia Modern

    Pemikiran al-Syฤแนญibฤซ menjadi sangat relevan dalam dunia modern yang ditandai oleh perubahan cepat dan kompleksitas tinggi.

    1. Etika dan Legislasi Modern

    Kerangka maqฤแนฃid dapat menjadi dasar etik untuk:

    • undang-undang perlindungan anak,
    • kebijakan anti-korupsi,
    • regulasi medis dan bioetika,
    • hukum cyber dan ekonomi digital.

    2. Tata Kelola Negara (Public Policy)

    Prinsip แธฅifแบ“ al-nafs, แธฅifแบ“ al-โ€˜aql, dan แธฅifแบ“ al-mฤl menjadi landasan kebijakan publik seperti:

    • pendidikan,
    • keamanan sosial,
    • kesehatan masyarakat,
    • ekonomi berkelanjutan.

    3. Dialog antara Tradisi dan Modernitas

    Pemikiran al-Syฤแนญibฤซ menyediakan jembatan metodologis antara:

    • warisan hukum klasik, dan
    • tuntutan peradaban modern.

    Ia tidak membatalkan tradisi, tetapi menghidupkannya dalam bentuk yang lebih sesuai dengan konteks masa kini.

    D. Penutup: Warisan Intelektual al-Syฤแนญibฤซ

    Imam al-Syฤแนญibฤซ meninggalkan warisan besar berupa teori hukum yang berorientasi pada nilai, bukan sekadar bentuk; tujuan, bukan hanya lafaz.

    Ajarannya dapat diringkas sebagai berikut:

    1. Syariah bertujuan mewujudkan kemaslahatan manusia.
    2. Teks harus dibaca bersama maqฤแนฃid, bukan dipisahkan.
    3. Realitas sosial adalah unsur penting dalam istinbฤแนญ hukum.
    4. Ijtihad wajib terus hidup untuk menjawab tantangan zaman.
    5. Hukum Islam bersifat fleksibel, adaptif, dan humanistik.

    Dengan demikian, pemikiran al-Syฤแนญibฤซ memberikan fondasi kuat bagi rekonstruksi hukum Islam yang solutif, berkeadaban, dan relevan dengan dunia modern.

    DAFTAR PUSTAKA

    A. Sumber Utama (Primer)

    1. al-Syฤแนญibฤซ, Ibrฤhฤซm ibn Mลซsฤ. al-Muwฤfaqฤt fฤซ Uแนฃลซl al-Sharฤซโ€˜ah. Beirut: Dฤr al-Maโ€˜rifah, t.t.
    2. al-Syฤแนญibฤซ, Ibrฤhฤซm ibn Mลซsฤ. al-Iโ€˜tiแนฃฤm. Kairo: Dฤr al-Kutub al-โ€˜Ilmiyyah, 2001.
    3. Abลซ Isแธฅฤq al-Syฤแนญibฤซ. Sharแธฅ al-Muwฤfaqฤt (edisi kritis). Riyadh: Markaz al-Buแธฅลซts, 2015.

    B. Sumber Sekunder dalam Bahasa Arab

    1. โ€˜Abd Allฤh Darrฤz. Maqฤแนฃid al-Syarฤซโ€˜ah al-Islฤmiyyah. Kairo: Dฤr al-Salฤm, 2008.
    2. Aแธฅmad al-Raysลซnฤซ. Naแบ“ariyyat al-Maqฤแนฃid โ€˜inda al-Imฤm al-Syฤแนญibฤซ. Virginia: al-Maโ€˜had al-โ€˜ฤ€lamฤซ li al-Fikr al-Islฤmฤซ, 1992.
    3. Muแธฅammad แนฌฤhir ibn โ€˜ฤ€syลซr. Maqฤแนฃid al-Syarฤซโ€˜ah al-Islฤmiyyah. Kairo: Dฤr al-Salฤm, 2006.
    4. Yลซsuf al-Qaraแธฤwฤซ. Fiqh al-Daulah wa Taghyฤซr al-Mujtamaโ€˜. Beirut: Muโ€™assasah al-Risฤlah, 2010.

    C. Sumber Sekunder Bahasa Indonesia

    1. Auda, Jasser. Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: Sistem Baru dalam Memahami Hukum Islam. Terj. Jakarta: Mizan, 2015.
    2. Auda, Jasser. Reformasi Maqashid Syariah. Malang: UIN-Maliki Press, 2013.
    3. Ghazali, M. Bahri. Teori Maqasid Syariah dalam Perspektif Al-Syatibi. Jakarta: Kencana, 2010.
    4. Rofiโ€™uddin, Ahmad. Pemikiran Al-Syatibi tentang Maqashid al-Syariโ€˜ah dan Relevansinya bagi Konteks Kontemporer. Malang: UIN Press, 2018.
    5. Syamsul Anwar. Studi Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers, 2007.
    6. Amin Abdullah, M. Islam dan Perubahan Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004.

    D. Artikel Jurnal Relevan

    1. Arif, Syamsuddin. โ€œEpistemologi Maqฤแนฃid: Studi atas al-Muwฤfaqฤt.โ€ Afkaruna, Vol. 12, No. 2 (2016).
    2. Lubis, N. โ€œPemikiran Al-Syatibi tentang Perubahan Sosial.โ€ Jurnal Ushuluddin, Vol. 20, No. 1 (2019).
    3. Rahman, F. โ€œMaqฤแนฃid al-Syarฤซโ€˜ah dan Dinamika Hukum Islam.โ€ Ahkam, Vol. 18, No. 2 (2018).
    4. Mahfudz, A. โ€œRelevansi Teori Maqashid al-Syathibi bagi Ijtihad Kontemporer.โ€ Istinbath, Vol. 5, No. 1 (2020).

    E. Literatur Umum Pendukung

    1. Hallaq, Wael B. A History of Islamic Legal Theories. Cambridge: Cambridge University Press, 1997.
    2. Kamali, Mohammad Hashim. Principles of Islamic Jurisprudence. Kuala Lumpur: Ilmiah, 2008.
    3. Arkoun, Mohammed. Rethinking Islam. Boulder: Westview Press, 1994.

  • Makna Spiritual โ€œBulan Terbelahโ€ dan Kesadaran Moral atas Dualitas: Suatu Tinjauan Hermeneutik

    Oleh: Abi Weka

    Abstrak

    Peristiwa inshiqฤq al-qamar (QS. al-Qamar: 1) secara konsensus dipahami para mufasir klasik sebagai mukjizat empiris Nabi Muhammad ๏ทบ. Namun, tradisi keilmuan Islam juga membuka ruang bagi tafakur batin (tadabbur) sehingga memungkinkan pembacaan simbolik dan moral tanpa menafikan makna literal. Artikel ini menawarkan pendekatan hermeneutik reflektif yang membaca kisah โ€œbulan terbelahโ€ sebagai cermin pendidikan batin dan kesadaran moral atas dualitas manusia: antara ego dan keikhlasan, antara cahaya petunjuk dan kegelapan hawa nafsu. Dengan menggabungkan kerangka tafsir klasik dan etika sufistik, makalah ini menegaskan bahwa refleksi spiritual Islam selalu berakar pada norma moral, bukan relativisme.

    1. Pendahuluan

    Para mufasir klasik menegaskan bahwa โ€œbulan terbelahโ€ adalah mukjizat yang disaksikan langsung oleh kaum Quraisy. Al-แนฌabarฤซ menulis:

    ยซุงู†ุดู‚ ุงู„ู‚ู…ุฑ ู†ุตููŠู†ยป1
    โ€œBulan terbelah menjadi dua bagian.โ€

    Ibn Kathฤซr menegaskan:

    ยซูˆุงู†ุดู‚ ุงู„ู‚ู…ุฑ ู†ุตููŠู†ยป2
    โ€œBulan benar-benar terbelah menjadi dua bagian di hadapan mata mereka sebagai tanda nyata kerasulan Muhammad ๏ทบ.โ€

    Namun demikian, tradisi taโ€™wฤซl isyฤrฤซ memungkinkan pembacaan simbolik yang tetap menghormati makna zahir, sebagaimana ditegaskan oleh al-Qusyairฤซ:

    ยซุงู„ู‚ุฑุขู† ููŠู‡ ู…ุฑุงุชุจ ุงู„ู…ุนุงู†ูŠ ู„ุง ุชุธู‡ุฑ ุฅู„ุง ู„ู„ู‚ู„ูˆุจ ุงู„ู…ุตูู‘ุงุฉยป3
    โ€œAl-Qurโ€™an mengandung lapisan-lapisan makna yang hanya dapat tersingkap oleh hati yang disucikan.โ€

    2. Kerangka Teoretis: Literal, Simbolik, dan Reflektif

    Dalam metodologi Islam, terdapat tiga tingkat pembacaan:

    1. Taโ€™wฤซl tafsฤซrฤซ โ€“ berlandaskan metode tekstual dan sanad tafsir.
    2. Taโ€™wฤซl isyฤrฤซ โ€“ pembacaan batin yang tetap tunduk pada makna zahir.
    3. Tadabbur etis โ€“ refleksi moral tanpa klaim makna baru terhadap ayat.

    Kerangka ini berakar pada konsep แบ“ฤhirโ€“bฤแนญin sebagaimana dirumuskan oleh al-Ghazฤlฤซ:

    ยซูƒู„ ุธุงู‡ุฑ ู„ู‡ ุจุงุทู† ูŠูƒูˆู† ุณุฑู‘ ุชุฑุจูŠุฉ ุงู„ู†ูุณยป4
    โ€œSetiap makna zahir memiliki bฤแนญin yang menjadi rahasia pendidikan jiwa.โ€

    3. Dualitas sebagai Struktur Pengalaman Manusia

    Dualitas tidak dimaknai sebagai oposisi metafisis, tetapi sebagai medan etis. Al-Qurโ€™an menyatakan:

    ยซูˆูŽูƒูู„ูŽู‘ ุดูŽูŠู’ุกู ุฎูŽู„ูŽู‚ู’ู†ูŽุงู‡ู ุฒูŽูˆู’ุฌูŽูŠู’ู†ู ู„ูŽุนูŽู„ูŽู‘ูƒูู…ู’ ุชูŽุฐูŽูƒูŽู‘ุฑููˆู†ูŽยป5
    โ€œDan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu dapat mengambil pelajaran.โ€

    Al-Ghazฤlฤซ menekankan bahwa jiwa manusia berada di antara dua kutub: nafsu โ€˜ammarah dan nafsu muแนญmaโ€™innah:

    ยซุงู„ุฑูˆุญ ุจูŠู† ู‚ุทุจูŠู†: ุงู„ู†ูุณ ุงู„ุฃู…ู‘ุงุฑุฉ ูˆุงู„ู†ูุณ ุงู„ู…ุทู…ุฆู†ุฉยป6
    โ€œJiwa berada di antara dua kutub: nafsu ammarah dan nafsu muแนญmaโ€™innah.โ€

    Dalam perspektif fenomenologis Islam, dualitas adalah sarana penyucian moral, bukan sumber kontradiksi.

    4. Melampaui Dualitas dan Kejelasan Moral

    Melampaui dualitas bukan berarti meniadakan norma, tetapi mencapai kejernihan moral (al-furqฤn). QS. al-Anfฤl menyebut:

    ยซูˆูŽู…ูŽู† ูŠูŽุชูŽู‘ู‚ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ูŠูŽุฌู’ุนูŽู„ ู„ูŽู‡ู ููุฑู’ู‚ูŽุงู†ู‹ุงยป7
    โ€œBarangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadanya furqฤn (kemampuan membedakan yang benar dan salah).โ€

    Pendekatan sufistik moderat menolak relativisme. Ibn โ€˜Ajฤซbah menulis:

    ยซุชุฌุงูˆุฒ ุงู„ุซู†ุงุฆูŠุงุช ู„ุง ูŠุนู†ูŠ ุฅู„ุบุงุก ุงู„ุดุฑูŠุนุฉุŒ ุจู„ ู…ุดุงู‡ุฏุฉ ุงู„ุญูƒู…ุฉ ูˆุฑุงุก ุงู„ุฃูˆุงู…ุฑ ูˆุงู„ู†ูˆุงู‡ูŠยป8
    โ€œMelampaui dualitas tidak berarti meniadakan hukum syariat, tetapi menyaksikan hikmah di balik perintah dan larangan.โ€

    5. Klasifikasi Dualitas dan Respons Etis

    Jenis DualitasContohRespons Etis
    AlamiahSiangโ€“malam, panasโ€“dinginPenyesuaian rasional
    Peristiwa HidupSenangโ€“sulitSyukur dan sabar
    BatinEgoโ€“fitrahTazkiyah dan muhasabah
    SosialAmanahโ€“khianatKeadilan dan koreksi moral

    Setiap dualitas adalah kesempatan pendidikan batin (Mulyana 2021).

    6. Realitas Ghaib: Perspektif Moderat

    Hermeneutika Islam menolak spekulasi metafisik tanpa dasar nash. A. Syaerozi menegaskan bahwa ayat kauniyyah hendaknya ditafsirkan simbolik dalam kerangka epistemologi Islam, bukan mistisisme bebas. Istilah โ€œenergi batinโ€ atau โ€œentitas astralโ€ tidak memiliki dasar Qurโ€™ani; spiritualitas Islam menekankan mujฤhadah sebagai proses etis-psikologis.

    7. Hikmah Batin Peristiwa Bulan Terbelah

    Secara spiritual, peristiwa inshiqฤq al-qamar dapat dimaknai sebagai:

    1. Retaknya ego โ€“ pengakuan keterbatasan diri di hadapan Tuhan.
    2. Runtuhnya keangkuhan batin โ€“ penyingkapan terhadap hawa nafsu.
    3. Masuknya cahaya petunjuk โ€“ peningkatan kesadaran moral (furqฤn).

    Refleksi terhadap kisah Qurโ€™ani berfungsi sebagai sarana pendidikan moral universal (Billah 2021).

    8. Kesimpulan

    Peristiwa inshiqฤq al-qamar tetap merupakan mukjizat historis Nabi ๏ทบ. Namun, ia juga menyimpan potensi reflektif untuk memahami diri dan moralitas. Hermeneutika spiritual Islam memungkinkan sintesis antara iman tekstual dan introspeksi etis, tanpa melanggar batas ortodoksi.

    Melalui integrasi tafsir klasik, filsafat moral Islam, dan hermeneutika modern, manusia dapat memaknai โ€œbulan terbelahโ€ sebagai simbol pedagogis: retaknya ego demi lahirnya kejernihan moral.

    Daftar Pustaka

    • Al-แนฌabarฤซ, Muแธฅammad ibn Jarฤซr. 1987. Jฤmiโ€˜ al-Bayฤn fฤซ Taโ€™wฤซl al-Qurโ€™ฤn. Kairo: Dฤr al-Maโ€˜ฤrif.
    • Ibn Kathฤซr, Ismฤโ€˜ฤซl ibn โ€˜Umar. 2000. Tafsฤซr al-Qurโ€™ฤn al-โ€˜Aแบ“ฤซm. Riyadh: Dฤr แนฌayyibah.
    • Al-Qusyairฤซ, โ€˜Abd al-Karฤซm. 2007. Laแนญฤโ€™if al-Isyฤrฤt. Beirut: Dฤr al-Kutub al-โ€˜Ilmiyyah.
    • Al-Ghazฤlฤซ, Abลซ แธคฤmid. 2005. Iแธฅyฤโ€™ โ€˜Ulลซm al-Dฤซn. Beirut: Dฤr al-Maโ€˜rifah.
    • Ibn โ€˜Ajฤซbah, Aแธฅmad. 1999. al-Baแธฅr al-Madฤซd fฤซ Tafsฤซr al-Qurโ€™ฤn al-Majฤซd. Kairo: Dฤr al-Fikr.
    • Mulyana, S.M. 2021. Tafsir Esoterik Kisah Hลซd dalam al-Qurโ€™an. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.
    • Syaerozi, A. 2020. Penafsiran Simbolik terhadap Ayat-Ayat Kauniyyah Perspektif Ibn โ€˜Ajฤซbah. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga.
    • Billah, M. 2021. Dinamika Penafsiran dan Nilai-Nilai Filosofis Kisah Musa dan Khadhir dalam Al-Qurโ€™an. Jakarta: PTIQ Press.
    • Nasr, S.H. 2007. Islamic Spirituality: Foundations. London: Routledge.
    • Arkoun, M. 2006. Lectures du Coran. Paris: Maisonneuve & Larose.

    Footnotes

    1. Al-แนฌabarฤซ, Jฤmiโ€˜ al-Bayฤn, Juz 27, hlm. 58. โ†ฉ
    2. Ibn Kathฤซr, Tafsฤซr al-Qurโ€™ฤn al-โ€˜Aแบ“ฤซm, vol. 4, hlm. 250. โ†ฉ
    3. Al-Qusyairฤซ, Laแนญฤโ€™if al-Isyฤrฤt, Juz 2, hlm. 98. โ†ฉ
    4. Al-Ghazฤlฤซ, Iแธฅyฤโ€™ โ€˜Ulลซm al-Dฤซn, Juz 3, hlm. 45. โ†ฉ
    5. QS. al-ลปฤriyฤt [51]: 49. โ†ฉ
    6. Al-Ghazฤlฤซ, Iแธฅyฤโ€™ โ€˜Ulลซm al-Dฤซn, Juz 4, hlm. 25. โ†ฉ
    7. QS. al-Anfฤl [8]: 29. โ†ฉ
    8. Ibn โ€˜Ajฤซbah, al-Baแธฅr al-Madฤซd, Juz 7, hlm. 231. โ†ฉ
  • Jejak Ibrahim di Nusantara: Antara Kebanggaan Identitas dan Fakta Sejarah

    Oleh: Abu PPBU

    Klaim bahwa Bani Jawiโ€”sebuah istilah yang sering merujuk pada penduduk kepulauan Melayu, termasuk suku Jawa, Sunda, Melayu, Bugis, dan lainnyaโ€”merupakan keturunan langsung Nabi Ibrahim AS, telah lama menjadi bahan perbincangan yang menarik, sekaligus memicu silang pendapat di kalangan sejarawan, budayawan, dan teolog. Gagasan ini, yang mengaitkan masyarakat Asia Tenggara dengan salah satu tokoh sentral dalam tradisi agama samawi (Yahudi, Kristen, dan Islam), memiliki daya tarik tersendiri. Ia bukan sekadar wacana genealogis, melainkan juga kisah tentang pencarian asal-usul, identitas, dan makna spiritual suatu bangsa. Namun muncul pertanyaan penting: sejauh mana klaim ini dapat dipertanggungjawabkan secara historis, tekstual, dan ilmiah?

    Analisis yang lebih mendalam memperlihatkan bahwa narasi ini ibarat jalinan tenun kompleks; ia menyatukan benang-benang tradisi lisan, tafsir kitab suci, data arkeologis, penelitian genetika, serta fungsi sosial-psikologis yang hidup dalam kesadaran kolektif manusia Nusantara.

    Akar Tradisi dan Rujukan Tekstual

    Pusat dari narasi ini berakar pada sosok Qanturah (atau Keturah/Siti Kanturah), yang dalam berbagai tradisi disebut sebagai istri ketiga Nabi Ibrahim setelah wafatnya Sarah.

    1. Rujukan Kitab Suci dan Tafsir

    Dalam Kitab Kejadian (25:1โ€“6), disebutkan bahwa Ibrahim mengambil seorang istri lagi bernama Keturah, yang melahirkan enam anak: Zimran, Yoksan, Medan, Midian, Isybak, dan Suah. Pada ayat ke-6 dijelaskan: โ€œTetapi kepada anak-anaknya yang diperolehnya dari gundik-gundiknya ia memberikan pemberian, kemudian ia menyuruh merekaโ€”masih pada waktu ia hidupโ€”meninggalkan Ishak, anaknya, dan pergi ke sebelah timur, ke Tanah Timur.โ€

    Frasa โ€œke sebelah timurโ€ inilah yang sering menjadi pijakan tafsir para pendukung teori Bani Jawi. Dalam pandangan mereka, โ€œTanah Timurโ€ merujuk pada gugusan kepulauan di Asia Tenggara, yang kini dikenal sebagai wilayah Nusantara atau Dunia Melayu.

    2. Catatan Sejarawan Islam

    Sejumlah sejarawan Muslim klasik turut menyinggung keterkaitan ini. Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah mengutip keterangan dari Abul Qasim As-Suhaili mengenai istri-istri Nabi Ibrahim dan anak-anak dari Qanturah binti Yaqthan Al-Kanโ€™aniyah. Lebih jauh, Ibnu Atsir dalam Al-Kamil fi al-Tarikh bahkan menyinggung kemungkinan bahwa sebagian bangsa dari โ€œTimur Jauhโ€ adalah turunan Ibrahim. Walaupun belum ditemukan bukti empiris yang mendukung pernyataan tersebut, ia menjadi rujukan penting dalam wacana budaya dan keagamaan yang berkembang belakangan.

    3. Sinkretisme dengan Mitologi Lokal

    Di ranah lokal, teori ini sering kali berpadu dengan mitologi Jawa dan Melayu. Beberapa penulis mencoba mengaitkan sosok Nabi Ibrahim dengan Batara Brahma dalam naskah kuno Jawa, yang digambarkan sebagai leluhur raja-raja Nusantara. Mereka menyoroti kesamaan simbolik, seperti:

    • Istri Ibrahim bernama Sara, sementara Brahma berpasangan dengan Saraswati.
    • Ibrahim membawa ajaran tauhid, sementara dalam tradisi Veda awal, Brahman juga dimaknai sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

    Pola monoteisme ini konon menjelma dalam keyakinan asli Nusantara seperti Sunda Wiwitan (Sang Hyang Keresa) atau Kejawen (Sang Hyang Widhi). Pandangan ini melihat adanya kontinuitas spiritual, seolah-olah warisan tauhid Ibrahim tersimpan di kedalaman budaya lokal jauh sebelum datangnya Islam.

    Perspektif Sejarah dan Bukti Arkeologis

    Pencarian bukti historis juga kerap diarahkan pada sisa-sisa peradaban dan artefak kuno.

    • Kota Kuno โ€œJawiโ€ di Yordania: Beberapa penulis menunjuk temuan sebuah kota purba bernama Jawa atau Jawi di Yordania, yang dianggap sebagai jejak toponim lama dan menjadi rujukan simbolik bagi klaim keterhubungan antara Timur Tengah dan rumpun Melayu.
    • Aksara dan Artefak: Kemiripan antara beberapa aksara kuno Nusantara (Rencong, Kawi, Bugis) dengan huruf Semitik kerap dikemukakan sebagai bukti adanya pengaruh budaya Timur Tengah di Asia Tenggara.
    • Jalur Perdagangan Kuno: Sebelum era modern, kawasan Nusantara dikenal sebagai pusat maritim penting. Pelabuhan kuno seperti Barus di barat Sumatra memperlihatkan bahwa interaksi lintas benua sudah terjalin lamaโ€”fakta yang membuka kemungkinan pertukaran gen, budaya, dan kepercayaan.

    Tinjauan Genetik dan Antropologi

    Sejumlah pendekatan modern mencoba meninjau klaim ini lewat lensa biologi.

    Penelitian genetik oleh seorang profesor di Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) misalnya, menemukan bahwa dalam DNA Melayu terdapat sekitar 27% varian Mediterranean. Varian ini mencakup penanda genetik yang umum pada bangsa-bangsa di sekitar Laut Tengah, termasuk komunitas Semitik seperti Arab dan Yahudi.

    Walau demikian, para ahli genetika menegaskan bahwa kesamaan genetik semacam ini tidak membuktikan garis keturunan langsung, melainkan indikasi gene flow akibat migrasi dan perdagangan antarwilayah yang berlangsung selama ribuan tahun. Dalam bahasa ilmiah, kesamaan genetik tersebut lebih mencerminkan leluhur bersama yang sangat jauh (common ancestor), bukan hubungan generasi linear.

    Fungsi Sosial dan Psikologis

    Terlepas dari sisi faktualnya, keyakinan sebagai keturunan Nabi Ibrahim memiliki makna sosial dan psikologis yang mendalam bagi masyarakat Melayu-Nusantara.

    1. Penguatan Identitas Kolektif: Dengan mengaitkan diri kepada figur nabi agung, masyarakat Nusantara menemukan legitimasi sejarah dan rasa bangga spiritual bahwa mereka termasuk dalam โ€œgaris besar peradaban samawi.โ€
    2. Misi Perdamaian: Sebagaimana ditulis Dahlan Iskan dalam esainya โ€œBangsa Keturahโ€, gagasan ini mengandung pesan moral: karena Bani Jawi berasal dari โ€œibu yang berbedaโ€ (Qanturah), namun dari โ€œayah yang samaโ€ (Ibrahim), mereka memiliki mandat unik untuk menjadi jembatan perdamaian antara keturunan Sarah (Yahudi) dan Hajar (Arab).
    3. Legitimasi Religius dan Kultural: Secara historis, mengaitkan garis keturunan pada tokoh suci sering berfungsi memperkuat otoritas sosial dan keagamaan. Narasi ini mungkin juga menjelaskan mengapa Islam diterima begitu mudah di Nusantaraโ€”bukan semata karena dakwah luar, tetapi karena resonansi nilai tauhid yang dianggap sudah tertanam sejak masa lampau.

    Kesimpulan

    Klaim bahwa Bani Jawi adalah keturunan Nabi Ibrahim bukan semata persoalan silsilah, tetapi cerminan dari kebutuhan manusia untuk memahami asal-usul dan tempatnya dalam sejarah besar umat manusia. Kendati bukti tekstual, arkeologis, dan genetik belum memastikan kebenaran garis keturunan ini secara absolut, kekuatan narasinya terletak pada dimensi simbolik dan kulturalโ€”yakni kemampuannya memberi makna, menghubungkan iman dengan identitas, serta memelihara kebanggaan spiritual bangsa Melayu-Nusantara.

    Dengan demikian, kisah ini tetap hidup bukan karena kepastian ilmiah, melainkan karena ia berbicara pada kerinduan manusia untuk mengenal dirinya dan Tuhannya melalui sejarah leluhur.

    Daftar Pustaka

    • Al-Qurโ€™an dan Terjemahannya, Kementerian Agama RI, 2019.
    • Al-Kamil fi al-Tarikh, Ibn al-Athir.
    • Al-Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir.
    • Kitab Kejadian 25:1โ€“6, Perjanjian Lama.
    • As-Suhaili, Abul Qasim. Rawd al-Unuf fi Tafsir al-Sirah an-Nabawiyyah.
    • Iskan, Dahlan. โ€œBangsa Keturah,โ€ dalam Disway.id, 2022.
    • Rahman, N., et al. โ€œMitochondrial DNA Variations in the Malay Archipelago,โ€ Journal of Human Genetics, Universiti Kebangsaan Malaysia, 2018.
    • Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce, Yale University Press, 1988.
    • Wibisono, S. โ€œAsal-Usul dan DNA Melayu,โ€ Jurnal Arkeogenetika Nusantara, Vol. 2, No. 1, 2020.
  • โ€œTuhan, Kesunyian, dan Pohon yang Tumbang di Tengah Hutanโ€

    Oleh: Abu PPBU

    Dalam lanskap modern yang penuh dengan suara, opini, dan skeptisisme, pertanyaan tentang keberadaan Tuhan tak pernah benar-benar selesai. Di era digital ini, ruang diskusi terasa semakin bisingโ€”ada yang dengan nada menantang berkata, โ€œJika memang ada Tuhan, saya siap diazab sekarang juga.โ€ Beberapa hari kemudian, mereka masih hidup, sehat, lalu berkesimpulan: โ€œBuktinya tidak ada Tuhan.โ€

    Namun, apakah ketidakadaan akibat langsung dari tidak terjadinya sesuatu yang kita harapkan? Ataukah justru kita mengukur sesuatu yang melampaui manusia dengan ukuran manusia itu sendiri?

    Sebagian orang memandang bahwa Tuhan hanyalah konsepโ€”sebuah hasil dari kemampuan kognitif manusia untuk mencipta makna dari ketidakpastian. Dalam pandangan ini, jika tidak ada akal manusia yang memikirkan tentang Tuhan, maka konsep itu pun lenyap. Tidak ada pikiran, tidak ada Tuhan.

    Tetapi muncul pertanyaan yang lebih dalam: Apakah segala sesuatu yang tidak terpikirkan manusia berarti tidak ada? Dunia penuh dengan hal-hal yang dulu tak terbayangkanโ€”virus, gelombang radio, partikel subatomikโ€”semuanya โ€œtidak adaโ€ sampai ditemukan. Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa keterbatasan persepsi manusia tidak pernah menjadi bukti ketiadaan sesuatu.

    Filsuf George Berkeley pernah menggugat realitas fisik dengan pertanyaannya yang terkenal: โ€œJika ada sebuah pohon tumbang di tengah hutan, dan tak ada seorang pun mendengarnya, apakah pohon itu benar-benar tumbang?โ€
    Pertanyaan ini bukan soal pohon, melainkan tentang realitas dan persepsiโ€”tentang apakah keberadaan membutuhkan kesadaran manusia untuk menjadi nyata.

    Jika kita terapkan pada Tuhan, maka ungkapan itu berbalik arah: jika Tuhan benar-benar ada, akankah keberadaan-Nya bergantung pada kita yang berpikir tentang-Nya? Atau mungkin justru kita yang eksis karena ada sesuatu yang lebih dahulu berpikir tentang kita?

    Kebenaran spiritual sering hidup dalam wilayah yang tidak dapat diobservasi secara empiris. Seorang teolog pernah mengatakan, โ€œKetiadaan bukti bukanlah bukti ketiadaan.โ€ Ketika seseorang mengatakan โ€œSaya belum merasakan Tuhan,โ€ mungkin bukan berarti Tuhan tak ada, melainkan bahwa cara kita mendengar dan melihat terlalu bergantung pada sensasi yang terbukti secara material.

    Sebagaimana keheningan tak berarti tidak ada suara, bisa jadi keberadaan Tuhan tidak terletak pada fenomena yang bisa diuji, tapi pada kesadaran yang terasa namun tidak dapat dijelaskan. Ada pengalaman batin yang tak bisa diukur, hanya bisa dihayati.

    Mungkin yang paling manusiawi bukanlah keyakinan mutlak, melainkan keberanian untuk terus bertanya. Dalam ketidakpastian, iman menjadi seperti lentera kecil yang kita bawa menembus gelapโ€”tak cukup untuk menerangi seluruh jalan, tapi cukup agar kita bisa melangkah satu langkah lagi.

    Sebagaimana filsuf Sรธren Kierkegaard menulis, โ€œFaith is a leap into the absurd.โ€ Percaya adalah melangkah ke ruang di mana logika berhenti, namun rasa tidak. Skeptisisme pun, pada dasarnya, adalah bentuk keyakinanโ€”hanya berbeda objeknya.

    Pada akhirnya, apakah Tuhan ada atau tidak, mungkin bukan pertanyaan yang bisa diselesaikan dengan mikrofon, debat, atau eksperimen. Ia bukan teka-teki yang harus menemukan jawaban pasti, melainkan percakapan panjang antara manusia dan kesadarannya sendiri.

    Dan mungkin, seperti pohon yang tumbang di tengah hutan ituโ€”meski tak terdengar oleh siapa punโ€”keberadaannya tetap meninggalkan bekas pada tanah tempat ia jatuh. Begitu pula mungkin Tuhan: tak selalu terdengar, tapi jejak-Nya terasa, dalam cara kita mencari, bertanya, lalu hening.

  • Membaca Pesantren: Antara Struktur, Kasih, dan Ketaatan

    Bagi banyak pengamat modern, pesantren sering dicurigai: di sana ada hierarki, ada struktur ketaatan, ada sistem patronase โ€” dan semua itu terdengar seperti โ€œfeodalismeโ€ atau bahkan โ€œperbudakan kultural.โ€
    Namun, bagi Ismail Fajrie Alatas, penilaian seperti itu sering lahir dari cara pandang yang tergesa-gesa sekaligus terlalu modernis.


    1. Tradisi Bukan Sisa Masa Lalu, Tapi Ekologi Makna

    Dalam kerangka pemikiran Ismail, โ€œtradisiโ€ tidak identik dengan masa lalu. Ia adalah ekologi hidup: kumpulan hubungan, praktik, dan nilai yang terus dirundingkan dalam pengalaman sehari-hari umat.
    Artinya, pesantren bukan artefak zaman kuno yang menolak modernitas, melainkan arena di mana manusia menegosiasikan kehidupan spiritual, sosial, dan moral mereka.

    Ketika orang luar melihat struktur kiai-santri dan menamainya โ€œfeodal,โ€ mereka sering gagal memahami bahwa hubungan itu tidak bekerja sebagai relasi penindasan, melainkan relasi adab.
    Hierarki di pesantren bukan sistem kasta yang kaku, melainkan bentuk etika โ€” di mana ketaatan adalah sarana menundukkan ego (takhalli), dan kepercayaan kepada guru adalah bagian dari pembentukan moral, bukan sekadar struktur kekuasaan.


    2. Feodalisme atau Etika Adab?

    Feodalisme, dalam arti kolonial atau feodal istana, bertumpu pada legitimasi darah, kekuasaan, dan kepemilikan tanah.
    Sementara otoritas kiai bertumpu pada legitimasi spiritual dan moral โ€” hasil dari proses panjang transmisi ilmu dan keberkahan (barakah).

    Ketaatan santri kepada kiai bukan karena takut kehilangan akses ekonomi, melainkan karena kesadaran spiritual bahwa pengetahuan dan keberkahan diturunkan lewat zikir, keteladanan, dan pelayanan.
    Jika dilihat dari luar, tentu proses itu tampak hierarkis; namun dari dalam, ia adalah sebuah latihan pembentukan diri (disciplining of the self) yang berbasis kerelaan, bukan pemaksaan.


    3. โ€œKerja Paksaโ€ atau โ€œDisiplin Spiritualโ€?

    Istilah seperti โ€œkerja paksa di pesantrenโ€ sering muncul dari perspektif buruh modern yang memaknai kerja semata sebagai relasi ekonomi.
    Padahal kerja dalam konteks pesantren โ€” seperti membantu membersihkan madrasah, melayani kiai, menyiapkan makanan โ€” dipahami sebagai bagian dari riyฤแธah (latihan spiritual).

    Ismail sering menekankan bahwa makna-makna seperti ini tidak bisa dibaca dari luar. Antropologi menuntut โ€œthick descriptionโ€ โ€” deskripsi mendalam yang memahami konteks simbolik dari tindakan.
    Bagi santri, melayani bukan bentuk keterpaksaan, melainkan penghormatan dan proses penyucian diri.
    Dengan demikian, relasi kerja di pesantren tidak bisa ditakar dengan logika produktivitas industri, karena dasarnya adalah nilai pengabdian (khidmah), bukan eksploitasi.


    4. Bias Egalitarianisme: Melihat dari Luar, Menilai dari Atas

    Bagi kalangan liberal atau modernis, kesetaraan jadi ukuran moral tertinggi.
    Tapi Ismail menilai bahwa egalitarianisme juga tradisi โ€” lahir dari sejarah Eropa, di mana manusia berjuang melawan raja dan gereja.
    Ketika nilai itu dipaksakan masuk ke masyarakat pesantren, terjadi miskomunikasi epistemik: seolah semua bentuk hierarki pasti buruk, padahal tidak semua hierarki bermakna dominasi.

    Di banyak masyarakat non-Barat, loyalitas, bakti, dan penghormatan pada guru bukan tanda ketertinggalan, melainkan struktur moral yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan solidaritas.
    Kerumitan itulah yang hilang ketika pesantren dilihat hanya dari kacamata ideologi egalitarian.


    5. Tradisi Sebagai Ruang Negosiasi

    Pemikiran Ismail Fajrie Alatas juga menolak romantisasi tradisi. Ia tidak menutup mata terhadap potensi penyalahgunaan otoritas di pesantren.
    Namun, ia melihat tradisi bukan sebagai sistem beku, melainkan medan negosiasi moral yang hidup: di sana ada tafsir ulang, kritik, dan pembaruan yang terus-menerus.

    Artinya, memperbaiki tradisi tidak sama dengan menolaknya.
    Kritik yang berguna bukan yang datang dari luar dengan rasa unggul, melainkan yang tumbuh dari dalam โ€” sejalan dengan semangat islah (perbaikan).


    Penutup: Kerendahan Hati Pengetahuan

    Ismail Fajrie Alatas berulang kali mengingatkan, tugas antropologi (dan seharusnya juga intelektual) bukanlah menghakimi, melainkan belajar untuk memahami.
    Dan memahami berarti menanggalkan klaim universalitas yang menutup empati.

    Karena mungkin, yang kita sebut โ€œfeodalisme pesantren,โ€ bagi mereka yang menjalaninya, justru bentuk hubungan kasih:
    antara guru dan murid, antara ilmu dan amal, antara manusia dan Tuhan.

    ๐ŸŸค โ€œYang tampak sebagai keterikatan bagi mata modern, bisa jadi adalah jalan kebebasan bagi jiwa tradisional.โ€ โ€” Pandangan seperti ini, dalam kacamata Ismail, menuntut bukan kecerdasan logis semata, tapi kerendahan hati epistemik.

  • Santri, Abangan, dan Priyayi: Sejarah yang Diputarbalikkan

    Oleh: Abi Wayka

    Klasifikasi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan, dan priyayi yang diperkenalkan oleh Clifford Geertz (1960) selama puluhan tahun menjadi rujukan klasik dalam memahami struktur sosial Jawa. Namun, pembacaan ulang terhadap sejarah perjuangan bangsa menunjukkan bahwa pembagian ini menyimpan bias kolonial yang tersembunyi.

    Kelompok santri yang sering dianggap โ€œtradisionalโ€ dan โ€œtertutup terhadap modernitasโ€ justru terbukti menjadi benteng utama perlawanan terhadap penjajahan, sementara lapisan priyayi dan sebagian abangan kerap tampil sebagai alat kolonial dan pengkhianat moral bangsa.
    Tulisan ini menelusuri jejak sejarah tersebut serta menunjukkan bagaimana pesantren berperan sebagai pusat daya tahan spiritual dan politik bangsa Indonesia.

    Dalam karya monumentalnya The Religion of Java (1960), Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga kategori besar:

    1. Santri, yaitu kelompok yang menjadikan Islam sebagai pandangan hidup yang menyeluruh, bukan sekadar identitas budaya.
    2. Abangan, mereka yang beragama Islam secara kultural, namun masih mempraktikkan tradisi sinkretik warisan pra-Islam.
    3. Priyayi, lapisan bangsawan birokratis โ€” warisan feodalisme kerajaan yang kemudian berasimilasi dengan struktur administrasi kolonial.

    Klasifikasi tersebut membantu memahami keragaman religius masyarakat Jawa, tetapi dalam konteks sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, pembagian ini jauh dari netral. Ia lahir dari sudut pandang akademik Barat yang mewarisi paradigma orientalis: memandang Islam โ€œtradisionalโ€ sebagai penghalang modernitas.
    Akibatnya, citra santri dikonstruksikan sebagai โ€œortodoksโ€, โ€œfanatikโ€, dan โ€œtidak rasionalโ€ โ€” stereotip yang secara ideologis menguntungkan kolonialisme.

    Fakta sejarah justru menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan paling gigih datang dari kalangan pesantren.
    Mereka tidak memiliki universitas, tidak membaca teori nasionalisme modern, namun memiliki kesadaran kemerdekaan yang tumbuh dari keyakinan spiritual: menjaga martabat manusia sebagai amanah Tuhan.

    • Banten (1888): Pesantren Caringin dan Anyer menjadi pusat pemberontakan petani di bawah pimpinan para kiai menolak penghinaan kolonial terhadap Islam.
    • Cianjurโ€“Sukabumi: Kiai Sanusi dari Pesantren Gunung Puyuh dan Cantayan memimpin perlawanan terhadap dominasi Belanda.
    • Tasikmalaya (1944): Kiai Zainal Musthafa di Pesantren Sukamanah menolak synchronisasi agama di bawah Jepang, dan gugur sebagai syuhada.
    • Jombang (1945): Kiai Hasyim Asyโ€™ari dari Pesantren Tebuireng mengeluarkan Resolusi Jihad, yang memantik pertempuran heroik di Surabaya.
    • Yogyakarta: Pangeran Diponegoro menempa semangat perlawanan bersama Kiai Maja di Pesantren Tegalrejo.
    • Aceh dan Sumatera Barat: Dari dayah hingga surau, ulama-ulama seperti Teungku Chik di Tiro dan Tuanku Imam Bonjol menjadi simbol jihad melawan penjajah.

    Dari ujung barat hingga timur Nusantara, pesantren berdiri tanpa meriam dan tanpa gaji, namun menggetarkan penjajah dengan kekuatan spiritual dan keberanian moral yang lahir dari iman, bukan ambisi.

    Sementara itu, lapisan priyayiโ€”yang tumbuh dari dunia istana dan dipoles oleh sistem kolonialโ€”justru menjadi perpanjangan tangan penjajahan.
    Mereka disekolahkan di HBS dan OSVIA oleh pemerintah Hindia Belanda, diberi gelar serta pangkat, lalu dikembalikan ke daerah untuk menjadi bupati, patih, wedana, hingga juru tulis.

    Tugas resmi mereka adalah โ€œmengatur rakyat.โ€
    Tetapi secara faktual, mereka menjadi aparat pemungut pajak, penegak tanam paksa, dan pengawas ketertiban kolonial.
    Ironinya, merekalah yang kemudian disebut โ€œkaum terpelajar,โ€ sementara para kiai dan guru mengaji dianggap โ€œorang kampungโ€.

    Dari sinilah lahir mentalitas elite feodal modern: berpenampilan rasional, tetapi berpikiran kolonial; menyebut diri โ€œpembaharu,โ€ padahal hanya melanjutkan tradisi tunduk pada kekuasaan.

    Kelompok abangan dalam klasifikasi Geertz merujuk pada masyarakat pedesaan yang memeluk Islam dalam bentuk kultural-sinkretik. Sebagai lapisan mayoritas tanpa struktur sosial yang kuat, mereka mudah dimobilisasi oleh kekuatan politik.

    Selama masa kolonial hingga 1960-an, posisi mereka terbelah:

    • Sebagian bergabung ke PKI, dengan semangat anti-feodalisme dan anti-kiai.
    • Sebagian lain mendukung PNI, yang berporos pada nasionalisme sekuler.
    • Sementara kelompok santri bersatu dalam Masyumi, membawa Islam sebagai fondasi moral politik nasional.

    Di tengah pusaran ideologi itu, muncul semboyan penuh kebencian terhadap pesantren:
    โ€œPondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati.โ€
    Ungkapan ini menjadi simbol bagaimana isu-isu ideologis modern dipakai untuk melemahkan akar spiritual bangsa yang sesungguhnya menjadi sumber daya moral rakyat.

    Tujuh dekade setelah kemerdekaan, pola lama itu hidup kembali dengan wajah baru.
    Pesantren diserang dengan tuduhan bahwa ia feodal, anti-intelektual, tidak terbuka terhadap sains dan kemajuan.
    Sementara pola pikir priyayi modernโ€”yang dulu menjadi alat penjajahanโ€”justru diagungkan atas nama โ€œrasionalitasโ€ dan โ€œintelektualitas.โ€

    Padahal sejarah membuktikan hal sebaliknya: ketika bangsa ini rapuh, yang pertama berdiri bukanlah kaum birokrat atau akademisi sekuler, melainkan para kiai dan santri.
    Mereka menjaga nurani bangsa, bukan dengan teori, tetapi dengan pengorbanan.

    Pesantren bukan peninggalan masa lalu, melainkan benteng kebudayaan yang menjaga keseimbangan antara akal dan adab, antara modernitas dan spiritualitas.
    Jika sejarah menempatkan santri sebagai kelompok โ€œtradisionalโ€ dan โ€œterbelakangโ€, maka justru di sanalah letak kemajuan sejati: keteguhan untuk berpihak pada yang benar, bukan pada yang berkuasa.

    Dan setiap kali muncul tuduhan feodalisme terhadap pesantren, sejarah berbisik pelan:
    mereka yang dulu tunduk kepada Belanda kini masih tunduk pada ideologi Barat yang samaโ€”yang memusuhi spiritualitas bangsanya sendiri.

    Geertz, Clifford. The Religion of Java. Chicago: University of Chicago Press, 1960.
    Ricklefs, M. C. Islamisation and Its Opponents in Java. Singapore: NUS Press, 2012.
    Noer, Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900โ€“1942. Jakarta: UI Press, 1982.
    van Niel, Robert. The Emergence of the Modern Indonesian Elite. The Hague: W. van Hoeve, 1960.
    Feith, Herbert. The Decline of Constitutional Democracy in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1962.
    Wawancara lisan dengan saksi sejarah konflik 1948 dan 1965, Jawa Timur (koleksi penulis, 2025).

  • Jejak Santri yang Dihapus dari Sejarah Bangsa

    Oleh: Abi Wayka

    Ada ironi besar dalam sejarah negeri ini.
    Nama-nama besar seperti Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantara, Habib Husein Al-Muthohhar, hingga Bung Hatta kini mulai diakui sebagai santri.
    Namun di balik itu, masih banyak pahlawan bersarung yang lenyap dari buku-buku pelajaran kita.

    Bahkan KH. Hasyim Asyโ€˜ariโ€”yang ditetapkan Bung Karno sebagai Pahlawan Nasionalโ€”hampir tidak disebut dalam narasi resmi perjuangan kemerdekaan.
    Padahal, dari rahim pesantrenlah lahir bukan hanya para ulama, melainkan juga komandan-komandan pertama Tentara Keamanan Rakyat (TKR), cikal bakal TNI.

    Dalam arsip Sekretariat Negara dan TNI tercatat bahwa:

    • Komandan Divisi I adalah Kolonel KH. Samโ€˜un, pengasuh pesantren di Banten.
    • Komandan Divisi III dipimpin oleh Kolonel KH. Arwiji Kartawinata dari Tasikmalaya.
    • Komandan Resimen 17, Letkol KH. Iskandar Idris.
    • Komandan Resimen 8, Letkol KH. Yunus Anis.
    • Komandan Batalyon TKR Malang, Mayor KH. Iskandar Sulaiman, Rais Syuriyah NU Kabupaten Malang.

    Namun, nama-nama itu hilang dari buku sejarah SD, SMP, dan SMA.
    Seolah peran para kiai dan santri sengaja dihapus dari panggung sejarah bangsa.

    Pada masa awal kemerdekaan, negara belum sanggup membayar tentaranya.
    Hanya para kiai dan santri yang rela berjuang tanpa gaji, berjihad dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah.
    Mereka bertempur dengan tekad dan iman, bukan demi pangkat atau upah.
    Baru pada tahun 1950, tentara mulai menerima gaji dari negara.

    Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya bukan sekadar โ€œpertempuran kemerdekaanโ€.
    Ia adalah letusan jihad fi sabilillah, yang disulut oleh fatwa PBNU pada 22 Oktober 1945 โ€” kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

    Ketika pasukan Inggris datang bersama Belanda yang ingin kembali berkuasa, Presiden Soekarno meminta fatwa kepada PBNU:

    โ€œApa kewajiban umat Islam bila negeri ini diserang kembali oleh penjajah?โ€

    KH. Hasyim Asyโ€˜ari menjawab tegas melalui Resolusi Jihad:

    โ€œBagi umat Islam yang berada dalam jarak 94 kilometer dari Surabaya, wajib โ€˜ain membela tanah air dari penjajahan.โ€

    Fatwa itu menggema dari masjid ke masjid, dari langgar ke langgar.
    Arek-arek Suroboyo pun bangkit tanpa menunggu komando.
    Begitu mendengar kata โ€œjihadโ€, mereka meneriakkan โ€œAllahu Akbar!โ€ dan menyerbu pos-pos Inggris.

    Pertempuran dahsyat pecah sejak 27โ€“29 Oktober 1945, menewaskan ribuan serdadu Inggris.
    Namun sejarah resmi nyaris tidak menyinggung bahwa semua itu berawal dari fatwa jihad seorang ulama pesantren.

    Pada 30 Oktober, Brigadir Jenderal Mallaby โ€” pemimpin pasukan Inggris โ€” tewas di Jembatan Merah akibat granat yang dilempar seorang pemuda Ansor.
    Inggris murka. Mereka mengeluarkan ultimatum:

    โ€œJika hingga 9 November senjata tidak diserahkan, maka 10 November Surabaya akan dibombardir dari darat, laut, dan udara.โ€

    Dan benar.
    Pagi 10 November 1945, Surabaya dibombardir. Kota terbakar, ribuan syuhada gugur.
    Namun dari kobaran api itu lahirlah semangat yang tak pernah padam:
    โ€œHubbul Wathan Minal Imanโ€ โ€” cinta tanah air adalah bagian dari iman.

    KH. Agus Sunyoto dalam bedah buku Fatwa dan Resolusi Jihad (Lirboyo, 2017) berkata:

    โ€œArek-arek Suroboyo menyebutnya bukan perang, tapi tawuran.
    Mereka bergerak tanpa komando, hanya dengan semangat jihad dan cinta pada ulama.โ€

    Dari Kediri datang pasukan santri Lirboyo di bawah pimpinan KH. Mahrus.
    Dari Jombang, Pasuruan, Mojokerto, Malang, hingga Cirebon โ€” mereka berdatangan, menempuh jarak ratusan kilometer.
    Bukan hanya umat Islam, tetapi juga umat Kristen, Konghucu, dan Buddha ikut berjuang.
    Semangat jihad telah menjelma menjadi semangat kemanusiaan dan kebangsaan.

    Sejarah bangsa tidak akan utuh tanpa pesantren.
    Para kiai bukan hanya guru ruhani, tetapi juga arsitek kemerdekaan.
    Mereka mendidik rakyat, mengobarkan jihad, dan menegakkan republik โ€” tanpa pamrih dan tanpa imbalan.

    Kini saatnya kita berkata jujur:
    Jika sejarah terus dipotong, maka suatu hari sejarah kita sendiri yang akan memotong kita.

    Sudah waktunya anak-anak Indonesia belajar sejarah sebagaimana adanya โ€”
    bahwa santri, ulama, dan pesantren adalah pilar utama lahirnya republik ini.

  • Jejak Santri dalam Sejarah Bangsa: Dari Selarong hingga Pegangsaan Timur

    Oleh: Abu PPBU

    Tulisan ini menelusuri kontribusi historis dan spiritual kaum santri dalam pembentukan identitas kebangsaan Indonesia. Dari Pangeran Diponegoro hingga Bung Hatta, dari Ki Hajar Dewantara hingga Habib Husein Al-Muthohhar, para tokoh santri menunjukkan bahwa pesantren bukan sekadar institusi pendidikan agama, melainkan pusat pembentukan kesadaran kebangsaan, etika sosial, dan semangat keislaman yang moderat. Dengan pendekatan historis dan kultural, tulisan ini berupaya menguraikan bagaimana nilai-nilai pesantren bertransformasi menjadi jiwa perjuangan bangsa.

    Kata kunci: santri, pesantren, kebangsaan, Islam Nusantara, sejarah

    Sejarah Indonesia kerap menempatkan peran kaum santri pada posisi pinggiran. Dalam buku-buku pelajaran resmi, narasi perjuangan nasional cenderung berfokus pada tokoh-tokoh sekuler atau militeristik, sementara dimensi religius dan spiritual dari perjuangan bangsa jarang dibahas secara mendalam. Padahal, dari pesantren-pesantren di lereng gunung dan lembah pedesaan, lahir manusia-manusia tangguh yang memiliki dua kekuatan: ilmu dan iman.

    Jejak perjuangan para santri tidak hanya terpatri di dalam hikayat lokal, tetapi juga dalam dokumen resmi kolonial yang mengakui kegigihan mereka dalam perlawanan. Dalam konteks itu, tulisan ini berusaha merekonstruksi kembali peran penting kaum santri โ€” dari medan laga di Selarong hingga detik pembacaan Proklamasi di Pegangsaan Timur.

    Salah satu figur santri yang paling menonjol dalam sejarah perlawanan terhadap penjajah adalah Pangeran Diponegoro (1785โ€“1855), seorang bangsawan sekaligus murid para ulama dan ahli tarekat.1 Dididik di lingkungan yang religius di Tegalrejo, Yogyakarta, Diponegoro menimba ilmu dari sejumlah kiai besar seperti Kyai Hasan Besari di Tegalsari Ponorogo, Kyai Taftazani di Kartasura, Kyai Baidlowi di Bagelen, serta Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang.

    Perang Jawa (1825โ€“1830) yang ia pimpin bukan semata-mata konflik politik, melainkan jihad fi sabilillah melawan ketidakadilan kolonial. Perlawanan itu berlangsung selama lima tahun dan menjadi simbol pertama kebangkitan nasional berbasis moral dan spiritual.

    Peninggalannya di Magelang โ€” Al-Qurโ€™an, kitab Taqrib, dan tasbih โ€” bukan sekadar artefak pribadi, melainkan manifestasi dari sintesis tauhid, fikih, dan tasawuf: tiga elemen utama karakter santri.2 Melalui simbol-simbol itu, Diponegoro mewariskan konsep perjuangan yang berpijak pada keimanan dan keadilan sosial.

    Peran pesantren dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan tampak pula dalam figur Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat). Sebelum mendirikan Taman Siswa, ia pernah berguru kepada Romo Kyai Sulaiman Zainuddin di Kalasan, Prambanan. Prinsip pendidikannyaโ€”Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayaniโ€”merupakan kristalisasi etika pesantren: guru sebagai teladan, warga sebagai pembelajar, dan masyarakat sebagai ekosistem ilmu.

    Nilai-nilai ini menunjukkan kesinambungan antara habitus pesantren dan pedagogi kebangsaan. Dalam konteks Islam Nusantara, pendidikan santri tidak hanya membentuk individu religius, tetapi juga warga negara yang sadar akan tanggung jawab sosialnya.3

    Demikian pula Habib Husein Al-Muthohhar (1910โ€“1993), ulama dan komponis keturunan Rasulullah ๏ทบ dari Semarang. Ia menulis lagu โ€œSyukurโ€ dan โ€œHari Merdekaโ€ โ€” dua karya spiritual-nasional yang merangkum esensi dzikir dalam bentuk kebangsaan. Saat bertugas sebagai duta besar di Vatikan, Habib Husein tetap menjunjung dua hal: keimanan dan cinta tanah air.

    โ€œKalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur,โ€ ujar Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), tokoh kebangkitan nasional berdarah Belanda.4 Pernyataan itu bukan hiperbola. Dekker menyadari bahwa ketika penjajah berusaha melemahkan kepercayaan diri rakyat melalui sistem pendidikan kolonial, pesantren justru menjadi ruang pembebasan intelektual dan kemandirian sosial.

    Di pesantren diajarkan bahwa kemerdekaan sejati ialah kebebasan dari sifat tamak, takut, dan taklid buta. Dalam pengajaran klasiknya, para kiai kerap mengutip perkataan Imam al-Ghazali: man lam yahkum bima โ€˜alim, faโ€˜ilmuhu la yanfaโ€˜u, โ€œBarang siapa tidak mengamalkan ilmunya, maka ilmunya tidak bermanfaat.โ€ Spirit inilah yang menumbuhkan idealisme kejujuran dan kesederhanaan dalam tubuh bangsa.

    Tidak banyak yang tahu bahwa salah satu tokoh utama dalam Proklamasi Kemerdekaan, H. Mohammad Hatta (1902โ€“1980), lahir dari keluarga ulama tarekat. Ayahnya, Kyai Haji Jamil, adalah guru Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Batuampar, Sumatera Barat.5

    Etos zuhud, kedisiplinan, dan kecermatan moral yang diwariskan dari pendidikan tasawuf terasa jelas dalam pribadi Hatta. Ia menjadikan nilai-nilai spiritual sebagai fondasi etika politik: bahwa kekuasaan bukan untuk keangkuhan, tapi untuk pengabdian.

    Ketika Soekarno mengajak Hatta untuk mendampingi pembacaan teks proklamasi, itu bukan pilihan politis semata, melainkan simbol keseimbangan antara karisma dan kesalehan, antara karunia intelektual dan keikhlasan seorang santri.

    Dalam satu sesi mauโ€˜idzah hasanah di Pondok Krapyak, KH. Maimoen Zubair pernah berpesan:

    โ€œKamu mondok di sini, nggak usah bingung mau jadi apa. Yang penting ngaji, nderes Qurโ€™an, belajar dengan adab. Sebab yang menjadikan adalah Gusti Allah.โ€

    Ungkapan sederhana itu sesungguhnya mengandung landasan filsafat pendidikan khas pesantren: niat lillah, amal saleh, dan tawakkal. Dalam sejarah bangsa ini, formula itu terbukti melahirkan manusia-manusia hebat โ€” bukan karena ambisi pribadi, tetapi karena keikhlasan.

    Dari Pangeran Diponegoro hingga Bung Hatta, dari Ki Hajar Dewantara hingga Habib Husein Al-Muthohhar, rangkaian sejarah itu mengajarkan bahwa pesantren bukan hanya ruang tafaqquh fiddin, tetapi juga laboratorium peradaban.

    Para santri adalah penjaga moralitas bangsaโ€”mereka yang berdiri di antara kepasrahan dan perjuangan, antara sujud dan kemerdekaan. Maka, menengok sejarah pesantren bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya dekolonisasi narasiโ€”mengembalikan ruh spiritual dalam pembacaan sejarah nasional.

    Apakah Anda ingin saya bantu formatkan versi ini sesuai gaya terbitan tertentu (misalnya Jurnal Maarif Institute atau Sabda: Jurnal Kajian Kebudayaan Islam) โ€” lengkap dengan struktur akademik formal (abstrak, pendahuluan, metodologi, simpulan)? Itu bisa disiapkan sebagai versi jurnal akademik yang lebih formal tetapi tetap bernuansa sastra.

    1. Sagimun M.D., Pangeran Diponegoro: Pahlawan Nasional, Jakarta: Balai Pustaka, 1985.
    2. Agus Sunyoto, Atlas Walisongo: Buku Pertama yang Mengungkap Walisongo sebagai Fakta Sejarah, Jakarta: LKiS, 2012.
    3. Abdurrahman Masโ€™ud, Dinamika Pesantren dan Madrasah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.
    4. Douwes Dekker, Pikiran dan Cita-cita Nasionalisme, Batavia: Kolff, 1918.
    5. Syarifuddin Jurdi, Mohammad Hatta: Biografi Santri Modernis dari Minangkabau, Bandung: Mizan, 2014.
  • Santri: Dari Langgar ke Medan Juang

    Ada masa ketika penjajah Belanda bukan hanya takut pada meriam atau barisan prajurit bersenjata. Yang paling mereka khawatirkan justru adalah sosok bersarung, bersorban, dan membawa kitab kuning โ€” para santri ngaji dan ahli tarekat yang tersebar di pelosok Jawa dan Nusantara.

    Salah satunya bernama Abdul Hamid, seorang santri kelahiran dusun Tegalrejo, Yogyakarta. Sejak muda ia menimba ilmu kepada para ulama besar: Kyai Hasan Besari di Tegalsari Ponorogo, Kyai Taftazani di Kartasura, Kyai Baidlowi di Bagelen, hingga Kyai Nur Muhammad Ngadiwongso di Magelang. Dari mereka ia mempelajari tafsir, fikih, hingga hikmah โ€” ilmu yang mempertemukan keteguhan akal dan kehalusan nurani.

    Nama santri Abdul Hamid itu kelak dikenal dunia sebagai Pangeran Diponegoro, pejuang besar yang memimpin Perang Jawa (1825โ€“1830), sebuah perang yang berakar pada semangat keagamaan dan keadilan sosial.
    Di kamar peninggalannya di Magelang masih tersisa tiga benda sederhana: Al-Qurโ€™an, kitab Taqrib, dan tasbih.
    Tiga pusaka itu, dalam simbolisme pesantren, melambangkan tiga hal: tauhid, fiqih, dan dzikir. Atau dalam bahasa lain: iman, ilmu, dan amal โ€” fondasi sekaligus sumber keberanian para santri.

    Bahkan tokoh pergerakan awal seperti Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi) mengakui bahwa semangat perjuangan Indonesia banyak disulut oleh kaum santri. Dalam salah satu tulisannya ia menuturkan secara jujur:

    โ€œKalau tidak ada kiai dan pondok pesantren, patriotisme bangsa Indonesia sudah hancur berantakan.โ€

    Ironisnya, Dekker sendiri bukan santri, melainkan keturunan Belanda yang awalnya dikirim untuk memperkuat kuasa kolonial. Justru dari bergaul dengan para kiai dan pejuang Islam, ia melihat kekuatan moral yang tak bisa ditaklukkan oleh senjata atau politik.

    Sedikit yang tahu bahwa Suwardi Suryaningrat, atau yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, juga pernah nyantri kepada Romo Kyai Sulaiman Zainuddin di Kalasan, Prambanan. Dari tempat itu pula ia menyerap nilai-nilai kesederhanaan, adab, dan kebangsaan yang kelak dirumuskan dalam semboyan abadi:
    Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

    Nilai-nilai itu bukan sekadar gagasan pedagogis modern, melainkan pancaran etika pesantren โ€” bahwa seorang guru adalah teladan, masyarakat adalah ruang belajar, dan ilmu harus dihidupi, bukan sekadar dihafal.

    Dari Semarang datang kisah Sayyid Husein al-Muthohhar, seorang habib keturunan Rasulullah ๏ทบ yang juga komponis ulung. Ia menulis lagu โ€œSyukurโ€ โ€” nyanyian yang serupa dzikir kenegaraan: โ€œDari yakinku teguh, hati ikhlasku penuh…โ€.
    Bait-baitnya mengalir seperti doa santri selepas shalat, tapi bergaung di panggung Indonesia merdeka. Ia juga pencipta lagu โ€œHari Merdekaโ€, yang cengkok nadanya, katanya, terinspirasi langsung dari lantunan adzan.

    Ketika bertugas sebagai duta besar di Vatikan, Habib Husein justru membangun masjid โ€” simbol keberanian seorang muslim untuk menanam nilai di tengah budaya lain tanpa kehilangan jati diri. Inilah bentuk santri dalam wajah yang paling universal.

    Tak banyak tahu bahwa Mohammad Hatta, proklamator dan wakil presiden pertama RI, juga lahir dari keluarga ulama tarekat. Ayahnya, KH. Jamil, adalah guru Thariqah Naqsyabandiyyah Khalidiyyah di Batuampar, Sumatera Barat.
    Jadi, ketika Bung Karno mengajaknya mendampingi pembacaan teks proklamasi, yang berdiri di sebelahnya bukan hanya wakil presiden, tapi juga putra kyai โ€” simbol bersatunya kekuatan spiritual dan kebangsaan.

    Di akhir pengajian di Pondok Krapyak Yogyakarta, KH. Maimoen Zubair pernah berpesan kepada para santri:

    โ€œKamu mondok di sini tak usah bingung mau jadi apa. Yang penting ngaji. Yang menjadikan kamu nanti itu Gusti Allah. Kalau kita menunaikan kewajiban menuntut ilmu, maka Allah akan menata hidup kita. Dan kalau Allah yang menata, pasti baik.โ€

    Pesan itu tampak sederhana, namun di situlah rahasia kekuatan kaum santri: ketekunan, keikhlasan, dan keyakinan penuh bahwa ilmu bukan alat mencari dunia, melainkan jalan menuju kemerdekaan batin dan sosial.

    Dari Selarong hingga Pegangsaan Timur, dari padepokan Tegalsari hingga Vatikan, jejak para santri membentang sebagai jalan sunyi yang membentuk sejarah bangsa.
    Mereka mungkin tidak semua tercatat di buku pelajaran, tetapi cahaya ilmunya menyala di setiap lembar sejarah.

    Ketika Douwes Dekker berkata bahwa tanpa pesantren patriotisme bangsa akan runtuh, itu bukan pujian kosong. Ia melihat bahwa pesantren โ€” dengan segala kesederhanaannya โ€” adalah tempat ditempa jiwa-jiwa yang merdeka.

    Maka benar kata pepatah lama pesantren:
    “Ngaji sing tenanan, mulane urip ora mung kanggo awak dewe.”
    (Sungguh-sungguhlah dalam belajar agama, sebab hidup ini bukan semata untuk diri sendiri.)

    Tulisan ini disarikan dari Mauidloh Hasanah KH. Maimoen Zubair di Krapyak, Yogyakarta, serta berbagai sumber sejarah tentang peran santri dalam pembentukan karakter bangsa, terutama melalui tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Ki Hajar Dewantara, Habib Husein al-Muthohhar, dan Mohammad Hatta.

  • Warisan Para Nabi: Semakin Dalam Ilmu, Semakin Berat Ujian

    Oleh: Abu PPBU

    Allah sudah menjelaskan sejak lama dalam QS. Al-Furqan: 31:

    โ€œBegitulah! Kami jadikan musuh bagi setiap Nabi dari kalangan orang-orang berdosa.โ€

    Artinya sederhana tapi dalam: bahkan para Nabiโ€”manusia paling suciโ€”tidak luput dari musuh. Maka wajar bila para ulama, yang menjadi penerus warisan mereka, juga menghadapi hal serupa.
    Ilmu itu bukan jubah kebesaran, tapi jalan ujian.

    Berikut lima bentuk ujian yang hampir selalu datang kepada orang berilmu โ€” dan justru menjadi tanda bahwa Allah sedang meninggikan derajatnya:

    Setiap kali kau terpeleset sedikit, musuh akan bersorak besar. Mereka menunggu saat kau lemah agar bisa menertawaimu. Kadang sakit, tapi justru di situlah bukti bahwa ilmumu mengguncang kebatilan.

    Syaikh Mutawalli As-Syaโ€™rawi berkata:

    โ€œKalau kau melihat seorang alim tanpa musuh, ketahuilah, ia telah kehilangan sebagian warisan dari Nabi.โ€

    Pelajarannya: Kalau orang yang membela kebenaran tidak punya penentang, mungkin ia sudah terlalu diam.

    Yang menyesakkan bukan kebencian dari luar, tapi luka dari orang terdekat. Teman lama yang dulu mendukungmu tiba-tiba menertawakanmu. Mereka bilang kamu berubah, sombong, atau berlebihan.

    Pelajarannya: Di sinilah keikhlasan diuji. Ilmu bukan hanya tentang banyaknya hafalan, tapi tentang kemampuan menahan hati ketika dicela orang yang kau cintai.

    Orang awam sering bicara seenaknya:

    โ€œIlmunya nggak nyambung sama kehidupan.โ€
    โ€œNgapain ngurus agama kayak gitu?โ€

    Mereka menilai dengan logika sempit dan menuntut yang benar menyesuaikan persepsi mereka. Padahal, kebenaran tak bergantung pada popularitas.

    Orang bijak Jawa bilang,

    โ€œKiai sejati tidak terburu-buru menjawab ocehan orang bodoh.โ€

    Pelajarannya: Kadang yang paling bijak bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang.

    Ini yang paling halus tapi paling menyakitkan. Imam Al-Ghazali pernah menulis,

    โ€œYang paling menyakiti ulama bukan orang bodoh, melainkan ulama lain yang dengki.โ€

    Ironis, tapi nyata. Persaingan bukan soal uang, tapi pengaruh dan penghormatan. Mereka merasa harus โ€œmenangโ€ dalam urusan ilmu. Padahal, ilmu tidak pernah menjadi medan perebutan gengsi.

    Pelajarannya: Biarkan iri menjadi bebannya sendiri. Kamu cukup berjalan lurus, karena Allah tahu siapa yang ikhlas.

    Kadang ini ujian yang paling sunyi. Dihormati banyak orang, tapi kesepian di rumah. Anak-anakmu merasa kamu sibuk. Pasangan merasa kamu jauh. Ibumu kadang mengeluh, โ€œKau terlalu serius dengan urusan agama.โ€

    Tapi ingatlah, para Nabi pun diuji di sisi yang sama.
    Nabi Nuh ditentang anaknya. Nabi Ibrahim ditolak ayahnya. Rasulullah ๏ทบ disakiti keluarganya sendiri.

    Pelajarannya: Jangan merasa gagal. Bisa jadi Allah sedang menyiapkan ruang baru untuk hatimuโ€”lebih lapang, lebih sabar, lebih matang.

    Syaikh Ibn โ€˜Athaillah pernah menulis,

    โ€œJika seorang alim bersabar atas ujian-ujian ini, Allah akan mengangkatnya sebagai imam yang diikuti.โ€

    Dan Allah berfirman dalam QS. Al-โ€˜Ankabut: 2โ€“3:

    โ€œApakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata โ€˜Kami berimanโ€™, tanpa diuji?โ€

    Yang paling berat ujiannya, kata Nabi ๏ทบ, adalah para Nabi sendiriโ€”lalu orang-orang yang paling dekat mengikuti jejak mereka.

    Seorang alim sejati tidak takut pada permusuhan. Ia tahu, setiap ejekan, setiap tuduhan, setiap jarak, adalah tanda bahwa ia sedang di jalur yang benar.

    Maka jika hari ini kamu dicaci, ditolak, atau dijauhi karena berpegang pada kebenaranโ€”jangan kecil hati.
    Kau sedang ditempa, bukan dihukum.

    Dan ingatlah pesan yang menenangkan dari Syaikh Mutawalli As-Syaโ€˜rawi:

    โ€œJika engkau melihat seorang alim tanpa musuh, ketahuilah, sedikitlah warisannya dari Nabi.โ€